Tuesday, October 27, 2015

Hati-Hati Dengan Rasa Nyaman

Akhirnya nge-blog lagiiiii, setelah sekian lama dibiarkan berdebu *brb nyapu dulu*

Kali ini mau ngobrolin ‘rasa nyaman’.

Definisi rasa nyaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
nya·man a 1 segar; sehat: badannya berasa -- disinari matahari pagi; 2 sedap; sejuk; enak: suaranya merdu, -- didengar; 
me·nya·man·kan v menjadikan nyaman; menyegarkan; menyejukkan; menyedapkan: taman yg terpelihara baik memberi pemandangan yg ~; 
ke·nya·man·an n keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan

Intinya, kenyamanan adalah sesuatu yang baik dan positif.
Ga cuma kita, sebagai makhluk hidup, hewan pun punya insting untuk selalu mencari kenyamanan. Misalnya anjing yang suka minta digaruk punggungnya atau anak kecil yang suka dipeluk. Kita aja yang udah gede gini, ga bisa memungkiri, pasti selalu mencari rasa nyaman.

Kantor gue, yang disebut2 sebagai #RumahKedua, adalah tempat yang nyaman bagi penghuninya. Kantor dikondisikan senyaman mungkin, dengan banyak tempat lesehan, ragam kegiatan yang menyenangkan, cemilan atau minum yang bisa diambil di pojok2 tertentu (walaupun sebatas produk sendiri), suasana kerja yang non formal, atasan yang bisa diajak karaoke sampai spa bareng:p, rekan kerja yang bisa lo kerjain habis2an saat dia ulang taun J
Sebagian teman malah bilang, di kantor lebih nyaman daripada di rumah sendiri (mungkin dia anak kost ya,  hehehe..)

Pernah dengar kata2 “jangan terlalu lama di comfort zone”, atau “life begin when you’re out of your comfort zone”?
Terlalu lama bersahabat dengan rasa nyaman, kadang bisa jadi bumerang.
Saking nyamannya, lo sampai lupa kalau lo harus menjalani setiap harinya, dengan sebaik2nya. Terlalu nyaman, sampai lo lupa kalau elo ini digaji loh tiap bulan. Untuk bekerja, bukan untuk leyeh-leyeh. Kalau kerja sambil leyeh-leyeh, itu baru bolehJ
Kenyamanan ini bisa membuai lo, saat semuanya terasa “baik2 aja”, padahal saat itu lo sebenarnya sedang menurunkan standard “baik2 aja” versi lo.
Kenyamanan bikin lo terbiasa. Tanpa kreasi. Tanpa inovasi. Tanpa hal2 baru.

Sama seperti di kantor.
Kantor yang nyaman, supposed to be jadi rumah buat lo. Rumah tempat kita bisa berkreasi, menuangkan ide2 keren lo. Tempat lo bisa jadi diri sendiri. Tempat lo bisa belajar apapun, dan bersedia membagikannya ke penghuni yang lain.

Kenyamanan yang terlalu nyaman, membuat lo lupa banyak hal.
Kantor bukan rumah. Kantor itu menggaji lo, sedangkan rumah tidak.  
Rumah aja punya aturan dan tuntutan, apalagi kantor:p
Jangan merasa terlalu nyaman, sampai melupakan kalau perusahaan juga punya aturan yang harus dipatuhi, dan tuntutan yang harus dipenuhi.
Jangan merasa terlalu nyaman, sampai lo lupa harus respect ke orang lain, sesama karyawan, ke atasan atau even ke bawahan lo.

Dan kalau lo merasa ini rumah lo juga, mbok ya diurus rumahnya.
Ikutlah merawat rumah ini, seperti layaknya tuan rumah. Jangan hanya ikut bangga, tapi ikutlah menjaganya juga, sebaik2nya.

Serumah dengan orang lain, artinya kita harus mempertimbangkan orang2 lain dalam setiap pengambilan keputusan. Mau matiin lampu ruang tamu, pikirkan apa sedang ada orang di situ.
Mau kecilin suhu AC, pikirkan apa ada orang yang akan kedinginan.
Mau parkir di lobby, pikirkan apakah itu akan bikin orang lain susah apa tidak.
Kita hidup bersama, dengan penghuni rumah lain. Kita ga hidup sendirian, bahkan di rumah kita sendiri.

Jadi? 
Yuk bersama2 membangun rumah kita. Berjuang bersama untuk menjadikan #RumahKedua kita lebih baik. Sebagai sesama penghuni rumah, kudu kolaborasi. Kerja bersama, jelas lebih ringan daripada kerja sendiri.

Kenyamanan bikin buntu? Iya, betul. Tapi banyak hal yang baru keluar saat merasa nyaman? Itu juga betul. Tergantung, bagaimana menyikapi si rasa nyaman itu.

Tulisan ini juga buat gue, yang seringkali merasa terlalu nyaman, sampai melupakan banyak mimpi dan harapan:p


Ah, gue ini. Sekian lama ga nge-blog, sekalinya nge-blog malah tentang ginian *toyor kepala ndiri*

1 comment:

Karen Puspasari said...

Thanks for sharing, Ci :)
Like this part: “Dan kalau lo merasa ini rumah lo juga, mbok ya diurus rumahnya. Ikutlah merawat rumah ini, seperti layaknya tuan rumah.” *jleb*