Monday, December 30, 2013

Hujan Buat Cinta

“Ta, lo lagi dimana? Halo?”
            Gue mendekatkan HP gue ke telinga.
            “Apa? Berisik banget… Ga jelas suara lo …”
            “Lagi hujan, Lang…” sayup-sayup suara Cinta terdengar. “Nanti lo telpon lagi, ya…”
            Cinta menutup telpon. Gue menghela napas. Ga jodoh banget ngobrol sama Cinta seharian ini. Pagi-pagi belum aktif, siang ga diangkat, sore ga bisa dihubungi. Dan barusan, ketika sudah tersambung, di sana sedang hujan. Mungkin lo bingung, apa hubungannya hujan dengan tutup telpon. Apa karena hujan, lantas jadi berisik? Iya, itu juga. Tapi alasan sebenarnya kenapa Cinta selalu menolak telpon pada saat hujan, gue ga pernah tau.

* * *

Gue mengenal Cinta di pameran lukisan. Sehabis motret sebuah wedding ceremony di Conrad, gue langsung ke Ubud. Gue selalu suka pameran lukisan di Museum Rudana. Ga cuma majang lukisan pelukis beken macam I Nyoman Gunarsa, tapi juga pelukis-pelukis muda Indonesia yang belum pernah kedengaran namanya, yang ternyata punya segudang bakat. Ga habis-habisnya bakat baru lahir di negara ini.
            Saat itu hujan. Deras, tapi ga menghalangi orang-orang untuk tetap datang ke gallery ini. Dan disana, di teras samping, gue melihat Cinta untuk pertama kalinya. Dia duduk menghadap luar, membelakangi gue. Rambut panjangnya yang ikal, jatuh lemas di bahunya yang mungil.
            Gue menghampiri, lalu berdiri di sebelahnya. Penasaran sekali ingin melihat sosoknya dari dekat. Seorang gadis yang manis, gue diam-diam melirik. Apa yang membuat gadis seistimewa ini begitu serius melamun? Di tengah keramaian seperti ini? Sialnya, gue juga bukan orang yang pandai memulai pembicaraan.
            “Ehm…” Gue terbatuk kecil.
            Dia melirik gue sekilas. Lalu kembali menatap hujan.
            Matanya! Mengingatkan gue akan gemerlap bintang di salah satu foto gue yang mendapat penghargaan beberapa bulan lalu. Sedang beruntung gue waktu itu, berhasil menangkap kilauan bintang di tengah langit kota Bandung.  
            “Gue penggemar dia,” si manis itu tau-tau bertutur. Suaranya begitu lembut, seayu parasnya.
            “Siapa? Made Wianta?” Gue menyebut nama salah satu pelukis kebanggaan Bali, yang lukisannya paling banyak dipajang di gallery ini.
            “Bukan. Hujan.”
            “Hah?”
            “Gue penggemar hujan. Banget.”
            Wow. Gue tertegun. Baru pertama kali mendengar ada orang yang mengagumi hujan. Aneh banget cewek ini.
            “Kenapa?” Gue ga tahan untuk ga bertanya.
            “Buat gue, hujan itu…magis. Logikanya hanya ritual air jatuh ke bawah. Tapi lo tau ga, kalau lewat hujan, langit menyampaikan rindunya ke tanah?”
            “Hah?” Gue bertanya bingung. Sehabis itu, gue hampir menampar mulut gue sendiri. Dua kali “hah” dalam setengah menit terakhir, sungguh bukan kesan yang ingin gue tampilkan ke gadis aneh nan istimewa ini.
            “Ada kekuatan yang memisahkan langit dan bumi. Surga dan tanah. Dan hujan… adalah perantara mereka.”
            Oh. Oke. Gue mengangguk, tanpa tau makna sebenarnya dari kalimatnya barusan. Mungkin cewek ini penulis. Atau penyair.
            “Lukisan-lukisan di dalam bisa menunggu. Tapi hujan ini…” Dia menggeleng, “ga bisa nunggu. Kalau beruntung, besok dia datang lagi. Tapi bisa jadi baru minggu depan.”     
    
* * *

Setelah perjumpaan pertama itu, binar di sepasang mata bulat Cinta seringkali menari di memori gue. Stupid, kenapa ga nanya nomor telponnya?? Gue memang lemah banget kalau urusan yang satu ini. Kalau dalam urusan pekerjaan, gue boleh bangga. Dari sejak kuliah, gue memang hobi motret. Gue bisa menghasilkan foto-foto canggih. Angle-angle ajaib yang ga pernah bisa ditangkap orang. Antrian job pun semakin banyak, hingga gue terpaksa harus menolak beberapa tawaran.
Tapi dalam hal wanita,… gue ga pandai, kalau ga mau dibilang bodoh. Pengalaman pacaran gue terakhir kali tiga tahun yang lalu, waktu hampir lulus kuliah. Putus dengan tidak baik-baik. Si “dia” terbukti selingkuh dengan atasannya. Ajaib memang. Kalau dulu gue begitu mencintainya hingga sanggup melakukan apapun buatnya, sekarang, menyebut namanya aja gue ga sudi. Walaupun “dia” dan keluarganya berulang kali mencoba minta maaf, buat gue semua itu bullshit.
Dan gue sampai saat ini, masih memutuskan untuk sendiri. Bukan karena gue ga bisa melupakan “dia”. Tapi karena pintu hati gue masih digembok, dan kuncinya gue pegang sendiri. Ga pingin merasakan jatuh cinta lagi. Belum ingin menyayangi orang sedalam itu lagi.
Sampai gue… ketemu Cinta. Seingat gue, sampai saat ini, hanya Cinta yang bikin gue ga bisa tidur. Cuma dia yang bikin gue penasaran sampai segitunya. Cuma Cinta yang bikin gue menyesal setengah mati, karena ga minta nomor telponnya. Nge-goblok-goblokin diri sendiri. Cinta dan kecintaannya pada hujan. Dan cerita yang tersisip di baliknya.
Rasa penasaran itu tak juga mau hilang. Lantas gue meng-googling dia. Bukan pekerjaan yang mudah. Keyword “Cinta” membuat ribuan artikel dan ucapan tentang cinta yang keluar. Gue hampir putus asa. Menyadari cara itu tidak efektif, akhirnya media sosial pun gue pakai untuk mencari dia. Twitter dan Facebook menjadi dua aplikasi yang paling sering gue gunakan untuk mencari Cinta. Buat orang non-sos-med seperti gue, ini makan waktu banget sebenarnya.
 Untunglah akhirnya berbuah juga. Setelah dua bulan mencari, akhirnya gue menemukan account @cintalovesrain di Twitter. Tau ga, apa avatar Cinta? Bayangan seorang gadis yang kehujanan. Waktu melihat avatar itu, gue hampir melompat kegirangan. Kalau saja ga ingat saat itu sedang meeting dengan EO buat sebuah acara wedding seorang selebriti, pasti gue bakal mencium layar ipad gue berkali-kali tanpa ragu. Sayangnya account itu dikunci. Jadi gue harus ada di antrian orang-orang yang ingin memfollow dia.
Me-mention Cinta, adalah satu-satunya cara menghubunginya.  

Hai @cintalovesrain, masih ingat gue? First met you at  Rudana, Ubud. Still love rain?

Dua hari kemudian (iya, dua hari), dia membalas mention gue.

Hi @elangerlangga , I’ll always love Rain, indeed.

Selanjutnya, berlanjut dengan dia meng-accept permohonan follow gue, diikuti dengan dia memfollow gue. Gue men-DM dia, dan dia membalas DM gue. Gue menelpon dia, tapi dia tak pernah menelpon balik.. Gue mengirim pesan ke handphone nya, dia juga tak membalas. Kecewa, lalu terbiasa. Tapi tak ingin berhenti begitu saja.
Banyak yang misterius dari Cinta. Termasuk kecintaannya pada hujan. Pernah suatu kali gue mengirim pesan ke HP nya. Baru dibalas tiga jam kemudian. Balasannya singkat.

Sori baru balas. Lagi menikmati hujan sedari sore.

            Atau ketika gue menelponnya berkali-kali, tapi berkali-kali juga harus ditutup karena di tempatnya sedang turun hujan, dan Cinta tak ingin kehilangan moment menikmati hujan. Walaupun penasaran setengah mati, gue ga pernah mencari tau. Gue yakin, ada sesisip cerita misterius di balik itu. Yang mudah-mudahan suatu saat akan dibaginya ke gue. Sekarang mungkin belum saatnya. Gue hanya perlu bersabar.

* * *

            Gue mencari foto Cinta di iphone gue. Terakhir ketemu dia, dua bulan yang lalu, di Bali.  Waktu itu, gue dapat project untuk motret wedding ceremony di sana. Dean dan Amara. Pasangan bule dan Cina-Padang, yang memutuskan married di kapel hotel Nikko. Itu pertama kalinya gue motret di Wiwaha Chapel. Anjrit, keren banget itu kapel. Mewah, tapi juga syahdu. Kayak ada sentuhan magisnya.
            Karena waktu yang sempit, gue minta Cinta datang juga ke kapel buat ketemu gue. Cinta pun sama noraknya dengan gue.
            “Keren banget ya, Lang…” katanya penuh kekaguman sambil mendesah.
            “Lo tinggal di Bali, tapi belum pernah kesini?”
            “Belum, hehehe…” Cinta terkekeh. “Belum pernah ada yang ngundang kesini. Lo sendiri, baru kali ini motret di sini?”
            Gue menggangguk.
            “Iya. Biasanya orang masih lebih milih Uluwatu atau Blue Point sekalian.”
            “Itu juga keren.. by the way, ini resepsinya kapan?”
            “Besok sore, di Dharmawangsa. Makanya gue harus balik besok pagi.”
            “Ah, ya. Coba lo bisa stay semalam lagi.”
            Mata gue menyipit. “Memangnya ada apa?”
            “Ehmmm.. ada apa yaaa …” Cinta menggantung kalimatnya.
            “Mau ngajak ke Kudeta?” tebak gue, menyebut nama salah satu tempat makan favorit di Bali.
            “Hahaha.. bukan. Itu mah lo dah bosen.”
            “Kemana sih?” Gue mulai penasaran.
            “Besok itu… hari spesial buat gue.”
            Gue berusaha menyembunyikan kekagetan gue.
            “Lo.. ga ulang tahun, kan?” Gue mengingat-ingat.
            “Bukan.”
            “Jadi apa?”
            “Tunggu besok aja… Flight lo jam berapa?”
            “First flight..” Seketika gue menyesal sudah request flight pagi. Lebih menyesal lagi karena tiket promo ini ga bisa diubah jam nya. 
            “Lo nginep di sini?”
            “Iya. Habis ini masih ada after party.”
            “Kelar jam berapa?”
            “Jam sembilanan. Tapi kali gue baru kelar motret sampai jam sebelas. Mau candid-in mereka dulu.”
            “Hmmm.. kalau lo ga capek,…”
            “Gue ga capek, Ta. Lo mau ajak gue jalan malam ini?”
            “Kalau lo bisa…”
            “Bisa.”
            “Hahaha lo tuh, main bisa-bisa aja. Ya udah, kalau udah mau kelar, lo kabarin gue. Nanti gue jemput lo. Lo nginep di sini kan?”
            Gue menggangguk. Pasti tampang gue berseri-seri banget sekarang. Diajak jalan sama Cinta? Cuma orang bodoh yang bakal menolak.

* * *

            Hampir tengah malam ketika Cinta tiba di lobby hotel. Entah kebetulan apa enggak, dia memakai baju yang sama ketika pertama kali gue melihat dia. Rok lilit biru muda, dan kaos berenda putih.
“Udah kelar, Lang? Udah bisa cabut sekarang?”
“Yuk!” jawab gue, sambil mengulurkan tangan meminta kunci mobil dari tangannya.
“Ga usah. Biar gue yang nyetir.”
“Gue aja, Ta. Udah malam, gelap.”
“Gapapa. Gue biasa kok, nyetir malam. Tenang aja.”
Gue mengikuti Cinta melangkah menuju mobilnya. Rintik hujan mulai turun.
“Hujan, Ta. Lo yakin mau nyetir?”
“Yakin. Hujan is my best friend, you know…”
Yeah, like always. Hujan adalah cinta pertama Cinta. Kegiatan apapun bisa dia hentikan demi menatapi hujan. Termasuk menutup telpon gue. Berbicara dengan gue, ga ada apa-apanya dibanding si hujan. Dipikir-pikir goblok juga ya. Cemburu kok sama hujan. Lo cemburu, Lang?
Ya. Gue cemburu. Sama hujan. Dan cerita-cerita di baliknya, yang gue ga pernah tau. Tapi sepertinya begitu berarti buat Cinta.
“Lo tau ga, Lang… gue bisa tenang hanya dengan memandangi hujan. Mendengar air bersentuhan dengan tanah. Mencium wangi dan aromanya. Itu… ga tergantikan dengan apapun.”
Oh. Sepertinya gadis manis di sebelah gue ini akan bercerita banyak.
“Kenapa sih Ta, lo suka banget sama hujan?”
Cinta menepikan mobilnya. Masuk ke sebuah pekarangan.
“Kita turun?”
Cinta menggeleng.
“Enggak. Gue cuma pingin diam dulu.”
Diam, sambil memandangi hujan, dan mengacuhkan gue.
“Lo keberatan kalau gue cerita sesuatu?”
Gue langsung menggeleng. Kalau lo mau tau, sudah bertahun-tahun gue pingin mendengar cerita lo. Tentang hidup lo, tentang apa aja, yang berhubungan sama lo. Juga tentang hujan, kata gue, sayangnya hanya dalam hati.
“Cerita, Ta.”
Cinta mendehem. Sesekali dimainkannya anak rambutnya yang ikal.
“Dulu sekali… pernah ada seseorang. Rain namanya. Tetangga kecil gue di Bandung. Dari namanya aja, udah ketauan betapa sukanya dia sama hujan,” Cinta mengawali ceritanya.
“Hampir tiap hari, dia main ke rumah gue. Atau gue ke rumah dia. Main apa aja. Gundu. Congklak. Karet. Kuartet. Bentengan. Apa aja. Gue bisa cerita apapun sama dia. Rahasia-rahasia yang ga pernah gue kasih tau ke siapapun, termasuk bokap nyokap gue.  Begitu juga sebaliknya.”
Cinta menghela napas sejenak.
“Rain suka banget sama hujan. Dari kecil, tiap kali hujan, boro-boro berteduh, dia ngajak gue hujan-hujanan. Main air. Mandi air hujan. Pertama-tama sih, gue takut masuk angin. Tapi lama-lama, ketagihan. Tiap kali ada hujan, malah gue yang ngajak dia hujan-hujanan. Rasanya seru banget, lepas, ga ada beban. Menurut Rain, dan gue sadari memang iya, masalah apapun bisa larut dalam hujan,” Cinta melanjutkan dengan mata menerawang.
“Jadi… apapun masalah lo, kegalauan lo, bahkan air mata lo, bisa larut oleh hujan.” Cinta terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
“Waktu lulus SMP, Rain pindah, ikut bokapnya yang kerja di perusahaan minyak. Ke pedalaman Kalimantan. Gue ga pernah lagi ketemu sama dia sejak itu.”
Cinta menghapus embun di kaca jendela mobilnya.
“Ga pernah email-emailan?” Gue mencoba mencairkan suasana. Asli, gue ga suka dengan aura pembicaraan yang suram ini.
“Ga bisa lagi… kecuali kalau ada cara untuk kirim email ke surga.”
“Apa? Jadi….” Gue terkesiap.
“Dia meninggal tiga tahun setelah pindah.”
What? Why? Gue menahan diri untuk ga bertanya.
 “Dia…sakit. Demam berdarah.” Cinta menggeleng. “Ga tau karena terlambat ditangani, atau karena apa. Berita itu baru gue dengar, beberapa bulan setelahnya.”
Bibir mungil Cinta mengatup. Matanya berkaca-kaca.
“Dia..pergi. Tanpa sempat pamit. Terakhir kali telpon-telponan sama gue, dia cuma bilang.. ‘uap air akan bertemu di langit, lalu menyatu dan turun ke bumi dalam bentuk air hujan. Jadi dimana pun lo, dimana pun gue, ga masalah. Kalau salah satu ada yang kangen, berharaplah hujan akan turun dan menyampaikannya’. Bodohnya, gue ga tau kalau itu pesan terakhirnya.”
Jadi…itu sebabnya Cinta suka sekali dengan hujan, pikir gue sambil memperhatikan hujan yang turun semakin deras.
“Sampai sekarang, kalau hujan turun, gue selalu ingat dia. Rain yang sabar, Rain yang ngajarin gue untuk memasrahkan segala sesuatu sama Yang Di Atas. Rain yang membentuk gue jadi orang yang kuat.”
Cinta menangis sampai seluruh tubuhnya bergetar. Gue belum pernah melihatnya seemosional ini. Cinta yang gue kenal selalu tenang, bahkan cenderung datar. Poker face.
“Kalau kemarau datang, gue merasa sedih. Lama ga akan ketemu hujan. Artinya Rain ga kangen sama gue. Mungkin dia udah ngelupain gue.”
Cinta mengambil tissue dari laci dashboard. Menyeka kedua matanya.
“Besok, seharusnya jadi hari ulang tahun Rain.”
Jadi yang ingin dirayakan Cinta bersama gue itu….
“Gue tadinya pingin traktir lo. Merayakan birthday nya Rain. Hujan lebat banget, dari tadi ga berhenti. Pas banget, ya?”
Gue terpana. Mencoba membayangkan seberapa dalam perasaan Cinta ke seseorang bernama Rain ini. Dan…gue kecewa. Ternyata si empunya hati yang tertutup itu, sudah ada pemiliknya, walaupun di atas sana.

                                                                  * * *
            
          Akhirnya gue dan Cinta ngobrol sampai hampir pagi. Hanya di mobil. Syukurlah naga-naga di perut keroncongan gue lagi behave banget hari itu. Hujan masih terus turun sepanjang malam. Udara dingin, tapi hati gue terasa hangat. Dua tahun mengenal Cinta, belum pernah gue merasa sedekat itu dengannya. Cinta adalah sosok misterius yang ga suka berbagi hal-hal pribadi, terutama menyangkut perasaan.  Selama ini, Cinta paling suka cerita tentang hobi nya menulis puisi. Membaca buku-buku dan tulisan Ayu Utami.
Malam  itu, sebenarnya cara Cinta merayakan ulang tahun Rain terlihat sedikit aneh. Tapi gue ga keberatan. Gue melihat sisi yang berbeda di diri Cinta. Sisi yang… sensitif, perasa, dan…lembut. Cinta yang super tertutup, sedikit formal, seakan seluruh dirinya terkurung dalam ruangan berdinding tebal. Akhirnya, dinding-dinding itu mulai runtuh, sedikit demi sedikit. Ternyata, itu hanya awalnya.

* * *

            iPhone gue berbunyi. Ada pesan masuk.

            From : Cinta
            Lang, lo masih meeting?

            Gue melirik Aryo, videographer partner motret gue yang sedang serius diskusi dengan      Venna, event organizer yang akan bekerja sama dengan kami di big event malam ini.
            “Yo, gue cabut sebentar,” pamit gue sambil menepuk bahunya.
            “Jangan lama-lama, bro. Habis ini ngomongin spot lo, ya.”
            Gue mengganguk. Lalu berjalan keluar, dan menekan angka 1, speed dial nomor telpon Cinta.
            “Halo?” Cinta menjawab pada deringan pertama. Suaranya terdengar jauh.
            “Hai, Ta. Kenapa? Lo tadi message gue?”
            “Lo masih di Westin?”
            “Iya. Lo dimana? Kok berisik banget…”
            “Lagi hujan di sini.”
            “Oh. Ya udah, nanti kalau udah berhenti, lo kabarin aja. Gue telpon lagi.”
            Gue memutus sambungan. Mood gue langsung berubah. Ga tau sampai kapan hujan akan terus jadi sandungan buat gue dan Cinta. Hhhh. Memangnya lo siapa, Lang? Pacarnya Cinta? Lo bukan siapa-siapanya Cinta. Dia hidup dalam dunianya sendiri, dengan cowok bernama Rain yang walaupun sudah berbeda dunia, tapi tetap jadi juara di hatinya. Lo bukan siapa-siapa, Lang. Ga akan jadi siapa-siapa.
            Meeting siang itu masih berlanjut dengan alot. Wedding event nanti malam sengaja diselenggarakan bertepatan dengan new years eve. Jadi tamu-tamu resepsi dapat langsung bergabung di pesta malam tahun baru. Di luar dugaan, artis ibukota yang akan menikah di Bali dengan anak pejabat itu, ternyata pasangan yang asik. Berbeda dengan beberapa pasangan selebriti yang menikah untuk kepentingan status, calon mempelai ini kelihatan betul saling sayang. Sebagai seorang fotografer, walaupun masih pemula, gue wajib menangkap emosi dari kedua orang yang ingin menikah. Dari foto prewedd, sampai foto liputan pernikahan mereka. Ga jarang gue melihat orang-orang yang menikah bukan karena cinta, tapi karena kepentingan semata. Who are you to judge, Erlangga? Mind your own business, please. You’re bad in relationship. Why don’t you judge yourself?
            Gue mengepalkan tangan. Kalau mengingat telpon terakhir gue dengan Cinta tadi, emosi gue naik ke kepala. Saingan kok sama alam, sama hujan. Hubungan macam apa ini.
            Tiba-tiba gue tersentak. Kok gue seperti melihat Cinta melintas di lobby hotel.
            “Elang!”
            Sosok itu melambai, memanggil nama gue. Itu benar Cinta!
            “Ta? Lo… ngapain di sini?”
            “Gue mau bikin lo kaget. Lo kaget, kan? Iya, kan?”
            Cinta tertawa.
            Gadis di depan gue ini kok… Seperti ada yang berbeda.
            “Errrr iya, gue kaget. Lo ngapain tau-tau ada disini?”
            “Gue ada annual meeting kantor.”
            “Di Westin juga?”
            “Enggak, di Novotel. Dari kemarin.”
            “Dari kemarin lo di Nusa Dua? Lo kok ga bilang?”
            “Hahaha… Pingin kasih lo kejutan. Nih, buat lo…”
            Cinta menyodorkan sebuah kotak. Gue langsung nyengir kuda begitu melihat isinya. Pia leggong coklat kesukaan gue, yang biasanya harus rela antri demi mendapatkannya.
            “Thanks, Ta.”
            Cinta mengangguk sambil tersenyum riang.
“Jadi… sampai kapan lo disini?”
            “Nanti malam balik. Besok Papa sama Mama mau main ke Kuta.”
          Gue tertegun. Bertahun-tahun mengenal Cinta, tak pernah sedikitpun ia bercerita tentang orang tuanya.
            “Lo di sini dari kemarin, nanti malam balik, dan lo baru kasih tau gue sekarang?” protes gue.
            Cinta terkekeh lagi.
            “Yaaaahh, lo kan lagi sibuk banget.”
            Gue akan melakukan apapun buat ketemu lo, Ta. Sesibuk apapun itu, bisik gue, lagi-lagi dalam hati.
            “Gue kira lo yang sibuk. Gue telpon lo dari kemarin lusa, ga aktif.”
            “Simcard gue rusak, Lang. Gue kan inform lo ke Telkomsel,” alis Cinta bertaut tanda bingung.
            Gue menepuk kening. “Telkomsel ada di handphone satunya yang…. ketinggalan di kost.”
          “Hahaha.. pantas aja jadi ga nyambung, Lang. Untung gue ingat lo ada event di Westin pas malam tahun baru.”
            Cinta memainkan rambut ikalnya.
           “Lang, ini dekor buat nanti malam, ya? Cantik banget…” desah Cinta sambil memandang pantai yang nampak putih dipenuhi ribuan bunga lily.
            “Bunga kesukaan Rachel, the bride.”
           “Romantis banget ya, dekornya. Look at the aisle!” Cinta menunjuk bagian pantai yang sudah disulap menjadi altar. Dipenuhi kursi-kursi kayu kecil dengan untaian bunga lily di sampingnya. Belum lagi karpet putih dengan taburan mawar putih di atasnya.
            “Jadi nanti malam… Setelah pemberkatan, akan ada pesta tahun baruan, ya?”
            Gue mengangguk.      
            “Dan lo masih…. kerja?”
            Gue mengangguk lagi, kali ini anggukan malas.
            “Sampai jam berapa?”
            Gue menggeleng, “Sekelarnya,” jawab gue. “Lo… mau ke sini nanti malam? Nanti gue antar lo balik ke Kuta.”
            Cinta tidak menjawab. Gue pun diam. Banyak banget yang ingin gue bilang, tapi semuanya hanya bisa bermain-main dalam pikiran gue.
            “Lang…. kenapa sih lo bisa sabar banget?” tanya Cinta tiba-tiba, membuat gue terbelalak.
            “Sabar…gimana, Ta?”
            “Apa lo ga pernah tersinggung, kalau gue lebih memilih hujan daripada lo?”
          Uhuk! Gue terbatuk keras. Maksud lo, kalau lo lebih milih memandangi hujan daripada ngobrol di telpon sama gue?
            Gue mendehem. “Yah… kadang sih.”
         Semprul! Gue memaki mulut gue sendiri. Jujur aja Erlangga, lo lebih dari sekedar tersinggung. Lo marah!
            Tiba-tiba telpon Cinta berbunyi.
           “Lang, gue harus balik ke Novotel...” katanya setelah menutup telpon. “Nanti malam… Kalau bisa, gue ke sini lagi. Gue pingin banget … lihat pemberkatannya,” Cinta membereskan tasnya.
            “Jangan terlalu pandai menyimpan perasaan, Lang. Sebelum perasaan itu berbalik melukai lo, lo harus belajar menyatakannya.”
            Cinta mengucapkannya tanpa berani menatap mata gue. Tapi kata-kata yang diucapkannya dengan jernih itu, benar-benar menusuk hati gue, sampai ke bagian terdalam. Maksud lo… gue harus menyatakan perasaan gue ke elo, Ta?

* * *

            Gue bukan orang melankolis. Tapi gue bisa melihat kedua keluarga besar sangat mendukung kedua mempelai. Belum lagi Michael dan Rachel, the groom and bride, sepanjang acara tidak berhenti saling memandang sambil tersenyum. Bahkan orang secuek gue pun bisa terharu dengan kesakralan sakramen ini.
        Setelah selesai pemberkatan dan ramah tamah dengan keluarga, tamu-tamu mulai berdatangan. Menghadiri perayaan pernikahan, sekaligus memperingati acara tutup tahun. Rasanya gue tak berhenti mengabadikan setiap senyum yang terkembang malam itu.
            Sambil memotret puluhan terompet yang berbaris rapi di meja sudut, mata gue mulai sibuk mencari sosok Cinta. Kemana ya, gadis itu? Bukankah tadi dia berjanji akan datang?
           Hampir empat jam kemudian, gue berjalan menjauh dan duduk di salah satu kursi kayu di pantai. Keriangan pesta masih nyaring di sudut sebelah sana.
            “Lang….”
          Gue membalikkan badan dengan cepat. Nampak Cinta berjalan pelan menghampiri, sambil menenteng alas kaki. Sementara mata kakinya sendiri sudah terbenam di pasir.
            “Ta? Lo udah lama di sini?”
            “Lumayan.”
            “Katanya mau lihat pembekatan pernikahannya?”
            “Hehehe.. tadi gue telat. Kelar meeting terus beberes di Novotel, tau-tau udah gelap aja. Pas tiba di sini, udah mulai partynya.”
            “Kenapa ga ke sana aja?”
            “Gue ga suka party-party gitu, Lang. Bising. Gue lebih suka… hening.”
            Gue mengangguk, mengerti sepenuhnya. Gue pun sama. Hanya pekerjaan dan profesionalisme yang mengharuskan gue berada di pesta-pesta besar semacam itu.
            “Jadi daripada gue malah ganggu lo di pesta itu, mending gue tunggu aja sampai selesai.”
            “Ini gue minta break sebentar karena mumet,” gue memijit kening yang tiba-tiba pening.
            “Lo sakit, Lang?”
            Gue ingin menggeleng, tapi batal begitu melihat mata Cinta yang penuh kecemasan. Kalau Cinta jadi perhatian sama gue, kenapa harus menolak sakit?
            “Mungkin lo kecapekan, Lang.”
       “Ta… soal kata-kata lo tadi siang….” Gue menelan ludah lagi. “Soal perasaan yang ga pernah dikatakan…”
            Cinta tak menjawab. Ia hanya diam sambil menatap pantai yang semakin gelap. Rintik hujan mulai turun satu-satu.                    
“Hujan, Ta.”
Cinta mengangguk. Tersenyum.
“Iya, Lang. Hujan. Mendung seharian, akhirnya turun juga.”
“Hujan selalu punya arti ya Ta, buat lo.”
Cinta menghela napas. “Sampai kapan lo mau begini, Lang?”
Gue pura-pura tenang. Padahal jantung gue berdetak jauh lebih cepat dibanding biasa.
“Maksud lo?”
“Sampai kapan lo mau mengalah sama hujan? Sampai kapan lo mau sabar menunggu?”
Gue tersentak. Pembicaraan ini nampaknya….
“Kalau lo sadar, sebulan terakhir ini, gue ga pernah mendahulukan hujan dibanding lo. Tadi waktu lo telpon gue dan lagi hujan, gue ga minta lo menunggu. Tapi lo yang langsung mutusin telponnya.”
Benar. Memang itu yang gue lakukan. Gue memilih mengalah daripada terlanjur kalah.
“Lo.. sayang sama gue, Lang?” Cinta bertanya. Gue memandang kedua matanya yang berpendar lembut seperti ribuan bintang.
Hati gue mengangguk ribuan kali, tapi mulut gue seperti terkunci. Akhirnya gue mengangguk.     
            “Bilang, Erlangga. Gue mau dengar langsung dari mulut lo.”
            Gue menelan ludah.
            “Gue.. gue sa..yang sama lo, Ta.” Ah sial! Suasana sudah super mendukung gini aja, gue masih gugup juga!
            Cinta mulai tersenyum.
            “Lo tau ga Lang, sudah berapa lama gue menunggu lo mengatakan itu?”
            Gue menyeka kening gue yang berkeringat.
            “Ta..tapi.. lo.. lo masih tergila-gila sama hujan kan, Ta.”
           “Gue memang jatuh cinta sama hujan, Lang. Bahkan kali ini pun, saat gue sudah memutuskan untuk move on, gue masih senang lihat hujan. Hujan selalu membawa kedamaian buat gue.”
            Apa kata Cinta tadi? Dia memutuskan untuk move on?
           “Rain mengajarkan gue cara menikmati hujan. Dengan berdiam di bawahnya. Tapi lo, mengajarkan gue kesabaran menunggu hujan reda.”
            Cinta tersenyum menatap gue.
            “Cuma sama lo, gue bisa berbagi cerita gue tentang hujan. Dan mungkin dari semua orang di dunia ini, cuma lo yang bisa mengerti. Atau setidaknya berusaha mengerti.”
            Gue menahan diri untuk tidak merapikan anak rambut Cinta yang tersebar di keningnya, walaupun gue sangat ingin melakukannya.
            “Malam itu, saat gue cerita sama lo soal Rain, gue udah bertekad, Lang. Cukup empat tahun gue terkurung di dunia gue sediri. Gue… pingin melangkah, Lang. Pingin jalan. Pingin move on. Ga pingin mengakar terus di pikiran gue sendiri tentang Rain.”
            Cinta membuka telapak tangannya, seolah ingin menangkap rintik hujan.
            “Rain itu cuma kenangan, tapi lo itu kenyataan.        Cuma lo yang sabar dengan kegilaan gue sama hujan. Dari situ gue tau, rasa sayang lo ke gue, lebih besar dari rasa sayang gue ke hujan.”
            Cinta menatap gue.
            “Tolong perjuangin gue ya, Lang. Jangan menjadi terlalu sabar kali ini.”
            Gue balik menatap dia. Sepasang mata bulat penuh binar, yang sangat gue kagumi.
            Pelan, gue memberanikan diri menggenggam tangan Cinta. Cinta balas menggenggam tangan gue.
            Gue ga pandai bermain kata. Tapi kali ini, gue memberanikan diri melihat Cinta, tepat di manik matanya. “Gue… cin.. cinta sama lo.”
            Sedetik sesudahnya, bunyi terompet terdengar riuh, disusul bunyi petasan yang meninggalkan kerlip warna-warni di langit. Pertanda pergantian tahun.
            “Apa tadi lo bilang, Lang? Ga kedengaran…” Cinta berteriak sambil berusaha mengalahkan suara petasan.
            Gue menghembuskan napas. Nampaknya gue harus bilang sekali lagi. “Gue… cinta sama lo, Cinta.”
            “Apa?” Cinta mendekatkan telinganya ke arah gue.
            “Gue cinta sama lo…” sedikit berteriak, gue mendekatkan diri ke wajahnya.
            Cinta tertawa. “Gue juga,” katanya sambil mengecup pipi gue. “Selamat tahun baru, Erlangga.”
            Gue tersenyum lebar. Senyum yang menular sampai ke hati gue.
            “Gue janji, Lang. Ga akan bela-belain nonton hujan dibanding telponan sama lo.” 
            “Gue juga janji, Ta. Bakal bikin hujan yang lebih spesial buat lo.”
            Cinta tertawa lagi. Hadiah tahun baru paling indah, seumur hidup gue.

* * *

Karena cinta, mungkin belum utuh jika belum diucapkan. 
Happy New Year, everyone:)


plot point


1 comment:

Michella Aurelia said...

C'Diannn..saya juga suka ujan ;)