Thursday, August 28, 2014

Before T


Seminggu lalu, ada sebuah diskusi hangat di kantor. Judulnya Before T(echnology). Pertanyaan yang dilontarkan adalah apakah teknologi menyebabkan rusaknya hubungan antar manusia? Cukup bisa menampar pipi kanan kiri bolak-balik kan? Sebagian yang setuju, mengungkap teknologi dinilai menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Diperkuat dengan penelitian tentang tingkat perselingkuhan yang berbanding lurus dengan semakin ramainya interaksi di dunia digital. Benar juga sih, secara generasi sekarang ini dikenal dengan generasi selfie yang tinggi tingkat narsistiknya. Segala sesuatu harus di-post supaya seluruh dunia tau. Tapi, apa teknologi yang harus disalahkan?
Saya ada di kelompok yang tidak setuju dengan pernyataan barusan. Teknologi tanpa bisa dicegah, akan selalu berkembang. Menurut saya, kita sebagai penggunanya, yang harus bisa memilah, kapan              dan bagaimana teknologi itu digunakan. Ketika kita memiliki gadget terbaru atau aplikasi canggih di ponsel kita, kita punya pilihan. Mau menggunakannya untuk apa, dan kapan bsia digunakan. 
Technology is to inspire, to help, to connect. So be wise in optimizing it.

Melihat perkembangan era digital sekarang ini, dengan kecanggihan teknologi, gadget keren, hi-tech wireless tools, rasanya tidak ada yang tidak bisa. LDR-an? Ga masalah, kan ada skype. Mau cari sponsor? Browsing aja. Cari beasiswa? Silakan googling dan kamu akan menemukan list beasiswa dalam dan luar negeri, lengkap dengan persyaratannya. Cari pekerjaan? Tinggal buka website yang menyediakan lowongan pekerjaan.  Dengan teknologi, pencarian informasi apapun bisa dioptimalkan.
Tapi era digital, dengan seribu kelebihannya, juga punya kekurangan yang membuat orang tua geleng kepala. Generasi ini semakin individualis. Generasi ‘menunduk’, bukan karena rendah hati, tapi karena sibuk dengan gadgetnya. Generasi twitter dan path, instagram dan pinterest. Apa sih yang mereka lakukan dengan gadgetnya? Main game, update status, atau malah twitwar? Apa pernah generasi ini berpikir, seberapa besar kekuatan jari jempol, jika disatukan dengan gadget keren dan internet super cepat, dibandingkan dengan sekedar update lokasi atau posting selfie?

 Pernah dengar @justsilly dengan @Blood4LifeID nya? Bermodal gadget, jempol cekatan dan internet, dan memanfaatkan teknologi dengan menolong banyak orang. Dengan menyebarkan informasi kebutuhan darah, menampung database pendonor, sehingga memudahkan orang yang membutuhkan darah untuk mencari darah yang sesuai. Juga akun @3_Little_Angels, yang bertujuan untuk menolong kaum papa yang membutuhkan. Dari mulai mengumpulkan donasi untuk anak yang terkena penyakit tumor mata, mencarikan ventilator untuk bayi berusia 6 hari yang juga kurang beruntung, sampai memantau perkembangan perawatan seorang anak kecil yang terkena diare. Secara rutin, akun ini juga menginformasikan tentang donasi yang berhasil mereka dapatkan. Seandainya semua celebtwit seperti beliau, indahnya dunia (yang bukan hanya digital) kita ini.

Yuk, belajar bijak gunakan jempol dan gadgetmu untuk hal-hal yang baik. Tindakan kemanusiaan, perkembangan pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan, memperluas jaringan, dan masih banyak lagi hal keren lainnya. Bentuk komunitas positif yang bisa menghasilkan perilaku positif juga. Jangan jadikan gadget terkinimu sebagai tembok untuk menutup diri dari lingkungan. Jangan jadikan teknologi canggih untuk hal-hal yang tidak terpuji. Jangan biarkan teknologi tingkat tinggi menjauhkanmu dengan orang-orang terdekatmu. Buktikan kalau walaupun kamu generasi ‘menunduk’, tapi tidak hanya pintar mengutak-atik Oom Google dan Mbah Wiki, tapi bisa juga menginspirasi dengan gayamu sendiri! 
Jadiii… apakah teknologi merusak hubungan manusia? Jelas tidak J


#PatriotIsMe #Advan #damniloveindonesia

No comments: