Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts

Sunday, December 29, 2013

The ups and down of December

Natal kali ini full with up(s) and down.

The ups are dilewatkan bersama dengan keluarga dan orang-orang tersayang. Mom just got home from her 2-months-vacation, dan itu melengkapi kebahagiaan gue.
The down is... gue harus home-rest karena sakit sesuatu (kita sebut aja sakit cinta ya:p.. apa sih hahaha..), jadi ga bisa ke gereja, ga ngantor juga. Positifnya adalah gue diharuskan istirahat sama Tuhan. Betul-betul istirahat, di rumah aja dan tidur seharian. And I have time to myself (contohnya blogging wkwkwk), while anak2 diungsikan untuk sementara hehehe...

Untungnya (masih ada untungnya! I'm Indonesian, remember:p), Natalan keluarga besar Nyokap diadakan tanggal 22, sebelum vonis itu keluar, hehehe...
Dan seperti biasa, Natalan keluarga selalu seru. Have I told you, kita boleh kasih kado ke siapa aja, berapapun jumlah, apapun isinya. This is the joy of Christmas. Not the money we spent to buy those things, but the spirit of loving, giving and sharing. 
Yang gue suka lagi dari tradisi ini, kita ga menuliskan nama pemberi kado, walopun akhirnya selalu ketauan siapa yang kasih, hehehe... But the meaning is giving it to somebody without being noticed.

Coba lihat foto ini, seru banget ga sih? Ada kurang lebih 500 kado di situ:) 
Tradisi memberikan kado ini udah berlangsung dari sejak gue kecil. Thats why I love Christmas sooo muchhh hahaha... 


Well, waktu kecil sih, bisa dapat sampe hampir 10 kado (kayanya paling banyak dari nyokap gue sih:p). Tapi pas udah besar, paling dapat 3 kado. Tahun ini, malah dapat 2 kado aja, one of it dari Mami.
Tapi anak2 dapat banyak, sampe happy banget mereka:)

Tradisi ini yang pingin gue bawa sampe anak2 besar nanti. Selain di pohon natal bersama ini, di pohon natal di rumah juga ada kado-kado. Kiddos were very excited.

Bertepatan dengan perayaan Natal keluarga ini, kita juga memperingati hari Ibu. Just a simple ceremony, giving a flower to your Mom and singing "Bunda". Tapi cukup membuat ibu-ibu terharu.

Mom & sistas. The best sistahood in the world
Thanks Mom(s) for teaching us a lot.
Mengajarkan gue & sodara2 gue tentang arti sebuah keluarga (besar). Saling peduli, saling sayang, saling memberi. Ibu2 ini yang memastikan anak2nya mendapat kado saat Natal. Ibu2 ini tidak akan membiarkan anak & ponakannya tidak mendapatkan satupun hadiah saat Natal. 
Kalau mereka mau, bisa aja mereka hanya memberikan hadiah ke anak2nya masing2, tanpa peduli ponakannya. Dari sejak kecil, gue selalu mendapat hadiah tidak hanya dari nyokap gue, tapi dari tante2 gue ini, juga dari sepupu2 gue.

Thanks for teaching me about giving. So when Christmas comes, what I think about is the present for others, not for me and my kids. (Setelah Natal lewat, baru beli2 buat diri sendiri, yeay! <-- sama juga boong:p)

Happy Mothers Day, Mom(s). Love you love you love you:)

Thursday, May 02, 2013

Selamat HarDikNas!


Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ga biasa2nya gue nulis serius di blog yaaa, hehehe.. so this is one of a kindJ
Hari ini, gue menuliskan kegalauan gue (jiah, emang biasanya enggak?:p) as a mom (of three, if you may add), tentang pendidikan anak di Indonesia.
Seperti pernah gue twit, sekolah di Indonesia nowadays cukup variatif, dan ini yang membuat orang banyak pilihan sekaligus bingung.

Pertama, sekolah konvensional, yaitu tipikal sekolah lama yang biasanya mengutamakan hafalan. Less logic, karena yang diajarkan mostly udah pasti. Issuenya, banyak hal2 ga penting yang diajarkan di sekolah ini. Anak2 jadi kurang kritis, kurang kreatif, lebih banyak menghafal.
Remember waktu kita kecil, gambar gunung dengan matahari tenggelam di atasnya, lalu jalan dan sawah di bawahnya? Gue ga tau apakah sekarang gambar seperti itu masih diajarkan apa enggak.
Satu hal yang baik adalah cara sekolah menerapkan disiplin buat anak2nya.

Di international (atau national+) school, anak diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, berani mengemukakan pendapat. Gue salut sama kurikulumnya, salut sama pengajar2nya. Anak yang pendiam, ga percaya diri, bisa berubah menjadi anak yang berani, smart dan luar biasa kreatif.
Satu hal yang gue salut banget, international school ini biasanya mengutamakan proses belajar, dan bukan hanya resultnya J I adore them for this.
Walaupun gue kecewa karena ternyata ada international school beken yang ga mengajarkan agama sama sekali. Kebebasan yang (bisa jadi) bablas.

Satu yang sampai sekarang gue belum dapat jawabannya.
Apakah sekolah2 itu mengajarkan anak untuk toleransi? Seberapa penting mereka mengajarkan pendidikan moral?
Its not Pendidikan Moral Pancasila yang harus diajarkan (Pancasila is an ideology, right?), tapi pendidikan moral manusia! So as long as you’re a human, dimanapun lo hidup, di negara manapun, apapun agama lo, apapun ideologi negara tempat lo tinggal, lo tetap punya “budaya diri” yang lo bawa sampai mati. Such a simple thing like lo harus antri, mengutamakan ibu hamil atau orang tua untuk duduk di bis, membantu orang menyebrang jalan, dll.

Gue rasa, di Indonesia (atau bahkan di dunia), udah terlalu banyak orang pintar. Cas cis cus juara English speech, olimpiade matematika, dapat medali emas di olimpiade fisika, etc etc. Tapi seberapa banyak sekolah yang mengajarkan anak untuk jujur? Seberapa banyak sekolah yang menjelaskan ke anak kenapa dia tidak boleh nyontek (instead of ga jujur, tapi nyontek itu adalah mengambil yang bukan hak lo, dan itu sama dengan korupsi!). Nyontek is awal dari korupsi.

Nilai2 seperti itu yang semakin berkurang diajarkan di sekolah, tapi ironisnya, hal2 itu yang semakin diperlukan di jaman sekarang ini.
Menjadi juara is one thing. Bagaimana cara lo menjadi juara is another thing.
Jago bahasa inggris itu penting. Tapi menaati peraturan ga kalah penting.
Menggambar gunung itu bisa dengan banyak cara, sama seperti warna anggrek itu ga selalu ungu, dan wortel ga selalu orange.

Again, there’s such no perfect place. No perfect school to learn.
Sebagai orang tua (yang belum tua2 amat:p), should combine each component, seperti main puzzle.
Apa yang belum diberikan di sekolah, kita harus berikan di luar sekolah. Misalnya… klo lo pilih sekolah katolik konvensional (pelajaran alkitabnya mantep banget ini…), anak kudu kursus bahasa inggris.
Kalau anak lo masuk international school, sepanjang hari udah cas cis cus, ga perlu lagi les inggris. Tapi mungkin perlu Sunday school di gereja.

Life is about completing the journey.
You choose your journey, fight for it, and enjoy it the most.  
So, anak2 lo nanti bakal sekolah dimana, Yan?
*geleng2* “Masih bingung gue….”

Friday, April 26, 2013

Kancil Yang Baik - Book Review


Kali ini gue mau me-review salah satu buku cerita anak yang menurut gue oke banget. Kiddo's books are not always about princess or prince, its fabel anyway!
Dan lebih okenya lagi, penulisnya Clara Ng, donggg… secara dia penulis favorit gue, dan gue punya hampir semua novel2nya dia. Love you, Kak Clara! :)

Kenapa menurut gue menarik?

Being the first.. 
Di dongeng lama, kancil digambarkan sebagai sosok binatang lincah, nakal dan cerdik. Suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat ga, dongeng waktu kita kecil (sampai kita dewasa), kancil itu mencuri timun dari sawah Pak Tani? Tertangkap, lalu dikurung. Kancil juga berhasil mengelabui buaya, yang terkenal dengan keganasan gigi2nya.
Kancil is the legend of bad and naughty animal. 
Ingat lagu ini?
Si kancil anak nakal,
Suka mencuri ketimun
Ia layak dihukum
Jangan diberi ampun

Nah di dongeng Kancil Yang Baik ini (dari judulnya aja udah 'sesuatu' ya), Kancil digambarkan sebagai binatang yang baik. Menariknya, Kancil ini SAMA dengan kancil yang dulu. Kancil ini, adalah kancil yang dulu mengelabui Buaya dan mencuri dari kebun Pak Tani. Tapi sekarang dia udah bertobat. InterestingJ

Karena terkenal dengan kenakalan dan kelicikannya, ga mudah buat Kancil untuk membuktikan, bahwa sekarang dia udah jadi binatang baik. Pak Tani dan Buaya tentu saja ga begitu aja percaya dengan kebaikan Kancil.

Usaha atau extra effort ini yang menurut gue menarik. Kancil berusaha membuat Pak Tani dan Buaya percaya dengan ketulusan hatinya. Kancil membuatkan makanan untuk Pak Tani, menjahit syal untuk Buaya. Selain berusaha membuat Pak Tani dan Buaya, Kancil juga berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya (dengan membantunya belajar), dan anak yang baik untuk orang tuanya.

Banyak hal yang bagus banget buat diceritakan ke anak2, bahkan ke kita juga yang udah tua2 ini :p
1.       Kenakalan atau perilaku di masa lalu itu akan terus diingat, terutama oleh orang2 yang pernah kita jahati
2.   Perlu usaha untuk menghapus ingatan orang tentang kenakalan atau kejahatan di masa lalu. Mereka mungkin takkan melupakan sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menambah memori mereka tentang perilaku baik
3.    Sebaliknya, dilihat dari sisi Pak Tani dan Buaya, ga selamanya orang yang jahat itu akan selalu jahat. Kita harus bisa menghargai niat dan usaha orang lain untuk berubah

Nah, ini loh penampakan bukunya. Grab it soon:)


Thankyou, Kak Clara Ng for writing such an inspirational yet simple story

Sunday, March 31, 2013

When is my ME TIME?


Seringkali gue kangen dengan masa2 gue bisa tidur malas2an di ranjang. 
Bangun siang, ngemil coklat, baca novel seharian. Tidur lagi, makan, baca lagi sampai malam.
Gue kangen masa2 gue bisa menulis seharian. Nulis apa aja. Uneg2 buat di blog, puisi2 kecil, cerpen2 lucu, atau novel yang udah sepuluh tahun ga kelar2 itu (uh jadi inget…)
I miss my “do nothing” time. I really miss it.

Yang terjadi sekarang adalah.. Gue bangun pagi dengan terburu2. Kadang ingat berdoa, kadang enggak. Nyiapin sarapan suami, nyiapin bekal Keyla, mandi terburu2, bangunin suami, mandiin Keyla, siap2in Keyla sekolah, suapin Keyla, gue siap2, antar anak2 ke rumah mertua, antar Keyla sekolah, gue ke kantor. (Sekarang dipermudah dengan anak2 dijemput Opa ke rumahnya).

Di kantor, gedebak-gedebukan seharian, tau2 udah jam 5, jam 6, kadang jam 7. Ngibrit pulang, jemput anak2, pulang. Sampai rumah, mandi, makan, boboin anak2.
What happened to my daily lives?

Gue sering menemukan diri gue kecapekan, which I wanna do is selonjoran, with a good book in my hand.
Even ketika gue bengong aja, atau waktu gue tidur, kepala gue ga bisa berhenti mikir. Tentang anak2, sekolahnya, kesehatannya, mikirin nyokap, kerjaan suami, masalah2 di kantor gue, etc. Prosesor gue yang Pentium lemot ini, makin lemot deh karena kebanyakan file wkwkwk…
Pernah juga gue ga bisa tidur sampai hampir subuh, dan di kepala gue banyak banget yang gue pikirin.
Tapi sering juga sih gue nempel bantal langsung ngorok, wkwkwk.. hahaha…
The point is… I’m missing my silent minutes.     
Selama ini, gue ga pernah bisa ninggalin anak2 hanya dengan nanny atau Mbak nya. Dan since anak2 udah di mertua gue on weekdays dari pagi sampai malam, ga mungkin dong gue titipin lagi pas weekend. Dan jujurnya, gue merasa bersalah juga sih, kalau ga spending time sama anak2 on weekend, secara pas weekdays gue pulangnya malam.
Nyokap berulang kali bilang, “Jalan2 gih, anak2 kan ada Mbaknya, atau nannynya.”
Hiks, tetap aja sulit buat gue… My parnoan is killing me. Bayangan suster menyiksa anak2, mbak2 mukulin anak2 itu keep playing in my head. Jadi akhirnya gue batal terus deh pergi.
Beberapa meeting luar kota pun gue jarang ngikut, karena kudu nginep dan ninggalin anak2. Parno dan rasa bersalah itu terus mendominasi gue.

Sampai akhirnya seorang sahabat gue bilang, “Lo tuh harus punya ME TIME juga. Biar lo ga ngerasa anak2 itu sebagai beban.”
Ah ya, benar juga.

Waktu usia Sam menginjak 1 tahun, gue ikut meeting kantor di Batam, dan ke Spore setelah itu.
Cant believe gue ga pernah keluar kota atau ke luar negri lagi setelah gue punya anak.
Dan ajaibnya, gue merasa baik2 aja. Ada perasaan kangen anak pastinya, dan perasaan bersalah itu juga ada. But I had fun, I felt fun.
Suami gue nyusul besoknya ke Spore. We both had fun, since kita ga pernah lagi pergi berdua sejak punya anak.

Salah seorang teman gue bilang, “Kunci dari parenting adalah hubungan suami-istri.”
Gue baru ngeh artinya.
Kalau hubungan lo sama suami/istri lo baik, interaksi ke anak2 juga akan baik. Hubungan suami-istri itu adalah salah satu kuncinya.
Hubungan suami/istri yang erat, bonding yang kuat, bakalan bikin lo bisa menghadapi apapun juga, termasuk masalah anak2.

Setelah itu, gue sempat beberapa kali dating, nyolong waktu di weekdays. Alex jemput gue di kantor, trus kita kabur dinner. Ga bisa yang jauh, but its ok, that’s enough for now. Yang penting ngabisin waktu berdua.
Saat weekend, kalau nyokap gue bisa jagain anak2, we’ll be very happy. Tapi kalaupun enggak, gue ngusahain 1x/bulan untuk pergi berdua suami.
Terakhir, waktu Valentine kemarin kita nonton & dinner J (Eh itu udah 1.5 bulan lalu yah?:p)
Yah, saat ini gue memang belum punya ME TIME sendiri. 
Tapi setidaknya gue punya OUR TIME sama suami gue. And for now, that’s enoughJ

Berbagi Peran


Memasuki awal 2013 lalu, gue punya 1 resolusi : pingin menyeimbangkan hidup dengan membagi waktu lebih baik di antara seribu peran gue. Secara gue anak, istri, emak, majikan, atasan, bawahan, karyawan…
Ternyata bukan sekedar resolusi yah, resolusi BESAR dan SUSAH itu!

Memasuki bulan ke-4 alias seperempat tahun sudah terlewati, gue masih belum bisa mengatur peran2 itu dengan lebih baik.
Gue pernah berandai2…
Dari pagi sampai sore, peran gue adalah karyawan, konselor, atasan, bawahan, teman. Tentu saja ini di kantor.
Sore ke pagi, peran emak, anak & istri yang harus lebih berjalan.
Idealnya sih begitu.
Tapiiiii teori tinggal teori.

Di jam kerja, gue kadang kepikiran “udah lengkap belum ya vaksin Samantha?” atau “Keyla udah pulang sekolah belum, ya?” atau “Michael masih pilek ga, ya?” atau “tekanan darah Mami masih tinggi kah?”
Dan di jam malam, gue suka kepikiran juga, “si kandidat ini nanti buat gantiin si ini”, atau “si itu masih ribut sama atasannya atau ga” atau “besok janji konseling dengan si ini apa si itu ya?”
Gue pernah survey tentang penyakit anak, pada saat jam kerja.
Gue juga pernah kerja saat midnight setelah anak2 tidur.

Lalu gue sadar sesuatu.
Peran itu ga bisa begitu aja diatur-atur kaya lagi njadwalin meeting. Peran itu menempel sama lo, ngikutin lo, kemanapun lo pergi. Tentu saja dengan pengaturan peran yang optimal ya, artinya kalau lo lagi jalan sama suami lo, peran lo ya sebagai istri. Kalau lo di kantor, ya lo karyawan. Tapi ga akan bisa full 100%. Orang itu bukan robot yang bisa seenaknya diatur. Kalau lo robot atau computer yang bisa di-program, lebih gampang ya.
Pagi-sore à program biar hanya urusan kantor aja yang muncul
Sore-pagi à urusan rumah doang yang bisa dipikirin
Ternyata kan enggak.
Manusia adalah makhluk hidup yang punya pikiran, hati, akal budi. Saat pikirannya tau dia harusnya mikirin kerjaan, dia toh ga bisa mencegah pikirannya berkelana ke rumahnya, saat anaknya sedang sakit, atau saat nanny nya baru (eh, ini gue ya… wkwkwk).
Saat pikiran harusnya mikirin anak aja di rumah, tau2 hatinya terbang ke kantor, mikirin bawahannya yang lagi sedih atau kerjaan yang belum beres, ga bisa dicegah juga.
Jadiii kalau suatu saat lo nemuin temen lo, bawahan lo, (bahkan) atasan lo, lagi mikirin atau ngurusin urusan pribadi saat jam kantor, itu lumrah. Kalau urusan pribadinya beres, dia akan bisa contribute more to the job. (terutama cewek yaaa, secara cewek itu ngurus rumah, anak, pembantu, nanny, listrik, air.. yahhh jadi curcol deh wkwkwk).
Yah asal ngurusin pribadinya ga keterlaluan aja.. misalnya : pakai fasilitas kantor dari pagi sampai malam buat survey2 sekolah anak.. à ini mah kelewatan:p
Atau karena mau married, always buka weddingku.com di jam kerja setiap hari untuk cari2 vendor à ini juga minta dijitak
So selama masih dalam batas wajar, abaikan aja. Anggap aja itu cara mereka to fulfill their needs to complete the job. Percaya deh, selama urusan pribadi lancar, urusan kerjaan akan jauh lebih lancar.

Sampai sekarang, gue masih juga keteteran.
Tapi gue berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan itu semua.
Saat weekend, sebisa mungkin spend time sama keluarga. Dalam keluarga itu aja ada peran2 yang bentrok juga. Antara jadi anak dan jadi emak. Seringnya gue gabungin aja, ngajak anak2 plus nyokap gue jalan, everybody happy.
Tapi ada saatnya gue harus jadi anak aja, alias ngajak jalan nyokap gue berdua aja.
Dan seringkali dalam peran jadi emak, gue harus spend time sama Key aja, lalu sama Mich aja, dan sama Sam aja. Saat ini, gue baru bisa melakukan ini sama Key. Tapi ke depannya, pingin ada satu waktu khusus sama masing2 anak berdua aja. Semoga bisa, ya.

Gue ingat minggu lalu, ada satu kejadian yang bikin gue ngilu banget.
Gue sama Alex lagi bercanda sama Sam. Karena Sam yang paling kecil, mimik mukanya masih kaya bayi banget. Kita ketawa-tawa ngeliatin Sam yang lagi lucu-lucunya. Sampai gue dengar suara sesegukan di ujung kamar. Ternyata Mich lagi ngeliatin, matanya berkaca-kaca dan mukanya merah, seperti biasa kalau dia lagi sedih. OMG, kalau anak bisa bikin orang tua patah hati, ini salah satu moment nya.
Mich lagi ngeliatin kita bertiga dengan tatapan terluka. It really broke my heart in pieces.
Gue langsung pelukin dia, bilang sama dia kalau gue sangat sayang sama dia. And its true, Michael is my guardian angel, he’ll always be. Malam itu, gue pelukin Mich sampai dia ga sedih lagi, senyum, lalu ketiduran.
Itu salah satu contoh simple peran ibu yang nabrak. Even dalam 1 peran aja, kalau kita punya more than 1 customer, bisa terjadi tabrakan.

Satu hal yang gue tau.. Walau kadang super exhausted dengan peran2 itu, gue merasa hidup gue ini fulfilled banget. Hidup gue ini berarti banget. Ga pernah ada kekosongan, sampai kadang gue merasa kangen dengan kekosongan yang ga ngapa2in itu (nanti gue cerita soal rasa kangen yang aneh ini, ya).
Dan tiap dalam kesibukan dan keriwehan berbagi peran ini, gue sungguh bersyukur atas peran2 yang Tuhan berikan buat gue. Tuhan pasti tau riwehnya hidup gue, wkwkwk… dan Dia pasti turun tangan membantu gue.

Jadiii ga ada teori berbagi2 peran lagi… Cuma optimalin aja tiap peran2 itu pada tempatnya. Semoga gue bisa ya *lap jidat*

Thursday, September 06, 2012

Something about Keyla


Beberapa bulan terakhir ini, gue seriiinggg banget nerima laporan soal Keyla. Untung aja laporan bukan dari sekolah (fiuh). Tapi dari mertua alias opa-oma nya.

Keyla nakal, selalu menentang, ga mau nurut. 
Setiap dengar laporan atau liat sendiri, perasaan langsung jadi sedih luar biasa. Ditambah perasaan bersalah.
Daddy sama Mommy salah ya, Key… Maybe we’re not the best parents for you. Penuh emosi, kurang sabar. Kami juga memberikan 2 adik untukmu, dalam jangka waktu yang singkat. Sayang dan perhatian yang tadinya hanya untuk Keyla, tau2 terbagi tiga.
Pasti sangat berat buatmu ya, Key?

Kamu mungkin dewasa terlalu cepat ya, Key.
Di usia yang baru 4 tahun lebih sedikit, nakalmu udah seperti anak 6 tahun.
Di usia setahun, dimana anak2 lain baru bisa berceloteh yang hanya mereka sendiri yang ngerti, kamu udah bisa nyanyi, udah bisa bicara dengan jelas, tanpa cadel.
Di usia satu setengah tahun, kamu udah bisa cerita.
Anak Mami yang satu ini memang luar biasa cerdas.
Baru di playgroup, sudah ada 2 piala dan beberapa medali yang kamu raih di sekolah.
Betapa Mami sangat bangga sama Keyla.

Tapi di sisi lain….
Kenapa Keyla selalu melawan, dengan kata2 yang bahkan ga pernah terpikir bakal diucapin sama anak 4 tahun?
Kenapa Keyla selalu teriak2 kalau permintaan ga diturutin?
Kenapa Keyla suka bentak2 Mbak atau Mbak Sus, tanpa mereka melakukan kesalahan?
Kenapa Keyla kasar sama Michael? Suka omel2in Michael, hanya karena Michael ga sengaja senggol kaki atau tangan Keyla?

Rasio gue mengatakan, Keyla sedang mencari perhatian. Orang tua, suster, mbak, opa oma, tante dan om, semua perhatiin adik2 Keyla. Semua sayang Michael, yang so adorable. Semua suka Samantha, yang lucu dan terus tersenyum. Siapa yang perhatiin Keyla? Perhatian ke Keyla hanya formalitas.
Ah, apa ini sering terjadi di anak pertama, ya?
Gue bukan anak pertama, jadi ga tau gimana rasanya kalo perhatian yang seharusnya ditujukan ke kita, beralih ke orang lain. Ketika adik gue lahir, gue dah hampir 3 taun, dan gue ga inget merasa pernah dibeda2kan apa enggak.
Teorinya sih seperti itu, ya.

Berkali2 gue membekali diri dengan buku2 dan jurnal2, tetap gue kehabisan akal menghadapi anak gue yang satu ini. Berkali2 gue nahan sabar, berkali2 juga kesabaran itu selalu habis. Menerapkan teori A, B, C, bahkan sampe F (hasil bacaan), tetap ga efektif. Keyla ga berubah. Agresifitas luar biasa, energy tingkat tinggi, pembangkang, selalu melawan, dan kurang ajar.
Dan yang terjadi adalah, lagi2 gue omelin Keyla. Memang akhirnya dia nurut dan patuh, itupun setelah belasan kata2 yang (sumpah) ga pernah terpikir sama gue bakal dibilang sama dia. Berkali2 Keyla kena hukum. Kena bentak. Diomelin. Hasilnya? Tak ada perubahan.

Sampe gue kehabisan akal dan capek sendiri. Apa yang harus gue perbuat ya ke anak gue ini?

Dan lagi2, untuk keadaan yang gue ga tau harus bagaimana, Dia menunggu gue, di ujung doa.

Dalam setiap keadaan marah, dan tiap kali gue berdoa, Tuhan selalu bilang sama gue.
“Aku ga pernah jenuh menarikmu ke jalanKu. Aku ga pernah membiarkan kamu. Berapa banyakpun kesalahanmu, Aku takkan meninggalkanmu. Karena kamu adalah anakku. Aku ada di dalam kamu. Bahkan Aku memikul salibmu.”

Selalu, ga pernah enggak, kata2 ini menjernihkan pikiran gue.
Satu hal yang gue sadar, “menyerah” ga boleh ada di kamus gue. Ini adalah anak gue. 9 bulan dia ada di perut gue, berbagi napas dan darah dengan gue. Gue pasti bisa handle dia. Harus bisa. Gue yang melahirkan dia. Darah gue ada di dalam tubuhnya. Pikirannya. Hatinya.

Gue belum tau bagaimana caranya. Belum tau kapan. Belum tau dengan apa. Dengan siapa.
Tapi Mami pasti berjuang untuk kamu, Key. Menjadikanmu anak baik. Mencintaimu tanpa syarat. Mengasihimu setulusnya. Seperti apapun kamu.
Bukan hanya suami yang harus kita terima seutuhnya. Apa adanya. Pun anak2. Karena anak2 itu, adalah belahan jiwa kita yang lain. Bukan tulang rusuk memang, tapi darah dan seluruh gen kita ada disana.

So I wont give up, I wont give up. No matter what. I will not give up. God gave me you, He knew I can take care of you. I’ll be the best mom for you. I don’t know how, but I will. Never give up. Promise.

I love you very much, Key

Mastitis


Kejadian yang udah lama ini, telat banget gue posting. Iya iya, gue super late. Tapi kok rasanya harus gue tulis juga ya. Demi mencegah makin banyaknya ibu2 yang jadi korban si M ini.

Gue udah 3x kena mastitis. Yang 1 dan ke-2 itu pas habis melahirkan. Seperti ular gigit buntut, sebabnya saling melingkar.

ASI belum lancar à baby udah haus, jadi gemes gigit2 puting à puting luka à kekeuh disusuin à puting makin luka berdarah à frekuensi nyusuin berkurang karena luka à payudara makin bengkak à ASI masih tersumbat

Mastitis 1 dan 2, akhirnya sembuh sendiri, cuma consume pan*dol biru aja.

Mastitis ke-3 ini, muncul ketika usia Samantha 7 bulan. Puji Tuhan, udah lewat ASIX. Duh asli, kalau gue ingat2, Tuhan itu super baik ya. Coba kalau gue kena mastitis di usia Sam 5 bulan, which is tinggal dikit lagi dia kelar ASIX, mungkin gue bisa nangis2 darah kali. Secara nanggung bentar lagi makan, gitu loh.

Awalnya, gue mengubah frekuensi pumping gue. Entah kenapa, memasuki bulan ke-6, Samantha malah suka kebangun malam dan minta susu. Jadi…yang tadinya pumping di rumah waktu malam sebelum bobo, kali ini gue bablas tidur. Dengan maksud toh malam Sam juga minta susu, jadi gue bisa kasih ASI langsung ke dia.
Ternyataaa sodara2, inilah awal kesalahan gue. Harusnya walaupun baby akan minta mimi di malam hari, tetap kita harus pumping tiap 3-4 jam *jitak kepala sendiri

Berhari2 gue ga pumping malam, dan Sam emang bangun terus.
Sampai suatu kali di weekend, dengan tujuan bakal ngasih ASI langsung (so pagi nya gue ga pumping), siang2 PD udah mulai bengkak, tapi belum sakit.
Sorean baru mulai sakit, dan kayanya mulai tersumbat. Soalnya Sam mimi sambil marah2 (mungkin keluarnya dikit2 ya?). Gue tetap kekeuh kasih langsung.
Hari itu gue kontrol pipisnya Sam, yang emang dikit banget, beda dengan hari2 biasa. Wah, pertanda kurang cairan nih. Badan gue pun mulai kerasa ga enak *radar mulai bunyi
Nah, gue panggil lah si Mbak Pijit yang pernah beberapa kali mijit gue after due. Asli waktu 1x mijit, gue ga bisa nikmatin sama sekali. Suhu badan mulai naik dan badan mulai meriang. PD gue dipijit pelan2, sedikiiiittt aja keluar susunya.

Hari besoknya, badan makin demam, dan PD makin keras.
Puncaknya menjelang malam, suhu badan gue hampir 40 derajat, gue menggigil, PD bengkak.. Meluncur lah gue keUGD Mitra. Disana dikasih beberapa obat, lalu di-refer ke ruang laktasi. Suster2 disana (maaf) terus terang tidak terlalu banyak membantu. Yah mereka menjalankan prosedur aja sih kali ya… Gue dikasih baskom berisi air panas & air dingin (seperti yang udah2), disuruh kompres, diiringi tatapan prihatin sambil bilang “Sakit ya, Bu?” sambil mencet2 PD gue *fiuh.. Well I expect more tadinyaJ
Anyway, sudahlah…
Habis dikompres, gue pompa, kompres, pompa lagi. Masih tak menolong, cuma dapet 20 ml.
Akhirnya lewat midnight, gue pulang.

Besoknya, masih belum membaik. Air susu masih ga keluar, PD masih bengkak, hanya demam aja yang udah turun (mungkin karena obatnya kali ya).
Akhirnya setelah baca2 dan cari info (juga referensi), gue ke Mom & Jo. Duluuuu sekali pernah, tapi tetap saja tempat ini terlihat menakjubkanJ Baru masuk aja, rasanya udah sembuh, hehehe.. super comfyJ
Great place, great service, (wow) great price, hehehe:p Well it was worth every cent J
30 menit kurang lebih di-massage. Entah karena tempat yang sedemikian nyaman, entah karena therapist yang terlatih, atau karena udah berhari2 (jadi gejala pun mulai membaik), PD agak melunak, dan ASI mulai keluar sedikit demi sedikit.

Di sore itu juga, gue ke obgyn yang dulu membantu persalinan gue. Yes, Dokter Sugi it isJ
Begitu gue bilang mastitis dan bilang udah dipijit, dia bilang “Jangan dipijit, Di. Mastitis itu kan kuman. Klo dipijit, nanti kumannya nyebar.”
“ASI nya aman kan, Dok?” tanya gue.
“Jangan dikasih ke baby lah Di, ada kumannya. Kondisi baby kan kita ga tau, ya.”

Wah, beda2 yah. 
Menurut jurnal yang gue baca, mastitis itu adalah penumpukan ASI yang mengakibatkan ASI jadi beku/gumpal, sehingga tidak bisa keluar dengan lancar. Iya betul ada kuman nya, tapi baby will adjust with it. Ini saatnya baby belajar kuman.
Beberapa jurnal bilang harus dipijit supaya ASI keluar, beberapa bilang ga boleh dipijit.
Sutralah, gue udah dipijit ini…

Ow ya, dari Dokter Sugi, gue dapat antibiotik, dan disuruh stop obat2 lain yang diberikan oleh dokter UGD.

Besoknya keadaan dah membaik. Tapi asliiii, ASI gue seret bangettt… Saat ini pun masih berusaha relaktasi *tarik napas panjaaangggg

Kesimpulang yang bisa gue ambil :
1. Jangan ngurangin frekuensi pumping!
2. Klo udah kerasa ga enak (keras atau bengkak) dan ASI ga bisa keluar lancar, better kompres air panas & dingin, lalu pumping
3. Mengenai pendapat boleh dipijit atau enggak, terserah masing2. Tapi gue ngerasain sendiri kalau dipijit itu ada manfaatnya, as long as yang mijit betul2 ngerti

Semoga setelah ini,.... byebye Mastitis :)

Tuesday, May 22, 2012

Kebutuhan ASI & Jadwal Pumping

Moms & Moms to be, berikut gue mo share data kebutuhan & jadwal pumping ASI ya. Buat gue, ini matters banget, secara emak bekerja, hehe...

Kebutuhan ASIP Keyla, Michael & Samantha untunglah sama. 1 minggu sebelum cuti, gue membiasakan anak2 mimi dengan durasi waktu tertentu, berkisar 2-2.5 jam sekali. Jadi daripada mimi dikit2, prefer mimi dengan porsi yang lumayan, tapi range waktunya juga lumayan lama. Karena anak2 gue cenderung gampang gumoh sehabis mimi. So daripada tiap abis mimi dikit2 mesti gumoh, dicoba mimi pelan2, porsi agak banyak, durasi lebih lama. 


Perhitungan gue tinggal kerja adalah dari jam 08.00 - 19.00



Ditinggal kerja selama11jam
Jam mimiminmax
06.00Mimi langsung
08.30120150
11.00120150
13.30120150
16.00120150
18.00120150
20.30Mimi langsung
Jadwal pumping
02.00
05.00
10.00
14.00
17.00
23.00



Karena anak2 mimi 5 botol sehari @120-150 (itu dosis sekali mompa nya gue), jadi gue harus pump minimal 5x sehari, hanya untuk menuhin kebutuhan di hari itu aja (ga pake simpenan). Klo mo nyimpen, ya harus lebih.
So IF gue bisa mompa 3x sehari di kantor (which is jarang), artinya gue harus pump min 2x di rumah, dengan min porsi 120cc.
IF gue bisa mompa 2x di kantor (ini yang sering terjadi), artinya gue harus pump min 3x di rumah.
Ini untuk edisi kejar tayang loh ya, jadi pompa hari ini, untuk diminum besok nya.
Kalo weekend gue ada rencana pergi tanpa ngajak baby, gue harus akalin min stock 2 botol, dicuri2 deh di waktu2 yang padat itu, hehe..

Jadi untuk Moms yang masih cuti, hayooooo stock sebanyak2nya, sehari bisa nyimpen 1 botol aja dah bagus. Secara gue sekali pump hanya untuk 1x mimi. Untuk Moms yang hasil pump nya bisa nyampe 300cc (buat 2x mimi), bisa lebih bernapas lega. Waktu masih cuti, gue dah stock 20 botol. Tapi seiring dengan kejar tayang ini, di usia baby 5 bulan, stocknya perlahan2 abis, dan sekarang kejar tayang deh, huehehe.. salah perhitungan nih :)

Stock itu penting banget, karena lo ga tau kapan ASI lo kadang seret. Kaya gue nih, hari ini aja sekali pump cuma dapat 80 *lap keringat. 
Terus, klo di tengah2 jadwal midnight pumping, si baby bangun dan minta mimi, artinya jatah ASIP juga berkurang. Seinget gue, gue pernah dalam 5 jam kebangun 3x untuk pump :p Tapi kluarnya ga banyak juga, karna gue nya panik & pusing :)
Prinsipnya, berusaha tapi ga boleh stress, nanti malah makin dikit keluarnya (duh sok ngajarin, padahal ini lagi stress juga, makanya kluarnya dikit, huehehe..)

Good Luck ya Moms, keep breastfeeding :)










Wednesday, April 25, 2012

Menyusui dengan Hati


Having #Samantha

Sectio kali ini, ajaib banget, sama sekali ga sakit!
Agak pusing dan ngantuk setelah operasi, tapi di luar itu, everythings going very well. Ga ada nyeri, malah besoknya dah bisa duduk dan jalan, walopun harus pelan2. Udah bisa mandi sendiri juga, cihuyyyyy!!!
Pingin cium satu2 deh dokter nya :D *impulsif
So, buat Moms yang takut sectio, pernah trauma di operasi sebelumnya, kali ini recommended banget! Gue di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dengan obgyn Dr.Sugi Suhandi, dan Dr.Loyd sebagai dokter anastesi nya. Gue cuma reko Dokter nya aja loh ya, yang lain2nya no comment:)

Belajar dari pengalaman yang lalu, kali ini, gue agak lebih pinter dikit. Begitu puting susu luka, gue stop nyusuin langsung (ingat di 2 kehamilan sebelumnya, ketika puting luka dan dipaksa kasih susu langsung, yang ada malah gue demam, dan susu nya ga keluar pula!). 
Gue decided untuk pompa aja walopun cuma kluar beberapa tetes di hari pertama. Mo dibilang orang bakal kering kalo dipompa langsung, sutralah. Kondisi orang beda2. Kalo gue ngerasa yakin dengan dipompa, akan gue lakukan, daripada anak gue ga dapat ASI. 

ASI utk Sam, di hari kedua .. cuma beberapa tetes aja


Seperti yang lalu2, ASI di 2-3 hari pertama, bikin demot. Cuma keluar beberapa tetes. Untunglah dari pengalaman yang lalu2, di mana kemauan, di situ ada jalan :) Hati gue masih yakin, ASI gue hanya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. 

Di hari ke-2, gue panggil Mbok Pijit yang pernah mijit gue semasa hamil, untuk datang ke RS, mijit payudara. Secara di kehamilan 1 & 2 gue mastitis, kali ini harus ada preventif nya. Entah efek dipijit atau karena doa gue (atau kedua nya), payudara ga sebengkak dulu. Terus gue pompa dan susuin, berganti2an. Yang kanan luka, gue susuin pake yang kiri, yang kanan dipompa aja, gitu juga sebaliknya. Ketika kedua nya luka, gue pompa setiap 1 jam. 
Iya, capek. Iya, bosen. Iya, pegel. Iya, dapatnya dikit. Tapi hati gue masih yakin, ASI gue mesti cukup. Samantha is one of the best gift from God, she deserve to get the best, too.

Setetes + setetes = 2 tetes, lalu 4 tetes, lalu 10 tetes, dan seterusnya. Dari 5 tetes, jadi 10 tetes, dan akhirnya di hari ke-4... mencapai 10 cc, YEAYYYY!!!! Prestasi itu, secara dasar botol udah ketutup susu semua nya, walopun cuma sebaris :)
Dan dari pekatnya ASI di hari2 awal, berharap semoga Samantha dapat kolostrum nya.


Di hari ke-4. Pikiran positif really works :)

Terusss pompa dan susuin... 
Kadang ada perasaan "kok baby seperti ga kenyang" ya? Lagi2 hati gue yang bicara, "Hayooo pasti bisa!"
Pokoknya pompa dan susuin terussss! Dikit-dikit, menjadi bukit :)

45 cc, di hari ke-7
110 cc, 3 minggu setelah melahirkan

Kesimpulannya, efek sectio itu gede banget. Kalau efek operasi sakit -- Ibu nya stress -- air susu ga keluar -- ibu semakin stress -- sementara hormon udah bekerja -- akhirannya payudara bengkak -- mastitis diikuti demam dan sumeng seluruh badan -- biasanya di tahap ini, mudah sekali untuk patah semangat, merasa ga mampu kasih asi, dan menganggap susu formula lah solusi nya.

Puji Tuhan yang Maha Baik, di kehamilan 1 dan 2, walopun udah sampe pada tahap "patah semangat", masih ada sisa2 keras kepala. Sometimes it helps! Ayooo Moms, mari kita menyusui dengan keras kepala :) 

Mau dibilang ASI ga cukup, hayoooo kita buktikan kalo air susu kita cukup!
Mau dibilang baby haus, sementara ASI belum keluar, yah setidaknya kalopun dikasih susu formula, hanya untuk kondisi urgent aja, sampe ASI kita keluar.
Mau dibilang ASI ga kenyang, teteup kekeuh!


Tepat hari ini, usia Samantha udah 5 bulan, dan masih ASIX (yeay!!!). 
Begini cara gue menyiasati :
Gue pompa 1x di jam 6 pagi, 2x di kantor (tergantung waktu nya), 1-2x di rumah (biasanya jam 11 atau 12 malam, dan jam 2 atau 3 dinihari). So, gue dapat 5 botol @100-140cc.
Selama ditinggal kerja, Samantha mimi 4-5x @ 100-140cc (banyak ya, bow!), jadi pas2an lah:)
Gue pernah stock ASI di freezer sampe 20 botol, tapi akhirnya simpanan itu habis juga, karena di awal2 kerja, jadwal pumping masih berantakan. Sekarang simpanan ASI paling 2-3 botol, alias kejar tayang. Pumping hari ini, untuk diminum besok nya. Begitu seterus nya. 
ASI gue tak pernah terlalu banyak, tapi gue sangat bersyukur, masih diberi kekuatan untuk pumping, even in the middle of the night. Gue bisa nabung di weekend, karena Sabtu-Minggu kan sama2 baby, jadi nyusu langsung.


Target Menyusui?
Selama gue masih keras kepala :)
Tak ada target, karena target itu bikin gue stress. Gue ga pernah janji untuk nyusuin sampe Sam 2 taun. Gue hanya janji, gue akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dia.
Dulu waktu gue hanya punya 1 anak, segalanya lebih mudah, karena waktu gue hanya untuk dia. Tapi sekarang, selain Samantha, gue punya Keyla & Michael, yang juga butuh perhatian gue. Gue akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk semua nya :) 


Menyusui itu bukan tentang siapa yang bisa paling lama memberikan ASI untuk anaknya. Bukan tentang siapa yang ASI nya paling banyak.
Menyusui itu, tentang memberikan yang terbaik untuk anak. Tanpa target, tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Super salut untuk ibu2 yang bisa menyusui sampe usia anak 2 taun.
Tanpa bermaksud menghakimi, sangat mengerti untuk ibu2 yang tidak bisa menyusui anaknya. Yakin banget, itu bukan karena ga mau, tapi karena banyak faktor X di luar dirinya, mis kurang didukung lingkungan, stress pasca melahirkan, kesehatan tidak memungkinkan, dll.
Menyusui itu, tentang hati :) 


Share dikit lagi soal ASI
kiri : ASI pink, kanan : ASI putih
Beberapa hari lalu, kaget nya mendapati ASI dari PD kanan warna pink, dan ASI dari PD kiri warna putih. Kenapa bisa pink ya, padahal Valentine udah lewat *krik krik :p
Tanya @ID_AyahASI & @aimi_asi , ada beberapa pendapat : mungkin puting luka, so itu pinky karena bercampur darah, atau mungkin gue habis makan wortel/pepaya yang banyak beta-karoten nya.
Emang sih gue abis makan pepaya, plus setelah gue liat2, puting luka juga. Dan ternyata, bener itu udah bercampur darah. Setelah ditaro di kulkas beberapa lama, cairan darah & ASI mulai terpisah. Walopun katanya aman diberikan ke baby, tetep aja ga tega. Jadi gue tuang cairan ASI yang atas aja, untuk diminum baby. Yang udah bener2 tercampur darah, gue buang.
Sedih sih, tapi ya sudah lah. Jadi inget pernah buang 5 botol ASI karena basi, waktu itu freezer rusak T.T


Ah, ga usah sedih. Bersyukur aja untuk semua yang masih bisa didapat hingga hari ini.
Hari ini, bisa bawa pulang 320 cc untuk Samantha, its a gift :)






Tuesday, April 24, 2012

#Samantha


Di kehamilan gue yang ke-3 ini, gada perubahan fisik yang berarti. Ya iyalah, secara masih gendud, hehehe…
Total berat badan naik 17 kilo, new record! Record naik berat badan yang paling kecil (waktu Key naik 21kg, waktu Michael naik 20kg), yoo jumbo!
Baju2 hamil yang tadinya dah dimasukkin ke koper (untuk kemudian diserah terimakan ke “korban lelaki” berikutnya), gue bongkar lagi deh, pun popok2 baby.
Si “Bapak” yang udah tau duluan kalo gue hamil itu, bilang anak gue cowok. Hmmmm, really? So I will have another boy? Jadi nihhhh, banyakkan yang ikut Daddy ke bengkel, daripada ikut Mommy ke salon?
Kali ini, masalah jenis kelamin ga jadi issue, since udah ada sepasang malaikat J

Dokter mengharuskan gue sectio. Selain karena jarak kelahiran yang terlalu dekat (dan waktu Michael sectio juga), plus plasenta previa pula.
Bulu kuduk gue sampe merinding waktu denger kata2 “Caesar”, keinget waktu melahirkan Michael dulu, sakit nya ampuuunnn… Dipake jalan ga bisa pula, berhari2 ga bisa angkat kaki.

Tanggal operasi ditetapkan. Karena udah pasti caesar, so ga usah nunggu mules. Tapi kita sepakat nunggu sampe limit alias 40 week, supaya jarak kelahiran dengan Michael ga terlalu dekat.
Suatu kali, beberapa hari sebelum due, gue control ke Dokter. Kontraksi kecil mulai muncul, that’s why Dokter minta CTG alias periksa detak jantung baby. Hasilnya masih baik, tapi besoknya disuruh cek lagi (inget banget gue, itu hari Rabu).
Kamis malam, berangkat control lagi, dengan tas darurat di bagasi mobil, seperti biasa. Pas periksa, Dokter minta CTG lagi, dan suruh masuk malam itu juga, since kontraksi semakin sering. Iya sih, emang udah mules dikit2 gue, tapi kirain mules2 boongan.
Huwaaa, langsung panik gue, soalnya Jumat paginya masih ada audit di kantor (rencana nya Senin baru mulai cuti). Tapi..ya sutralah, gue nurut kata Dokter (ga berani macem2 lagi akuuuu)

Malam itu, setelah berdoa, perasaan gue tenang banget. Yakin kalo Tuhan akan lindungin gue.
Pagi nya, semakin tenang, karena Mami datang nungguin gue. Alex udah nginep dari malem. Ada 2 orang ini bersama gue, takkan ada yang tak bisa kuhadapi J

Detik2 Operasi Itu….
Bow, ternyata masuk ruang tunggu operasi dalam keadaan sadar itu, bisa bikin lo ngamatin banyak hal.
1.      Orang yang  biasa2 aja, kalo pake baju dokter atau suster, pake tutup kepala, pake sarung tangan,  point nya jadi nambah!
2.      Ruangan itu dingiiiinnn banget, katanya sih supaya steril ya.
3.   Jadwal operasi Dokter dalam 1 hari itu full banget ya… Gue sempet merhatiin jadwal operasi di whiteboard while nunggu dibius.
4.    Dokter bius gue adalah Dokter Loyd, rekomendasi Shinta (thankyou Shin!). Katanya Dokter ini jago, ga sakit sama sekali. Ya iyalah, baru ngeliat tampangnya aja, dah ngurangin sakitnya, bwahaha.. Yep, ganteng, sedikit bule, muda, pintar dan baik (cupu deh lo, Yan… inget, anak dah brapa..). Dia bilang “Bu, saya suntik ya, efek sampingnya mungkin pusing atau mual.” Informed concent  yang oke banget kan?

Setelah pake tutup kepala (supaya rambut ga ganggu), suntik tulang belakang, pasang jarum infus, selang oksigen, ready to go!
Dari lampu kaca besar di atas, gue bisa melihat bayangan Dokter & staff2nya “ngobok” perut gue. Dan kerasa juga loh, perut di”potong” (asli!). Menurut Dokter, memang masih kerasa, tapi saraf sakit nya di-non aktif-kan.
Mereka “ngerjain” sambil ngobrol2 gitu (kok Dokter Boy blom nyampe ya, katanya macet di sports club.. gue masih inget tuh mereka ngobrol apa:p). Ga ada kesan tegang atau takut, secara mereka tiap hari ngerjain kali yah. Sementara gue parno aja mereka bakal salah gunting atau apa, hihihi…
Ga lama kemudian, Dokter Sugi, obgyn gue, bilang “ready, siap dorong..”
Tau2 ada staff nya dorong perut gue dari arah atas, “siap!”
“Yap ditangkap…”
Lalu.. “Selamat yaaa…”
Hahhhh? Udah nih? Serius? Udah keluar anak gue? Gada drama mules? Yakin?

Beberapa menit kemudian, than… I saw her.
Ah, walaupun udah ke-3 kali nya, tetap aja, I always fall in love at the first sight with my babies. Seperti saat itu… Rasa haru itu begitu sendu.. We finally met, my pinky baby…. Mommy loves you J

Sayang sekali, IMD gagal karena gue keburu mual ga karuan (nyesellll bangettttt)..

Keluar dari ruang operasi, masuk ke ruang observasi, there’s my heroes!
Mami sama Alex masih disana, you’re my truly strength!
Entah karena ruangan yang super dingin, pengaruh obat bius, atau apa, gue menggigil kedinginan. Mami nepuk2 pipi gue (what can I do without you, Mom? Nothing!).

That time I promised you again, I will love you forever, Mom…
Salah satu tanda cinta buat Mami, ikutan project Dear Mama , puji Tuhan royalti nya disumbangkan (Thankyou Kak @lalapurwono ) . Nanti surat nya aku upload juga ya:)

Keyla, Michael, sekarang kita punya Samantha. Daddy Mommy so lucky having you three J

Getting Pregnant, Again :)


Yeayyyyy finally back!
Ehm, ini ditulis udah lama sekali ya, hanya aja baru posting. Jadi bukan berarti gue hamil anak ke-4 loh:)
Bwahahaha, maaf yaaa, kelamaan ga nulis, secara waktunya sekarang susah banget, bow *lap keringet*. Ah gile, jadi emak2 ber-anak 3 sekarang (iye, ude 3 anak aye!), ga kebayang ya?

Ehmmmm… This time I’m not gonna write you details about my pregnancy.

Jadi inget waktu pertama kali, seorang petinggi kantor gue (uhuk uhuk uhuk!) “melihat” bahwa gue hamil. Saat itu, gue belum lama masuk setelah kelar cuti melahirkan Michael (anak ke-2 gue).
Tiba-tiba “Bapak” itu, bilang gini ke gue, “Kamu hamil lagi, ya?”
Hah? Enggak laahhh, kata gue. Plis deh Pak, baru juga masuk, sambil sok-sok tersinggung, karena gue pikir dia bilang gue masih gendut (emang iya sih.. berat badan belum balik normal waktu itu).
Gue pun menganggap itu angin lalu, sampe 2-3 minggu kemudian.
“Kamu hamil ya?” Dia bertanya lagi.
Hiyahhh, kenapa ya, Bapak ini kok insist banget. 
“Enggak, Pak!”
“Udah periksa?”
“Belom.” à mulai geram, tapi kok was-was juga.
“Periksa gih, kamu hamil tuh.”
Dalam hati gue menghitung, udah “datang bulan” belom ya, bulan ini? Perasaan belom. Tapi kan, kalau menyusui, bisa aja ga datang bulan rutin ya? Iya kan? Iya kan?

Iseng-iseng setengah deg-deg-an, gue beli test pack dan tes keesokan pagi nya. Dan hasilnyaaaaa, garis samar itu ada! Super samar, tapi … ADA.

Perasaan gue saat itu, sesuatu yang ga akan gue lupa. Campuran antara kaget, shock, panik, parno. Sumpah lo, gue hamil lagi? Lah Michael baru 3 bulan umurnya!
Gue bilang suami gue, yang sama kagetnya. Seharian itu, gue pening bukan main.
Bukannya tidak senang. Tapi… muncul perasaan yang sukar gue lukiskan. Perasaan bersalah sama Michael, perasaan kuatir tidak mampu mengurus 3 anak, perasaan cemas karena gue banyak makan mentah2 di bulan2 kemaren. Dan trauma berat setelah proses melahirkan yang begitu sulit. Semua campur jadi satu. Alhasil seharian itu, ASI gue merosot drastis. Pun gue cuma bisa bengong aja di kantor, yet tell anybody about the (good) news.

Nyokap gue yang pertama gue kasih tau. Dia mah ketawa2 aja, terus bilang “Mami udah tebak, kan belom mens.” Dilanjutkan dengan, “Anak 3 itu seru, rame. Emang sih repot, tapi skalian kan, nanti kalau udah pada gede juga ga berasa.” Ah, ya!
Lain lagi dengan respon mertua gue. “Hmmmm?” ---hening--- “Emang udah cek ke Dokter?”
Setelah diyakinkan, Mama bilang, “Ya udah, Dian jaga kesehatan.”
Gue yakin, abis itu, Mama mertua gue ikutan pening, secara gue biasa nitip anak2 disana :p

Terlepas dari kondisi fisik, psikis gue yang menurut gue juga harus dieprhatikan. Seperti gue bilang di atas, perasaan bersalah gue ke Michael semakin menjadi, terlebih karena gue disuruh stop nyusuin sama Dokter. Breastfeeding  itu memcu kontraksi, dan mengingat kondisi kehamilan gue yang super rawan di 2 kehamilan sebelumnya, Doc instruct to stop. Itu baru awalnya.
Gue ga bisa gendong Michael. Ajak main pun terbatas. Pelukkin dia harus hati2. Kadang hati gue sedih, kalo liat dia nangis minta digendong. Dan iri, liat semua orang (kecuali gue), bisa gendong dia, bisa ajak dia main.
But again, hidup itu tentang mencari keseimbangan. Michael tumbuh menjadi anak yang mandiri, ga kolokan, baik banget, anteng banget. Sejak usia 3 bulan, ga pernah lagi kebangun malam untuk minta susu. Gue ga bisa bayangin, kalo Michael tiap berapa jam masih kebangun, dengan kondisi gue hamil ini.
Seiring berjalannya waktu, Michael seperti ngerti kalo Mami nya ga bisa gendong. Dan seakan tau kalo Mami nya merasa kehilangan "peran sebagai ibu", dia hanya bisa tidur kalo dikelonin Mami  nya, either itu ditepuk2 pantat nya, atau dipeluk sambil dinyanyiin. 
Tuhan memang super baik ya :) I feel so blessed. 

Kondisi fisik gue pun baik2 aja. Sedikit mual, tapi masih bisa gue atasi. Gue masih nyetir juga, masih kemana2.

Sampe suatu pagi di kantor… gue udah merasa ada yang ga enak. Bener aja, pas gue ke WC, celana gue udah full sama darah. Sialnya lagi, gue pake celana putih, so keliatan banget kan.
Gue lalu diantar teman kantor ke rumah sakit. Thankyou @awyatno J
Thony itu salah satu teman gue yang parno sama darah. Jadi butuh usaha besar dari dia untuk nganterin gue, secara darah gue keluar terus. Alih-alih gue ngerasa sakit, sepanjang perjalanan, malah gue yang ngeliatin dia. “Lo gapapa, Thon? Jangan pingsan ya.”
Selain sama Thony, gue juga diantar sama @Grace_Belinda , perawat klinik di kantor gue (I really hope there’s a nurse in every office!).
Sampai di ruang bersalin, diperiksa macam2, dan suster menyatakan keadaan gue “siaga satu”. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan. Cek jantung baby, USG dalam, USG luar, dll dll.
Anehnya, gue merasa tenang. I feel secure. Sambil berdoa semoga si kecil baik-baik saja. Keep telling the baby, be strong honey, Mommy loves you!
Hampir seharian di ruang bersalin untuk di-observasi, akhirnya gue dipindah ke ruang perawatan biasa. Suami gue, saat itu lagi di Bali, raker dari kantornya. Ga bisa pulang, karena dia ketua panitia nya, dan dia bertanggung jawab penuh atas ratusan orang rekan kantornya.

Beruntungnya gue, teman-teman kantor, teman-teman baik gue, bergantian datang njenguk. Mateng gue kalo gada kalian, secara gue bosenan as always T.T

Menurut Dokter, pendarahan kali ini disebabkan karena beberapa kondisi. Plasenta letak nya di bawah/jalan lahir, alias placenta previa, jadi resiko pendarahan lebih besar.
Kedua, karena aktivitas berlebih (kemungkinan)
Ketiga, lagi2 masalah hormonal.
Ok, gue ngakuin satu hal. Pagi nya, gue gendong Keyla….
Gue tau itu berbahaya, since Keyla udah berat. Tapi pagi itu, Keyla nangis minta digendong, sebelum gue berangkat kerja.
Kalian yang udah jadi Ibu, ga akan bisa menolak tatapan memohon dari seorang anak yang minta digendong, kan? J

Anyway, kondisi gue diharuskan BEDREST TOTAL. Pee dan pup pun harus di bed. Dan diikuti dengan bedrest 3 minggu di rumah. Never mind. Mungkin memang harus begini perjuangan gue menjaga si baby.

Satu hal yang di pikiran gue.
Orang itu.. kesusahannya emang beda2 ya.
Ada yang susah punya anak. Sekalinya hamil, hamilnya kebo banget. Kuat nyetir sampe 9 bulan, masih dinas ke luar kota. Aktivitas seperti biasa, cuma perut aja yang buncit.
Nah gue, dikasih gampang hamil, tapi kehamilan 1 sampe 3, semua nya berlanjut dengan bleeding. Bedrest. Mual2.

Sama seperti hidup.
Ada yang dying to have babies. Ada yang aborsi. Nitipin anak di panti asuhan, while ribuan pasangan lain, berobat kemana-mana supaya punya keturunan.
Tapi tetap.. Tuhan yang mengatur. Dia yang menciptakan. Dia yang berkarya. Dia yang menentukan. Dia yang menjaga, aku dan bayi ku.

Dalam setiap usahamu, galaumu, sedihmu, cemasmu..
Ingatlah satu
Akan selalu ada Tuhan mu
Yang menopang mu
Dan menggendong mu
Sepanjang hidup mu