Showing posts with label caesar. Show all posts
Showing posts with label caesar. Show all posts

Wednesday, April 25, 2012

Menyusui dengan Hati


Having #Samantha

Sectio kali ini, ajaib banget, sama sekali ga sakit!
Agak pusing dan ngantuk setelah operasi, tapi di luar itu, everythings going very well. Ga ada nyeri, malah besoknya dah bisa duduk dan jalan, walopun harus pelan2. Udah bisa mandi sendiri juga, cihuyyyyy!!!
Pingin cium satu2 deh dokter nya :D *impulsif
So, buat Moms yang takut sectio, pernah trauma di operasi sebelumnya, kali ini recommended banget! Gue di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dengan obgyn Dr.Sugi Suhandi, dan Dr.Loyd sebagai dokter anastesi nya. Gue cuma reko Dokter nya aja loh ya, yang lain2nya no comment:)

Belajar dari pengalaman yang lalu, kali ini, gue agak lebih pinter dikit. Begitu puting susu luka, gue stop nyusuin langsung (ingat di 2 kehamilan sebelumnya, ketika puting luka dan dipaksa kasih susu langsung, yang ada malah gue demam, dan susu nya ga keluar pula!). 
Gue decided untuk pompa aja walopun cuma kluar beberapa tetes di hari pertama. Mo dibilang orang bakal kering kalo dipompa langsung, sutralah. Kondisi orang beda2. Kalo gue ngerasa yakin dengan dipompa, akan gue lakukan, daripada anak gue ga dapat ASI. 

ASI utk Sam, di hari kedua .. cuma beberapa tetes aja


Seperti yang lalu2, ASI di 2-3 hari pertama, bikin demot. Cuma keluar beberapa tetes. Untunglah dari pengalaman yang lalu2, di mana kemauan, di situ ada jalan :) Hati gue masih yakin, ASI gue hanya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. 

Di hari ke-2, gue panggil Mbok Pijit yang pernah mijit gue semasa hamil, untuk datang ke RS, mijit payudara. Secara di kehamilan 1 & 2 gue mastitis, kali ini harus ada preventif nya. Entah efek dipijit atau karena doa gue (atau kedua nya), payudara ga sebengkak dulu. Terus gue pompa dan susuin, berganti2an. Yang kanan luka, gue susuin pake yang kiri, yang kanan dipompa aja, gitu juga sebaliknya. Ketika kedua nya luka, gue pompa setiap 1 jam. 
Iya, capek. Iya, bosen. Iya, pegel. Iya, dapatnya dikit. Tapi hati gue masih yakin, ASI gue mesti cukup. Samantha is one of the best gift from God, she deserve to get the best, too.

Setetes + setetes = 2 tetes, lalu 4 tetes, lalu 10 tetes, dan seterusnya. Dari 5 tetes, jadi 10 tetes, dan akhirnya di hari ke-4... mencapai 10 cc, YEAYYYY!!!! Prestasi itu, secara dasar botol udah ketutup susu semua nya, walopun cuma sebaris :)
Dan dari pekatnya ASI di hari2 awal, berharap semoga Samantha dapat kolostrum nya.


Di hari ke-4. Pikiran positif really works :)

Terusss pompa dan susuin... 
Kadang ada perasaan "kok baby seperti ga kenyang" ya? Lagi2 hati gue yang bicara, "Hayooo pasti bisa!"
Pokoknya pompa dan susuin terussss! Dikit-dikit, menjadi bukit :)

45 cc, di hari ke-7
110 cc, 3 minggu setelah melahirkan

Kesimpulannya, efek sectio itu gede banget. Kalau efek operasi sakit -- Ibu nya stress -- air susu ga keluar -- ibu semakin stress -- sementara hormon udah bekerja -- akhirannya payudara bengkak -- mastitis diikuti demam dan sumeng seluruh badan -- biasanya di tahap ini, mudah sekali untuk patah semangat, merasa ga mampu kasih asi, dan menganggap susu formula lah solusi nya.

Puji Tuhan yang Maha Baik, di kehamilan 1 dan 2, walopun udah sampe pada tahap "patah semangat", masih ada sisa2 keras kepala. Sometimes it helps! Ayooo Moms, mari kita menyusui dengan keras kepala :) 

Mau dibilang ASI ga cukup, hayoooo kita buktikan kalo air susu kita cukup!
Mau dibilang baby haus, sementara ASI belum keluar, yah setidaknya kalopun dikasih susu formula, hanya untuk kondisi urgent aja, sampe ASI kita keluar.
Mau dibilang ASI ga kenyang, teteup kekeuh!


Tepat hari ini, usia Samantha udah 5 bulan, dan masih ASIX (yeay!!!). 
Begini cara gue menyiasati :
Gue pompa 1x di jam 6 pagi, 2x di kantor (tergantung waktu nya), 1-2x di rumah (biasanya jam 11 atau 12 malam, dan jam 2 atau 3 dinihari). So, gue dapat 5 botol @100-140cc.
Selama ditinggal kerja, Samantha mimi 4-5x @ 100-140cc (banyak ya, bow!), jadi pas2an lah:)
Gue pernah stock ASI di freezer sampe 20 botol, tapi akhirnya simpanan itu habis juga, karena di awal2 kerja, jadwal pumping masih berantakan. Sekarang simpanan ASI paling 2-3 botol, alias kejar tayang. Pumping hari ini, untuk diminum besok nya. Begitu seterus nya. 
ASI gue tak pernah terlalu banyak, tapi gue sangat bersyukur, masih diberi kekuatan untuk pumping, even in the middle of the night. Gue bisa nabung di weekend, karena Sabtu-Minggu kan sama2 baby, jadi nyusu langsung.


Target Menyusui?
Selama gue masih keras kepala :)
Tak ada target, karena target itu bikin gue stress. Gue ga pernah janji untuk nyusuin sampe Sam 2 taun. Gue hanya janji, gue akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dia.
Dulu waktu gue hanya punya 1 anak, segalanya lebih mudah, karena waktu gue hanya untuk dia. Tapi sekarang, selain Samantha, gue punya Keyla & Michael, yang juga butuh perhatian gue. Gue akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk semua nya :) 


Menyusui itu bukan tentang siapa yang bisa paling lama memberikan ASI untuk anaknya. Bukan tentang siapa yang ASI nya paling banyak.
Menyusui itu, tentang memberikan yang terbaik untuk anak. Tanpa target, tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Super salut untuk ibu2 yang bisa menyusui sampe usia anak 2 taun.
Tanpa bermaksud menghakimi, sangat mengerti untuk ibu2 yang tidak bisa menyusui anaknya. Yakin banget, itu bukan karena ga mau, tapi karena banyak faktor X di luar dirinya, mis kurang didukung lingkungan, stress pasca melahirkan, kesehatan tidak memungkinkan, dll.
Menyusui itu, tentang hati :) 


Share dikit lagi soal ASI
kiri : ASI pink, kanan : ASI putih
Beberapa hari lalu, kaget nya mendapati ASI dari PD kanan warna pink, dan ASI dari PD kiri warna putih. Kenapa bisa pink ya, padahal Valentine udah lewat *krik krik :p
Tanya @ID_AyahASI & @aimi_asi , ada beberapa pendapat : mungkin puting luka, so itu pinky karena bercampur darah, atau mungkin gue habis makan wortel/pepaya yang banyak beta-karoten nya.
Emang sih gue abis makan pepaya, plus setelah gue liat2, puting luka juga. Dan ternyata, bener itu udah bercampur darah. Setelah ditaro di kulkas beberapa lama, cairan darah & ASI mulai terpisah. Walopun katanya aman diberikan ke baby, tetep aja ga tega. Jadi gue tuang cairan ASI yang atas aja, untuk diminum baby. Yang udah bener2 tercampur darah, gue buang.
Sedih sih, tapi ya sudah lah. Jadi inget pernah buang 5 botol ASI karena basi, waktu itu freezer rusak T.T


Ah, ga usah sedih. Bersyukur aja untuk semua yang masih bisa didapat hingga hari ini.
Hari ini, bisa bawa pulang 320 cc untuk Samantha, its a gift :)






Tuesday, April 24, 2012

#Samantha


Di kehamilan gue yang ke-3 ini, gada perubahan fisik yang berarti. Ya iyalah, secara masih gendud, hehehe…
Total berat badan naik 17 kilo, new record! Record naik berat badan yang paling kecil (waktu Key naik 21kg, waktu Michael naik 20kg), yoo jumbo!
Baju2 hamil yang tadinya dah dimasukkin ke koper (untuk kemudian diserah terimakan ke “korban lelaki” berikutnya), gue bongkar lagi deh, pun popok2 baby.
Si “Bapak” yang udah tau duluan kalo gue hamil itu, bilang anak gue cowok. Hmmmm, really? So I will have another boy? Jadi nihhhh, banyakkan yang ikut Daddy ke bengkel, daripada ikut Mommy ke salon?
Kali ini, masalah jenis kelamin ga jadi issue, since udah ada sepasang malaikat J

Dokter mengharuskan gue sectio. Selain karena jarak kelahiran yang terlalu dekat (dan waktu Michael sectio juga), plus plasenta previa pula.
Bulu kuduk gue sampe merinding waktu denger kata2 “Caesar”, keinget waktu melahirkan Michael dulu, sakit nya ampuuunnn… Dipake jalan ga bisa pula, berhari2 ga bisa angkat kaki.

Tanggal operasi ditetapkan. Karena udah pasti caesar, so ga usah nunggu mules. Tapi kita sepakat nunggu sampe limit alias 40 week, supaya jarak kelahiran dengan Michael ga terlalu dekat.
Suatu kali, beberapa hari sebelum due, gue control ke Dokter. Kontraksi kecil mulai muncul, that’s why Dokter minta CTG alias periksa detak jantung baby. Hasilnya masih baik, tapi besoknya disuruh cek lagi (inget banget gue, itu hari Rabu).
Kamis malam, berangkat control lagi, dengan tas darurat di bagasi mobil, seperti biasa. Pas periksa, Dokter minta CTG lagi, dan suruh masuk malam itu juga, since kontraksi semakin sering. Iya sih, emang udah mules dikit2 gue, tapi kirain mules2 boongan.
Huwaaa, langsung panik gue, soalnya Jumat paginya masih ada audit di kantor (rencana nya Senin baru mulai cuti). Tapi..ya sutralah, gue nurut kata Dokter (ga berani macem2 lagi akuuuu)

Malam itu, setelah berdoa, perasaan gue tenang banget. Yakin kalo Tuhan akan lindungin gue.
Pagi nya, semakin tenang, karena Mami datang nungguin gue. Alex udah nginep dari malem. Ada 2 orang ini bersama gue, takkan ada yang tak bisa kuhadapi J

Detik2 Operasi Itu….
Bow, ternyata masuk ruang tunggu operasi dalam keadaan sadar itu, bisa bikin lo ngamatin banyak hal.
1.      Orang yang  biasa2 aja, kalo pake baju dokter atau suster, pake tutup kepala, pake sarung tangan,  point nya jadi nambah!
2.      Ruangan itu dingiiiinnn banget, katanya sih supaya steril ya.
3.   Jadwal operasi Dokter dalam 1 hari itu full banget ya… Gue sempet merhatiin jadwal operasi di whiteboard while nunggu dibius.
4.    Dokter bius gue adalah Dokter Loyd, rekomendasi Shinta (thankyou Shin!). Katanya Dokter ini jago, ga sakit sama sekali. Ya iyalah, baru ngeliat tampangnya aja, dah ngurangin sakitnya, bwahaha.. Yep, ganteng, sedikit bule, muda, pintar dan baik (cupu deh lo, Yan… inget, anak dah brapa..). Dia bilang “Bu, saya suntik ya, efek sampingnya mungkin pusing atau mual.” Informed concent  yang oke banget kan?

Setelah pake tutup kepala (supaya rambut ga ganggu), suntik tulang belakang, pasang jarum infus, selang oksigen, ready to go!
Dari lampu kaca besar di atas, gue bisa melihat bayangan Dokter & staff2nya “ngobok” perut gue. Dan kerasa juga loh, perut di”potong” (asli!). Menurut Dokter, memang masih kerasa, tapi saraf sakit nya di-non aktif-kan.
Mereka “ngerjain” sambil ngobrol2 gitu (kok Dokter Boy blom nyampe ya, katanya macet di sports club.. gue masih inget tuh mereka ngobrol apa:p). Ga ada kesan tegang atau takut, secara mereka tiap hari ngerjain kali yah. Sementara gue parno aja mereka bakal salah gunting atau apa, hihihi…
Ga lama kemudian, Dokter Sugi, obgyn gue, bilang “ready, siap dorong..”
Tau2 ada staff nya dorong perut gue dari arah atas, “siap!”
“Yap ditangkap…”
Lalu.. “Selamat yaaa…”
Hahhhh? Udah nih? Serius? Udah keluar anak gue? Gada drama mules? Yakin?

Beberapa menit kemudian, than… I saw her.
Ah, walaupun udah ke-3 kali nya, tetap aja, I always fall in love at the first sight with my babies. Seperti saat itu… Rasa haru itu begitu sendu.. We finally met, my pinky baby…. Mommy loves you J

Sayang sekali, IMD gagal karena gue keburu mual ga karuan (nyesellll bangettttt)..

Keluar dari ruang operasi, masuk ke ruang observasi, there’s my heroes!
Mami sama Alex masih disana, you’re my truly strength!
Entah karena ruangan yang super dingin, pengaruh obat bius, atau apa, gue menggigil kedinginan. Mami nepuk2 pipi gue (what can I do without you, Mom? Nothing!).

That time I promised you again, I will love you forever, Mom…
Salah satu tanda cinta buat Mami, ikutan project Dear Mama , puji Tuhan royalti nya disumbangkan (Thankyou Kak @lalapurwono ) . Nanti surat nya aku upload juga ya:)

Keyla, Michael, sekarang kita punya Samantha. Daddy Mommy so lucky having you three J

Tuesday, March 29, 2011

Caesar vs Normal

CAESAR vs NORMAL, kembali MeNYUSUi

Gals, gue tariiiikkk kata2 gue tadi. Caesar is definitely not the best option!! If you can choose, pls pilih normal aja!!! Mo mules kaya apa kek, mo berapa lama, since bisa normal, mending normal aja… seriously!
Waktu normal dulu, emang siy mules nya ampun2. Menuju bukaan 10 juga lamaaa banget rasanya. Mana induksi pula, jadi makin mules aja. Tapi once udah brojol, udah ga kerasa apa2. Mo dijahit kek, atau apapun yang terjadi di “bawah” sana, ga kerasa apa2. Apalagi ketika udah bersentuhan dengan kulit baby, rasanya dunia milik berdua. Bukan berdua suami, tapi berdua baby J
Besoknya belajar jalan, paling nyeri2 sedikit. 2 hari udah bisa jalan normal.

Tapi CAESAR? Hmmmm… waktu dibelek, emang ga kerasa apa2, kan dibius lokal. Begitu juga abis baby dikeluarin…
Tapi recovery setelah itu… WOW banget, dan asli bikin gue trauma.
Hari itu, masih belum kerasa apa2. Obat bius masih menjalankan tugasnya dengan baik. Tenang2 aja, paling kecapean karena proses mules 17 jam itu.
Besoknya, hanya boleh duduk. Perih mulai kerasa, dan makin parah ke belakangnya. Nyut2an, sampe ke kepala. Tapi masih mending karena hari ke-2 masih lebih banyak tidur.
Payudara gue dah bengkak lagi, dan tentunya harus segera di-mimi sama baby. 
Entah kenapa, walopun udah berusaha nyusuin dengan posisi yang benar, tetep aja rasanya perih. Dan sekali lagi, dengan idealism yang (masih) tinggi, lagi2 gue ngotot ga boleh kasih susu formula. Plus, di RS tempat gue melahirkan, emang pro ASI 1000%, dan anti sufor. So bisa dibayangin kalo gue kasih sufor, bisa2 gue diomelin, plus digosipin ama suster2 disana. (Have I told you, that di RS ini, all babies are with their moms, called rooming in). Moms emang dilatih ngurus baby nya sejak sedini mungkin.

Di hari ke-3, udah mulai belajar jalan. Amboi, sakit banget bow, perih nya ga ketolongan. Dan gue ga bisa angkat kaki. Jadi tiap kali jalan, kaki gue kudu diseret. Pertama kali nyoba jalan, gue frustasi berat. Kok bisa kaya gini yah? Apa kaki gue ga bisa normal lagi? Kapan bisa jalan seperti biasa? Jangankan gendong baby, bawa diri sendiri aja susahnya minta ampun.

Karena di hari ke-3 ini hukumnya udah boleh turun dari bed dan emang harus jalan, gue mandi di kamar mandi, setelah sebelumnya mandi di bed. Waktu mandi adalah siksaan buat gue, karena ngerasa so helpless, ga berdaya, harus pasrah dimandiin ama suster2. Pengen rasanya gue suruh tuh suster keluar, trus gue bersihin badan gue sendiri. Tapi… yah, dari duduk ke posisi berdiri aja, butuh berapa lama. Plus luka ini belom boleh kena air. Jadi pasrah deh gue.

Menyusui jadi semakin sakit, karena luka di payudara (selanjutnya akan disebut PD), udah makin besar, dan mulai berdarah. Tiap kali nyusuin, gue pasti teriak2 kesakitan. Parahnya lagi, tiap kali teriak, luka operasi di perut bawah jadi makin sakit, plus pinggang belakang (tempat suntikan bius local diberikan) juga jadi makin sakit.

Kebayang ga lo, tiap kali nyusuin, PD lo sakit, perut lo sakit, pinggang lo sakit. Oh man, kok menderita banget rasanya? Belom lagi air susu yang (mungkin) masih menunggu waktu untuk keluar, padahal dah bengkak. Dan baby yang haus, menggigit2 dengan sekuat tenaga nya.
Pagi siang malem, gue kerjaannya nangis aja. Sekujur badan gue sakit, ga bisa bergerak, ngilu, linu. Air susu belom keluar, baby nangis terus…

Belum cukup hanya itu, gue juga kangen sama Keyla. Setiap hari bobo melukkin dia, tau2 harus bobo di tempat asing, dan “mengungsikan” dia ke tempat Oma nya. Memang Keyla tiap hari datang, dan dia juga seneng liat dede nya. Tapi kalo pas giliran mo pulang, dia selalu nangis.
“Keyla mo sama Mommy Daddy. Kenapa Mommy Daddy sama dede disini? Keyla juga mo disini.”
Dan terus menangis sampe pulang. Gue denger dari Oma nya, kalo tiap malam dia nangis sampe akhirnya ketiduran. Sedih banget rasanya…

“Key, Mommy janji akan cepet pulang. Mommy janji akan temenin Keyla main dan bobo. Mommy janji akan bacain cerita lagi.”

Di hari ke-3, seperti Keyla dulu, Michael pun kuning. Bilirubin naik, jadi harus disinar. Seperti Keyla, gue parno, dan minta baby disinar di ruangan gue, jadi gue bisa lihat dia, dan ngawasin penutup matanya.
Gue pompa PD gue, tapi Cuma keluar setetes demi setetes. Frustasi banget rasanya. Malemnya, gue bener2 ngerasa capek. Putting susu luka, baby rewel, perut ngilu, pinggang linu, badan kaya abis digebukin. Michael bener2 rewel malem ini. Mungkin udah mulai haus, mungkin juga ga nyaman. Gue ga bisa tidur karena baby rewel, Alex juga bingung mesti ngapain. Michael digendong salah, ditaro salah.

Akhirnya dengan enggan, gue pencet bel, dan tanya bilang sama susternya, “Sus, saya ga tau kenapa baby nangis terus…” ngeliat gue begitu kecapean dan mata gue yang sembab, suster bilang, “Gimana kalo malem ini, baby tidur di kamar baby. Nanti kalo mo mimi, baru saya bawa ke Ibu.”
Ga tau kenapa, gue yang biasanya selalu menentang kalo baby dibawa ke kamar baby dan jauh dari gue, kali ini Cuma bisa diem. Dan akhirnya setuju. Ketika baby dibawa, gue bilang sama Alex, gue kok merasa bersalah ya, Mommy Daddy nya disini, tapi anaknya malah dibawa ke ruang lain.
Alex bilang, kita harus istirahat. The baby needs us to be strong, to keep him save. So we have to save our energy. Setelah nyoba mompa dan hanya keluar 2 tetes, gue ketiduran.

Besoknya, PD gue semakin bengkak, keras, dan perih pastinya. Nangis udah ga langka lagi. Bisa tiap bentar gue mewek. Suster2 disana, yang terkenal handal dan ahli dalam hal asi, mencoba menolong gue. Mereka kompres dengan air panas-dingin-panas lagi, trus di-massage pelan2. Dari “aduh” pelan, sampe teriak histeris. Dari yang sesegukan, sampe nangis kenceng. Mijit nya ga kira2 bo…
Dan mereka keep saying, “bu, kenapa ga dicoba susuin? Coba susuin aja, biar asi nya ga mampet. Yah demi anak Bu, harus rela berkorban.”
Gue tau, maksud mereka baik. Mereka kasih gue semangat. Tapi ga tau kenapa, gue sebel banget dengan kata2 itu. Siapa yang mo baby nya ga sehat? Siapa yang mo bengkak begini? Siapa yang mo asi nya ga keluar? Hanya ibu gila yang mau anaknya ga sehat…
Dan ketika PD gue tetep bengkak, dan asi gue tetep ga keluar, mereka tetep bilang, “coba pijit lagi Bu, atau dikasih aja ke dede nya. Luka nanti sembuh sendiri.”
Asli, pengen gue timpuk aja tuh suster pake kursi…. (soriiii yah kasar, but that’s how I feel)
Rasanya pengen teriak.. “DIEEEMMM LOOO SEMUAA!” L Kalian kan ahli nya, jangan Cuma ngomong. Kalian liat sendiri kan, PD saya udah seperti ini, kalian berbuat apapun juga ga bisa keluar. Stop telling me how to breastfeed my baby!
Ketika baby nangis dan asi gue Cuma keluar setetes pas dipompa, ada satu suster yang nungguin gue mompa. Coba, apa ga nambahin stress gue, pompa sambil ditungguin gitu? Karena ga tahan, gue bentak aja, “Sus, klo suster terus berdiri disitu nungguin saya mompa, ya ga akan keluar sus…”
Sekali lagi gue harus nelen ludah sendiri. Gue kasih sufor ke baby L karena dia kuning dan membutuhkan banyak minum, sementar PD gue bermasalah dan luka begini, di pompa Cuma keluar 2-3 tetes… ngumpet2 ksih sufornya, karena RS ini pro asi, dan penentang sufor abis.
Terserah mo dibilang IBU JAHAT atau apa. Gue memilih anak gue ga kekurangan air, daripada kekeuh mempertahankan idealism gue.

Jadi inget waktu pertama kali kasih Michael sufor. Sambil nangis dan tangan gemeteran, perasaan berdosa membludak, gue bisikin dia.. Sori ya, Mommy kasih sufor buat kamu. Mommy janji akan berusaha, Sayang. Mommy akan berusaha kasih ASI sebisa Mommy. Kamu akan jadi anak yang kuat, sehat, dan pintar, seperti cici mu.

So, the baby blues starts earlier, even belum pulang dari RS.
Besoknya, suster2 Cuma sedikit yang berani masuk ke kamar gue. Mungkin udah tersebar di RS “ibu di kamar 609 itu galak, judes, dan lagi stress.” Hehehe… atau di depan kamar gue, ada tulisan “hanya untuk suster yang ingin menguji ketabahan hatinya” :p
Seorang suster masuk, sambil gendong Michael yang lagi nangis. Ajaib yah suster2 itu, baby lagi dalam kondisi nangis kaya apapun, bisa diem dalam gendongan mereka.
Setelah nidurin Michael, dia deketin gue, terus tanya2. Anak ke berapa, asi nya keluar apa ga, bagian mana yang sakit. Dan tau2 gue udah nangis2 aja gitu, cerita sama dia. Lalu dia mijitin gue, dari leher, pundak, pinggang belakang. Dan anehnya, PD gue yang tadinya sakit banget walopun Cuma disentuh aja, sekarang dah jauh lebih baik. Pelan2 mulai bisa dipijit, walopun asi nya masih belum juga keluar banyak. Perasaan gue pun jauh lebih baik. Suster ini tidak menghakimi gue, kenapa gue ga kasih asi. Tapi dia berusaha ngurangin stress gue, dengan demikian asi gue bisa keluar.
Suster Lia, you’re one of angel God sent to meJ thankyou, Suster

Keyla, kalo nanti kamu melahirkan, Mommy janji akan temenin kamu, Sayang… dari awal masuk sampe kamu melahirkan baby mu, Mommy akan ada di sisi mu. Mommy akan menyemangati kamu, berdoa buat kamu. Seperti yang Oma lakukan buat Mommy… Its everything.

Mom, I love you… You are my strength J
If Daddy could see us from heaven, He’ll know how proud I am having a mom and dad like you. Dad, I give you a grandson! J

Guys…while you still have time, love your mom as soon as you can.

MEET the BABY

1 Nov 2010, jam 10 malam

Pertama kali ngerasain mules2 kecil. Hubby dan Keyla udah bobo pules. Gue cuma bolak-balik aja, tapi ga bisa bobo. Udah nguap2 berkali2, ga bisa pules juga. Perut makin kerasa ga enak. Mules, iya, ga mules juga iya. Sekitar hampir jam 1 pagi, gue bangunin Alex, gue senggol2 kakinya dia pake kaki gue.
Dasar suami siaga, langsung duduk dia pas bangun. “Udah mules kamu?” katanya.
Setelah telpon mami dan mama, kita putuskan untuk berangkat. Keyla dan sus nya di rumah mama, terus kita jemput mami. Entah kenapa, mules gue langsung berkurang setengahnya, pas tau mami bakal nemenin gue “_” I love you, MomJ

Sebelum pergi, gue pelukkin Keyla, ciumin dia sampe dia bangun. “What if… I never see her again? What if.. this is the last time I can kiss and hug her?” dan seribu “what if what if” lainnya… sedih banget rasanya. Tapi Tuhan terus menyadarkan gue.. come on! Jangan sensi lahhhh… kamu tuh pergi untuk kasih dia hadiah! Pada saat kamu pulang nanti, kamu akan kasih dia adik! Hayo hayo, semangat!

Sampe di Carolus, masuk ke ruang bersalin… memory gue muncul lagi. Hampir 3 tahun yang lalu, dinihari menjelang pagi2 buta, gue disini juga, untuk melahirkan Keyla. Sekarang kembali lagi kesini J tapi kenapa harus dinihari terus yah? :p Ooh, gue tau, menghindari macet yah? Anak pinter J
Ruang bersalin privat kosong, jadi masuklah gue kesana. Setelah isi beberapa data, trus tiduran lah gue di ranjang ajaib itu. Ruangannya masih sama…
Tiba2 aja mata gue berair. Keyla, juga dulu lahir disini, di ruangan ini. Sekarang, adiknya Keyla juga lahir disini…

“Bu, belum apa2 kok udah nangis?” kata susternya. Hehehe, ya maklum sus, ibu nya perasaannya lembut.. (hiii, jijay!)
Ukur punya ukur, suster bilang, belum ada bukaan.. (lah, terus yang tadi mules, apaan donggg?). Atau mungkin ada, hanya saja bukaan sangat kecil, bukaan awal banget. Jadi dia “bantu” memperbesar bukaan itu. Jangan tanya rasanya yah.. yang pasti “aduh” deh.
Jam demi jam berlalu… bukaan masih belum maju2 juga, mulesnya juga gitu2 aja. Gue jadi mikir, apa sebenernya belum waktunya ya? Apa mules tadi itu bukan mules apa2?”

Beberapa saat berlalu, bukaan masih belum maju. Saat itu, gue masih merasa bisa melahirkan normal. Gue masih kuat. Gue pernah mules 10 jam, sebelum akhirnya melahirkan normal. Kali ini pun, gue yakin gue kuat.
Dokter meng-instrusikan induksi. Hmmm, denger kata induksi aja, mulesnya langsung nambah, hehe.. padahal belom diinfus loh.
FYI, induksi adalah memasukkan sebotol besar cairan lewat infuse, yang guna nya untuk “memanggil” si mules datang, sehingga bisa merangsang bukaan menjadi lebih cepat. Dulu waktu Keyla, induksi juga 1 botol. Dan rasanya aduhai:p
Selama induksi, mules makin menjadi. Dan sama seperti dulu, gue berusaha untuk tidak teriak. Prinsipnya, hemat tenaga. Atur napas menjadi yang terpenting. Tarik napas dalam2, buang, tarik lagi, buang.. begitu terus, sampe mules nya hilang.
Beberapa jam berlalu. Bukaan masih belum maju juga. Stuck di bukaan 3. Suster membantu dengan “mecahin” ketuban. Well, jangan ditanya rasanya yah.. hehehe… ga asik deh pastinya. Sampe saat itu pun, gue yakin gue masih kuat.
Sampe induksi abis sebotol, bukaan baru maju sedikit sedikit. Beberapa kali suster memberikan “bantuan” dengan memperbesar jalan lahir. Tujuannya supaya bukaan lebih maju. Hanya maju sampe bukaan 5, terus stuck lagi lamaa…
Dokter datang. Masih tetep PD untuk bisa melahirkan normal. Dia suggest untuk induksi lagi, botol kedua. Hiksss…
Buat cewek2 yang pernah ngerasain induksi, tau kan, baru mulai infuse aja rasanya udah mules dan makin mules terus.. apalagi dah abis 1 botol, terus ditambah 1 botol lagi…
Dari yang super tenang, sampe jadi gelisah. Dari yang super PD, jadi waswas. Duh kok ga keluar2 yah?
Induksi botol ke-2 jalan, mules nya makin2an. Oh my God…
Gue rasanya udah mo mati aja deh. Apa mimpi gue bakal kejadian yah? apa gue bakal mati kali ini? Gue masih mo berbakti sama nyokap gue, masih mau gedein anak gue, masih mau nemenin suami gue sampe tua… will I die? No God, no!

Makin dilawan, rasanya makin mules… sampe akhirnya gue lemes. Ngeliat orang udah berbayang2. Mungkin kecapean. Mungkin kehabisan tenaga. Dan akhirnya cuma bisa pasrah. Tuhan, apa pun yang Engkau kehendaki, apapun itu, aku yakin baik adanya, maka terjadilah. Tuhan, asal Engkau bersama ku, aku pasti baik2 saja.
Waktu Dokter masuk lagi, gue udah lemes total. Dokter bilang, “Caesar aja ya, Bu? Udah 17 jam posisi nya masih agak di atas, walopun udah bukaan 7.”
Gue cuma bisa manggut2. Pasrah total. Whatever Doc, just give me my baby…. I want my baby!
“Ibu ada pilihan Dokter Anak?” untunglah gue masih ngeh waktu ditanyain begitu. Karena udah persiapin semuanya, gue dah survey juga, mo pake dokter anak siapa. Dokter anak yang sama dengan Keyla.
Lalu gue dipersiapkan buat sectio. Waktu gue dipindahin ke ranjang dorong, digantiin baju, rasanya udah melayang2 aja gitu.
17 jam… 17 jam??? 17 jam!!!

Disuntik di tulang belakang, yang katanya orang2 sakit banget karena posisi elo kudu duduk bungkuk, buat gue ga kerasa apa2. Mungkin karena mules 17 jam itu udah bikin saraf sakit gue tidak berfungsi dengan baik. Whatever… gue dah kebal.
Than.. tanpa sehelai benang pun, gue dipindahin tempat tidur lagi. Jujur, perasaan gue saat itu melayang2. Gue sempet mikir, apa ini perasaan orang yang udah mo mati yah? Gue berdoa lagi sama Tuhan, I’m Yours, God… so whatever Your will is, I’ll follow.
Sedetik kemudian, perasaan mules itu hilang, obat bius mulai berfungsi. Lantas gue jadi bisa denger percakapan dokter dan suster2, walopun ga jelas. Mata gue masih kunang2, badan capek luar biasa. Dan akhirnya… “Bu, ini anaknya ya…”
…..
Gue ga bisa melukiskan perasaan gue saat itu. Waktu baby ditaro di dada gue untuk Inisiasi Menyusui Dini, tiba2 pandangan gue clear lagi, semua terlihat jelas. Pusing gue ilang, kesadaran gue juga kembali penuh. Merasakan kulit lembut merah yang ada di dada gue. My baby, finally I meet you…
Nangis udah ga pake malu2 lagi. Gue langsung bisikkin doa “Salam Maria” di kuping nya baby. Tuhan Yesus, Bunda Maria, we’re all Yours. You made the miracle, You are the miracle!

Waktu baby mo dibersihin dan ditimbang, gue masih belum rela ngasih nya. “tunggu ya, masih mo coba susuin lagi..” dan gue pelukkin dia. My baby, my miracle, my baby Michael J
Keluar dari ruang operasi, ada Alex dan nyokap gue. My best buddies are here, there’s nothing to be worried ofJ Nyokap nemenin gue didorong ke kamar, Alex ngurusin baby dibersihin. Saking parno nya, takut anaknya ketukar, dia tungguin sampe baby dimandiin, ditimbang, dan diberi gelang nama.
Halah, kalo tau Caesar bisa begitu cepat dan beres, dari tadi ajahhh!!!!