Showing posts with label mom. Show all posts
Showing posts with label mom. Show all posts

Sunday, December 29, 2013

The ups and down of December

Natal kali ini full with up(s) and down.

The ups are dilewatkan bersama dengan keluarga dan orang-orang tersayang. Mom just got home from her 2-months-vacation, dan itu melengkapi kebahagiaan gue.
The down is... gue harus home-rest karena sakit sesuatu (kita sebut aja sakit cinta ya:p.. apa sih hahaha..), jadi ga bisa ke gereja, ga ngantor juga. Positifnya adalah gue diharuskan istirahat sama Tuhan. Betul-betul istirahat, di rumah aja dan tidur seharian. And I have time to myself (contohnya blogging wkwkwk), while anak2 diungsikan untuk sementara hehehe...

Untungnya (masih ada untungnya! I'm Indonesian, remember:p), Natalan keluarga besar Nyokap diadakan tanggal 22, sebelum vonis itu keluar, hehehe...
Dan seperti biasa, Natalan keluarga selalu seru. Have I told you, kita boleh kasih kado ke siapa aja, berapapun jumlah, apapun isinya. This is the joy of Christmas. Not the money we spent to buy those things, but the spirit of loving, giving and sharing. 
Yang gue suka lagi dari tradisi ini, kita ga menuliskan nama pemberi kado, walopun akhirnya selalu ketauan siapa yang kasih, hehehe... But the meaning is giving it to somebody without being noticed.

Coba lihat foto ini, seru banget ga sih? Ada kurang lebih 500 kado di situ:) 
Tradisi memberikan kado ini udah berlangsung dari sejak gue kecil. Thats why I love Christmas sooo muchhh hahaha... 


Well, waktu kecil sih, bisa dapat sampe hampir 10 kado (kayanya paling banyak dari nyokap gue sih:p). Tapi pas udah besar, paling dapat 3 kado. Tahun ini, malah dapat 2 kado aja, one of it dari Mami.
Tapi anak2 dapat banyak, sampe happy banget mereka:)

Tradisi ini yang pingin gue bawa sampe anak2 besar nanti. Selain di pohon natal bersama ini, di pohon natal di rumah juga ada kado-kado. Kiddos were very excited.

Bertepatan dengan perayaan Natal keluarga ini, kita juga memperingati hari Ibu. Just a simple ceremony, giving a flower to your Mom and singing "Bunda". Tapi cukup membuat ibu-ibu terharu.

Mom & sistas. The best sistahood in the world
Thanks Mom(s) for teaching us a lot.
Mengajarkan gue & sodara2 gue tentang arti sebuah keluarga (besar). Saling peduli, saling sayang, saling memberi. Ibu2 ini yang memastikan anak2nya mendapat kado saat Natal. Ibu2 ini tidak akan membiarkan anak & ponakannya tidak mendapatkan satupun hadiah saat Natal. 
Kalau mereka mau, bisa aja mereka hanya memberikan hadiah ke anak2nya masing2, tanpa peduli ponakannya. Dari sejak kecil, gue selalu mendapat hadiah tidak hanya dari nyokap gue, tapi dari tante2 gue ini, juga dari sepupu2 gue.

Thanks for teaching me about giving. So when Christmas comes, what I think about is the present for others, not for me and my kids. (Setelah Natal lewat, baru beli2 buat diri sendiri, yeay! <-- sama juga boong:p)

Happy Mothers Day, Mom(s). Love you love you love you:)

Thursday, May 02, 2013

Selamat HarDikNas!


Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ga biasa2nya gue nulis serius di blog yaaa, hehehe.. so this is one of a kindJ
Hari ini, gue menuliskan kegalauan gue (jiah, emang biasanya enggak?:p) as a mom (of three, if you may add), tentang pendidikan anak di Indonesia.
Seperti pernah gue twit, sekolah di Indonesia nowadays cukup variatif, dan ini yang membuat orang banyak pilihan sekaligus bingung.

Pertama, sekolah konvensional, yaitu tipikal sekolah lama yang biasanya mengutamakan hafalan. Less logic, karena yang diajarkan mostly udah pasti. Issuenya, banyak hal2 ga penting yang diajarkan di sekolah ini. Anak2 jadi kurang kritis, kurang kreatif, lebih banyak menghafal.
Remember waktu kita kecil, gambar gunung dengan matahari tenggelam di atasnya, lalu jalan dan sawah di bawahnya? Gue ga tau apakah sekarang gambar seperti itu masih diajarkan apa enggak.
Satu hal yang baik adalah cara sekolah menerapkan disiplin buat anak2nya.

Di international (atau national+) school, anak diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, berani mengemukakan pendapat. Gue salut sama kurikulumnya, salut sama pengajar2nya. Anak yang pendiam, ga percaya diri, bisa berubah menjadi anak yang berani, smart dan luar biasa kreatif.
Satu hal yang gue salut banget, international school ini biasanya mengutamakan proses belajar, dan bukan hanya resultnya J I adore them for this.
Walaupun gue kecewa karena ternyata ada international school beken yang ga mengajarkan agama sama sekali. Kebebasan yang (bisa jadi) bablas.

Satu yang sampai sekarang gue belum dapat jawabannya.
Apakah sekolah2 itu mengajarkan anak untuk toleransi? Seberapa penting mereka mengajarkan pendidikan moral?
Its not Pendidikan Moral Pancasila yang harus diajarkan (Pancasila is an ideology, right?), tapi pendidikan moral manusia! So as long as you’re a human, dimanapun lo hidup, di negara manapun, apapun agama lo, apapun ideologi negara tempat lo tinggal, lo tetap punya “budaya diri” yang lo bawa sampai mati. Such a simple thing like lo harus antri, mengutamakan ibu hamil atau orang tua untuk duduk di bis, membantu orang menyebrang jalan, dll.

Gue rasa, di Indonesia (atau bahkan di dunia), udah terlalu banyak orang pintar. Cas cis cus juara English speech, olimpiade matematika, dapat medali emas di olimpiade fisika, etc etc. Tapi seberapa banyak sekolah yang mengajarkan anak untuk jujur? Seberapa banyak sekolah yang menjelaskan ke anak kenapa dia tidak boleh nyontek (instead of ga jujur, tapi nyontek itu adalah mengambil yang bukan hak lo, dan itu sama dengan korupsi!). Nyontek is awal dari korupsi.

Nilai2 seperti itu yang semakin berkurang diajarkan di sekolah, tapi ironisnya, hal2 itu yang semakin diperlukan di jaman sekarang ini.
Menjadi juara is one thing. Bagaimana cara lo menjadi juara is another thing.
Jago bahasa inggris itu penting. Tapi menaati peraturan ga kalah penting.
Menggambar gunung itu bisa dengan banyak cara, sama seperti warna anggrek itu ga selalu ungu, dan wortel ga selalu orange.

Again, there’s such no perfect place. No perfect school to learn.
Sebagai orang tua (yang belum tua2 amat:p), should combine each component, seperti main puzzle.
Apa yang belum diberikan di sekolah, kita harus berikan di luar sekolah. Misalnya… klo lo pilih sekolah katolik konvensional (pelajaran alkitabnya mantep banget ini…), anak kudu kursus bahasa inggris.
Kalau anak lo masuk international school, sepanjang hari udah cas cis cus, ga perlu lagi les inggris. Tapi mungkin perlu Sunday school di gereja.

Life is about completing the journey.
You choose your journey, fight for it, and enjoy it the most.  
So, anak2 lo nanti bakal sekolah dimana, Yan?
*geleng2* “Masih bingung gue….”

Friday, April 26, 2013

Kancil Yang Baik - Book Review


Kali ini gue mau me-review salah satu buku cerita anak yang menurut gue oke banget. Kiddo's books are not always about princess or prince, its fabel anyway!
Dan lebih okenya lagi, penulisnya Clara Ng, donggg… secara dia penulis favorit gue, dan gue punya hampir semua novel2nya dia. Love you, Kak Clara! :)

Kenapa menurut gue menarik?

Being the first.. 
Di dongeng lama, kancil digambarkan sebagai sosok binatang lincah, nakal dan cerdik. Suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat ga, dongeng waktu kita kecil (sampai kita dewasa), kancil itu mencuri timun dari sawah Pak Tani? Tertangkap, lalu dikurung. Kancil juga berhasil mengelabui buaya, yang terkenal dengan keganasan gigi2nya.
Kancil is the legend of bad and naughty animal. 
Ingat lagu ini?
Si kancil anak nakal,
Suka mencuri ketimun
Ia layak dihukum
Jangan diberi ampun

Nah di dongeng Kancil Yang Baik ini (dari judulnya aja udah 'sesuatu' ya), Kancil digambarkan sebagai binatang yang baik. Menariknya, Kancil ini SAMA dengan kancil yang dulu. Kancil ini, adalah kancil yang dulu mengelabui Buaya dan mencuri dari kebun Pak Tani. Tapi sekarang dia udah bertobat. InterestingJ

Karena terkenal dengan kenakalan dan kelicikannya, ga mudah buat Kancil untuk membuktikan, bahwa sekarang dia udah jadi binatang baik. Pak Tani dan Buaya tentu saja ga begitu aja percaya dengan kebaikan Kancil.

Usaha atau extra effort ini yang menurut gue menarik. Kancil berusaha membuat Pak Tani dan Buaya percaya dengan ketulusan hatinya. Kancil membuatkan makanan untuk Pak Tani, menjahit syal untuk Buaya. Selain berusaha membuat Pak Tani dan Buaya, Kancil juga berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya (dengan membantunya belajar), dan anak yang baik untuk orang tuanya.

Banyak hal yang bagus banget buat diceritakan ke anak2, bahkan ke kita juga yang udah tua2 ini :p
1.       Kenakalan atau perilaku di masa lalu itu akan terus diingat, terutama oleh orang2 yang pernah kita jahati
2.   Perlu usaha untuk menghapus ingatan orang tentang kenakalan atau kejahatan di masa lalu. Mereka mungkin takkan melupakan sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menambah memori mereka tentang perilaku baik
3.    Sebaliknya, dilihat dari sisi Pak Tani dan Buaya, ga selamanya orang yang jahat itu akan selalu jahat. Kita harus bisa menghargai niat dan usaha orang lain untuk berubah

Nah, ini loh penampakan bukunya. Grab it soon:)


Thankyou, Kak Clara Ng for writing such an inspirational yet simple story

Sunday, March 31, 2013

When is my ME TIME?


Seringkali gue kangen dengan masa2 gue bisa tidur malas2an di ranjang. 
Bangun siang, ngemil coklat, baca novel seharian. Tidur lagi, makan, baca lagi sampai malam.
Gue kangen masa2 gue bisa menulis seharian. Nulis apa aja. Uneg2 buat di blog, puisi2 kecil, cerpen2 lucu, atau novel yang udah sepuluh tahun ga kelar2 itu (uh jadi inget…)
I miss my “do nothing” time. I really miss it.

Yang terjadi sekarang adalah.. Gue bangun pagi dengan terburu2. Kadang ingat berdoa, kadang enggak. Nyiapin sarapan suami, nyiapin bekal Keyla, mandi terburu2, bangunin suami, mandiin Keyla, siap2in Keyla sekolah, suapin Keyla, gue siap2, antar anak2 ke rumah mertua, antar Keyla sekolah, gue ke kantor. (Sekarang dipermudah dengan anak2 dijemput Opa ke rumahnya).

Di kantor, gedebak-gedebukan seharian, tau2 udah jam 5, jam 6, kadang jam 7. Ngibrit pulang, jemput anak2, pulang. Sampai rumah, mandi, makan, boboin anak2.
What happened to my daily lives?

Gue sering menemukan diri gue kecapekan, which I wanna do is selonjoran, with a good book in my hand.
Even ketika gue bengong aja, atau waktu gue tidur, kepala gue ga bisa berhenti mikir. Tentang anak2, sekolahnya, kesehatannya, mikirin nyokap, kerjaan suami, masalah2 di kantor gue, etc. Prosesor gue yang Pentium lemot ini, makin lemot deh karena kebanyakan file wkwkwk…
Pernah juga gue ga bisa tidur sampai hampir subuh, dan di kepala gue banyak banget yang gue pikirin.
Tapi sering juga sih gue nempel bantal langsung ngorok, wkwkwk.. hahaha…
The point is… I’m missing my silent minutes.     
Selama ini, gue ga pernah bisa ninggalin anak2 hanya dengan nanny atau Mbak nya. Dan since anak2 udah di mertua gue on weekdays dari pagi sampai malam, ga mungkin dong gue titipin lagi pas weekend. Dan jujurnya, gue merasa bersalah juga sih, kalau ga spending time sama anak2 on weekend, secara pas weekdays gue pulangnya malam.
Nyokap berulang kali bilang, “Jalan2 gih, anak2 kan ada Mbaknya, atau nannynya.”
Hiks, tetap aja sulit buat gue… My parnoan is killing me. Bayangan suster menyiksa anak2, mbak2 mukulin anak2 itu keep playing in my head. Jadi akhirnya gue batal terus deh pergi.
Beberapa meeting luar kota pun gue jarang ngikut, karena kudu nginep dan ninggalin anak2. Parno dan rasa bersalah itu terus mendominasi gue.

Sampai akhirnya seorang sahabat gue bilang, “Lo tuh harus punya ME TIME juga. Biar lo ga ngerasa anak2 itu sebagai beban.”
Ah ya, benar juga.

Waktu usia Sam menginjak 1 tahun, gue ikut meeting kantor di Batam, dan ke Spore setelah itu.
Cant believe gue ga pernah keluar kota atau ke luar negri lagi setelah gue punya anak.
Dan ajaibnya, gue merasa baik2 aja. Ada perasaan kangen anak pastinya, dan perasaan bersalah itu juga ada. But I had fun, I felt fun.
Suami gue nyusul besoknya ke Spore. We both had fun, since kita ga pernah lagi pergi berdua sejak punya anak.

Salah seorang teman gue bilang, “Kunci dari parenting adalah hubungan suami-istri.”
Gue baru ngeh artinya.
Kalau hubungan lo sama suami/istri lo baik, interaksi ke anak2 juga akan baik. Hubungan suami-istri itu adalah salah satu kuncinya.
Hubungan suami/istri yang erat, bonding yang kuat, bakalan bikin lo bisa menghadapi apapun juga, termasuk masalah anak2.

Setelah itu, gue sempat beberapa kali dating, nyolong waktu di weekdays. Alex jemput gue di kantor, trus kita kabur dinner. Ga bisa yang jauh, but its ok, that’s enough for now. Yang penting ngabisin waktu berdua.
Saat weekend, kalau nyokap gue bisa jagain anak2, we’ll be very happy. Tapi kalaupun enggak, gue ngusahain 1x/bulan untuk pergi berdua suami.
Terakhir, waktu Valentine kemarin kita nonton & dinner J (Eh itu udah 1.5 bulan lalu yah?:p)
Yah, saat ini gue memang belum punya ME TIME sendiri. 
Tapi setidaknya gue punya OUR TIME sama suami gue. And for now, that’s enoughJ

Berbagi Peran


Memasuki awal 2013 lalu, gue punya 1 resolusi : pingin menyeimbangkan hidup dengan membagi waktu lebih baik di antara seribu peran gue. Secara gue anak, istri, emak, majikan, atasan, bawahan, karyawan…
Ternyata bukan sekedar resolusi yah, resolusi BESAR dan SUSAH itu!

Memasuki bulan ke-4 alias seperempat tahun sudah terlewati, gue masih belum bisa mengatur peran2 itu dengan lebih baik.
Gue pernah berandai2…
Dari pagi sampai sore, peran gue adalah karyawan, konselor, atasan, bawahan, teman. Tentu saja ini di kantor.
Sore ke pagi, peran emak, anak & istri yang harus lebih berjalan.
Idealnya sih begitu.
Tapiiiii teori tinggal teori.

Di jam kerja, gue kadang kepikiran “udah lengkap belum ya vaksin Samantha?” atau “Keyla udah pulang sekolah belum, ya?” atau “Michael masih pilek ga, ya?” atau “tekanan darah Mami masih tinggi kah?”
Dan di jam malam, gue suka kepikiran juga, “si kandidat ini nanti buat gantiin si ini”, atau “si itu masih ribut sama atasannya atau ga” atau “besok janji konseling dengan si ini apa si itu ya?”
Gue pernah survey tentang penyakit anak, pada saat jam kerja.
Gue juga pernah kerja saat midnight setelah anak2 tidur.

Lalu gue sadar sesuatu.
Peran itu ga bisa begitu aja diatur-atur kaya lagi njadwalin meeting. Peran itu menempel sama lo, ngikutin lo, kemanapun lo pergi. Tentu saja dengan pengaturan peran yang optimal ya, artinya kalau lo lagi jalan sama suami lo, peran lo ya sebagai istri. Kalau lo di kantor, ya lo karyawan. Tapi ga akan bisa full 100%. Orang itu bukan robot yang bisa seenaknya diatur. Kalau lo robot atau computer yang bisa di-program, lebih gampang ya.
Pagi-sore à program biar hanya urusan kantor aja yang muncul
Sore-pagi à urusan rumah doang yang bisa dipikirin
Ternyata kan enggak.
Manusia adalah makhluk hidup yang punya pikiran, hati, akal budi. Saat pikirannya tau dia harusnya mikirin kerjaan, dia toh ga bisa mencegah pikirannya berkelana ke rumahnya, saat anaknya sedang sakit, atau saat nanny nya baru (eh, ini gue ya… wkwkwk).
Saat pikiran harusnya mikirin anak aja di rumah, tau2 hatinya terbang ke kantor, mikirin bawahannya yang lagi sedih atau kerjaan yang belum beres, ga bisa dicegah juga.
Jadiii kalau suatu saat lo nemuin temen lo, bawahan lo, (bahkan) atasan lo, lagi mikirin atau ngurusin urusan pribadi saat jam kantor, itu lumrah. Kalau urusan pribadinya beres, dia akan bisa contribute more to the job. (terutama cewek yaaa, secara cewek itu ngurus rumah, anak, pembantu, nanny, listrik, air.. yahhh jadi curcol deh wkwkwk).
Yah asal ngurusin pribadinya ga keterlaluan aja.. misalnya : pakai fasilitas kantor dari pagi sampai malam buat survey2 sekolah anak.. à ini mah kelewatan:p
Atau karena mau married, always buka weddingku.com di jam kerja setiap hari untuk cari2 vendor à ini juga minta dijitak
So selama masih dalam batas wajar, abaikan aja. Anggap aja itu cara mereka to fulfill their needs to complete the job. Percaya deh, selama urusan pribadi lancar, urusan kerjaan akan jauh lebih lancar.

Sampai sekarang, gue masih juga keteteran.
Tapi gue berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan itu semua.
Saat weekend, sebisa mungkin spend time sama keluarga. Dalam keluarga itu aja ada peran2 yang bentrok juga. Antara jadi anak dan jadi emak. Seringnya gue gabungin aja, ngajak anak2 plus nyokap gue jalan, everybody happy.
Tapi ada saatnya gue harus jadi anak aja, alias ngajak jalan nyokap gue berdua aja.
Dan seringkali dalam peran jadi emak, gue harus spend time sama Key aja, lalu sama Mich aja, dan sama Sam aja. Saat ini, gue baru bisa melakukan ini sama Key. Tapi ke depannya, pingin ada satu waktu khusus sama masing2 anak berdua aja. Semoga bisa, ya.

Gue ingat minggu lalu, ada satu kejadian yang bikin gue ngilu banget.
Gue sama Alex lagi bercanda sama Sam. Karena Sam yang paling kecil, mimik mukanya masih kaya bayi banget. Kita ketawa-tawa ngeliatin Sam yang lagi lucu-lucunya. Sampai gue dengar suara sesegukan di ujung kamar. Ternyata Mich lagi ngeliatin, matanya berkaca-kaca dan mukanya merah, seperti biasa kalau dia lagi sedih. OMG, kalau anak bisa bikin orang tua patah hati, ini salah satu moment nya.
Mich lagi ngeliatin kita bertiga dengan tatapan terluka. It really broke my heart in pieces.
Gue langsung pelukin dia, bilang sama dia kalau gue sangat sayang sama dia. And its true, Michael is my guardian angel, he’ll always be. Malam itu, gue pelukin Mich sampai dia ga sedih lagi, senyum, lalu ketiduran.
Itu salah satu contoh simple peran ibu yang nabrak. Even dalam 1 peran aja, kalau kita punya more than 1 customer, bisa terjadi tabrakan.

Satu hal yang gue tau.. Walau kadang super exhausted dengan peran2 itu, gue merasa hidup gue ini fulfilled banget. Hidup gue ini berarti banget. Ga pernah ada kekosongan, sampai kadang gue merasa kangen dengan kekosongan yang ga ngapa2in itu (nanti gue cerita soal rasa kangen yang aneh ini, ya).
Dan tiap dalam kesibukan dan keriwehan berbagi peran ini, gue sungguh bersyukur atas peran2 yang Tuhan berikan buat gue. Tuhan pasti tau riwehnya hidup gue, wkwkwk… dan Dia pasti turun tangan membantu gue.

Jadiii ga ada teori berbagi2 peran lagi… Cuma optimalin aja tiap peran2 itu pada tempatnya. Semoga gue bisa ya *lap jidat*

Wednesday, April 25, 2012

Menyusui dengan Hati


Having #Samantha

Sectio kali ini, ajaib banget, sama sekali ga sakit!
Agak pusing dan ngantuk setelah operasi, tapi di luar itu, everythings going very well. Ga ada nyeri, malah besoknya dah bisa duduk dan jalan, walopun harus pelan2. Udah bisa mandi sendiri juga, cihuyyyyy!!!
Pingin cium satu2 deh dokter nya :D *impulsif
So, buat Moms yang takut sectio, pernah trauma di operasi sebelumnya, kali ini recommended banget! Gue di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dengan obgyn Dr.Sugi Suhandi, dan Dr.Loyd sebagai dokter anastesi nya. Gue cuma reko Dokter nya aja loh ya, yang lain2nya no comment:)

Belajar dari pengalaman yang lalu, kali ini, gue agak lebih pinter dikit. Begitu puting susu luka, gue stop nyusuin langsung (ingat di 2 kehamilan sebelumnya, ketika puting luka dan dipaksa kasih susu langsung, yang ada malah gue demam, dan susu nya ga keluar pula!). 
Gue decided untuk pompa aja walopun cuma kluar beberapa tetes di hari pertama. Mo dibilang orang bakal kering kalo dipompa langsung, sutralah. Kondisi orang beda2. Kalo gue ngerasa yakin dengan dipompa, akan gue lakukan, daripada anak gue ga dapat ASI. 

ASI utk Sam, di hari kedua .. cuma beberapa tetes aja


Seperti yang lalu2, ASI di 2-3 hari pertama, bikin demot. Cuma keluar beberapa tetes. Untunglah dari pengalaman yang lalu2, di mana kemauan, di situ ada jalan :) Hati gue masih yakin, ASI gue hanya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. 

Di hari ke-2, gue panggil Mbok Pijit yang pernah mijit gue semasa hamil, untuk datang ke RS, mijit payudara. Secara di kehamilan 1 & 2 gue mastitis, kali ini harus ada preventif nya. Entah efek dipijit atau karena doa gue (atau kedua nya), payudara ga sebengkak dulu. Terus gue pompa dan susuin, berganti2an. Yang kanan luka, gue susuin pake yang kiri, yang kanan dipompa aja, gitu juga sebaliknya. Ketika kedua nya luka, gue pompa setiap 1 jam. 
Iya, capek. Iya, bosen. Iya, pegel. Iya, dapatnya dikit. Tapi hati gue masih yakin, ASI gue mesti cukup. Samantha is one of the best gift from God, she deserve to get the best, too.

Setetes + setetes = 2 tetes, lalu 4 tetes, lalu 10 tetes, dan seterusnya. Dari 5 tetes, jadi 10 tetes, dan akhirnya di hari ke-4... mencapai 10 cc, YEAYYYY!!!! Prestasi itu, secara dasar botol udah ketutup susu semua nya, walopun cuma sebaris :)
Dan dari pekatnya ASI di hari2 awal, berharap semoga Samantha dapat kolostrum nya.


Di hari ke-4. Pikiran positif really works :)

Terusss pompa dan susuin... 
Kadang ada perasaan "kok baby seperti ga kenyang" ya? Lagi2 hati gue yang bicara, "Hayooo pasti bisa!"
Pokoknya pompa dan susuin terussss! Dikit-dikit, menjadi bukit :)

45 cc, di hari ke-7
110 cc, 3 minggu setelah melahirkan

Kesimpulannya, efek sectio itu gede banget. Kalau efek operasi sakit -- Ibu nya stress -- air susu ga keluar -- ibu semakin stress -- sementara hormon udah bekerja -- akhirannya payudara bengkak -- mastitis diikuti demam dan sumeng seluruh badan -- biasanya di tahap ini, mudah sekali untuk patah semangat, merasa ga mampu kasih asi, dan menganggap susu formula lah solusi nya.

Puji Tuhan yang Maha Baik, di kehamilan 1 dan 2, walopun udah sampe pada tahap "patah semangat", masih ada sisa2 keras kepala. Sometimes it helps! Ayooo Moms, mari kita menyusui dengan keras kepala :) 

Mau dibilang ASI ga cukup, hayoooo kita buktikan kalo air susu kita cukup!
Mau dibilang baby haus, sementara ASI belum keluar, yah setidaknya kalopun dikasih susu formula, hanya untuk kondisi urgent aja, sampe ASI kita keluar.
Mau dibilang ASI ga kenyang, teteup kekeuh!


Tepat hari ini, usia Samantha udah 5 bulan, dan masih ASIX (yeay!!!). 
Begini cara gue menyiasati :
Gue pompa 1x di jam 6 pagi, 2x di kantor (tergantung waktu nya), 1-2x di rumah (biasanya jam 11 atau 12 malam, dan jam 2 atau 3 dinihari). So, gue dapat 5 botol @100-140cc.
Selama ditinggal kerja, Samantha mimi 4-5x @ 100-140cc (banyak ya, bow!), jadi pas2an lah:)
Gue pernah stock ASI di freezer sampe 20 botol, tapi akhirnya simpanan itu habis juga, karena di awal2 kerja, jadwal pumping masih berantakan. Sekarang simpanan ASI paling 2-3 botol, alias kejar tayang. Pumping hari ini, untuk diminum besok nya. Begitu seterus nya. 
ASI gue tak pernah terlalu banyak, tapi gue sangat bersyukur, masih diberi kekuatan untuk pumping, even in the middle of the night. Gue bisa nabung di weekend, karena Sabtu-Minggu kan sama2 baby, jadi nyusu langsung.


Target Menyusui?
Selama gue masih keras kepala :)
Tak ada target, karena target itu bikin gue stress. Gue ga pernah janji untuk nyusuin sampe Sam 2 taun. Gue hanya janji, gue akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dia.
Dulu waktu gue hanya punya 1 anak, segalanya lebih mudah, karena waktu gue hanya untuk dia. Tapi sekarang, selain Samantha, gue punya Keyla & Michael, yang juga butuh perhatian gue. Gue akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk semua nya :) 


Menyusui itu bukan tentang siapa yang bisa paling lama memberikan ASI untuk anaknya. Bukan tentang siapa yang ASI nya paling banyak.
Menyusui itu, tentang memberikan yang terbaik untuk anak. Tanpa target, tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Super salut untuk ibu2 yang bisa menyusui sampe usia anak 2 taun.
Tanpa bermaksud menghakimi, sangat mengerti untuk ibu2 yang tidak bisa menyusui anaknya. Yakin banget, itu bukan karena ga mau, tapi karena banyak faktor X di luar dirinya, mis kurang didukung lingkungan, stress pasca melahirkan, kesehatan tidak memungkinkan, dll.
Menyusui itu, tentang hati :) 


Share dikit lagi soal ASI
kiri : ASI pink, kanan : ASI putih
Beberapa hari lalu, kaget nya mendapati ASI dari PD kanan warna pink, dan ASI dari PD kiri warna putih. Kenapa bisa pink ya, padahal Valentine udah lewat *krik krik :p
Tanya @ID_AyahASI & @aimi_asi , ada beberapa pendapat : mungkin puting luka, so itu pinky karena bercampur darah, atau mungkin gue habis makan wortel/pepaya yang banyak beta-karoten nya.
Emang sih gue abis makan pepaya, plus setelah gue liat2, puting luka juga. Dan ternyata, bener itu udah bercampur darah. Setelah ditaro di kulkas beberapa lama, cairan darah & ASI mulai terpisah. Walopun katanya aman diberikan ke baby, tetep aja ga tega. Jadi gue tuang cairan ASI yang atas aja, untuk diminum baby. Yang udah bener2 tercampur darah, gue buang.
Sedih sih, tapi ya sudah lah. Jadi inget pernah buang 5 botol ASI karena basi, waktu itu freezer rusak T.T


Ah, ga usah sedih. Bersyukur aja untuk semua yang masih bisa didapat hingga hari ini.
Hari ini, bisa bawa pulang 320 cc untuk Samantha, its a gift :)






Tuesday, April 24, 2012

#Samantha


Di kehamilan gue yang ke-3 ini, gada perubahan fisik yang berarti. Ya iyalah, secara masih gendud, hehehe…
Total berat badan naik 17 kilo, new record! Record naik berat badan yang paling kecil (waktu Key naik 21kg, waktu Michael naik 20kg), yoo jumbo!
Baju2 hamil yang tadinya dah dimasukkin ke koper (untuk kemudian diserah terimakan ke “korban lelaki” berikutnya), gue bongkar lagi deh, pun popok2 baby.
Si “Bapak” yang udah tau duluan kalo gue hamil itu, bilang anak gue cowok. Hmmmm, really? So I will have another boy? Jadi nihhhh, banyakkan yang ikut Daddy ke bengkel, daripada ikut Mommy ke salon?
Kali ini, masalah jenis kelamin ga jadi issue, since udah ada sepasang malaikat J

Dokter mengharuskan gue sectio. Selain karena jarak kelahiran yang terlalu dekat (dan waktu Michael sectio juga), plus plasenta previa pula.
Bulu kuduk gue sampe merinding waktu denger kata2 “Caesar”, keinget waktu melahirkan Michael dulu, sakit nya ampuuunnn… Dipake jalan ga bisa pula, berhari2 ga bisa angkat kaki.

Tanggal operasi ditetapkan. Karena udah pasti caesar, so ga usah nunggu mules. Tapi kita sepakat nunggu sampe limit alias 40 week, supaya jarak kelahiran dengan Michael ga terlalu dekat.
Suatu kali, beberapa hari sebelum due, gue control ke Dokter. Kontraksi kecil mulai muncul, that’s why Dokter minta CTG alias periksa detak jantung baby. Hasilnya masih baik, tapi besoknya disuruh cek lagi (inget banget gue, itu hari Rabu).
Kamis malam, berangkat control lagi, dengan tas darurat di bagasi mobil, seperti biasa. Pas periksa, Dokter minta CTG lagi, dan suruh masuk malam itu juga, since kontraksi semakin sering. Iya sih, emang udah mules dikit2 gue, tapi kirain mules2 boongan.
Huwaaa, langsung panik gue, soalnya Jumat paginya masih ada audit di kantor (rencana nya Senin baru mulai cuti). Tapi..ya sutralah, gue nurut kata Dokter (ga berani macem2 lagi akuuuu)

Malam itu, setelah berdoa, perasaan gue tenang banget. Yakin kalo Tuhan akan lindungin gue.
Pagi nya, semakin tenang, karena Mami datang nungguin gue. Alex udah nginep dari malem. Ada 2 orang ini bersama gue, takkan ada yang tak bisa kuhadapi J

Detik2 Operasi Itu….
Bow, ternyata masuk ruang tunggu operasi dalam keadaan sadar itu, bisa bikin lo ngamatin banyak hal.
1.      Orang yang  biasa2 aja, kalo pake baju dokter atau suster, pake tutup kepala, pake sarung tangan,  point nya jadi nambah!
2.      Ruangan itu dingiiiinnn banget, katanya sih supaya steril ya.
3.   Jadwal operasi Dokter dalam 1 hari itu full banget ya… Gue sempet merhatiin jadwal operasi di whiteboard while nunggu dibius.
4.    Dokter bius gue adalah Dokter Loyd, rekomendasi Shinta (thankyou Shin!). Katanya Dokter ini jago, ga sakit sama sekali. Ya iyalah, baru ngeliat tampangnya aja, dah ngurangin sakitnya, bwahaha.. Yep, ganteng, sedikit bule, muda, pintar dan baik (cupu deh lo, Yan… inget, anak dah brapa..). Dia bilang “Bu, saya suntik ya, efek sampingnya mungkin pusing atau mual.” Informed concent  yang oke banget kan?

Setelah pake tutup kepala (supaya rambut ga ganggu), suntik tulang belakang, pasang jarum infus, selang oksigen, ready to go!
Dari lampu kaca besar di atas, gue bisa melihat bayangan Dokter & staff2nya “ngobok” perut gue. Dan kerasa juga loh, perut di”potong” (asli!). Menurut Dokter, memang masih kerasa, tapi saraf sakit nya di-non aktif-kan.
Mereka “ngerjain” sambil ngobrol2 gitu (kok Dokter Boy blom nyampe ya, katanya macet di sports club.. gue masih inget tuh mereka ngobrol apa:p). Ga ada kesan tegang atau takut, secara mereka tiap hari ngerjain kali yah. Sementara gue parno aja mereka bakal salah gunting atau apa, hihihi…
Ga lama kemudian, Dokter Sugi, obgyn gue, bilang “ready, siap dorong..”
Tau2 ada staff nya dorong perut gue dari arah atas, “siap!”
“Yap ditangkap…”
Lalu.. “Selamat yaaa…”
Hahhhh? Udah nih? Serius? Udah keluar anak gue? Gada drama mules? Yakin?

Beberapa menit kemudian, than… I saw her.
Ah, walaupun udah ke-3 kali nya, tetap aja, I always fall in love at the first sight with my babies. Seperti saat itu… Rasa haru itu begitu sendu.. We finally met, my pinky baby…. Mommy loves you J

Sayang sekali, IMD gagal karena gue keburu mual ga karuan (nyesellll bangettttt)..

Keluar dari ruang operasi, masuk ke ruang observasi, there’s my heroes!
Mami sama Alex masih disana, you’re my truly strength!
Entah karena ruangan yang super dingin, pengaruh obat bius, atau apa, gue menggigil kedinginan. Mami nepuk2 pipi gue (what can I do without you, Mom? Nothing!).

That time I promised you again, I will love you forever, Mom…
Salah satu tanda cinta buat Mami, ikutan project Dear Mama , puji Tuhan royalti nya disumbangkan (Thankyou Kak @lalapurwono ) . Nanti surat nya aku upload juga ya:)

Keyla, Michael, sekarang kita punya Samantha. Daddy Mommy so lucky having you three J

Getting Pregnant, Again :)


Yeayyyyy finally back!
Ehm, ini ditulis udah lama sekali ya, hanya aja baru posting. Jadi bukan berarti gue hamil anak ke-4 loh:)
Bwahahaha, maaf yaaa, kelamaan ga nulis, secara waktunya sekarang susah banget, bow *lap keringet*. Ah gile, jadi emak2 ber-anak 3 sekarang (iye, ude 3 anak aye!), ga kebayang ya?

Ehmmmm… This time I’m not gonna write you details about my pregnancy.

Jadi inget waktu pertama kali, seorang petinggi kantor gue (uhuk uhuk uhuk!) “melihat” bahwa gue hamil. Saat itu, gue belum lama masuk setelah kelar cuti melahirkan Michael (anak ke-2 gue).
Tiba-tiba “Bapak” itu, bilang gini ke gue, “Kamu hamil lagi, ya?”
Hah? Enggak laahhh, kata gue. Plis deh Pak, baru juga masuk, sambil sok-sok tersinggung, karena gue pikir dia bilang gue masih gendut (emang iya sih.. berat badan belum balik normal waktu itu).
Gue pun menganggap itu angin lalu, sampe 2-3 minggu kemudian.
“Kamu hamil ya?” Dia bertanya lagi.
Hiyahhh, kenapa ya, Bapak ini kok insist banget. 
“Enggak, Pak!”
“Udah periksa?”
“Belom.” à mulai geram, tapi kok was-was juga.
“Periksa gih, kamu hamil tuh.”
Dalam hati gue menghitung, udah “datang bulan” belom ya, bulan ini? Perasaan belom. Tapi kan, kalau menyusui, bisa aja ga datang bulan rutin ya? Iya kan? Iya kan?

Iseng-iseng setengah deg-deg-an, gue beli test pack dan tes keesokan pagi nya. Dan hasilnyaaaaa, garis samar itu ada! Super samar, tapi … ADA.

Perasaan gue saat itu, sesuatu yang ga akan gue lupa. Campuran antara kaget, shock, panik, parno. Sumpah lo, gue hamil lagi? Lah Michael baru 3 bulan umurnya!
Gue bilang suami gue, yang sama kagetnya. Seharian itu, gue pening bukan main.
Bukannya tidak senang. Tapi… muncul perasaan yang sukar gue lukiskan. Perasaan bersalah sama Michael, perasaan kuatir tidak mampu mengurus 3 anak, perasaan cemas karena gue banyak makan mentah2 di bulan2 kemaren. Dan trauma berat setelah proses melahirkan yang begitu sulit. Semua campur jadi satu. Alhasil seharian itu, ASI gue merosot drastis. Pun gue cuma bisa bengong aja di kantor, yet tell anybody about the (good) news.

Nyokap gue yang pertama gue kasih tau. Dia mah ketawa2 aja, terus bilang “Mami udah tebak, kan belom mens.” Dilanjutkan dengan, “Anak 3 itu seru, rame. Emang sih repot, tapi skalian kan, nanti kalau udah pada gede juga ga berasa.” Ah, ya!
Lain lagi dengan respon mertua gue. “Hmmmm?” ---hening--- “Emang udah cek ke Dokter?”
Setelah diyakinkan, Mama bilang, “Ya udah, Dian jaga kesehatan.”
Gue yakin, abis itu, Mama mertua gue ikutan pening, secara gue biasa nitip anak2 disana :p

Terlepas dari kondisi fisik, psikis gue yang menurut gue juga harus dieprhatikan. Seperti gue bilang di atas, perasaan bersalah gue ke Michael semakin menjadi, terlebih karena gue disuruh stop nyusuin sama Dokter. Breastfeeding  itu memcu kontraksi, dan mengingat kondisi kehamilan gue yang super rawan di 2 kehamilan sebelumnya, Doc instruct to stop. Itu baru awalnya.
Gue ga bisa gendong Michael. Ajak main pun terbatas. Pelukkin dia harus hati2. Kadang hati gue sedih, kalo liat dia nangis minta digendong. Dan iri, liat semua orang (kecuali gue), bisa gendong dia, bisa ajak dia main.
But again, hidup itu tentang mencari keseimbangan. Michael tumbuh menjadi anak yang mandiri, ga kolokan, baik banget, anteng banget. Sejak usia 3 bulan, ga pernah lagi kebangun malam untuk minta susu. Gue ga bisa bayangin, kalo Michael tiap berapa jam masih kebangun, dengan kondisi gue hamil ini.
Seiring berjalannya waktu, Michael seperti ngerti kalo Mami nya ga bisa gendong. Dan seakan tau kalo Mami nya merasa kehilangan "peran sebagai ibu", dia hanya bisa tidur kalo dikelonin Mami  nya, either itu ditepuk2 pantat nya, atau dipeluk sambil dinyanyiin. 
Tuhan memang super baik ya :) I feel so blessed. 

Kondisi fisik gue pun baik2 aja. Sedikit mual, tapi masih bisa gue atasi. Gue masih nyetir juga, masih kemana2.

Sampe suatu pagi di kantor… gue udah merasa ada yang ga enak. Bener aja, pas gue ke WC, celana gue udah full sama darah. Sialnya lagi, gue pake celana putih, so keliatan banget kan.
Gue lalu diantar teman kantor ke rumah sakit. Thankyou @awyatno J
Thony itu salah satu teman gue yang parno sama darah. Jadi butuh usaha besar dari dia untuk nganterin gue, secara darah gue keluar terus. Alih-alih gue ngerasa sakit, sepanjang perjalanan, malah gue yang ngeliatin dia. “Lo gapapa, Thon? Jangan pingsan ya.”
Selain sama Thony, gue juga diantar sama @Grace_Belinda , perawat klinik di kantor gue (I really hope there’s a nurse in every office!).
Sampai di ruang bersalin, diperiksa macam2, dan suster menyatakan keadaan gue “siaga satu”. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan. Cek jantung baby, USG dalam, USG luar, dll dll.
Anehnya, gue merasa tenang. I feel secure. Sambil berdoa semoga si kecil baik-baik saja. Keep telling the baby, be strong honey, Mommy loves you!
Hampir seharian di ruang bersalin untuk di-observasi, akhirnya gue dipindah ke ruang perawatan biasa. Suami gue, saat itu lagi di Bali, raker dari kantornya. Ga bisa pulang, karena dia ketua panitia nya, dan dia bertanggung jawab penuh atas ratusan orang rekan kantornya.

Beruntungnya gue, teman-teman kantor, teman-teman baik gue, bergantian datang njenguk. Mateng gue kalo gada kalian, secara gue bosenan as always T.T

Menurut Dokter, pendarahan kali ini disebabkan karena beberapa kondisi. Plasenta letak nya di bawah/jalan lahir, alias placenta previa, jadi resiko pendarahan lebih besar.
Kedua, karena aktivitas berlebih (kemungkinan)
Ketiga, lagi2 masalah hormonal.
Ok, gue ngakuin satu hal. Pagi nya, gue gendong Keyla….
Gue tau itu berbahaya, since Keyla udah berat. Tapi pagi itu, Keyla nangis minta digendong, sebelum gue berangkat kerja.
Kalian yang udah jadi Ibu, ga akan bisa menolak tatapan memohon dari seorang anak yang minta digendong, kan? J

Anyway, kondisi gue diharuskan BEDREST TOTAL. Pee dan pup pun harus di bed. Dan diikuti dengan bedrest 3 minggu di rumah. Never mind. Mungkin memang harus begini perjuangan gue menjaga si baby.

Satu hal yang di pikiran gue.
Orang itu.. kesusahannya emang beda2 ya.
Ada yang susah punya anak. Sekalinya hamil, hamilnya kebo banget. Kuat nyetir sampe 9 bulan, masih dinas ke luar kota. Aktivitas seperti biasa, cuma perut aja yang buncit.
Nah gue, dikasih gampang hamil, tapi kehamilan 1 sampe 3, semua nya berlanjut dengan bleeding. Bedrest. Mual2.

Sama seperti hidup.
Ada yang dying to have babies. Ada yang aborsi. Nitipin anak di panti asuhan, while ribuan pasangan lain, berobat kemana-mana supaya punya keturunan.
Tapi tetap.. Tuhan yang mengatur. Dia yang menciptakan. Dia yang berkarya. Dia yang menentukan. Dia yang menjaga, aku dan bayi ku.

Dalam setiap usahamu, galaumu, sedihmu, cemasmu..
Ingatlah satu
Akan selalu ada Tuhan mu
Yang menopang mu
Dan menggendong mu
Sepanjang hidup mu

Friday, May 30, 2008

BECOMING a real WOMAN
(dedicated to my mom : I love you very very much!) 


Setelah ngrasain hamil, melahirkan, ngurus anak, ngurus kerjaan, skaligus ngurus rumah, gue baru ngrasain susahnya jadi cewek. Cewek/wanita/perempuan ternyata dituntut jadi mahluk serba bisa. Elo harus bisa jadi istri yang bisa ngurus suami lo, ibu yang bisa gede-in anak lo, karyawan yang perform di kantor, ibu rumah tangga yang oke (termasuk majikan yang baik & pengertian), dan seribu peran2 laennya (such as : temen curhat yang baik, konselor yang slalu ada buat klien lo, etc). Gue sangsi banget, gue bisa ngelaksanain itu smua.

Have I told you, kadang gue suka nangis ndiri klo malem… wondering mana bisa gue punya seribu peran kaya gitu? Pada saat badan sendiri rasanya masih amburadul, elo kudu diemin anak lo yang nangis meraung2, nyiapin makan malem suami lo, trus ada PR dari kantor, plus ternyata minyak goreng di rumah abis. Lengkap deh smua, huehehe:p 

Nyokap gue, adalah orang yang bisa melaksanakan smua perannya dengan (hampir) sempurna. Punya 3 anak, jadi karyawan yang baik di kantor, istri yang bisa ngurus suami, dan ngurus rumah juga. Gue inget.. dulu waktu masih kecil, saat smua temen2 gue klo pulang skolah disambut atau dijemput nyokapnya (waktu jaman itu, ibu2 banyakkan jadi ibu rumah tangga), gue cuma nebeng tante gue, atau dijemput pembantu.. rasanya sediiihhh banget. Nyokap gue ngakalin itu dengan telpon gue sehari entah brapa kali, dan selepas pulang kantor, ga ada lagi waktu untuk ngurusin kantor.. smua waktu diabisin ma kluarga, sampe waktu bobo. 

Jadi cewek, ternyata berat ya…. Beda sama cowok, yang sbagian besar peran sbagai kepala kluarga & pencari nafkah (I didn’t say it was easy to be a man. Yakin kok, sama sulitnya, tapi dipandang dari sisi beda. Yah, at least klo jadi cowok, ga akan disalahin klo dapur kotor atau anak nangis karna dah 3 hari ga bisa pup). 

Berikut daftar dosa cewek yang berperan ganda jadi mami/karyawati/ibu rumah tangga : 

Kulit anak merah2 akibat bentol2  mami nya ga becus mandiin anaknya 
Ruam2 akibat popok  pasti mami nya males, makanya dipakein pampers 24 jem (suer, Key cuma pake pampers klo bobo malem doang..) 
Anak nangis mulu spanjang malem  maminya pasti males bangun buat gendong 
Kerjaan kantor ga beres  emang ngapain aja? Bobo klo di kantor? 
Anak buah di kantor stress  dasar atasan nya tuh ga bisa coaching
Performance di kantor menurun  pasti gara2 dah punya baby niy... 
Sabun cuci piring abis  si nyonya rumah ga pernah ke dapur, sampe sabun abis aja ga tau 
Makanan disemutin  nyonya rumahnya males, smua dikasih ke pembantu 
Pembantu minta brenti  majikan nya pelit 

Huhuhu... my God, ternyata jadi istri, ibu, plus nyonya rumah tuh susah amat yaaaaa.... rasanya gue stress, mo nangis klo bayangin itu smua. Blom lagi ngurus suami & ngurus diri lo ndiri.... trutama klo lo ga mo lagi liat sapi atau kudanil ndut tiap kali ngaca:p 

Pernah satu hari... rasanya semua serba amburadul. Hari itu entah knapa Keyla super rewel. Nangis mulu, ga mo ditaro. Digendong terus, harus jalan pula.. jadi digoyang2 gitu, baru diem dia. Udah bobo pules, tapi pas ditaro, langsung bangun lagi & nangis. Jadi deh gue gendongin terus seharian. Ga kerasa, tau2 udah jem 4 sore. Abis mandiin Keyla, perut gue keroncongan, baru nyadar klo gue blom makan dari pagi. 

Serasa blom cukup, pembantu gue hari itu bilang dia mo pulang kampung, karna ada sodara nya yang nikah. My God, langsung lemes deh gue. Malemnya, pas Keyla udah bobo, gue langsung nangis. Rasanya amburadul banget... badan gue sakit semua, tangan pegel, perut melilit, kepala pusing, mual2, mata berkunang2, lengkap deh. Trus klo pembantu pulang gimana coba... bisa apa gue? Ngurus anak aja udah ngabisin tenaga dan waktu gue, apalagi harus ngurus rumah juga? Huhuhuhu... knapa siy serba berantakan? Gue ibu yang buruk, majikan yang ga bisa apa2, nyonya rumah yang bolot, istri yang ga perhatian juga, huhuhuhuhu.... Mana bisa gue jalanin smua itu... boro2 ngurus diri sendiri. 

Anyway... bulan demi bulan berlalu (blog ini gue tulis waktu Key lagi bobo siang dalam posisi tengkurep , jaminan bobo lama & pules:p). Ternyata, gue masih hidup, masih sehat. Ternyata dunia ga runtuh. Walopun mpot2an, rumah gue masih berdiri:p Pelan2 keadaan mulai membaik. Keyla baik2 aja, makin sering bikin ketawa dan suka sok ngerti klo diajak ngobrol:) Rumah gue ga roboh... pembantu gue ga jadi pulang, karna udah nitip uang ke sodaranya. Suami gue masih sama beratnya (klopun dia kurang gizi atau kurang diurus, gue ber-asumsi beratnya turun:p) Dan dapur gue, masih bisa berfungsi semestinya. Yah emang siy, kapan waktu tuh coklat mesis pernah abis, trus beras pernah abis sampe kosong banget... tapi udah ga separah dulu. Minyak, beras, unik pernik sarapannya Alex (roti dll), mulai bisa gue pantau. Kapan abis, yang mana yang harus beli, dll. 

Dan gue? Huehehe.. walopun rontok, gue masih bisa ktawa lebar tiap hari. Hidup gue masih sama, malah gue dikasih bonus sama Tuhan : bisa nyiumin & melukkin Key tiap hari, ngliatin dia ketawa, ngliatin betapa hepi nya dia klo dikasih mimi, nangisnya dia klo pas bajunya dilucutin (pertanda dia mo mandi:p).. God, its so amazing. Tuhan udah memberikan hadiah buat gue. Kebahagiaan memiliki anak, lengkap dengan segala perubahan yang tadinya gue pikir ga akan mampu gue lewatin. Tapi Tuhan udah mengatur semua nya. Dia tau gue akan sanggup ngelewatin ini semua. Dia tau gue bisa melakukannya. Tinggal nunggu 1 peran gue yang akan dateng : kerja. Mudah2an peran2 ini bisa berjalan seimbang, sperti nyokap gue. 

She’s a perfect mom, ecellent housewive, good employee. I love you mom, more than ever.