Friday, May 30, 2014

Emirates Stadium, Please :)

Halo semuanya! 
Kali ini gue mau cerita soal obsesi terbang ke UK, atau ke London, tepatnya.
Why England?
Apalagi coba tujuannya, selain mengunjungi klub kesayangan gue yang baruuuu aja menjadi juara piala FA! Yeayyyyy, go Gunners! Go Arsenal!
Gue lupa, kapan tepatnya mulai menyukai klub ini. Kayaknya sejak awal masuk kuliah (artinya sekitar tahun… well, ga usah disebut ya, yang jelas gue #AnakLama :p). Kakak dan adik gue adalah fans berat Manchester United (yeah, everybody loves them!). So tiap kali ada bola, pasti ribut di rumah, karena kita mendukung klub yang berbeda. Saking kelewat cinta sama Arsenal, gue pasti bela-belain nonton, walaupun waktunya suka ga tepat. Seingat gue, karena begadang nonton bola, gue pernah sampai dapat D waktu UTS. Untungnya gue lulus mata kuliah itu, ketolong di nilai UAS. Hahaha..

An evolution, when a new logo was born!
 Anyway, kenapa sih gue suka banget sama klub ini? Please take a look for some reasons.
First, I do admire the people.

In this case, the Coach at the first place. Selain ganteng (halah! :p), berkharisma, smart, gue menyukai gaya kepemimpinannya. He always support the team, mentally. Ga pernah menyalahkan anak buahnya, bahkan ketika tim terbukti mandul, bahkan kalah dari klub papan bawah yang sama sekali ga diunggulkan. As you know, Arsenal dikenal sebagai salah satu tim hebat tapi lemah di  konsistensi. Terbukti dengan merajai klasemen liga Inggris terlama di tahun ini, tapi toh hanya mendapat tempat terakhir yang ikutan Champions League tahun depan. Tapi, tanpa bermaksud lebai, Wenger selalu membela anak-anaknya. Atau kalaupun ia mengkritik mereka, ga di depan umum.
Gue mengagumi ketenangan Wenger dalam memimpin. Dia belum pernah terlihat emosi berlebihan saat tim bertanding. Gue pernah melihatnya berbincang dengan anak buahnya di ruang istirahat, ketika ditayangkan oleh sebuah stasiun TV. Tidak ada nada kemarahan (mudah-mudahan bukan karena disorot media ya, hehehe:p), padahal saat itu timnya baru kalah. Yang ada hanya nada menyemangati dan supportive.
Wenger bukan orang yang suka pamer. Tidak pernah dalam sejarah, ia ikut-ikut bursa transfer dengan menyebutkan sejumlah uang yang sanggup membeli pemain manapun (no mention yaaaa, hahaha..). Yang ada malah fans kesal sama dia, karena terkenal pelit beli pemain, demi kepentingan share holder kah?
Wenger hampir ga pernah beli pemain beken. Biasanya dia mengincar pemain muda yang jadi cadangan di klub lain, untuk kemudian dilatih dan dibesarkan olehnya di Arsenal. Yah walaupun akhirnya pemain yang udah besar namanya itu malah lompat ke klub lain, ada juga yang ke musuh bebuyutannya (no mention lagi ah:p). Membeli pemain hebat dari klub besar, apalagi yang diincar kalau bukan uang? Dengan membeli pemain yang masih junior, berharap bisa dididik ‘ala’ Arsenal, Wenger berharap bisa menemukan kesamaan visi dengan anak-anak asuhnya, bukan hanya sekedar uang. Udah pasti sih uang penting, tapi bukan yang paling penting.

Lebih lengkapnya tentang Wenger, bisa klik di link barusan yaaa... Ini adalah curcol gue tentang Wenger di post yang lalu:) 
Nah, Wenger sudah menjadi Arsenal Coach selama 18 tahun. Dan tim kesayangan gue ini, udah puasa gelar selama 9 tahun. Jadi setengah dari kepemimpinannya, Arsenal ga mendapatkan gelar apapun. Karunia banget di tahun ini, akhirnya tim gue ini buka puasa, yeayyy!

Arsene Wenger
I prefer to call him "the legend"
Selama bertahun-tahun puasa gelar ini, ga terhitung banyaknya orang yang memaki. Mencaci Wenger, karena tidak meracik strategi lapangan dengan apik. Menghujat Wenger karena membeli pemain buangan yang sebenarnya tidak dibutuhkan klub. Tak sedikit fans yang pergi, dan memuja klub lain yang jelas-jelas lebih berprestasi.
But real friends (or fans) believe. 
(Soal loyalitas, klik di link ini dan ini aja yaaa, kalau ga kepanjangan nih, secara lagi bahas #InggrisGratis !)
The second man I love is Dennis Bergkamp, the non-flying-dutchman. Mantan pemain tengah Arsenal, kelahiran Belanda, yang saat ini isu-nya sedang mempertimbangkan apakah akan bergabung dengan De-Boer di Tottenham (please, nooo!), atau menjadi asisten pelatih di Arsenal.
Gue suka si fobia terbang ini karena dia adalah orang yang tenang dan low profile. Tidak setenar Thierry Henry, karena Bergkamp bukan striker. But he could play his role very well. Saat menggantikan Tony Adams yang cedera, Bergkamp bisa menjadi kapten klub yang baik, dengan ketenangan dan kematangannya. Ga sebeken David Beckham, karena mungkin dia ga kece, dan istrinya bukan selebriti. Ia hanya seorang pemain tengah, yang sesekali melemparkan umpan lambung langsung ke gawang (sukur-sukur gol!). Tapi sebenarnya, tugas utamanya adalah selain mengamankan lapangan tengah, juga mendukung striker untuk memasukkan bola ke gawang lawan.

Ketika banyak pemain tengah yang ingin selalu tampil bak pahlawan kesiangan, Bergkamp justru sebaliknya, dia ga ingin kelihatan menonjol. Tapi ketika tim nya kalah, dia adalah orang pertama yang bisa menenangkan dan memotivasi mereka. Ugh, suddenly jadi ingat waktu tim Belanda kalah lawan Kroasia di semifinal Piala Dunia kapan itu. Penalty yang gagal berkali2, sampai ribuan orang berbaju orange yang menonton pertandingan secara langsung menunduk lemas.
           Look at the pic below. Gue menyimpan gambar ini sejak lama, karena emotionally, gue suka banget sama kedua gambar ini. Gambar kiri, saat Henry baru saja bikin gol, so it was a happily hug. Sementara gambar kanan, itu saat tim mereka baru aja kalah (lupa melawan siapa). Bergkamp tetap merangkul Henry, sekaligus menenangkannya. Yes, it was a sadly hug.

      
One of my emotional fave pics
Bergkamp and Henry
Friends in court, pals in life

 Selain Wenger dan Bergkamp, gue juga suka Tony Adams, mantan pemain nasional Inggris yang sempat menjadi kapten Arsenal. Robert Pires, si bintang tim Perancis. Marc Overmars, orange man yang sempat menjadi sayap andalan Arsenal. Thierry Henry, striker nomor satu Arsenal. Emannuel Petit, si gondrong yang mirip Orlando Bloom (rambutnya doang sih:p), Frederick Ljungberg, si gesit tangkas dari Swedia. Patrick Vieira, yang emosinya suka ga terkendali. And of course, Davin Seaman, penjaga gawang kebanggaan Inggris.

Iya, dengan geblegnya, gue hafal persis formasi saat itu. Bahkan sampai sekarang, gue punya formasi andalan, hahaha.. gaya ya gue, siapalah gue ini, kok tengil banget:p



Sebagian unik pernik Arsenal.
Jersey asli itu kesayangan gue, langsung diterbangkan dari London:p (oleh2 dari teman hehehe:p)

Second and the most, I love the value of the team. They support each other, they don't compete internally.

Wah, ga akan habis-habis kalau diulas satu-satu tim kebanggan gue ini.. Alhasil, walaupun sembilan tahun tanpa gelar, gue tetap bergeming. Ketika semua orang mencibir, menyuruh gue pindah menjadi fans tim lain, gue hanya mengatakan, “Big NO NO.” Real fans (and friends) STAY.
Sewaktu fans Setan Merah bersorak sorai akibat treble winner di jaman kepelatihan Fergie, gue menangis. Sebagian karena iri, but I realize Fergie is one of the best coach in the world. Juga ketika teman-teman fans Liverpool mengumandangkan lagu YNWA menjelang berakhirnya Liga Inggris 2014 ini (walaupun akhirnya City yang juara), gue tetap mantap mengatakan, gue adalah fans Arsenal. Dan akan terus begitu.
Jadi, jelas banget kan, kalau someday gue harus kudu mesti ke Inggris? Malah kalau boleh mengaku, di seluruh negara2 di Eropa, negara yang paling ingin gue kunjungi adalah Inggris. Bukan Perancis yang romantis, bukan juga Belanda yang banyak bunga. Tapi Inggris, London sih lebih tepatnya. Buat apa lagi kalau bukan untuk ngunjungin markas klub paling keren sedunia ini :) 


Ini gambar Emirates Stadium, yang terletak di Ashburtin Grove, Holloway, London Utara.
Arrrgghhh, baru melihat fotonya aja, udah merinding.
So excited!
The Arsenal Museum
Uniforms, tools, and some legendary pics of The Gunners!

Stadium Tour everyday.
How can I not love London, for sure?

This is called "Bergkamp's Stone"
Bergkamp berfoto bersama patungnya yang terletak di depan Emirates Stadium.
Kalau gue bisa ke sana, kayaknya gue bisa pingsan sambil memeluk patung itu, hahaha:p

Seeing this board directly, is one of biggest dream!

Yes, I love Arsenal, with or without trophies :)
Menjadi fans berat Arsenal sejak masih di Highbury Stadium, Inggris adalah salah satu tempat impian gue. Dan semakin banyak gue menulis soal ini, makin pingin ke sana (Arrrghhh, jadi ingat blognya vabyo waktu jalan-jalan ke Inggris, pingin jitakkin deh rasanya hahaha...). 
England is definitely a place to go before I die!




Seluruh gambar klub & stadium di postingan ini, gue ambil dari web dan google ya, jadi memang bukan milik pribadi (kecuali foto unik pernik & foto terakhir)


Friday, March 21, 2014

The Rush Stars

Posting ini dibuat untuk mengikuti kontes "Pre Wedding Rush Stars" by Mbak Okke yang disponsori oleh Cotton Ink dan Stiletto Book

Kontes #PreWedRush kali ini beda, ga hanya harus punya kemampuan menulis, tapi mendalami karakter masing2 tokohnya juga J

Jadi ceritanya kita harus memilih bintang untuk memerankan tokoh di novel ini, seandainya kisah ini difilmkan (Amin:p)
Melihat usia para tokoh yang sudah bekerja dan bukan ABG lagi, jadi sosok yang memerankan juga seharusnya ga muda2 banget ya, berkisar antara 25 - 30 tahunan lah.
Berikut pemaparan pemeran masing2 tokoh #PreWedRush. Gue menuliskan link twitter account masing2 tokohnya juga, jadi lebih kelihatan karakternya (sotoy.com:p)

Menina - Adinia Wirasti


Membaca karakter Menina yang tomboy, cuek dan bebas, gue memilih Adinia Wirasti (Asti).
Peraih dua piala Citra ini tentu saja tak diragukan lagi kemampuan actingnya.
Ingat waktu Asti memerankan Karmen di AADC, dapat banget tomboy dan cueknya di situ.
Juga ketika menjadi Marsha, seorang travel writer di film Laura & Marsha, keberanian dan jiwa petualangnya terlihat sekali.
Di kehidupan aslinya, kolektor barang kuno ini juga hobby diving. So, ga diragukan lagi keberaniannya.
Anyway, berlawanan dengan sikapnya yang cuek, deep inside Menina memiliki perasaan yang halus. Layaknya wanita pada umumnya, ia sangat takut saat terjadi gempa.  Ketika itulah, Lanang datang dan melindunginya, sehingga si Cinta-Lama-Belum-Kelar ini membuat Menina galau.

Asti yang cuek dan berani ini, di satu sisi bisa tampil tomboy, tapi juga bisa tampil anggun. Persis banget Menina, kan? Usia Asti dan Menina juga kurang lebih sama


Lanang - Abimana Aryasatya



Lanang bisa dibilang versi cowoknya Menina.
Bebas, tidak suka terikat, terkesan ‘liar’, tapi tidak segan-segan menolong orang lain yang terkena musibah.
Yang paling cocok menjadi Lanang adalah Abimana Aryasatya (dulu nama bekennya Robertino).
Secara fisik, Lanang sangat menarik.
Di bayangan gue, dia tinggi, rambutnya gondrong, ganteng, ngebanggain bangetlah klo dipamerin kemana-mana. Mirip sama Abi, kan? Walaupun sekarang udah ga segondrong dulu sih.
Pemeran Rangga dalam 99 Cahaya Langit di Eropa ini bisa kelihatan cuek dan jutek, tapi juga ramah dan usil. Susah diraih, tidak tertebak, tapi menyenangkan dan punya banyak teman. Kombinasii yang menarik, ya? 


Dewo - Ben Joshua

Kenapa ya, klo ngomongin Dewo, gue selalu tersipu2? Hahaha.. 
Gue memilih Ben Joshua sebagai Dewo. Good looking, charming, mature, tenang, tapi pasti. Sosoknya ‘adem’, bisa menenangkan siapapun yang melihat. ‘Husband material’ banget, kalau kata Agnes.
Bukan hanya peran, tapi dalam kehidupan sebenarnya pun, Ben adalah orang yang mirip Dewo. Tidak banyak berita tentang dia dan keluarganya, bahkan bisa dibilang belum pernah ada berita miring tentang dia. Ben memang menjaga privacy keluarganya. (Lihat aja account twitternya, udah 3000an aja dong followernya, padahal belum pernah nge-twit, hahaha..)
Menina membuat pilihan yang tepat ketika memilih Dewo. Rasa aman dan terlindungi, itu yang bisa diberikan Dewo untuk keluarganya, tepat seperti yang dilakukan Ben J ke keluarganya. Well, its getting personally here :p NEXT! 

Sigit - Dwi Sasono

Kalau aja Dicky Chandra lebih muda, dia yang paling cocok memerankan Sigit.
Calm, tidak demanding, pengertian, ga neko-neko, lempeng banget deh pokoknya. Terlepas dari kenyataan bahwa ia menikah lagi setelah berpisah dari Ayako, ga merubah kenyataan kalau dia yang menambah nilai kelembutan dan kebaikan di novel ini.
Dwi Sasono sekilas mirip Dicky Chandra versi muda. Lihat sorot matanya yang teduh dan sabar, persis Sigit:p




Tadinya pingin pilih Laura Basuki, karena looknya Jepang banget. Tapi wajahnya terlalu polos, secara usia pun terlalu muda. Sedangkan Ayako jauh dari kesan polos.
Ga tau yaaa, menurut gue karakternya agak gelap nih. Introvert dan terkesan galak. Ketus, tidak suka berteman, tapi menariknya berjiwa sosial tinggi. Kayak ada kebutuhan dalam dirinya yang tidak terpenuhi. Bukan kasih sayang sepertinya, karena Sigit kayaknya sayang banget sama Ayako. Hmmmm mungkin dia butuh sosok yang lebih kuat untuk mendampingi dia. Dia butuh sosok yang lebih dominan.
Loh kok gue jadi cenayang gini sih, hahaha…

Dominique Diyose cocok banget jadi Ayako. Secara fisik, Domi memiliki kulit putih, Jepang banget deh pokoknya. Tapi yang paling cocok adalah matanya. Menyipit di ujung, dan sangat ekspresif. Matanya itu ambisius, she knows what she wants, and she’ll do anything to get it.  Inget ketika ia ketus sewaktu melihat Lanang berduaan dengan Menina?

On the other side, Domi juga terlihat cute dan rapuh. Mungkin ini yang bikin Sigit menyayanginya, dan Lanang gemes sama dia. Hehehe…

Agnes - Nadia Saphira

Cheerful, spontan, ceplas-ceplos. Periang dan banyak teman. Begitu kira-kira karakter Agnes, sahabat Menina, yang juga mengajar di kampus yang sama. Ga ada yang lebih tepat selain Nadia Saphira.
Dua peran berbeda dimainkan di Jomblo dan Cintapuccino. Kesan centil dan ceplas-ceplosnya dapat banget waktu di AADC The Series. Walaupun riweh dan cerewet, Agnes atau Nadia ini biasanya adalah teman yang sejati. Terkesan kepo (mo tauuuu aja), tapi dia yang bakal ada di barisan depan untuk membela kalau lo disakiti.


Jadiiii kira2 begitu deh pemaparan peran dan karakter ke-6 tokoh itu.
Semoga berkenan:)




Friday, March 14, 2014

Me (with The Balls) vs The Geek Athaya


Membaca sekelumit kisah Athaya, rasanya kayak ditampar bolak-balik. Tentang dunia freelancer yang gue inginkan selama ini (jadi curcol deh hehehe), kefleksibelan kerja, kerapuhan seorang wanita yang walaupun cuek, tapi toh masih membutuhkan seorang pria untuk memperhatikan dan memanjakannya. 
Manusiawi sekali melihat Athaya yang IT person tapi bisa tersanjung dan terharu ketika diperhatikan sampai segitunya oleh Ibra.
Sebagai seorang web developer tapi juga kolektor heels, karakter Athaya jadi unik banget.

Gue suka nama Athaya. Ga lazim, tapi terdengar keren. Pilihan nama yang cool, Mbak Octa J
Lalu gue suka ide ceritanya. Fresh, original, tapi juga membumi. Ringan, bisa dibaca sambil minum teh, namun banyak maknanya.
Covernya terkesan “too girly”, tapi bisa menggambarkan karakter Athaya yang easy going.
Pembahasan buku nanti berlanjut di Good Reads aja yaa:p

Se-geek Athaya pada heels, gue suka banget ngumpulin snow ball dari berbagai negara.
Disebut snow ball, karena di dalam bentuknya yang seperti bola kristal ukuran kecil itu, kalau digerak2kan seperti ada salju yang turun. Romantis ya :p

Seperti ini contohnya:)


Kalau gue ke luar negeri, atau ada orang yang pergi ke luar negeri, pasti gue titipin snow ball. Dibanding tas, baju, coklat, gantungan kunci atau suvenir lain, I prefer these one

Kenapa gue suka banget snow ball?

Snow ball biasanya bisa kita beli di toko souvenir. Setiap negara punya snow ball yang berbeda, biasanya menunjukkan ciri khas atau kebanggan negara tersebut. Belanda dengan windmillnya, Bangkok dengan gajahnya, Itali dengan Pisanya. Jadi kayak lagi jalan2 keliling dunia aja rasanya:p

Snow Ball mengingatkan gue akan keindahan banyak tempat, yang pernah atau belum gue kunjungi. Taj Mahal di India, Gunung Fuji di Jepang, dan sebagainya.

Optimisme? Mungkin. Setelah lelah dengan berita negatif tentang issue pembakaran hutan, pembunuhan binatang dan lain-lain, pikiran dan perasaan kita butuh sesuatu yang indah. Makanya gue suka snow ball.
Melihat butiran ‘salju’ yang turun, rasanya damai dan lepas.

Juga memberikan gue semangat untuk jalan2 ke negara2 tersebut, melihat kebanggaan mereka, sama seperti kita begitu bangga akan Candi Borobudur.
Setiap kali stress kerja, merasa terhibur kalau melihat koleksiku ini. Ayo kerja yang bener, biar bisa jalan2 keliling dunia dan melihat bangunan2 di negara keren ini asli di depan mata sendiri hehehe…

Berikut beberapa koleksi gue :






from barcelona

pisa at italy

windmill from holland

snow at brussels

from dubai with love

 Ada tiga yang pecah (jitakkin anak2), tapi tetap tak simpan, karena bagus:)




 Sebagian koleksi, and the Geek book with them:)


Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Writing Contest "Me Versus The Geek Athaya" yang diselenggarakan oleh Stiletto Book

Friday, February 28, 2014

Tentang Kampung Fiksi (part 3)


Next, gue mau cerita tentang keterlibatan gue di Kampung Fiksi.

Waktu itu gue sedang maternity leave period. Terbiasa mengecek email tengah malam (saat suami dan anak2 sudah tidur), gue iseng2 mengamati seisi TL. Gue melihat twit seseorang (lupa siapa:p), tentang lomba menulis menjelang Valentine. Guepun mencari info lebih lanjut. Ternyata lomba ini diadakan oleh Kampung Fiksi. Setelah melihat blognya, gue ketagihan. Untaian kata di sana begitu laras. Gue seperti menemukan sekumpulan orang satu napas dengan gue.

Terus terang, sejak menikah dan punya anak, gue jarang sekali menulis. Boro2, bisa mandi dan sisiran aja udah bagus, hahaha… Apalagi sejak punya dua, bahkan sekarang tiga anak. Gue rindu menulis.
I know me. Ada relung jiwa gue yang kosong, yang hanya bisa terasa penuh saat gue menulis. Ah sok puitis banget:p

Singkatnya, cerpen gue yang berjudul ‘Mencintaimu’ dinyatakan lolos, dan dibukukan bersama belasan orang lainnya. Judul antologi cerpen itu adalah Banyak Nama Untuk Satu Cinta, yang kemudian diterbitkan lewat leutikaprio.



Senang? Pasti! Secara udah lama ga menulis, ini jelas satu titik balik yang baik. Sejak itu, gue jadi sering melongok blog Kampung Fiksi. Rajin memantau timelinenya.
Gue juga ikutan Group Facebooknya yang berjudul J50K. Ini adalah suatu kegiatan menulis yang dilaksanakan serempak, dimulai di tahun baru (Januari), dan diharapkan berlanjut terus sampai 50 ribu kata. Harapannya tulisan ini akan menjadi novel yang tentunya diterbitkan (Amin:p)
Walaupun hanya mampu menulis 10 ribu kata saja, tapi gue ikutan senang memantau tulisan rekan-rekan yang ikutan. Lagi2 gue kagum dengan konsistensi mereka2 ini. Tiap hari commited menulis hingga tercipta sebuah naskah.

Memasuki bulan puasa, Kampung Fiksi kembali mengadakan lomba menulis. Kali ini cerita pendek seputar Ramadhan. Iseng2, gue beranikan diri untuk ikutan. Syukurlah, tulisan gue menjadi satu dari tiga cerita yang menang, dan mendapatkan hadiah Modem SmartFren (Thankyou, SmartFrenJ)
Well, hadiahnya adalah bonus. Keberanian dan komitmen menulis itu yang sebenarnya matters banget buat gue.

Kampung Fiksi membuat gue kembali rajin menulis. Diawali dengan menyapu blog gue yang udah karatan. Lalu pelan2 mulai menyelesaikan naskah novel yang  udah sepuluh tahun cuma menuh2in lappie aja. Apalagi sejak Mbak Winda & Mbak Nastiti berhasil menerbitkan bukunya, gue ikutan senang bukan main. Dan ada keinginan supaya naskah gue kelar juga. Aku juga mauuuuuuu:p

Jadi kalau dibilang seberapa besar keterlibatan gue dalam Kampung Fiksi?
Mungkin gue hanya pembaca pasif. Gue hanya partisipan non aktif yang sekali2 memberanikan diri menulis. Tapi komunitas ini punya arti besar untuk gue. Selain passion yang sama dalam membaca dan menulis, gue merasa menemukan keluarga baru yang bisa ikut mengerti, apa itu writer’s block, bagaimana membuat alur cerita, apa bedanya blurb dan sinopsis cerita, dll.

Terima kasih Kampung Fiksi, sudah membangkitkan energi baru yang sempat tenggelam.
Yuk terus membaca dan menulis J Yuk sama2 mewujudkan mimpi menjadi penulisJ
Do the write things right, WRITE away!

"Ikut memeriahkan ultah Kampung Fiksi yang ke-3 bersama SmartfrenMizanBentang PustakaStiletto Book dan Loveable."



Tentang Kampung Fiksi (part 2)


Awal bulan kemarin, tepatnya tanggal 1 Februari 2014, Kampung Fiksi merayakan hari jadi yang ke-3. Untuk sebuah komunitas yang baru naik pangkat dari batita menjadi balita, Kampung Fiksi bisa dibilang sudah menancapkan taringnya (duh bahasanya:p) di dunia fiksi. Terbukti dengan banyaknya kegiatan (baik jumlah maupun ragamnya) yang diselenggarakan Kampung Fiksi (mau lihat kegiatannya ada apa saja, baca post sebelumnya ya, atau buka blognya KF untuk informasi lebih lanjut), juga jumlah follower di twitter, FB dan blognya.

Harapan gue untuk Kampung Fiksi :
Semoga tetap menjadi kampung yang ramah untuk pencinta fiksi.
Semoga tetap menjadi ruang puisi.
Semoga selalu menjadi sekumpulan orang-orang rendah hati yang peduli.
Semoga bisa menjadi inspirasi, tidak hanya bagi pencari fiksi, tapi juga semua orang lain yang rindu menuturkan imajinasi.
Semoga bisa tetap menjadi kejutan tak terduga bagi semua penduduk kampung fiksi

Terima kasih sudah memberikan inspirasi
Terima kasih sudah menjadi tempat berbagi
Terima kasih sudah menyemangati
Terima kasih sudah menjadi tempat bertanya tanpa gengsi

Kalau saran untuk tampilan blog, menurut gue udah cukup user friendly sih. Kita bisa langsung mencari atau klik informasi yang kita butuhkan, atau kalau sekedar ingin membaca cerita.
Tapiiii.. hmmmm gimana kalau Kampung Fiksi mulai mencari logo baru? Logo yang lama sepertinya udah butuh pembaharuan. KF nya sih oke, tapi font atau warna atau apapun itu, mungkin bisa dibuat lebih baru. Coba dikompetisikan, banyak loh orang-orang yang suka nulis dan juga suka design.




Keterlibatan gue di Kampung Fiksi kira2 apa aja ya? Simak di post selanjutnya J

"Ikut memeriahkan ultah Kampung Fiksi yang ke-3 bersama Smartfren, Mizan, Bentang Pustaka, Stiletto Book dan Loveable."





Tentang Kampung Fiksi (part 1)


Halo semua!
Kalau kalian melihat banner Kampung Fiksi yang menetap di blog gue, kali ini gue mau cerita tentang komunitas ini.

Dunia fiksi selalu seru. Di dunia inilah kita bisa menjadi Tuhan yang bebas menentukan nasib si tokoh. Kita bisa menuliskan semua imajinasi kita, bahkan yang tidak mungkin sekalipun.

Lalu, Kampung Fiksi itu apa? Tempat berkumpulnya pencinta fiksi. Ya pembaca, penulis, pokoknya yang tergila2 sama fiksi.

Kampung Fiksi di  mata gue : Sebuah desa dongeng yang penuh imajinasi.

Dikomandoi 8 moderator yang bergiliran menjaga ‘gawang’, Kampung Fiksi terasa begitu hidup. Bergantian, 
Mereka bahu-membahu menjalankan Kampung Fiksi sesuai gaya masing2. Di antara mereka, ada 4 moderator yang sering banget woro-wiri di timeline gue. Ada Mak WindaKrisnadefa, si Emak Gaoel yang ceplas-ceplos gubrak gedumbrangan. Ada Mbak Nastiti DS yang kalem dan dewasa (pernah janjian ketemu waktu talkshownya mbak AE di Lotte, tapi batal ya Mbak!). Ada Mbak Ria Tumimomor, si #DJTwitKF yang biasa hadir dengan tips2 seriusnya. Juga Ajen Angelina, si perawat yang yang hobi menulis cerita horor (makasih sering membalas mention ga penting gue ya, Ngel:p)
Meski belum pernah bertemu sekalipun, tapi udah berasa kenal (apa karena gue SKSD ya:p)

Para moderator ini, mereka dibayar ga, sih?
Enggak! *geleng2. Mereka ga dibayar.
Mereka harus repot2 menulis, menggelar kuis (yang hadiahnya menggiurkan, tapi toh bukan untuk mereka), mereview buku, dll.
Lantas, apa untungnya untuk mereka? Bukannya hampir semua hal di dunia ini, sifatnya transactional?
Mereka ini tidak dibayar. Mereka digerakkan oleh napas yang sama, yaitu passion mereka di bidang fiksi. Energi yang dihasilkan dari semangat menulis ini, itu yang membayar mereka tinggi.

Kegiatan Kampung Fiksi ngapain aja sih?
Macam2! Ada cerpen yang ditulis bergiliran, review buku, tips menulis, pelatihan menulis, tukar2an buku, lomba menulis, dll. Ada juga jasa copy editing, kelas online, mengurus ISBN, dll. Daripada gue kayak jualan ala tukang obat, better kalian langsung klik Kampung Fiksi, dan temukan berbagai keindahan fiksi di sana.

Kenapa gue suka dengan komunitas ini?
Karena semua punya mimpi yang sama, yaitu membaca dan menulis!
Entah nantinya akan diterbitkan jadi buku atau sekedar nge-blog, pokoknya menulis! Menulis sambil terus berharap terjadinya perubahan di negara ini. Menulis untuk menginspirasi. Atau sekedar menulis untuk menyalurkan gundah hati.  
Semangat menulis, semangat berbagi, semangat bercerita, itu yang gue salut dari rekan2 di Kampung Fiksi. Banyak orang bisa menulis. Tapi menulis dengan tujuan berbagi, saling menyemangati, saling mendukung, itu lain cerita.

Anyway, walaupun belum pernah ketemu dengan para moderator, tapi gue merasa udah menjadi bagian dari komunitas ini (makanya bannernya menetap di blog gue).  That’s why gue sempat kecewa karena Kampung Fiksi ga lagi hadir saat SocMedFest.

Mau lebih tau banyak soal Kampung Fiksi? Di post selanjutnya ya:p

"Ikut memeriahkan ultah Kampung Fiksi yang ke-3 bersama Smartfren, Mizan, Bentang Pustaka, Stiletto Book dan Loveable."






Friday, February 14, 2014

Dear Dewo


This posting has written for #PreWedRush (by Mbak Okke) Love Letter Contest sponsored by Stiletto Book and Route 28 Tees



Hai Wo!

Di hari Valentine ini, saat semuanya (mungkin) menulis untuk Lanang, gue memilih untuk menulis buat lo. Menurut gue, lo adalah sosok yang paling mengagumkan, even sejak di awal kisah.

Banyak hal yang membuat gue kagum dari lo, Wo.
Salah satunya adalah cara lo mencintai Menina.
Sayang lo buat Menina itu, pada mulanya gue anggap ga wajar, tapi justru membuat gue belajar.
Gue pingin belajar menyayangi, seperti lo menyayangi dia.
Sayang lo ke dia itu tulus. Sayang yang tidak membebani. Cinta yang tidak mengekang.
Dan perasaan cinta seperti itu, hanya bisa diberikan oleh orang yang merasa secure dengan dirinya sendiri.

Waktu Menina malah kabur ke Jogja dan bukanya ke Surabaya … Apa elo sebenarnya udah tau, Wo? Menina bukannya “salah turun”, tapi dia memang “pingin turun” di Jogja. Sewaktu Menina tak jua bisa dihubungi, gimana ya perasaan elo? Apa elo udah punya firasat sebelumnya? Gimana perasaan lo saat terjadi gempa di Jogja dan Menina ada di sana?

Gue sempat bertanya2 waktu itu. Kenapa elo ga menyusul ke Jogja, Wo? Sepertinya kok elo enggan memperjuangkan Menina?
Kalau gue jadi lo, gue pasti udah langsung terbang ke Jogja untuk menarik Menina pulang. Dan gue pasti ngamuk berat menemukan (calon) tunangan gue ternyata sedang spend time sama mantannya di saat kalian seharusnya tunangan.

Tapi mungkin itu yang namanya mencintai dengan dewasa. Menyayangi dengan bijak.
Memberikan ruang dan waktu untuk orang yang elo sayang.
Memberinya segala kesempatan untuk memilih.

Apalagi Menina itu cerdas, bebas, kapanpun bisa lepas. Tapi elo dengan kebesaran hati lo, justru malah memberikan waktu sebebas-bebasnya dan ruang seluas-luasnya untuk dia berpikir.
Lo mengerti keraguan dia, kegalauan dia, ketidakyakinan dia.
Itu membuktikan kalau walaupun lo sayang setengah mati sama dia, tapi lo siap melepaskan dia apabila dia ga merasa yakin dengan cinta kalian. Lo bahkan sanggup menunggunya.

Ah, lo memang mengagumkan, Wo! J

Kalau boleh memilih, gue akan memilih pria seperti lo, untuk bisa mendampingi gue sampai tua. Gue memilih perasaan aman dan dicintai. Gue memilih merasa diterima apa adanya dan disayangi.
Kehidupan pernikahan yang seperti roller coaster (iya, gue memang kebanyakan baca buku :p) jelas bukan impian gue. Gue memilih kehidupan tenang, yang walaupun ada sedikit riak dan gelombang, tapi tidak lantas menjadikannya ombak. Kehidupan tenang, mungkin membosankan bagi sebagian orang, tapi tidak buat gue.
Bad boy mungkin asik jadi teman jalan. Tapi pria seperti lo, adalah pilihan untuk dijadikan teman hidupJ

Anyway, congrats yaaa finally elo dan Menina bisa menikah, dan udah dikarunia putri yang cantik pula.

Gue belajar banyak dari kisah lo sama Menina. 
Bahwa mencintai itu berarti membebaskan. Mencintai berarti memberikan ruang dan waktu. Mencintai berarti melepaskan. Siap merelakan.
Seperti kata orang, “Kalau mencintai, bebaskanlah. Kalau dia kembali, artinya dia akan menjadi milikmu. Kalau tidak, artinya dia memang bukan untukmu.”

Jangan mencintai dengan menggebu. Karena seperti pasir, akan lepas jika digenggam terlalu erat. Mencintailah dengan sederhana, seperti kuku jari yang akan terus tumbuh.

Gue berdoa, supaya gue layak mencintai dan dicintai, seperti lo mencintai Menina.

Selamat hari Kasih Sayang, Dewo!




Wednesday, January 29, 2014

Tentang 12 Tahun di Rumah Kedua


Peringatan ulang tahun Nutrifood (2 Februari), selalu punya arti lebih buat gue. Artinya umur gue di sini nambah setahun lagi:p 

2 Februari 2002
Setelah proses seleksi beberapa bulan sebelumnya, hari ini akhirnya melangkahkan kaki sebagai karyawan. Bingung setengah mati, kok sepi banget nih kantor… Pada kemana semua ya?
Ternyata oh ternyata.. most of them kebanjiran! Ingat kan, Feb 2002 itu banjir besar di Jakarta. Sebagian karyawan diungsikan ke training center kantor di daerah Sentul. Sebenarnya dari sini aja, gue udah merasakan sesuatu yang beda, sih. Perusahaan kok repot2 mau menampung karyawan (plus keluarganya) menginap di rumah kantor?

Selingan aja, ini foto gue waktu apply kerja.
Unyu dan super culun yah :p


Tiga bulan menjadi anak baru, bukan hal yang mudah buat gue. Malah sejujurnya, gue udah pingin kaburrrr dari sejak sebulan gue di sini.
Selain kerjaan yang bukan main banyaknya, gada yang ngajarin, gada mentor. Hiks…
Well, anak barunya memang ada beberapa yang masuk mirip2 gue waktunya. Tapi semua beda bagian.
Dan gue dapat 3 (iya, tiga!) department waktu itu. Sebagai anak baru yang masih unyu, menghandle 3 dept itu asli bikin pening. Gue, lulusan psikologi, yang hanya punya sedikit pengalaman 4 bulan bekerja sebagai HR, harus handle dept HR, GA, dan QA.
Sangat awam dan membingungkan, gue pun mencari orang yang bisa ditanya. Ga menemukan seorang pun yang bisa mengajari, gue pun bertanya ke boss gue (Sebut saja dia Bapak RS, the Managing Director, salah satu yang menginterview gue).
“Pak, ini saya bingung harus ngerjain apa. Ga ada prosedur apa-apa yang bisa saya baca? Ga ada job description?”
Dia pun menjawab dengan entengnya, “Lah, justru tugas kamu itu bikin prosedur dan job desc untuk semua dept.”
Sangat lugas, tapi sanggup bikin gue lemas, haha..

Bapak RS bilang sama gue, “Kenapa? Merasa ga bisa? Katanya dari kampus beken?”
Melihat tampang gue yang (mungkin) pucat pasi, dia bilang lagi, “Saya ga nyari orang pintar, yang lebih pintar dari kamu itu banyak. Tapi saya ambil kamu karena bisa dipercaya. Masa orang yang bisa dipercaya ga bisa pintar juga? Jangan bikin kecewa.”
Damn it, dedemit! Lo pikir???? Uhuk! Pingin kaburrrr!

Tapi gue lantas berpikir… Kalau gue kabur, artinya omongan si Bapak itu benar, dong. Lagian masa sih gue ga bisa?
Iya, memang susah, tapi ga dicoba ya ga tau bisa apa enggak. Iya gada yang ditanya, gada yang ngajarin, tapi kan masih ada buku dan internet?
Dan harus gue akui, Nutrifood menyediakan akses sebebas2nya buat lo cari info. Nutrifood membukakan pintu selebar-lebarnya untuk lo belajar. Lo bisa pinjam buku di library. Lo bisa browsing. Lo hanya perlu INISIATIF untuk melakukannya. Once itu ada, lo bisa lari.

Pengalaman gue magang, part time dan jadi asdos, asli berguna banget buat gue pada saat kerja. Bukan hanya bagus di CV, tapi inisiatif, kemandirian, ke-fleksibel-an, dan social skill, itu yang lebih penting daripada sekedar manjang2in CV.
Dulu gue pernah kerja di perpustakaan kampus, buat ngisi waktu plus nambah uang jajan, ga kepikiran bakal berguna di dunia kerja. Ternyataaaa gue bisa dengan cepat belajar coding saat harus minjem buku di perpust kantor. Gue bahkan membuat sistem audit kecil2an di business unit gue.
Hokinya gue dulu pernah terlibat dalam banyak organisasi. Ya Senat, ya BPM, ya UKM. Walaupun jauh berbeda, tapi mengajarkan gue banyak hal. Secara gue harus mengepalai para Satpam dan Driver. OMG! Kebayang ga sih, gue meeting dengan para Satpam? Satu ruangan, isinya penuh dengan Bapak2 kekar berseragam, sementara pemimpin meetingnya adalah gue yang super unyu gini? Hahaha...
But I took it all. And I thank God for that. God was, is, and always beside me.

Ga perlu gue certain detail ya, gimana akhirnya gue bisa melewati masa probation gue. 3 bulan penuh kebingungan. 3 bulan menjadi orang buta di hutan belukar. Ga terhitung berapa kali gue merasa stress dan pingin kabur aja:p Akhirnya, setelah melakukan presentasi di depan boss gue itu, gue dinyatakan lolos percobaan (asli, lebih takut daripada ujian sidang S1:p). Fiuh… Dan gue, masih di sini sampai sekarang:p

No guidance, no mentor, even no procedure. So what did the company give me?
TRUST. I was surprised for the (too big) trust Nutrifood gave me.  

SUPPORT. Finally I knew my first Boss is the one who support me much. Did I tell you that Bapak RS is a very nice person indeed? Memang galak, memang tegas, juga keras. Tapi itu yang mendidik mental gue sampai jadi kaya batu begini:p

FRIENDSHIP. Mungkin bukan teman senasib yang pekerjaannya sama. Tapi teman2 yang bisa ikut tertawa dan menangis bersama gue. Teman2 yang bisa lo percaya. Lo bisa pergi ke kantor dengan tenang, tanpa takut siapapun menusuk lo dari belakang.

HEART. Perusahaan ini bisa mendapatkan hati gue. Dengan kepeduliannya pada karyawan, perhatiannya, peri kemanusiaanya. Contoh kecil aja nih ya.. Nutrifood punya "emergency number” khusus untuk karyawan. So if you need help (in this case) because of kebanjiran, lo bisa telpon. Pengalaman seorang teman di Kelapa Gading waktu kebanjiran kemarin, mendapatkan bantuan logistik dari Satpam & Driver kantor yang diantar ke rumah mereka. Kurang baik apa?

Malah kadang saking terlalu baiknya, ada loh keryawan (dan eks karyawan) yang masih memanfaatkan. Hmmmmm #NoMention aja kali ya? *wink

So… Dua belas tahun
Sungguh bukan waktu yang singkat ya?
Dari gadis ting2 sampai beranak tiga begini, hahaha…
Dua belas tahun yang penuh kenangan
Dua belas tahun penuh dengan cerita

Bahagia, saat ada sahabat dipromosikan
Sedih, saat ada teman baik yang harus pergi
Galau, saat ada tawaran lain yang menarik
Tertawa, ketika bersekongkol menyusun rencana untuk yang ulang tahun
Menangis, ketika harus berselisih
Gundah, ketika melihat ada yang tak beres di depan mata

Tempat ini, sudah membuat gue berkembang. Berubah menjadi orang yang lebih baik. Tentu saja, di samping membuat dapur rumah mengebul:p
Tempat belajar, tempat mengembangkan diri, tempat gue menyadari kelebihan dan k ekurangan gue.
Di tempat ini, gue bisa menjadi diri sendiri. Gue bisa mencintai diri gue sendiri. Gue suka diri gue saat gue di sini. Ah, yang terakhir itu penting banget. Kadang gue berpikir, kalaupun gue udah ga di sini lagi, mungkin gue akan selalu mencintai tempat ini. Seperti beberapa sahabat yang sudah pergi, dan ingin kembali.

Bukannya ga pingin coba tempat lain
Sometimes gue juga pingin lari
Apalagi kalau himpitan dan tekanan datang bertubi
Tapi, lagi2 hati yang harus mencari
Jawaban terbaik untuk diri sendiri
Saat ini, entah untuk berapa tahun lagi,
Hati gue masih di sini

Kalau apa yang lo bayangin tentang kantor lo itu, bisa membuat lo tersenyum, artinya lo berada di tempat yang tepat J

Selamat Ulang Tahun, Nutrifood.
Keep inspiring a nutritious workplace!

Regards,
An employee
Dua belas tahun, dan masih mencintai