Saturday, June 29, 2013

Kardus Merah Kenangan

"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

Kardus Merah Kenangan
(427 words)




Chacha mengamati isi kardus itu dalam diam. Diraihnya boneka beruang putih kecil berkaus merah bertuliskan MIT. Massachusetts Institute of Technology. Tempat Rommy menuntut ilmu dan meraih bachelor degreenya. Tempat Rommy tinggal selama empat tahun, dan selama itu pula mereka berhubungan jarak jauh. Sebelum Rommy melanjutkan S2 ke Inggris. Dan setelah itu… hilang lenyap entah kemana.
Tiga tahun menunggu Rommy, mengharapkan kabarnya, mencari beritanya, menyebut namanya dalam doa, tetap tanpa hasil. Rommy seperti hilang ditelan bumi. Tanpa kabar berita. Hingga akhirnya Chacha memutuskan untuk melangkah. Melanjutkan hidupnya. Menjalani hari-harinya.
Dipeluknya boneka itu. Dulu, boneka ini selalu ada di kamar Chacha. Di meja tulisnya, tepat di samping meja computernya. Boneka ini menemaninya selama bertahun-tahun, menjadi saksi bisu saat Chacha menangis, merindukan Rommy setiap malam. Dan ini… Chacha mengambil bunga mawar plastik di dalam kardus. Hadiah dari Rommy saat Chacha diwisuda. Mug kartun, pemberian Rommy ketika Chacha berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya. Lalu miniatur pesawat terbang kesukaan Rommy. Rommy memang penggemar berat pesawat.
‘Setiap kali kamu kangen aku, ingat ada benda ini yang akan membawamu ketemu aku,’ begitu dulu katanya pada Chacha.
Ada juga beberapa frame foto, yang tadinya berisikan foto-foto mereka, tapi akhirnya hanya tinggal framenya, karena Chacha sudah merobek dan melenyapkan foto-foto di dalamnya.
“Cha? Lagi ngapain?”
Chacha tersentak. Terlalu kaget untuk menoleh.
“Kamu lagi beres-beres, ya?”
Chacha mengangguk sambil berusaha menyusut air matanya. Riyo tak boleh tau kalau…
“Sampai keringetan gini,” Riyo membelai pipi Chacha. “Jangan dipaksa ya, Cha. Kalau capek, istirahat dulu.”
Chacha hampir menangis lagi mendengar jawaban Riyo. Suaminya sangat memperhatikannya. Sementara dia, malah menangisi barang-barang pemberian mantannya. Mantan yang tak jelas di mana rimbanya. Ironisnya.
“Masih ada tiga bulan sebelum anak kita lahir, Cha. Kalaupun gudang ini nantinya ga bisa kosong tepat waktu, baby masih bisa tidur di kamar kita, kan?”
Chacha mengangguk, tanpa sanggup berkata-kata.
“Barang-barang bekas ini, disumbangkan ke Panti aja, Cha.”
“Apa?” Chacha terperangah. Panti Asuhan?
“Titip ke Bu Yati, beliau kan koordinator sumbangan ke Panti di Gereja kita.”
                “Oh. Iya.” Chacha mengangguk kecil. Menurut saja ketika Riyo menutup kardus dan menyelotipnya. Bahkan warna kardusnya pun merah, seperti hatinya yang pernah berdarah. Tapi saat ini, anggap saja merah itu melambangkan berani. Berani melupakan, dan berani melangkah.
                Akhirnya barang-barang itu pergi juga, batin Chacha. Sebagian hatiku, sebagian kecil saja, mungkin masih ada di situ. Separuh jiwaku, mungkin juga masih tertera nama itu. Tapi seperti apapun masa lalumu itu ada, namanya adalah “masa lalu”. Peristiwa yang sudah lalu. Sementara aku? Setelah bertahun-tahun menangisimu, mencarimu, berharap menemukanmu, mungkin harus berhenti. Sesekali merindukanmu, sudah cukup. Seperti hari ini. Selanjutnya, semoga tak pernah lagi.


                



Thursday, May 09, 2013

#NGUPING


           Dita menghela napas lega. Akhirnya kelar juga kerjaan yang bikin mumet. Setelah hampir seminggu berkutat dengan bacaan dan data, finally ia bisa menyelesaikan hutang empat artikel untuk majalah tempatnya bekerja. Dua artikel liputan konser dan dua hasil wawancara narasumber.
             Lagu di ipodnya berhenti. Dita meregangkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri.
             “Gue sendirian.”
             Dita menoleh mendengar suara berat itu. Ternyata Bapak di belakangnya sedang menelpon.
             “CafĂ© Jakarta.”
              “…..”
            “Ga ada. Cuma ada satu cewek, lagi sibuk main lappie, sambil pake earphone. Ga penting lah, masih kecil.”
              Hm… apa itu maksudnya aku? Dita melihat pakaian yang dikenakannya. Mungkin kaos gombrong, celana jins dan sneakersnya yang membuatnya kelihatan masih seperti anak sekolah, atau minimal mahasiswa.
                “…..”
                “Okay…. Barangnya udah di gue sekarang, mau lo ambil kapan?”
           Dita mematikan ipodnya. Tapi entah kenapa, ia membiarkan earphonenya masih menempel di telinga. Barang apa maksudnya?
                “Jangan dikirim, bro, nanti ketauan. Kalau ketangkap, repot.”
               Bro? Artinya Bapak ini sedang bicara dengan seorang cowok. Siapa cowok itu? Siapa mereka? Apa yang sedang mereka bicarakan? Barang apa yang dimaksud, sehingga mereka bisa ditangkap jika ketauan?
                “Iya, pake nama samaran. Nama kita ga boleh ada yang keluar pokoknya.”
                “…..”
                “Yoi, lo tenang aja. Pokoknya begitu gue terima uangnya, barang udah jadi punya lo.”
                Barang apa yang dimaksud?
               Dita mengambil cermin kecil di tasnya. Lalu pelan sekali, diarahkannya cermin itu sedemikian rupa, sehingga ia bisa melihat wajah orang yang duduk tepat di belakangnya. Karena orang itu duduk membelakanginya, ia tak bisa melihat wajahnya. Dari belakang, orang itu nampak lumayan rapih, berambut pendek, dan berdasi! Hm….
                “Siang ini gue rapat di Gedung biasa.”
                “…..”
                “Yeah, you know. Berkumpul dengan orang-orang itu.”
                “…..”
              “Ga bisa, gue harus hadir, minimal satu-dua jam. Setor muka dan absen aja kok, habis itu bisa cabut lagi. Yang penting ada paraf, biar transferan tiap bulan lancar. Kalau ga, repot gue nanti.”
                Dita mulai sibuk menerka. Apa Bapak ini, anggota suatu perkumpulan rahasia? Agen pemerintah? Atau apa? Naluri wartawannya muncul. Ia pura-pura mengetik di laptopnya dengan serius, sambil sesekali berdendang, seakan mengikuti irama musik di ipodnya, padahal ipod itu sudah mati dari tadi.
                “Bulan ini lancar. Makanya bisa stock tuh barang.”
                “…..”
                “Banyak. Tapi ya siapa cepat dia dapat. Makanya lo buruan transfer.”
                Kening Dita berkerut. Sepertinya….barang yang dijual Bapak ini, bukan barang ‘seram’. Barang ‘seram’ biasanya tidak dijual massal seperti ini.
            “Yah, lumayan. Kata orang, siklusnya memang begitu. Habis-habisan di awal buat kampanye. Syukurlah kepilih. Nah lima tahun ini saatnya ngumpulin uang buat ngelunasin pinjaman biaya kampanye kemarin, skalian ngumpulin modal buat usaha. Habis kelar lima tahun ini, rasanya gue ga bakal kepilih lagi. Lah wong rapat aja jarang hadir, hahaha…”
                Bapak itu tertawa menggelegar. Sepertinya dia lupa kalau topik yang dibicarakannya itu sensitif.
                “Makanya nih bisnis harus jalan….”
                Dita mulai paham.
           “Lah gaji bulanan kan udah ketauan jumlahnya, yah habis sama bini lah. Kalau bisnis ini buat mbayarin icip-icip sama yang manis-manis, hahaha…”
                Dita mengepalkan tangannya gemas. Jelas sudah semuanya. Nampaknya Bapak ini adalah salah seorang anggota D*R. Pejabat pemerintahan, yang seharusnya rapat di gedung M*R/D*R, karena itu dia memakai jas dan dasi. Ia ingin setor muka dan setelah itu bisa pergi, seperti yang tertangkap dilakukan “Bapak-Bapak terhormat” yang memakai jas dan dasi yang lain? Malah ada yang kepergok nonton video pada saat meeting? Atau ketiduran ketika mendengar pidato Presiden? Jadi Bapak ini salah satu dari dewan yang terhormat itu? Lantas, barang apa yang dijualnya?
               Dita berpikir sejenak, menimbang apa yang harus dilakukannya. Kalau di film-film, ia akan berdiri, mengambil segelas air, lalu menuangkannya ke atas kepala si Bapak bersuara berat itu. Kalau perlu, ingin ditariknya dasi Bapak itu hingga putus. Tapi kali ini, Dita tak sudi. Ia wartawan berkelas. Orang kelas teri seperti Bapak itu, tak bisa ditindaki kelas teri juga. Akhirnya Dita memutuskan untuk memotret Bapak itu dari jauh. Memang hanya sekenanya, tapi tak apa.
             Dita membuka file baru di laptopnya, lalu mulai mengetik. Peduli setan dengan barang apa yang dijual orang itu. Sepertinya, editornya akan mendapat tambahan satu artikel baru dari Dita. Tentang “kelakuan anggota dewan terhormat di jam kerja.”  

               
                

Thursday, May 02, 2013

Selamat HarDikNas!


Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ga biasa2nya gue nulis serius di blog yaaa, hehehe.. so this is one of a kindJ
Hari ini, gue menuliskan kegalauan gue (jiah, emang biasanya enggak?:p) as a mom (of three, if you may add), tentang pendidikan anak di Indonesia.
Seperti pernah gue twit, sekolah di Indonesia nowadays cukup variatif, dan ini yang membuat orang banyak pilihan sekaligus bingung.

Pertama, sekolah konvensional, yaitu tipikal sekolah lama yang biasanya mengutamakan hafalan. Less logic, karena yang diajarkan mostly udah pasti. Issuenya, banyak hal2 ga penting yang diajarkan di sekolah ini. Anak2 jadi kurang kritis, kurang kreatif, lebih banyak menghafal.
Remember waktu kita kecil, gambar gunung dengan matahari tenggelam di atasnya, lalu jalan dan sawah di bawahnya? Gue ga tau apakah sekarang gambar seperti itu masih diajarkan apa enggak.
Satu hal yang baik adalah cara sekolah menerapkan disiplin buat anak2nya.

Di international (atau national+) school, anak diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, berani mengemukakan pendapat. Gue salut sama kurikulumnya, salut sama pengajar2nya. Anak yang pendiam, ga percaya diri, bisa berubah menjadi anak yang berani, smart dan luar biasa kreatif.
Satu hal yang gue salut banget, international school ini biasanya mengutamakan proses belajar, dan bukan hanya resultnya J I adore them for this.
Walaupun gue kecewa karena ternyata ada international school beken yang ga mengajarkan agama sama sekali. Kebebasan yang (bisa jadi) bablas.

Satu yang sampai sekarang gue belum dapat jawabannya.
Apakah sekolah2 itu mengajarkan anak untuk toleransi? Seberapa penting mereka mengajarkan pendidikan moral?
Its not Pendidikan Moral Pancasila yang harus diajarkan (Pancasila is an ideology, right?), tapi pendidikan moral manusia! So as long as you’re a human, dimanapun lo hidup, di negara manapun, apapun agama lo, apapun ideologi negara tempat lo tinggal, lo tetap punya “budaya diri” yang lo bawa sampai mati. Such a simple thing like lo harus antri, mengutamakan ibu hamil atau orang tua untuk duduk di bis, membantu orang menyebrang jalan, dll.

Gue rasa, di Indonesia (atau bahkan di dunia), udah terlalu banyak orang pintar. Cas cis cus juara English speech, olimpiade matematika, dapat medali emas di olimpiade fisika, etc etc. Tapi seberapa banyak sekolah yang mengajarkan anak untuk jujur? Seberapa banyak sekolah yang menjelaskan ke anak kenapa dia tidak boleh nyontek (instead of ga jujur, tapi nyontek itu adalah mengambil yang bukan hak lo, dan itu sama dengan korupsi!). Nyontek is awal dari korupsi.

Nilai2 seperti itu yang semakin berkurang diajarkan di sekolah, tapi ironisnya, hal2 itu yang semakin diperlukan di jaman sekarang ini.
Menjadi juara is one thing. Bagaimana cara lo menjadi juara is another thing.
Jago bahasa inggris itu penting. Tapi menaati peraturan ga kalah penting.
Menggambar gunung itu bisa dengan banyak cara, sama seperti warna anggrek itu ga selalu ungu, dan wortel ga selalu orange.

Again, there’s such no perfect place. No perfect school to learn.
Sebagai orang tua (yang belum tua2 amat:p), should combine each component, seperti main puzzle.
Apa yang belum diberikan di sekolah, kita harus berikan di luar sekolah. Misalnya… klo lo pilih sekolah katolik konvensional (pelajaran alkitabnya mantep banget ini…), anak kudu kursus bahasa inggris.
Kalau anak lo masuk international school, sepanjang hari udah cas cis cus, ga perlu lagi les inggris. Tapi mungkin perlu Sunday school di gereja.

Life is about completing the journey.
You choose your journey, fight for it, and enjoy it the most.  
So, anak2 lo nanti bakal sekolah dimana, Yan?
*geleng2* “Masih bingung gue….”

Friday, April 26, 2013

Kancil Yang Baik - Book Review


Kali ini gue mau me-review salah satu buku cerita anak yang menurut gue oke banget. Kiddo's books are not always about princess or prince, its fabel anyway!
Dan lebih okenya lagi, penulisnya Clara Ng, donggg… secara dia penulis favorit gue, dan gue punya hampir semua novel2nya dia. Love you, Kak Clara! :)

Kenapa menurut gue menarik?

Being the first.. 
Di dongeng lama, kancil digambarkan sebagai sosok binatang lincah, nakal dan cerdik. Suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat ga, dongeng waktu kita kecil (sampai kita dewasa), kancil itu mencuri timun dari sawah Pak Tani? Tertangkap, lalu dikurung. Kancil juga berhasil mengelabui buaya, yang terkenal dengan keganasan gigi2nya.
Kancil is the legend of bad and naughty animal. 
Ingat lagu ini?
Si kancil anak nakal,
Suka mencuri ketimun
Ia layak dihukum
Jangan diberi ampun

Nah di dongeng Kancil Yang Baik ini (dari judulnya aja udah 'sesuatu' ya), Kancil digambarkan sebagai binatang yang baik. Menariknya, Kancil ini SAMA dengan kancil yang dulu. Kancil ini, adalah kancil yang dulu mengelabui Buaya dan mencuri dari kebun Pak Tani. Tapi sekarang dia udah bertobat. InterestingJ

Karena terkenal dengan kenakalan dan kelicikannya, ga mudah buat Kancil untuk membuktikan, bahwa sekarang dia udah jadi binatang baik. Pak Tani dan Buaya tentu saja ga begitu aja percaya dengan kebaikan Kancil.

Usaha atau extra effort ini yang menurut gue menarik. Kancil berusaha membuat Pak Tani dan Buaya percaya dengan ketulusan hatinya. Kancil membuatkan makanan untuk Pak Tani, menjahit syal untuk Buaya. Selain berusaha membuat Pak Tani dan Buaya, Kancil juga berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya (dengan membantunya belajar), dan anak yang baik untuk orang tuanya.

Banyak hal yang bagus banget buat diceritakan ke anak2, bahkan ke kita juga yang udah tua2 ini :p
1.       Kenakalan atau perilaku di masa lalu itu akan terus diingat, terutama oleh orang2 yang pernah kita jahati
2.   Perlu usaha untuk menghapus ingatan orang tentang kenakalan atau kejahatan di masa lalu. Mereka mungkin takkan melupakan sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menambah memori mereka tentang perilaku baik
3.    Sebaliknya, dilihat dari sisi Pak Tani dan Buaya, ga selamanya orang yang jahat itu akan selalu jahat. Kita harus bisa menghargai niat dan usaha orang lain untuk berubah

Nah, ini loh penampakan bukunya. Grab it soon:)


Thankyou, Kak Clara Ng for writing such an inspirational yet simple story

Monday, April 01, 2013


Hari Sabtu dua minggu lalu, gue mengajak kiddos ke Panti Asuhan di daerah Cipayung. Dibanding dengan beberapa tahun lalu, keadaan panti ini sudah jauh lebih baik.
Dulu bangunannya kecil, dengan banyak kamar-kamar yang mengelompokkan anak2 berdasarkan umurnya.
Satu hal yang paling gue ingat waktu dulu berkunjung, salah satu pengurus Panti bilang ke gue, “Jangan digendong ya, Bu.”
Gue tanya kenapa, jawabnya “Nanti ga mau lepas.”
Sedih ya, melihat anak2 itu segitu haus perhatiannya, sampai kepada semua yang datang aja, mereka merengek2 hanya untuk sekedar digendong, disuapin atau dipeluk.

Panti ini ternyata sudah diambil alih oleh Pemerintah, begitu menurut Bapak pengurus di sana. Syukurlah, semoga dengan begitu keadaannya menjadi lebih baik.
Dan sekarang ada Panti Jompo juga di depannya. Pantas aja, begitu baru masuk, ada serombongan Oma2 duduk di semacam pendopo.

Orang2 jompo ini sebagian ditemukan di jalan. Setelah ditelusuri dan di-survey, kalau masih ada keluarga yang mampu, akan diserahkan ke keluarga. Tapi kalau tidak, akan dirawat oleh Panti.
Sedangkan untuk anak2, sebagian ditemukan di RS, yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Sebagian lagi ditemukan di berbagai tempat umum, dari mulai halte, stasiun, atau tempat2 lain.
Ah, ga kebayang ya, bayi masih merah yang begitu lucu, ditinggalkan orang tuanya begitu aja. Kira2 apa yang ada di pikiran orang tuanya, ya?
Syukurlah anak2 ini lalu ditemukan oleh pihak yang sepantasnya, hingga bisa hidup cukup layak di Panti. Bagaimana dengan anak2 yang lain, yang masih terlantar di jalan? Panti2 pasti punya kapasitas juga, kan?
Di Panti ini, maksimal usia anak adalah lulusan SD. Setelah itu akan ditransfer ke Panti lain, begitu juga setelah lulus SMP. Ga kebayang, akan jadi apa anak2 ini setelah lulus SMA.  

Tanpa mau menghakimi siapapun, cuma berharap anak2 ini selalu dalam lindungan Tuhan. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, jika Tuhan menghendaki anak2 ini dilahirkan, pasti Dia juga yang akan menjaga mereka.

Sayangnya, saat itu anak2 baru aja tidur siang, jadi kita belum bisa melihat mereka. Dan karena ga keburu nunggu mereka bangun, jadi kita pergi deh.
 Sebagai orang tua yang punya 3 anak, miris banget liat foto ini.



Look at them, the innocent onesKita ga bisa memilih lahir dari siapa, dalam kondisi bagaimana. Tapi kita bisa memilih, bagaimana kita akanmenjalani hidup ini.

BTW ada satu hal yang kelupaan...
Seisi Oma2 panti, nge-fans sama Michael. Dan sepanjang jalan ketika mau pulang, Michael dadah2 ke Oma2 itu sambil bilang, "Byebye, Oma!" :) How could I not love my cute angel?


Sunday, March 31, 2013

#keyla goes to lion city!


Acara outing kantor divisi gue mid Maret lalu diadakan di Spore. The Lion City, yang ga pernah membosankan.
Menjadi lebih special, karena di hari ke-2, Alex & Key nyusul. Key baru pertama kali ke luar negeri, dan baru kedua kalinya naik pesawat. Deg2an juga gimana responnya nanti J


the five-stones-hostel, the friendly hommy hostel :)

Gue & friends nginep di Five-Stones-Hostel, di Clark Quay. Nyaman, bersih dan menyenangkan, terutama karena kita tidur ber-14 di 1 kamar. Seru ya J Ranjang susun dan loker untuk masing2 orang, kamar mandi barengan tapi tetap bersih, sarapan seadanya tapi terjamin.






Pagi2 buta dah ngumpul di airport, bikin perut super keroncongan. Jadi tanpa ragu2 kita mampir ke Song Fa, bakut teh beken di sana, yang syukurnya bisa ditempuh dengan jalan kaki aja dari hostel.  
Tentu saja haram:p Dan gue yang waktu itu masih pantang ibab, cuma bisa nelen ludah aja ngeliat yang lain pada pesen, hiksss… Tunggu pembalasankuuuuu!!!

After lunch, kita muter2 Orchard, Merlion, Marina Bay. Standard orang Indo kalau ke sana lah, ya.
Oh iya, ada cerita lucu waktu lagi belanja di Lucky Plaza. Gue lagi di Giordano, counter wajib kalau ke Sing. Ada segerombolan Tante2 geret2 koper, sambil ngomong bahasa Mandarin. Gue nyangkain mereka dari Cina, since putih2 kinclong semua. Ribut dan rusuh banget mereka nyari2 kaos. Sampai seorang Tante bilang gini, “Ini mah kaya di Mangga Dua!”
Buset, ternyata mereka dari Indo! Wkwkwkw… Hampir gue bilang gini, “Ini Giordano, Tante. Kalau di MangDu, itu namanya Giordono.” Wkwkwk…

Gue beruntung banget, last visit ke Sing udah bisa ke Marina Bay. Karena ternyata sekarang ga dibuka umum, ya. Dan effort ke sana nya juga udah bikin lemes, wkwkwk.. Jadi akhirnya kita cuma duduk aja kecapean di atasnya Marina Mall.

Add caption


Menjelang malam, setelah balik bentar ke hostel utk check-in, kita menuju ke China Town, cari makan nyam-nyam. Di tengah kelaparan kaya dua bulan ga makan, teman2 nemuin wotie (entah haram atau enggak), yang enaaakkkk banget! Asli! Terpujilah yang bikin! Rasanya gue sanggup ngabisin dua porsi sendirian!

Tiba di hostel, kaki sepanjang betis sampai tumit udah menjerit minta dipijit. Apa boleh buat, koyoan dulu bisanya. Jadi habis giliran gentian mandi & keramas, kaki2 ini dibungkus koyo.

Di hari kedua, sebelum jam 6 pagi gue udah bangun. Gue excited banget, karena hari ini Alex & Key bakal nyusul ke sini!
Gue BBM Alex, “Udah otw ke airport?”
Cukup lama ga dibalas. Gue worry mereka belum bangun. Akhirnya dibalas. “Otw airport.”
Gue tanya kok siang banget… katanya Key jatuh sampai berdarah, tapi sekarang udah gapapa. Gue lega dan pingin cepat-cepat mereka nyampai sini.





Acara outing pagi ini ke Handersen Wave. Waktu dibilang jalannya bakal mendaki dan cukup jauh, kirain paling seberapa. Ini tampang2 sang penakluk di pagi2 (hampir) buta, sesaat sebelum trip dimulai.
Ternyata beneraaannnnn! Sampai di atas, kaki udah mau putus se-putus-putusnya!
Waktu lagi kelelahan ngatur napas, tau2 shuttle bus lewat! Tau gitu mah naik shuttle aja, wkwkwk.





Tapi ga nyesel kok.. Sampai di atas, asli kerennnn bangeetttt… This is the Handersen Wave, could you see the wave?

Ajaibnya, banyak yang jogging dong di sana. Kebayang yaaa.. kita aja setengah mati jalan pelan2 buat mencapai atas. Kok bisa2nya ada yang lari sampai ke sana… ckckck…
“Ini baru setengah jalan menuju Forrest Walk. Mau tetap ke atas atau turun aja?”
Yak, suara bulat memutuskan turun, hahaha… Kalau kudu ke atas, siap2 nyanyi deh, “Ku tak sangguuuupp…”

Mampir ke Mall lalu breakfast (or lunch) SUBWAY, sesuatu banget yah J

Tiba di hostel, ga lama kemudian Alex & Key nyampe. Gue hampir pingsan liat kondisi Key. Bibirnya bengkak, di bawah bibir ada plester yang cukup besar.
Ternyata Key jatuh di dekat tangga di rumah. Gigi atas nya pecah sedikit. Diagnosis sementara, gigi atas Key melukai bibir bawahnya sampai robek dan mengeluarkan banyak darah. OMG…
Dan ajaibnya lagi, suami gue memutuskan tetap berangkat. Kalau gue udah pingsan duluan kayanya, hiks…
Akhirnya gue decided untuk misah dari rombongan and went to hospital.

Setelah cek in di Swissotel Stanford, kita balik ke daerah Orchard menuju Mount Elizabeth Hospital, ke Emergency Room nya. Asli ini RS bersih banget…
Dokternya dan nursenya so cooperative. Tau gimana handle anak kecil (yang berontak dan keras kepala:p). Key teriak2 ga mau diperiksa. Sampai akhirnya gue bujuk2, ditambah embel2 permen dari nursenya. Waktu lagi teriak2, nursenya bilang, “I have candy for you,” sambil nyodorin lollipop.
Key langsung diam, terus ngelirik gue, “Ada candy yang rasa orange ga, Mam?”
Wkwkwk, good job, nurse!

Syukurlah luka Key ga perlu dijahit, tapi harus di-glue supaya cepat rapat. Key juga harus dikasih antibiotik, menghindari dia dari infeksi. Setelah kelar mengurus administrasi, kita pun keluar.
Ngeliat tampang gue yang lemes dan shock, suami gue bilang, “Kamu mau belanja, ga?”
Mendapat penawaran kaya gitu, ga mungkin dong gue bilang “enggak”, hehehe.. Jadi melipir balik deh ke Gio.

Menjelang sore, setelah makan es potong di Orchard, kita nongkrong di Merlion. Berbekal Garrett Popcorn yang beli di Wisma Atria, cuma duduk2 di situ aja rasanya udah hepi.
Si kecil Keyla, sama sekali ga ngerasain sakitnya. Padahal itu luka dalam mulutnya, kaya sariawan2 gitu. Kalau gue mungkin udah mewek sepanjang hari. Tapi anak kecil ini, cuek aja sambil ngunyah popcorn.
Walaupun setelah jalan balik ke hotel dia memang rewel karena capek (dia bangun jem 3 pagi, bow!), tapi gue bersyukur banget, Key sama sekali ga ngeributin lukanya. Malah masih lompat2 di sepanjang jalan. Ampun dehJ



Kenapa memilih Swissotel Stanford?
Itu pilihan Alex. Dia udah survey, itu satu2nya hotel di Spore yang bisa ditempuh full dengan MRT tanpa jalan outdoor. Dia udah mikir, seandainya hujan, kita tetap bisa balik ke hotel.
Kemarin2, gue pikir, riweh banget sih ini orang, mau nginep aja repot banget cari hotelnya. Tapi setelah kejadian Keyla ini, gue bersyukur kita nginep di situ. Kebayang kalau Key harus kehujanan, duhhh… entah lukanya yang ga boleh basah atau dia yang bakal masuk angin…

Swissotel is a good one.
Hotelnya cukup tua dan ga terlalu baru, tapi so acceptable buat gue. Bersih, nyaman, besar. Dan yang paling asik menurut gue, window view nya yang keren bangetJ
Di sebelah kiri kita bisa liat Merlion, Esplanade, sampai Marina Bay. Di kanan, ada St.Andrew. Asli, super kerenJ (maklum, biasanya nginep di hostel kalau ke sini:p)




Pagi besoknya, kita siap2 menuju Jurong. Science Center it is!
MRT ke Jurong cukup jauh, dan sampai di sana, kita harus 1x naik bis ke Science Center Road. Begitu nyampai di sana, duh langsung seneng banget gue. I don’t like science, so I adore people who can make science more fun!
Dari mulai teori fisika sederhana, teori gravitasi, teori getaran suara, sampai teori social macam afeksi, emosi, dll. Ini ga kelar seharian nih kalau mau ngeliat semuanya!


Lunch di McD di sana, kita lalu masuk ke OMNI Theater to watch butterfly movie.
Filmya sih biasa aja, tapi theaternya yang keren abis, kaya di planetarium gitu.
Science Center & Omni Theater are highly recommended for kids! Kalau keburu sebenarnya pingin ke Snow World juga, tapi ga keburuuu….
Sayangnya, jam 2-an kita dah harus balik. Biasa, ada yang parno telat ke airport, wkwkwk… yes, my hubby it is!

Ah nyesel deh ga ke IMM, katanya ada Gio juga di sana J Padahal dah keliatan gedungnya dan cuma tinggal naik bis aja 1x.

Dan terjadi lagiiii tragedi seperti yang sudah2 kalau ke Sing, yaitu lari2 di Changi J

Next time ke sini lagi, kayanya Michael juga harus diajak. Tapi dengan catatan, ga ada kunjungan ke RS lagi! “.”





When is my ME TIME?


Seringkali gue kangen dengan masa2 gue bisa tidur malas2an di ranjang. 
Bangun siang, ngemil coklat, baca novel seharian. Tidur lagi, makan, baca lagi sampai malam.
Gue kangen masa2 gue bisa menulis seharian. Nulis apa aja. Uneg2 buat di blog, puisi2 kecil, cerpen2 lucu, atau novel yang udah sepuluh tahun ga kelar2 itu (uh jadi inget…)
I miss my “do nothing” time. I really miss it.

Yang terjadi sekarang adalah.. Gue bangun pagi dengan terburu2. Kadang ingat berdoa, kadang enggak. Nyiapin sarapan suami, nyiapin bekal Keyla, mandi terburu2, bangunin suami, mandiin Keyla, siap2in Keyla sekolah, suapin Keyla, gue siap2, antar anak2 ke rumah mertua, antar Keyla sekolah, gue ke kantor. (Sekarang dipermudah dengan anak2 dijemput Opa ke rumahnya).

Di kantor, gedebak-gedebukan seharian, tau2 udah jam 5, jam 6, kadang jam 7. Ngibrit pulang, jemput anak2, pulang. Sampai rumah, mandi, makan, boboin anak2.
What happened to my daily lives?

Gue sering menemukan diri gue kecapekan, which I wanna do is selonjoran, with a good book in my hand.
Even ketika gue bengong aja, atau waktu gue tidur, kepala gue ga bisa berhenti mikir. Tentang anak2, sekolahnya, kesehatannya, mikirin nyokap, kerjaan suami, masalah2 di kantor gue, etc. Prosesor gue yang Pentium lemot ini, makin lemot deh karena kebanyakan file wkwkwk…
Pernah juga gue ga bisa tidur sampai hampir subuh, dan di kepala gue banyak banget yang gue pikirin.
Tapi sering juga sih gue nempel bantal langsung ngorok, wkwkwk.. hahaha…
The point is… I’m missing my silent minutes.     
Selama ini, gue ga pernah bisa ninggalin anak2 hanya dengan nanny atau Mbak nya. Dan since anak2 udah di mertua gue on weekdays dari pagi sampai malam, ga mungkin dong gue titipin lagi pas weekend. Dan jujurnya, gue merasa bersalah juga sih, kalau ga spending time sama anak2 on weekend, secara pas weekdays gue pulangnya malam.
Nyokap berulang kali bilang, “Jalan2 gih, anak2 kan ada Mbaknya, atau nannynya.”
Hiks, tetap aja sulit buat gue… My parnoan is killing me. Bayangan suster menyiksa anak2, mbak2 mukulin anak2 itu keep playing in my head. Jadi akhirnya gue batal terus deh pergi.
Beberapa meeting luar kota pun gue jarang ngikut, karena kudu nginep dan ninggalin anak2. Parno dan rasa bersalah itu terus mendominasi gue.

Sampai akhirnya seorang sahabat gue bilang, “Lo tuh harus punya ME TIME juga. Biar lo ga ngerasa anak2 itu sebagai beban.”
Ah ya, benar juga.

Waktu usia Sam menginjak 1 tahun, gue ikut meeting kantor di Batam, dan ke Spore setelah itu.
Cant believe gue ga pernah keluar kota atau ke luar negri lagi setelah gue punya anak.
Dan ajaibnya, gue merasa baik2 aja. Ada perasaan kangen anak pastinya, dan perasaan bersalah itu juga ada. But I had fun, I felt fun.
Suami gue nyusul besoknya ke Spore. We both had fun, since kita ga pernah lagi pergi berdua sejak punya anak.

Salah seorang teman gue bilang, “Kunci dari parenting adalah hubungan suami-istri.”
Gue baru ngeh artinya.
Kalau hubungan lo sama suami/istri lo baik, interaksi ke anak2 juga akan baik. Hubungan suami-istri itu adalah salah satu kuncinya.
Hubungan suami/istri yang erat, bonding yang kuat, bakalan bikin lo bisa menghadapi apapun juga, termasuk masalah anak2.

Setelah itu, gue sempat beberapa kali dating, nyolong waktu di weekdays. Alex jemput gue di kantor, trus kita kabur dinner. Ga bisa yang jauh, but its ok, that’s enough for now. Yang penting ngabisin waktu berdua.
Saat weekend, kalau nyokap gue bisa jagain anak2, we’ll be very happy. Tapi kalaupun enggak, gue ngusahain 1x/bulan untuk pergi berdua suami.
Terakhir, waktu Valentine kemarin kita nonton & dinner J (Eh itu udah 1.5 bulan lalu yah?:p)
Yah, saat ini gue memang belum punya ME TIME sendiri. 
Tapi setidaknya gue punya OUR TIME sama suami gue. And for now, that’s enoughJ

Berbagi Peran


Memasuki awal 2013 lalu, gue punya 1 resolusi : pingin menyeimbangkan hidup dengan membagi waktu lebih baik di antara seribu peran gue. Secara gue anak, istri, emak, majikan, atasan, bawahan, karyawan…
Ternyata bukan sekedar resolusi yah, resolusi BESAR dan SUSAH itu!

Memasuki bulan ke-4 alias seperempat tahun sudah terlewati, gue masih belum bisa mengatur peran2 itu dengan lebih baik.
Gue pernah berandai2…
Dari pagi sampai sore, peran gue adalah karyawan, konselor, atasan, bawahan, teman. Tentu saja ini di kantor.
Sore ke pagi, peran emak, anak & istri yang harus lebih berjalan.
Idealnya sih begitu.
Tapiiiii teori tinggal teori.

Di jam kerja, gue kadang kepikiran “udah lengkap belum ya vaksin Samantha?” atau “Keyla udah pulang sekolah belum, ya?” atau “Michael masih pilek ga, ya?” atau “tekanan darah Mami masih tinggi kah?”
Dan di jam malam, gue suka kepikiran juga, “si kandidat ini nanti buat gantiin si ini”, atau “si itu masih ribut sama atasannya atau ga” atau “besok janji konseling dengan si ini apa si itu ya?”
Gue pernah survey tentang penyakit anak, pada saat jam kerja.
Gue juga pernah kerja saat midnight setelah anak2 tidur.

Lalu gue sadar sesuatu.
Peran itu ga bisa begitu aja diatur-atur kaya lagi njadwalin meeting. Peran itu menempel sama lo, ngikutin lo, kemanapun lo pergi. Tentu saja dengan pengaturan peran yang optimal ya, artinya kalau lo lagi jalan sama suami lo, peran lo ya sebagai istri. Kalau lo di kantor, ya lo karyawan. Tapi ga akan bisa full 100%. Orang itu bukan robot yang bisa seenaknya diatur. Kalau lo robot atau computer yang bisa di-program, lebih gampang ya.
Pagi-sore Ă  program biar hanya urusan kantor aja yang muncul
Sore-pagi Ă  urusan rumah doang yang bisa dipikirin
Ternyata kan enggak.
Manusia adalah makhluk hidup yang punya pikiran, hati, akal budi. Saat pikirannya tau dia harusnya mikirin kerjaan, dia toh ga bisa mencegah pikirannya berkelana ke rumahnya, saat anaknya sedang sakit, atau saat nanny nya baru (eh, ini gue ya… wkwkwk).
Saat pikiran harusnya mikirin anak aja di rumah, tau2 hatinya terbang ke kantor, mikirin bawahannya yang lagi sedih atau kerjaan yang belum beres, ga bisa dicegah juga.
Jadiii kalau suatu saat lo nemuin temen lo, bawahan lo, (bahkan) atasan lo, lagi mikirin atau ngurusin urusan pribadi saat jam kantor, itu lumrah. Kalau urusan pribadinya beres, dia akan bisa contribute more to the job. (terutama cewek yaaa, secara cewek itu ngurus rumah, anak, pembantu, nanny, listrik, air.. yahhh jadi curcol deh wkwkwk).
Yah asal ngurusin pribadinya ga keterlaluan aja.. misalnya : pakai fasilitas kantor dari pagi sampai malam buat survey2 sekolah anak.. Ă  ini mah kelewatan:p
Atau karena mau married, always buka weddingku.com di jam kerja setiap hari untuk cari2 vendor Ă  ini juga minta dijitak
So selama masih dalam batas wajar, abaikan aja. Anggap aja itu cara mereka to fulfill their needs to complete the job. Percaya deh, selama urusan pribadi lancar, urusan kerjaan akan jauh lebih lancar.

Sampai sekarang, gue masih juga keteteran.
Tapi gue berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan itu semua.
Saat weekend, sebisa mungkin spend time sama keluarga. Dalam keluarga itu aja ada peran2 yang bentrok juga. Antara jadi anak dan jadi emak. Seringnya gue gabungin aja, ngajak anak2 plus nyokap gue jalan, everybody happy.
Tapi ada saatnya gue harus jadi anak aja, alias ngajak jalan nyokap gue berdua aja.
Dan seringkali dalam peran jadi emak, gue harus spend time sama Key aja, lalu sama Mich aja, dan sama Sam aja. Saat ini, gue baru bisa melakukan ini sama Key. Tapi ke depannya, pingin ada satu waktu khusus sama masing2 anak berdua aja. Semoga bisa, ya.

Gue ingat minggu lalu, ada satu kejadian yang bikin gue ngilu banget.
Gue sama Alex lagi bercanda sama Sam. Karena Sam yang paling kecil, mimik mukanya masih kaya bayi banget. Kita ketawa-tawa ngeliatin Sam yang lagi lucu-lucunya. Sampai gue dengar suara sesegukan di ujung kamar. Ternyata Mich lagi ngeliatin, matanya berkaca-kaca dan mukanya merah, seperti biasa kalau dia lagi sedih. OMG, kalau anak bisa bikin orang tua patah hati, ini salah satu moment nya.
Mich lagi ngeliatin kita bertiga dengan tatapan terluka. It really broke my heart in pieces.
Gue langsung pelukin dia, bilang sama dia kalau gue sangat sayang sama dia. And its true, Michael is my guardian angel, he’ll always be. Malam itu, gue pelukin Mich sampai dia ga sedih lagi, senyum, lalu ketiduran.
Itu salah satu contoh simple peran ibu yang nabrak. Even dalam 1 peran aja, kalau kita punya more than 1 customer, bisa terjadi tabrakan.

Satu hal yang gue tau.. Walau kadang super exhausted dengan peran2 itu, gue merasa hidup gue ini fulfilled banget. Hidup gue ini berarti banget. Ga pernah ada kekosongan, sampai kadang gue merasa kangen dengan kekosongan yang ga ngapa2in itu (nanti gue cerita soal rasa kangen yang aneh ini, ya).
Dan tiap dalam kesibukan dan keriwehan berbagi peran ini, gue sungguh bersyukur atas peran2 yang Tuhan berikan buat gue. Tuhan pasti tau riwehnya hidup gue, wkwkwk… dan Dia pasti turun tangan membantu gue.

Jadiii ga ada teori berbagi2 peran lagi… Cuma optimalin aja tiap peran2 itu pada tempatnya. Semoga gue bisa ya *lap jidat*

Tuesday, February 19, 2013

Happiness


I’m back J
Salah ya, harusnya “I’m baaaaccckkkkk!” :p

Ga tau nih, kesambet angin apa gue nulis yang serius beginian:p
Salah satu kerjaan gue di kantor adalah being a (good) counselor. Harusnya sih seputar karir dan kerjaan aja ya, dan hal2 seputar itu. Tapi kenapa akhirnya melebar, jadi masalah keluarga, masalah cinta, masalah keuangan?  Ya udahlah, terima aja itu nasib:p Prinsipnya kan ga boleh menolak klien, hehehe..

Gue kadang suka bingung dengan orang2 yang said they're unhappy, but they're still there. They hope everything change, everybody change for them.
Halloooowwww? Who are you? Get a life! Everybody has their own life...

Jangan menggantungkan kebahagiaan hidup lo sama SIAPAPUN!
Pacar, perusaahan tempat lo kerja, teman.
Kalau lo merasa ga hepi dengan kerjaan lo, temen2 lo, FIND a way.
Kalau lo ga hepi dengan pacar lo, FIND a way.
If life is being unfair, kenapa lo ga cari jalan yang menurut lo fair?
Lo berhak memilih yang terbaik buat lo.
Jadi kalau perusahaan ga bisa bikin lo hepi, why don’t you just quit? You choose your own way!
Alih2 daripada rumpi dan mengeluh tentang your unhappiness, why don't you just look for your own happiness?

But IF you decided to stay,  you take it...for granted.
Seperti ketika berusaha menerima pasangan hidup lo dengan segala kekurangan dan kelebihannya.. the company you’re working for, pasti punya plus dan minus.
Kalau masih pacar, boleh dong diputusin. Tapi kalau udah jadi suami, masa kudu cerai?
Hubungan perusahaan dan karyawan, menurut gue, lebih mirip seperti hubungan orang pacaran. Kalau kecewa dan ga bisa terima lagi dia apa adanya, putus aja, cari yang lain.
Sama aja kaya kerja. Kalau lo ga bisa lagi mentolerir kantor lo, ga hepi lagi, carilah kebahagiaan lo sendiri.

In the other side, banyak yang pingin balik ke pacar lama, karena ternyata pacar baru ga sebaik harapan. Hmm kadang kita emang harus kejedot ya, baru bisa bersyukur.
Sebagian teman yang udah resign dan dapat kerjaan baru, banyak yang pingin balik. Rumput tetangga yang dulu hijau, ternyata busuk juga pas udah jadi rumput sendiri. Prinsipnya, orang baru bisa bersyukur setelah kehilangan. 
Teman yang dapat pacar baru, ada juga yang kangen pacar lama, tapi mostly hepi dengan the new one.
So kemungkinan selalu ada kan...  

Dan apa itu yang namanya “habis manis sepah dibuang”.. menurut gue ga ada.
Selama lo kerja, perusahaan udah membayar lo, menggaji lo tiap bulan, dengan selayaknya. Kalau suatu saat lo tidak bisa berkontribusi dengan seharusnya, atau tidak sesuai lagi dengan misi perusahaan, adakalanya lo harus cabut. Perusahaan ga pernah punya hutang sama lo. Jasa2 lo di masa lalu adalah sudah sepantasnya, secara lo juga digaji gitu, loh. (lain lagi kalau perusahaan nunggak alias ga bayar gaji lo yaaa.. kalau itu mah perusahaan ngutang namanya!)
Tapi as long as lo dibayar teratur tiap bulannya, artinya perusahaan ga berhutang apa2 sama lo. Kerjaan lo adalah tanggung jawab lo.
Kalau lo dirasa udah ga bisa contribute lagi (atau malah bikin minus, wkwkwk), sepantasnya lo cabut dengan sukarela, dengan kepala yang masih bisa diangkat tinggi.

Daripada ngedumel tiap hari ga karuan.. Nyalahin perusahaan, nyalahin atasan, nyalahin teman2.. Hmmm maybe you should look at yourself in the mirror. Are you choosing the right way? Are you giving the best? If so, why everything around you going wrong?
Kalau lo udah berusaha memberikan yang terbaik, bersikap baik, kenapa semua lini hidup lo bermasalah? Keluarga, romance, atasan, teman2, pekerjaan?
Ah, buat yang terakhir ini, ga pantas ya gue tulis. I hate judging, and who am I to judge? Sori, ya.

Just remind you to fight for your happiness. You deserve to get it.
In company, in romance, in life, go get your happiness. Not others, but yoursJ


Wednesday, September 12, 2012

Test Pack (You're My Baby)


Kemarin akhirnya gue nonton Test Pack. Film yang udah gue nanti2kan sejak bertahun2 lalu. Suka banget sama novelnya sejak cetakan awal (klo ga salah, covernya warna biru tua). Sialnya, gue dah cari ke seluruh penjuru rumah gue & rumah nyokap, ga nemu tuh novel, hiksss… (ada beberapa tersangka yang gue duga minjem buku itu, tapi ah sudahlah:p)

Sejak nonton Perahu Kertas (PK), gue belajar misahin novel dan film, its different anyway. Pada saat kita baca novel, semua tergantung pada imaginasi & persepsi kita. So this time, I told myself, don’t expect too much. Tapi tetap aja susah yah J

In my imagination, Tata is much stronger, secara dia pengacara. Tegas, saklek, dominan. Di film, she’s working in the advertising agency, which is dunia kreatif, dihuni oleh orang2 otak kanan. Udah pasti emosinya yang lebih main, cocok dengan film ini. Di film, Tata lebih manja, kolokan, imut2. Sementara Tata di buku, lebih tough, atau itu hanya bayangan gue aja?:p

Akang (di buku jadi Kakang), plays his role well. Secara abis liat Reza Rahadian di PK (as Remi, the smart, energetic, high drive and passionate person), jadi jetlag liat Reza di TP, beda banget asli! Di TP, Reza as Akang yang super sabar, phlegmatic (does he?), tapi seperti itu juga lah Rahmat di buku.

Test Pack di buku itu… bikin sampe merinding, nangis, tersedu2, mengharu biru… Reading this book, makes me re-think about marriage, and wondering thousand times how my marriage would be IF I have the same problem with Tata & Kakang, since I love kids and I really want to have them in my life.

Test Pack di film, yes, bikin terharu, tapiiiii… I didn’t get the same feeling dengan baca bukunya. Apa karena imaginasi gue berlebihan ya? Atau karena sekarang gue dah married dan punya anak, jadi dengan sendirinya, emosi gue terhadap cerita itu juga dah berbeda, ya?
Di buku, Tata ga diceritain akan kerja di luar negeri. Dia mondok di rumah orang tua nya. Kakang sempat datang, meminta dia pulang, tapi Tata ga mau. CMIIW ya…

One thing for sure, angkat jempol buat Reza & Acha, kalian keren! Kayanya kalian harus jadian, dehJ Asli kaya beneran suami-istri gitu…  Gaya becandanya, mesra2nya, bikin siriiikkk hehehe…
Hanya ada sedikit galau gue (ceileh...) sosok Akang disitu.. Sebagai Psikolog, kok agak2 gimana gitu ya, huehehehe... Antara pose foto "gila" Akang & Shinta waktu dulu mereka kuliah, tidak tergambar di sosok Akang yang setelah nikah. 

Renata as Shinta, kece banget… Cocok banget dia meranin Shinta yang terlihat cool&angkuh sosoknya (karena tuntutan profesi), padahal rapuh di dalam. Dia cantik sekali yaaaa, dan baju2nya bagus banget… *mupeng. Wardrobe siapakah itu? Nanti cari tau ah:p

Uli Herdinansyah has an important role. Karakternya asik. Bisa berperan sebagai manager skaligus best friend, even guardian angel nya Shinta. Gue suka adegan waktu Uli bantuin Shinta ngerapihin apartmentnya. Keliatan banget klo mereka personally & emotionally deket. BTW amsiong itu artinya “sial” atau “ga jodoh”, hehe…

Oon alias Dokter Peni S, bikin gemes alias kesel. Pertama, ga teliti banget sihhhh sampe2 lupa belum meriksa Akang. Kalau itu dilakukan di awal, toh ga usah pake suntik2 Tata, atuh! Kedua, waktu Tata periksa pertama kalinya, mo marah deh liat Dokter manggil koas2nya untuk ikut meriksa Tata! Do you know how uncomfy to sit in that chair? Kursi kerajaan itu sangat ga asik buat didudukin! Dan pemeriksaan yang berhubungan dengan kehamilan & kandungan, itu sangat ga nyaman! Jadi kenapa Akang ga boleh nemenin? Dan kenapa koas2 itu kudu dipanggil? Alex sampe komen, “Duh ga bakal aku ijinin kamu diliatin segitu banyak orang kalo diperiksa!”

Dwi Sasono alias Heru, plays his role well. Gue lupa pernah liat dia dimana, tapi setau gue orangnya self driven banget (sotoy.com). Perannya kemarin itu jadi sort of anak mami yang nurut sama emaknya, keliatan masih sayang sama Shinta tapi “terpaksa” menceraikannya karena tuntutan ibu nya, bikin gregetan. BTW nyokapnya Heru asli nyebelin yah tampangnya, hihihi:p

The Sutoyos! Hahaha, pasangan ini bikin film jadi berwarna yaJ Dan umum banget itu terjadi di pasangan yang super mature seperti mereka (udah tua, maksudnya:p). Cinta yang memudar, kebiasan2 buruk yang ga berubah, uneg2 yang tak terungkapkan, sampai lagi2 mereka lupa kenapa dulu saling jatuh cinta hingga akhirnya memutuskan bersama. Ini yang harus diingat2 sampe kita tiadaJ

Temennya Tata, itu siapa ya? She looks match the roleJ
Ade Fitri, walau sebentar tapi mencuri perhatian! Pas banget!
Tora Sudiro, sayaangggg cuma dikiiitttt keluarnya!
And love the song!!!!!

Eh gue kepikiran, how IF Tata yang ga bisa punya anak, ksian banget yah, ngebayangin ditanyain terus sama mertuanya T.T

Beberapa fakta berkaitan sama film ini :
·      Gue bilang ke suami gue, “Untung pacar kamu gada yang model, ya.” Yes, siapa yang ga insecure melihat mantan pacar suaminya se-kece Shinta? Gue aja yang cewek, bisa naksir:p *kidding. Menurut gue, “insecurity” itu perlu dijaga loh, karena itu bikin lo berusaha improve diri lo. Yah memperbaiki diri ga semata2 supaya pasangan lo ga ngelirik orang lain, tapi lebih karena lo pingin jadi orang yang lebih baik, demi pasangan loJ Kaya gue nih, pingin keliatan kece selalu, biar suami gue ngerasa bangga punya istri kece walopun dah 3x turun mesin, hahaha… (kalo pingin keliatan kece, jaga dong selera makan lo tuh... hahaha)

·   Gue pernah punya kista di indung telur, sebesar 3cm. Waktu itu gue masih kuliah. Dan melihat sejarah menstruasi & endometriosis gue, Dokter pernah bilang, “IF gue nanti susah punya anak, bisa jadi karena ini.” So waktu di awal gue pacaran sama Alex, how if we don’t have kids? And he said its ok. Married bukan karena pingin punya anak, tapi karena ingin ngabisin hidup bersama. Oh how sweet yaaaaJ Dan ternyata Tuhan Maha Baik, gue dikasih subur euy, sampe kudu di-stop hihhi:p

·    Pelajaran yang bisa diambil dari film ini, “apa alasan untuk kembali?” sebaiknya diganti dengan “apa alasan untuk berpisah?” sama seperti ketika lo mikir kenapa lo mau married sama pasangan lo. Dulu lo janji sehidup semati sama dia (either apapun bentuknya, entah itu jiab kabul atau di depan altar), you have more than 1001 reasons to be together.. why don’t you remember them before you decided to divorce? Mungkin karena, kadang 1001 alasan itu udah berkurang jumlahnya, seiring perjalanan lo sama dia. But still, remember when you said “I do”, how God make you ONE and no more TWO.

·    Nonton Test Pack, bikin gue super bersyukur, udah dikaruniai 3 anak yang super cute. Seberapa pun bandelnya mereka,  ga seberapa dibandingkan air mata Tata yang menetes whenever she saw the negative sign on the testpack, hiks… Pelajaran berharga banget buat gue. Dikasih karunia 3 orang anak sama Tuhan, hidup mati gue buat merekaJ

Satu hal yang gue sayangkan dari film Test Pack was the clichĂ© ending. Tadinya gue berharap, akan sulit buat Tata balikkan ke Akang, in terms of dia ketemu The Sutoyos at the airport. Waktu Akang lagi bersedih di rumahnya, dan ada suara sepatu Tata, Alex dah bilang ke gue, “Jangan sampe Tata balik lagi dengan gampangnya…” dan ternyata beneran. Plus ditambah Heru yang juga tiba2 balik lagi sama Shinta, there must be hidden something behind it.

So overall, I love the movie. Great casting, beautiful wardrobe, wonderful house (asliiiii mupeng bangetttt liat rumahnya Akang & Tata! Rumah siapa sih itu, siapa arsiteknya????), suka sama dialog2nya, learn a lot from the story as a whole.

But again… Entah kenapa, tetap lebih suka buku nya. Hehehe.. klo soal makanan, I’m really easy to be pleased. Tapi klo soal buku & film, gue kok jadi riweh banget yah… Ah tapi siapa sih gue iniii, ga ngerti film! I’m enjoying the book more than the movie, is that wrong?

Tentang Kang Adhit & Teh Ninit .. Gue dah nge-fans sama Kang Adhit sejak baca Gege Mencari Cinta & nonton Jomblo di bioskop. Menurut gue, nih orang asli gila bangetJ Super kocak, buku2nya asik J Tapi gue belum baca Mencoba Sukses nih, Kang.. Yakin sama ancurnya dengan yang lain2J

Sedangkan Teh Ninit, ga usah diragukan lagi ini mah.. I love every words she wrote in her booksJ

I love this couple a lot! I love how they twitting each other, I love how they fallin love one another… I love their chemistry! And you know what, waktu habis nonton itu, gue liat Kang Adhit meluk Teh Ninit and he kissed herJ HihihiJ I’m watching you, guysJ *stalker:p
Too bad gue ga bawa novel2nya mereka buat di tandatanganin! Tapi ketemu mereka dan foto sama Teh Ninit, is something bangeetttt J



Thankyou Teh, buat kisahnya yang indah. Every couple should learn from this novelJ
Thankyou Kang, buat dialognya yang ciamik!
MasMonty , thankyou udah bikin film Indo yang superb!

So here it is some unforgettable quotes in Test Pack :
  • Apa adanya kamu, udah melengkapi saya --> sumprit ga bisa ga terharu, walopun udah berkali2 juga...
  • Aku di samping kamu tuh ga pernah sia2. Saya nikah sama kamu, bukan karena saya pingin punya anak. Tapi karena saya sayang sama kamu --> soooo sweeettt:)
  • Ketakutan suami ada macam2 : takut sama istri, ga bisa nafkahin keluarga, ga bisa didik anak2 dengan baik --> so true! Justru wondering kalau para suami ga punya ketakutan ini.... what's in their mind?
  • Kalau ternyata istri Mas mandul? | Saya gapapa | Tau gitu, saya ga mutusin Mas, ya --> Makanya Jeung, pikir2 dulu sebelum putusin! Apalagi kalau karena ada orang lain #noMention:p
  • Tidak subur, barbel melayang! Hahaha...