Friday, July 06, 2012

Tentang Mimpi


Sahabatku mengajarkan aku
Tentang bermimpi
Tak ada kata “terlalu tinggi”
Untuk sebuah mimpi

Sahabatku berkata
“Hai sepasang kaki,
Jangan jemu berderap ya...
Demi meraih mimpi"

Satu, dua kali
Gagal masih akrab temani
Tapi tak membuat jera nyali
Teruslah berlari

Yang ketiga kali
Saat tersisa sedikit saja cadangan energi
Akhirnya menoleh juga sang mimpi
Perlahan mendekatkan diri
Padahal mulai lelah kaki ini

Apabila tiga kali tak jua jera
Masih ada empat dan lima kali
Enam dan sepuluh kali
Perjalanan masih sedikit lagi
Mudah2an bukan karena ambisi
Hanya karena, mimpi itu masih di hati
Dan selama Tuhan menghendaki

Jangan pernah lepaskan mimpi
Walaupun pernah kau gantungkan sangat tinggi
Mengejar mimpi,
Sebelum asa mu tak lagi berbunyi
Dan napasmu terhenti

PS : Congrats yaaaa, buat yang baru aja kesampean ketemu si mimpi:)

Friday, June 29, 2012

[FF Ninelights] Nur


        Liuk tubuhnya menggeliat. Senada dengan cengkoknya, mempesona siapapun yang melihat. Nur memang penyanyi dangdut nomor satu di desa. Sedari tadi, tepuk tangan tak henti membahana.
Nur tersentak mendapati seorang Bapak berbaju batik muncul di belakang panggung. Seingatnya, Bapak ini tadi duduk di barisan terdepan. Perut buncitnya menunjukkan tingkat kemakmuran. Sungguh, Nur benci melihat tatapan melecehkan di mata itu. Senyum remehnya. Kau tak pantas memakai batik, Pak. Apalagi jabatan yang tengah kau sandang. Entah kenapa rakyat memilih untuk kau wakilkan.
              “Hai… bagus sekali suaramu.” Dicoleknya lengan Nur.
              Nur menahan diri untuk tak lari. Teringat pesan Bapak Kepala Desa. Orang ini harus diperlakukan sopan. Demi turunnya dana pembangunan sekolah di desa, syukurlah kalau Yang Mulia tersebut tergerak hatinya membangun puskesmas juga di kampung mereka. Sulitnya berlaku sopan pada orang yang tak sopan!
               “Siapa namamu?”
                Nur masih tak menjawab. Hanya tersenyum kikuk.
               “Mau tak orbitkan jadi penyanyi? Cengkokmu hebat.” Mata jalang itu beralih ke dada Nur. Lalu ke kaki Nur. “Luar biasa.”
               Hih! Serasa ditelanjangi. Aku penyanyi, tak minat jadi siri! Tolong, jangan rendahkan aku seperti ini!
                “Sudah punya suami?”
                Nur menggeleng. Suami tak ada. Tapi  anak ada dua, yang ditinggal lari ibunya.
                “Siapa sih namamu?” Bapak itu mengelus lengan Nur.   
                “Nur…” akhirnya ia bersuara. Berharap jawabnya cukup.
                “Nur siapa? Nurhayati?”
                “Nur…” Nur tercekat. Dada nya semakin terasa sesak.
                “Nurmala?”
   Nur tak tahan lagi. “Nurman!” tukasnya, sambil mengambil saputangan yang menyumpal dada nya.
                Ah! Sudah, bongkar sajalah! Sebelum tangan si batik semakin rajin menjamah!

Jumlah kata: 241

Tuesday, May 22, 2012

Kebutuhan ASI & Jadwal Pumping

Moms & Moms to be, berikut gue mo share data kebutuhan & jadwal pumping ASI ya. Buat gue, ini matters banget, secara emak bekerja, hehe...

Kebutuhan ASIP Keyla, Michael & Samantha untunglah sama. 1 minggu sebelum cuti, gue membiasakan anak2 mimi dengan durasi waktu tertentu, berkisar 2-2.5 jam sekali. Jadi daripada mimi dikit2, prefer mimi dengan porsi yang lumayan, tapi range waktunya juga lumayan lama. Karena anak2 gue cenderung gampang gumoh sehabis mimi. So daripada tiap abis mimi dikit2 mesti gumoh, dicoba mimi pelan2, porsi agak banyak, durasi lebih lama. 


Perhitungan gue tinggal kerja adalah dari jam 08.00 - 19.00



Ditinggal kerja selama11jam
Jam mimiminmax
06.00Mimi langsung
08.30120150
11.00120150
13.30120150
16.00120150
18.00120150
20.30Mimi langsung
Jadwal pumping
02.00
05.00
10.00
14.00
17.00
23.00



Karena anak2 mimi 5 botol sehari @120-150 (itu dosis sekali mompa nya gue), jadi gue harus pump minimal 5x sehari, hanya untuk menuhin kebutuhan di hari itu aja (ga pake simpenan). Klo mo nyimpen, ya harus lebih.
So IF gue bisa mompa 3x sehari di kantor (which is jarang), artinya gue harus pump min 2x di rumah, dengan min porsi 120cc.
IF gue bisa mompa 2x di kantor (ini yang sering terjadi), artinya gue harus pump min 3x di rumah.
Ini untuk edisi kejar tayang loh ya, jadi pompa hari ini, untuk diminum besok nya.
Kalo weekend gue ada rencana pergi tanpa ngajak baby, gue harus akalin min stock 2 botol, dicuri2 deh di waktu2 yang padat itu, hehe..

Jadi untuk Moms yang masih cuti, hayooooo stock sebanyak2nya, sehari bisa nyimpen 1 botol aja dah bagus. Secara gue sekali pump hanya untuk 1x mimi. Untuk Moms yang hasil pump nya bisa nyampe 300cc (buat 2x mimi), bisa lebih bernapas lega. Waktu masih cuti, gue dah stock 20 botol. Tapi seiring dengan kejar tayang ini, di usia baby 5 bulan, stocknya perlahan2 abis, dan sekarang kejar tayang deh, huehehe.. salah perhitungan nih :)

Stock itu penting banget, karena lo ga tau kapan ASI lo kadang seret. Kaya gue nih, hari ini aja sekali pump cuma dapat 80 *lap keringat. 
Terus, klo di tengah2 jadwal midnight pumping, si baby bangun dan minta mimi, artinya jatah ASIP juga berkurang. Seinget gue, gue pernah dalam 5 jam kebangun 3x untuk pump :p Tapi kluarnya ga banyak juga, karna gue nya panik & pusing :)
Prinsipnya, berusaha tapi ga boleh stress, nanti malah makin dikit keluarnya (duh sok ngajarin, padahal ini lagi stress juga, makanya kluarnya dikit, huehehe..)

Good Luck ya Moms, keep breastfeeding :)










Wednesday, April 25, 2012

Menyusui dengan Hati


Having #Samantha

Sectio kali ini, ajaib banget, sama sekali ga sakit!
Agak pusing dan ngantuk setelah operasi, tapi di luar itu, everythings going very well. Ga ada nyeri, malah besoknya dah bisa duduk dan jalan, walopun harus pelan2. Udah bisa mandi sendiri juga, cihuyyyyy!!!
Pingin cium satu2 deh dokter nya :D *impulsif
So, buat Moms yang takut sectio, pernah trauma di operasi sebelumnya, kali ini recommended banget! Gue di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dengan obgyn Dr.Sugi Suhandi, dan Dr.Loyd sebagai dokter anastesi nya. Gue cuma reko Dokter nya aja loh ya, yang lain2nya no comment:)

Belajar dari pengalaman yang lalu, kali ini, gue agak lebih pinter dikit. Begitu puting susu luka, gue stop nyusuin langsung (ingat di 2 kehamilan sebelumnya, ketika puting luka dan dipaksa kasih susu langsung, yang ada malah gue demam, dan susu nya ga keluar pula!). 
Gue decided untuk pompa aja walopun cuma kluar beberapa tetes di hari pertama. Mo dibilang orang bakal kering kalo dipompa langsung, sutralah. Kondisi orang beda2. Kalo gue ngerasa yakin dengan dipompa, akan gue lakukan, daripada anak gue ga dapat ASI. 

ASI utk Sam, di hari kedua .. cuma beberapa tetes aja


Seperti yang lalu2, ASI di 2-3 hari pertama, bikin demot. Cuma keluar beberapa tetes. Untunglah dari pengalaman yang lalu2, di mana kemauan, di situ ada jalan :) Hati gue masih yakin, ASI gue hanya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. 

Di hari ke-2, gue panggil Mbok Pijit yang pernah mijit gue semasa hamil, untuk datang ke RS, mijit payudara. Secara di kehamilan 1 & 2 gue mastitis, kali ini harus ada preventif nya. Entah efek dipijit atau karena doa gue (atau kedua nya), payudara ga sebengkak dulu. Terus gue pompa dan susuin, berganti2an. Yang kanan luka, gue susuin pake yang kiri, yang kanan dipompa aja, gitu juga sebaliknya. Ketika kedua nya luka, gue pompa setiap 1 jam. 
Iya, capek. Iya, bosen. Iya, pegel. Iya, dapatnya dikit. Tapi hati gue masih yakin, ASI gue mesti cukup. Samantha is one of the best gift from God, she deserve to get the best, too.

Setetes + setetes = 2 tetes, lalu 4 tetes, lalu 10 tetes, dan seterusnya. Dari 5 tetes, jadi 10 tetes, dan akhirnya di hari ke-4... mencapai 10 cc, YEAYYYY!!!! Prestasi itu, secara dasar botol udah ketutup susu semua nya, walopun cuma sebaris :)
Dan dari pekatnya ASI di hari2 awal, berharap semoga Samantha dapat kolostrum nya.


Di hari ke-4. Pikiran positif really works :)

Terusss pompa dan susuin... 
Kadang ada perasaan "kok baby seperti ga kenyang" ya? Lagi2 hati gue yang bicara, "Hayooo pasti bisa!"
Pokoknya pompa dan susuin terussss! Dikit-dikit, menjadi bukit :)

45 cc, di hari ke-7
110 cc, 3 minggu setelah melahirkan

Kesimpulannya, efek sectio itu gede banget. Kalau efek operasi sakit -- Ibu nya stress -- air susu ga keluar -- ibu semakin stress -- sementara hormon udah bekerja -- akhirannya payudara bengkak -- mastitis diikuti demam dan sumeng seluruh badan -- biasanya di tahap ini, mudah sekali untuk patah semangat, merasa ga mampu kasih asi, dan menganggap susu formula lah solusi nya.

Puji Tuhan yang Maha Baik, di kehamilan 1 dan 2, walopun udah sampe pada tahap "patah semangat", masih ada sisa2 keras kepala. Sometimes it helps! Ayooo Moms, mari kita menyusui dengan keras kepala :) 

Mau dibilang ASI ga cukup, hayoooo kita buktikan kalo air susu kita cukup!
Mau dibilang baby haus, sementara ASI belum keluar, yah setidaknya kalopun dikasih susu formula, hanya untuk kondisi urgent aja, sampe ASI kita keluar.
Mau dibilang ASI ga kenyang, teteup kekeuh!


Tepat hari ini, usia Samantha udah 5 bulan, dan masih ASIX (yeay!!!). 
Begini cara gue menyiasati :
Gue pompa 1x di jam 6 pagi, 2x di kantor (tergantung waktu nya), 1-2x di rumah (biasanya jam 11 atau 12 malam, dan jam 2 atau 3 dinihari). So, gue dapat 5 botol @100-140cc.
Selama ditinggal kerja, Samantha mimi 4-5x @ 100-140cc (banyak ya, bow!), jadi pas2an lah:)
Gue pernah stock ASI di freezer sampe 20 botol, tapi akhirnya simpanan itu habis juga, karena di awal2 kerja, jadwal pumping masih berantakan. Sekarang simpanan ASI paling 2-3 botol, alias kejar tayang. Pumping hari ini, untuk diminum besok nya. Begitu seterus nya. 
ASI gue tak pernah terlalu banyak, tapi gue sangat bersyukur, masih diberi kekuatan untuk pumping, even in the middle of the night. Gue bisa nabung di weekend, karena Sabtu-Minggu kan sama2 baby, jadi nyusu langsung.


Target Menyusui?
Selama gue masih keras kepala :)
Tak ada target, karena target itu bikin gue stress. Gue ga pernah janji untuk nyusuin sampe Sam 2 taun. Gue hanya janji, gue akan berusaha memberikan yang terbaik untuk dia.
Dulu waktu gue hanya punya 1 anak, segalanya lebih mudah, karena waktu gue hanya untuk dia. Tapi sekarang, selain Samantha, gue punya Keyla & Michael, yang juga butuh perhatian gue. Gue akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk semua nya :) 


Menyusui itu bukan tentang siapa yang bisa paling lama memberikan ASI untuk anaknya. Bukan tentang siapa yang ASI nya paling banyak.
Menyusui itu, tentang memberikan yang terbaik untuk anak. Tanpa target, tanpa tekanan, tanpa paksaan.
Super salut untuk ibu2 yang bisa menyusui sampe usia anak 2 taun.
Tanpa bermaksud menghakimi, sangat mengerti untuk ibu2 yang tidak bisa menyusui anaknya. Yakin banget, itu bukan karena ga mau, tapi karena banyak faktor X di luar dirinya, mis kurang didukung lingkungan, stress pasca melahirkan, kesehatan tidak memungkinkan, dll.
Menyusui itu, tentang hati :) 


Share dikit lagi soal ASI
kiri : ASI pink, kanan : ASI putih
Beberapa hari lalu, kaget nya mendapati ASI dari PD kanan warna pink, dan ASI dari PD kiri warna putih. Kenapa bisa pink ya, padahal Valentine udah lewat *krik krik :p
Tanya @ID_AyahASI & @aimi_asi , ada beberapa pendapat : mungkin puting luka, so itu pinky karena bercampur darah, atau mungkin gue habis makan wortel/pepaya yang banyak beta-karoten nya.
Emang sih gue abis makan pepaya, plus setelah gue liat2, puting luka juga. Dan ternyata, bener itu udah bercampur darah. Setelah ditaro di kulkas beberapa lama, cairan darah & ASI mulai terpisah. Walopun katanya aman diberikan ke baby, tetep aja ga tega. Jadi gue tuang cairan ASI yang atas aja, untuk diminum baby. Yang udah bener2 tercampur darah, gue buang.
Sedih sih, tapi ya sudah lah. Jadi inget pernah buang 5 botol ASI karena basi, waktu itu freezer rusak T.T


Ah, ga usah sedih. Bersyukur aja untuk semua yang masih bisa didapat hingga hari ini.
Hari ini, bisa bawa pulang 320 cc untuk Samantha, its a gift :)






Tuesday, April 24, 2012

#Samantha


Di kehamilan gue yang ke-3 ini, gada perubahan fisik yang berarti. Ya iyalah, secara masih gendud, hehehe…
Total berat badan naik 17 kilo, new record! Record naik berat badan yang paling kecil (waktu Key naik 21kg, waktu Michael naik 20kg), yoo jumbo!
Baju2 hamil yang tadinya dah dimasukkin ke koper (untuk kemudian diserah terimakan ke “korban lelaki” berikutnya), gue bongkar lagi deh, pun popok2 baby.
Si “Bapak” yang udah tau duluan kalo gue hamil itu, bilang anak gue cowok. Hmmmm, really? So I will have another boy? Jadi nihhhh, banyakkan yang ikut Daddy ke bengkel, daripada ikut Mommy ke salon?
Kali ini, masalah jenis kelamin ga jadi issue, since udah ada sepasang malaikat J

Dokter mengharuskan gue sectio. Selain karena jarak kelahiran yang terlalu dekat (dan waktu Michael sectio juga), plus plasenta previa pula.
Bulu kuduk gue sampe merinding waktu denger kata2 “Caesar”, keinget waktu melahirkan Michael dulu, sakit nya ampuuunnn… Dipake jalan ga bisa pula, berhari2 ga bisa angkat kaki.

Tanggal operasi ditetapkan. Karena udah pasti caesar, so ga usah nunggu mules. Tapi kita sepakat nunggu sampe limit alias 40 week, supaya jarak kelahiran dengan Michael ga terlalu dekat.
Suatu kali, beberapa hari sebelum due, gue control ke Dokter. Kontraksi kecil mulai muncul, that’s why Dokter minta CTG alias periksa detak jantung baby. Hasilnya masih baik, tapi besoknya disuruh cek lagi (inget banget gue, itu hari Rabu).
Kamis malam, berangkat control lagi, dengan tas darurat di bagasi mobil, seperti biasa. Pas periksa, Dokter minta CTG lagi, dan suruh masuk malam itu juga, since kontraksi semakin sering. Iya sih, emang udah mules dikit2 gue, tapi kirain mules2 boongan.
Huwaaa, langsung panik gue, soalnya Jumat paginya masih ada audit di kantor (rencana nya Senin baru mulai cuti). Tapi..ya sutralah, gue nurut kata Dokter (ga berani macem2 lagi akuuuu)

Malam itu, setelah berdoa, perasaan gue tenang banget. Yakin kalo Tuhan akan lindungin gue.
Pagi nya, semakin tenang, karena Mami datang nungguin gue. Alex udah nginep dari malem. Ada 2 orang ini bersama gue, takkan ada yang tak bisa kuhadapi J

Detik2 Operasi Itu….
Bow, ternyata masuk ruang tunggu operasi dalam keadaan sadar itu, bisa bikin lo ngamatin banyak hal.
1.      Orang yang  biasa2 aja, kalo pake baju dokter atau suster, pake tutup kepala, pake sarung tangan,  point nya jadi nambah!
2.      Ruangan itu dingiiiinnn banget, katanya sih supaya steril ya.
3.   Jadwal operasi Dokter dalam 1 hari itu full banget ya… Gue sempet merhatiin jadwal operasi di whiteboard while nunggu dibius.
4.    Dokter bius gue adalah Dokter Loyd, rekomendasi Shinta (thankyou Shin!). Katanya Dokter ini jago, ga sakit sama sekali. Ya iyalah, baru ngeliat tampangnya aja, dah ngurangin sakitnya, bwahaha.. Yep, ganteng, sedikit bule, muda, pintar dan baik (cupu deh lo, Yan… inget, anak dah brapa..). Dia bilang “Bu, saya suntik ya, efek sampingnya mungkin pusing atau mual.” Informed concent  yang oke banget kan?

Setelah pake tutup kepala (supaya rambut ga ganggu), suntik tulang belakang, pasang jarum infus, selang oksigen, ready to go!
Dari lampu kaca besar di atas, gue bisa melihat bayangan Dokter & staff2nya “ngobok” perut gue. Dan kerasa juga loh, perut di”potong” (asli!). Menurut Dokter, memang masih kerasa, tapi saraf sakit nya di-non aktif-kan.
Mereka “ngerjain” sambil ngobrol2 gitu (kok Dokter Boy blom nyampe ya, katanya macet di sports club.. gue masih inget tuh mereka ngobrol apa:p). Ga ada kesan tegang atau takut, secara mereka tiap hari ngerjain kali yah. Sementara gue parno aja mereka bakal salah gunting atau apa, hihihi…
Ga lama kemudian, Dokter Sugi, obgyn gue, bilang “ready, siap dorong..”
Tau2 ada staff nya dorong perut gue dari arah atas, “siap!”
“Yap ditangkap…”
Lalu.. “Selamat yaaa…”
Hahhhh? Udah nih? Serius? Udah keluar anak gue? Gada drama mules? Yakin?

Beberapa menit kemudian, than… I saw her.
Ah, walaupun udah ke-3 kali nya, tetap aja, I always fall in love at the first sight with my babies. Seperti saat itu… Rasa haru itu begitu sendu.. We finally met, my pinky baby…. Mommy loves you J

Sayang sekali, IMD gagal karena gue keburu mual ga karuan (nyesellll bangettttt)..

Keluar dari ruang operasi, masuk ke ruang observasi, there’s my heroes!
Mami sama Alex masih disana, you’re my truly strength!
Entah karena ruangan yang super dingin, pengaruh obat bius, atau apa, gue menggigil kedinginan. Mami nepuk2 pipi gue (what can I do without you, Mom? Nothing!).

That time I promised you again, I will love you forever, Mom…
Salah satu tanda cinta buat Mami, ikutan project Dear Mama , puji Tuhan royalti nya disumbangkan (Thankyou Kak @lalapurwono ) . Nanti surat nya aku upload juga ya:)

Keyla, Michael, sekarang kita punya Samantha. Daddy Mommy so lucky having you three J

Getting Pregnant, Again :)


Yeayyyyy finally back!
Ehm, ini ditulis udah lama sekali ya, hanya aja baru posting. Jadi bukan berarti gue hamil anak ke-4 loh:)
Bwahahaha, maaf yaaa, kelamaan ga nulis, secara waktunya sekarang susah banget, bow *lap keringet*. Ah gile, jadi emak2 ber-anak 3 sekarang (iye, ude 3 anak aye!), ga kebayang ya?

Ehmmmm… This time I’m not gonna write you details about my pregnancy.

Jadi inget waktu pertama kali, seorang petinggi kantor gue (uhuk uhuk uhuk!) “melihat” bahwa gue hamil. Saat itu, gue belum lama masuk setelah kelar cuti melahirkan Michael (anak ke-2 gue).
Tiba-tiba “Bapak” itu, bilang gini ke gue, “Kamu hamil lagi, ya?”
Hah? Enggak laahhh, kata gue. Plis deh Pak, baru juga masuk, sambil sok-sok tersinggung, karena gue pikir dia bilang gue masih gendut (emang iya sih.. berat badan belum balik normal waktu itu).
Gue pun menganggap itu angin lalu, sampe 2-3 minggu kemudian.
“Kamu hamil ya?” Dia bertanya lagi.
Hiyahhh, kenapa ya, Bapak ini kok insist banget. 
“Enggak, Pak!”
“Udah periksa?”
“Belom.” Ă  mulai geram, tapi kok was-was juga.
“Periksa gih, kamu hamil tuh.”
Dalam hati gue menghitung, udah “datang bulan” belom ya, bulan ini? Perasaan belom. Tapi kan, kalau menyusui, bisa aja ga datang bulan rutin ya? Iya kan? Iya kan?

Iseng-iseng setengah deg-deg-an, gue beli test pack dan tes keesokan pagi nya. Dan hasilnyaaaaa, garis samar itu ada! Super samar, tapi … ADA.

Perasaan gue saat itu, sesuatu yang ga akan gue lupa. Campuran antara kaget, shock, panik, parno. Sumpah lo, gue hamil lagi? Lah Michael baru 3 bulan umurnya!
Gue bilang suami gue, yang sama kagetnya. Seharian itu, gue pening bukan main.
Bukannya tidak senang. Tapi… muncul perasaan yang sukar gue lukiskan. Perasaan bersalah sama Michael, perasaan kuatir tidak mampu mengurus 3 anak, perasaan cemas karena gue banyak makan mentah2 di bulan2 kemaren. Dan trauma berat setelah proses melahirkan yang begitu sulit. Semua campur jadi satu. Alhasil seharian itu, ASI gue merosot drastis. Pun gue cuma bisa bengong aja di kantor, yet tell anybody about the (good) news.

Nyokap gue yang pertama gue kasih tau. Dia mah ketawa2 aja, terus bilang “Mami udah tebak, kan belom mens.” Dilanjutkan dengan, “Anak 3 itu seru, rame. Emang sih repot, tapi skalian kan, nanti kalau udah pada gede juga ga berasa.” Ah, ya!
Lain lagi dengan respon mertua gue. “Hmmmm?” ---hening--- “Emang udah cek ke Dokter?”
Setelah diyakinkan, Mama bilang, “Ya udah, Dian jaga kesehatan.”
Gue yakin, abis itu, Mama mertua gue ikutan pening, secara gue biasa nitip anak2 disana :p

Terlepas dari kondisi fisik, psikis gue yang menurut gue juga harus dieprhatikan. Seperti gue bilang di atas, perasaan bersalah gue ke Michael semakin menjadi, terlebih karena gue disuruh stop nyusuin sama Dokter. Breastfeeding  itu memcu kontraksi, dan mengingat kondisi kehamilan gue yang super rawan di 2 kehamilan sebelumnya, Doc instruct to stop. Itu baru awalnya.
Gue ga bisa gendong Michael. Ajak main pun terbatas. Pelukkin dia harus hati2. Kadang hati gue sedih, kalo liat dia nangis minta digendong. Dan iri, liat semua orang (kecuali gue), bisa gendong dia, bisa ajak dia main.
But again, hidup itu tentang mencari keseimbangan. Michael tumbuh menjadi anak yang mandiri, ga kolokan, baik banget, anteng banget. Sejak usia 3 bulan, ga pernah lagi kebangun malam untuk minta susu. Gue ga bisa bayangin, kalo Michael tiap berapa jam masih kebangun, dengan kondisi gue hamil ini.
Seiring berjalannya waktu, Michael seperti ngerti kalo Mami nya ga bisa gendong. Dan seakan tau kalo Mami nya merasa kehilangan "peran sebagai ibu", dia hanya bisa tidur kalo dikelonin Mami  nya, either itu ditepuk2 pantat nya, atau dipeluk sambil dinyanyiin. 
Tuhan memang super baik ya :) I feel so blessed. 

Kondisi fisik gue pun baik2 aja. Sedikit mual, tapi masih bisa gue atasi. Gue masih nyetir juga, masih kemana2.

Sampe suatu pagi di kantor… gue udah merasa ada yang ga enak. Bener aja, pas gue ke WC, celana gue udah full sama darah. Sialnya lagi, gue pake celana putih, so keliatan banget kan.
Gue lalu diantar teman kantor ke rumah sakit. Thankyou @awyatno J
Thony itu salah satu teman gue yang parno sama darah. Jadi butuh usaha besar dari dia untuk nganterin gue, secara darah gue keluar terus. Alih-alih gue ngerasa sakit, sepanjang perjalanan, malah gue yang ngeliatin dia. “Lo gapapa, Thon? Jangan pingsan ya.”
Selain sama Thony, gue juga diantar sama @Grace_Belinda , perawat klinik di kantor gue (I really hope there’s a nurse in every office!).
Sampai di ruang bersalin, diperiksa macam2, dan suster menyatakan keadaan gue “siaga satu”. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan. Cek jantung baby, USG dalam, USG luar, dll dll.
Anehnya, gue merasa tenang. I feel secure. Sambil berdoa semoga si kecil baik-baik saja. Keep telling the baby, be strong honey, Mommy loves you!
Hampir seharian di ruang bersalin untuk di-observasi, akhirnya gue dipindah ke ruang perawatan biasa. Suami gue, saat itu lagi di Bali, raker dari kantornya. Ga bisa pulang, karena dia ketua panitia nya, dan dia bertanggung jawab penuh atas ratusan orang rekan kantornya.

Beruntungnya gue, teman-teman kantor, teman-teman baik gue, bergantian datang njenguk. Mateng gue kalo gada kalian, secara gue bosenan as always T.T

Menurut Dokter, pendarahan kali ini disebabkan karena beberapa kondisi. Plasenta letak nya di bawah/jalan lahir, alias placenta previa, jadi resiko pendarahan lebih besar.
Kedua, karena aktivitas berlebih (kemungkinan)
Ketiga, lagi2 masalah hormonal.
Ok, gue ngakuin satu hal. Pagi nya, gue gendong Keyla….
Gue tau itu berbahaya, since Keyla udah berat. Tapi pagi itu, Keyla nangis minta digendong, sebelum gue berangkat kerja.
Kalian yang udah jadi Ibu, ga akan bisa menolak tatapan memohon dari seorang anak yang minta digendong, kan? J

Anyway, kondisi gue diharuskan BEDREST TOTAL. Pee dan pup pun harus di bed. Dan diikuti dengan bedrest 3 minggu di rumah. Never mind. Mungkin memang harus begini perjuangan gue menjaga si baby.

Satu hal yang di pikiran gue.
Orang itu.. kesusahannya emang beda2 ya.
Ada yang susah punya anak. Sekalinya hamil, hamilnya kebo banget. Kuat nyetir sampe 9 bulan, masih dinas ke luar kota. Aktivitas seperti biasa, cuma perut aja yang buncit.
Nah gue, dikasih gampang hamil, tapi kehamilan 1 sampe 3, semua nya berlanjut dengan bleeding. Bedrest. Mual2.

Sama seperti hidup.
Ada yang dying to have babies. Ada yang aborsi. Nitipin anak di panti asuhan, while ribuan pasangan lain, berobat kemana-mana supaya punya keturunan.
Tapi tetap.. Tuhan yang mengatur. Dia yang menciptakan. Dia yang berkarya. Dia yang menentukan. Dia yang menjaga, aku dan bayi ku.

Dalam setiap usahamu, galaumu, sedihmu, cemasmu..
Ingatlah satu
Akan selalu ada Tuhan mu
Yang menopang mu
Dan menggendong mu
Sepanjang hidup mu

Sunday, February 19, 2012

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] The Guardians

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] THE GUARDIANS
Keyword : pasar malam, salju, polkadot, rasi, cerpelai

            Samantha menuangkan isi tas nya ke atas meja. “Oh. My. God.” gumam nya.
            “Kenapa, Sam? Kok ngedumel?” Fe melirik Samantha dari balik laptop.
            “Pensil gue. Lo liat ga, Fe?”
            “Pensil?”
            “Iya… yang putih polkadot, di cari-cari ga ada. Gue mo presentasi bentar lagi,” Samantha gusar.
            “Nih, lo pake aja pensil gue aja,” Fe melemparkan pensil biru nya.
            “Masalahnya pensil gue itu…” Glek. Samantha menelan ludah. Hampir keceplosan.
            “Sam, sudah bisa mulai? Pak Budiman sudah datang,” panggil Arya dari ruangan sebelah.
           Samantha melempar pandang sekali lagi ke meja nya, berharap si putih bola-bola itu muncul. Mungkin dari bawah meja. Atau dari balik kertas. Atau…sudahlah. Kali ini dia harus berjuang sendiri.
* * *
Tiga tahun lalu, Samantha masih kuliah di belahan dunia sebelah barat… Saat itu musim dingin. Bongkahan putih turun perlahan membentuk serpihan beku. Jalan-jalan tertutup salju. Samantha berjalan pelan-pelan. Hatinya muram. Papa-Mama tak jadi datang untuk merayakan Natal bersama. Perusahaan tempat Ayah Samantha bekerja, tiba-tiba mendapat project besar yang harus selesai sebelum awal tahun.
Samantha menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan seseorang duduk di tepi jalan. Entah apa yang membuatnya menghampiri sosok itu. Mungkin karena rambutnya yang putih, terlihat begitu kontras di pakaian yang serba hitam.
‘Kasihan sekali.. hanya berpakaian tipis selapis, di cuaca sedingin ini.’ Perlahan, Samantha menepuk pundak nya.
Sosok itu berbalik. Seorang nenek tua.
“Nenek…” sapanya dalam bahasa Inggris. “Apa Nenek sendirian?”
Nenek itu tak menjawab. Sepasang mata ramahnya membuat Samantha berani bertanya lebih jauh.
“Nenek kedinginan? Saya bawa jaket cadangan… Nenek bisa pakai jaket saya,” tergopoh, Samantha mengeluarkan baju dingin dari dalam tas nya.
Nenek itu tersenyum kecil, lalu mengambil baju dingin yang disodorkan Samantha.
“Anak baik,” suara parau si Nenek terdengar. “Sedari tadi aku duduk disini, hanya kau yang peduli.”
“Nenek sedang menunggu seseorang?”
Percakapan ringan itu pun pindah ke coffee shop terdekat. Nenek bercerita, ia baru saja kehilangan kucing kesayangannya di pasar malam kemarin. Nenek berharap kucing itu akan kembali. Tak terasa, hari semakin gelap. Bintang sudah nampak. Samantha dan Nenek berjanji akan bertemu dua hari lagi.
“Saya catat nomor telpon saya, siapa tau Nenek membutuhkan,” Samantha mencari kertas dan pensil di tas nya.
“Pakai ini saja,” Nenek menyodorkan sebuah pensil lucu yang unik. Warna putih, dengan motif polkadot warna-warni.
“Lucu sekali pensilnya, Nek!” Samantha menuliskan nomor telponnya.
“Buat kamu saja, Nak,” kata Nenek, melihat Samantha begitu menyukai pensil itu.
“Untuk saya?”
“Ambilah. Pensil itu benda ajaib. Apapun yang kamu lakukan, pasti berhasil jika menggunakan pensil itu. Genggam saja, dan ia akan bekerja sendiri.”
“Oh? Maksud Nenek?”
“Apapun. Apa saja, Nak. Pasti berhasil.” Nenek bangkit berdiri.
“Selamat Natal, anak baik. Sampai berjumpa lagi.” Lalu Nenek berbalik meninggalkan Samantha, yang masih tertegun memandangi pensil di tangannya.
* * *
Super penasaran, Samantha langsung mencoba pensil itu di apartment nya. Ada tugas seni yang harus dikumpulkan dalam waktu dekat. Samantha memegang pensil itu, meletakkannya di atas kertas. Ajaib! Pensil itu bekerja sendiri! Membuat coretan-coretan tak tentu arah, tapi menghasilkan sebuah gambar yang bagus sekali!
Dua hari kemudian, di tempat yang sama, Samantha datang dengan semangat. Tak sabar ingin mendengar cerita Nenek tentang pensil ajaib itu. Tapi Nenek tak pernah muncul. Juga tak pernah menelponnya.
Samantha makin merasakan keajaiban si pensil. Dari mulai nilai ujian  yang hampir mendekati sempurna, karya nya dimuat di berbagai media, hingga paper dan tugas akhir yang selesai jauh lebih cepat dari kawan-kawannya. Tangannya begitu dingin menorehkan berbagai karya. Ini semua berkat si pensil ajaib! Samantha hanya perlu memegang pensil itu, memulai sebuah coretan kecil di atas kertas, selanjutnya pensil itu bekerja sendiri, membentuk gambar atau tulisan, sesuai dengan kebutuhannya. Keberhasilan ini membuat Samantha merasa sangat percaya diri.
Hingga selesai sekolah dan kembali ke tanah air, pensil polkadot itu masih setia menemani. Pensil itu sudah menjadi pendek karena terlalu sering digunakan. Beberapa saat terakhir, Samantha memutuskan tak menggunakan pensil itu lagi, tapi berharap keajaibannya masih bekerja, dengan cara meletakkan pensil itu di dekatnya, selagi ia bekerja.
Untunglah berhasil. Samantha lolos tes masuk pekerjaan di sebuah agensi iklan ternama. Ia pun berhasil memperoleh gelar sebagai karyawan terbaik dengan ide-ide paling cemerlang dan kreatif. Semua berkat pensil ajaib.
* * *
            “Ehm… jadi begini, Pak… konsep kali ini… ehm..” Samantha terbatuk kecil. Ah, kenapa jadi begini? Ruangan sedemikian hening, hingga detik pun punya suara.
            “Jadi begini, Pak Budiman. Berdasarkan brief yang diinform oleh Bu Shannaz kepada kami….” Aries tiba-tiba berdiri dan mengambil alih. Samantha menarik napas lega, lalu pelan-pelan duduk di kursi nya.
            Presentasi siang itu berlangsung sukses. Untung ada Arya yang kebetulan satu tim dengan Samantha.
            “Ya, thanks ya. Kalau ga ada lo…” Samantha menggelengkan kepala nya.
            “No prob,” Arya tersenyum. “Lo kenapa, Sam? Sakit?”
            “Ah enggak… gue cuma.. masuk angin. Kurang tidur...”
            “Mikirin kerjaan? Atau… mikirin gue?”
            Wajah Samantha memerah. Crap!
            “Sama, gue juga suka mikirin lo, hahaha…” Arya tertawa ringan.
Samantha tersenyum diam-diam. Lamunnya berkelana, tapi kali ini tak memikirkan si pensil.
* * *
            Kalau tak ingat sedang ada di cafĂ©, Samantha pasti menangis. “Ide, ide, where are you? Ide, ide, datanglah..” gumamnya. Sudah satu jam laptop terbuka. Dua cangkir hazelnut cappuccino. Tapi tak ada satu pun ide muncul. Helow deadline hari Senin, how are you?
            Semua gara-gara si pensil. Sudah dicari di seisi kamar, tak ada. Di laci meja, di tas kerja, bahkan di kamar mandi. Mbok Min sampai pusing dibuatnya.
            “Mencari apa, Nak?”
            Samantha hampir pingsan melihat sosok tua di hadapannya. Si Nenek! Nenek yang memberinya pensil polkadot ajaib!
            “Ne..Nenek?”
            “Iya, Nak.”
            “Ini pasti salah lihat. Pasti aku kelamaan melamun.” Samantha mengerjap, tapi Nenek masih ada.
            “Mencari ini?” Nenek menyodorkan sebuah pensil.
            “Nenek.. Pensilku hilang! Pensil ajaib yang dari Nenek, hilang!” Samantha panik. “Aku ga bisa kerja, Nek. Tanpa pensil itu, aku ga bisa apa-apa.”
            “Tapi waktumu sudah habis, Nak.”
            “Waktu apa, Nek?”
            “Setiap orang hanya punya waktu tiga tahun untuk kupinjamkan pensil ini.”
            “Kenapa?”
            “Waktu yang cukup untuk dapat membuat seseorang menyadari potensi dirinya.”
            “Nek, please! Aku janji akan menjaganya baik-baik, tak akan hilang lagi!”
            Nenek menggeleng. “Kamu sudah menjaganya baik-baik, Nak. Pensil ini aku ambil di kamarmu.”
            “Hah? Kapan Nenek ke rumahku?’
            “Aku menyebrang dari mimpi mu, Nak. Selalu begitu, setiap kali aku ingin mengambil kembali pensil ini.”
            “Nek, aku tak bisa apa-apa tanpa pensil itu,” Samantha kembali memohon. Tapi Nenek tetap menggeleng.
            “Kau lihat orang di dekat pintu itu, Nak?”
            Samantha mengikuti arah pandang Nenek. Seorang pria bertopi sedang termenung. Tatap mata nya terasa muram.
            “Hidupnya sedang tak baik.”
            Samantha tersentak. “Darimana Nenek tau? Apa Nenek juga tau, seperti apa hidupku waktu itu?”
            Nenek tersenyum. “Kau hanya kurang yakin pada dirimu, Nak. Pensil ini hanya membantumu menemukan talenta dirimu. Setelah selesai, pensil ini harus berkelana lagi, mencari orang lain yang harus dibantu.”
            “Nenek,” Samantha berujar, “Sebenarnya Nenek ini siapa?”
            Nenek tersenyum lagi. “Bukan siapa-siapa, hanya Nenek tua yang  meminjamkan pensilnya.”
            “Tapi, Nek? Waktu itu..Nenek berbicara padaku dalam bahasa Inggris, sekarang dalam bahasa Indonesia. Nenek ini darimana?”
            Nenek tak menjawab. “Aku harus pergi, Nak. Lanjutkan hidupmu. Tidak tau ada apa di depan sana, kau hanya harus yakin pada dirimu.”
            Samantha ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Dua detik kemudian, Nenek tak tampak lagi. Juga pria bertopi yang duduk di dekat pintu itu.
            Hari yang sangat aneh.
* * *
Presentasi Samantha pagi itu sukses. Client mereka tampak terkesan.
“Pasti tidur cukup ya, kemarin?” tanya Arya sambil mengedipkan matanya.
Samantha tertawa kecil. “Lumayan,” katanya sambil meneguk kopi.
“Gue punya hadiah buat lo.”
“Wow.. Karena presentasi barusan sukses?”
“Hehe… Bukan. Gue yakin lo pasti suka.”
Samantha tersedak melihat benda kecil yang diletakkan Arya di meja nya.
“Lo dapat darimana?”
Arya membetulkan letak kacamata nya.
“Ga yakin lo bakal percaya. Gue…dapat benda ini, dari seorang nenek-nenek.”
Samantha merasa tubuhnya lemas. Apakah Arya adalah orang yang harus dibantu Nenek, untuk menemukan potensi dirinya? Padahal Arya orang paling smart, paling kreatif, yang pernah ia kenal.
“Gue cuma bantuin si nenek nyebrang jalan, terus tau-tau dia kasih gue pensil itu.”
“Katanya mungkin bisa gue kasih ke orang yang butuh.”
Bulu kuduk Samantha berdiri.
“Pensil lo yang hilang kaya gini, kan? Gue ingat, lo pernah cerita kalo itu pensil ajaib. Semacam barang keberuntungan lo, ya?”
Ini perasaan Samantha saja, atau Arya memang sangat memperhatikannya?
“Yah… tapi Nenek itu kan kasih buat lo.”
“Gue… punya alat keberuntungan yang lain.”
“Maksud lo?”
Arya merendahkan suaranya.
“Sekitar lima tahun lalu, ada kakek-kakek kasih gue.. sesuatu yang mirip ini.” Arya mengeluarkan sesuatu dari saku nya. Kalung berwarna perak dengan liontin bergambar rasi bintang.
“Katanya kalo gue pake kalung itu, sifat pemarah gue bakal hilang.”
“Aaahhh? Serius lo?”
“Beneran.”
“Dan lo percaya?”
“Hmmm.. Gue dulu sangat pemarah, keras luar biasa. Anehnya, sejak ada kalung ini….” Arya menggeleng. “Jauh lebih berkurang. Semua orang ngerasain perubahannya, bukan cuma gue.”
“Tadi lo bilang… Kakek itu kasih sesuatu yang mirip itu? Artinya bukan itu?”
“Kalung itu dah diambil lagi oleh si Kakek.”
“Kenapa?”
“Katanya lima tahun dah cukup buat ngilangin sifat pemarah gue. Tanpa itu pun, gue bisa jadi orang yang tidak pemarah. Tapi…karena parno, gue cari kalung yang mirip sama kalung itu. Ya inilah,” Arya menunjuk kalung nya tadi.
“Gimana cara si Kakek ngambil kalung itu dari lo?”
“Dia muncul di mimpi gue, bilang hal yang tadi. Tau-tau pas gue bangun, tuh kalung hilang aja.”
“Lo pernah cerita soal ini ke orang lain?”
Arya menggeleng. “Gue ga yakin orang percaya.”
“Kok lo cerita ke gue?”
Somehow.. gue yakin lo bakal percaya.”
“Emangnya lo percaya dengan semua hal itu?”
Arya mengangkat bahunya. “Percaya. Itu malaikat pelindung. Menjelma jadi sosok Kakek.”
Samantha tertegun.
* * *
Di suatu tempat di atas sana…
“Siapa berikutnya?” Ibu Peri memandang bola Kristal. Peri Percaya Diri, Peri Baik Hati, Peri Kelembutan, Peri Rajin, dan beberapa peri lain, duduk mengelilingi nya, di hamparan awan.
“Sepertinya saat ini dunia lebih membutuhkan orang-orang jujur. Sudah terlalu banyak orang percaya diri.”
“Jadi aku yang bertugas, ya?” Peri Kejujuran menggerakan sayapnya dengan semangat. “Siapa yang harus aku bantu?”
“Orang ini….” Ibu Peri menunjuk bola kristal. Ada bayangan seorang pria berdasi. “Tadinya baik dan jujur. Dulu janjinya ingin memperhatikan kepentingan rakyat, tapi setelah terpilih jadi wakil rakyat… boro-boro. Ckckck..”
Peri Kejujuran mengangguk tanda mengerti. Di tangannya ada gantungan kunci berbentuk cerpelai.
* * *