Friday, August 19, 2011

Ketika Angka hanya sekedar Angka


Sesi Leadership Insight atau #LIGHT di kantor hari ini, menghadirkan Romo Baskoro, one of Romo di Canisius College yang famous itu. Inget dulu Dede waktu masih sekolah di CC, sering ngomongin beliau, ga nyangka sekarang ketemu secara langsung.

Gue ga membahas teori sama sekali.. klo yang kenal gue, pasti tau betapa gue benci teori hehe..
Banyak hal menarik yang dibahas, salah satu nya soal pendidikan di Indonesia, mulai dari system nya, sampe guru2nya.

Profesi “guru” dipandang sebelah mata, identik dengan pekerjaan yang gajinya kecil, dan hanya orang2 yang tak punya pilihan lah yang jadi guru. Ksian yah… hiks padahal masa depan bangsa ini, ada di tangan mereka2.
Menurut Romo Bas, nilai rata2 bahasa inggris guru2 di Jakarta adalah 3.2 (skala 1-10), dan nilai matematika nya hanya sekitar 3. Sedih banget dengernya…
Padahal seharusnya orang2 terbaik dan pintar itu jadi guru! Secara anak2 dari TK sampe kuliah itu diajar sama guru & dosen gitu loh. Klo guru nya aja telolet, gimana muridnya?
Ah jadi ingat cita2 waktu dulu, mo jadi guru TK…. “.”

Sistem pendidikan di Indonesia membuat kita selalu mendewakan angka. Ranking 1 adalah yang terbaik. Ranking 10 adalah jelek. Well, klo itu gue rasa, karna metode kuantitatif adalah salah satu cara termudah menjustifikasi sesuatu. Tapi setidaknya kita harus belajar bahwa angka itu bukan segala2nya. Anak yang nilai PMP nya bagus, bukan berarti lebih bermoral daripada yang nilai PMP nya jelek. Anak yang nilai agamanya jelek, bukan berarti dia teroris atau ga punya Tuhan.
Tapi itu lah tugas sekolah, memastikan anak2 itu mengerti apa yang diajarkan, caranya apalagi klo bukan dengan nilai? Mungkin tugas kita lah sebagai orang tua, untuk mengajarkan pendidikan moral dan agama itu, dengan tidak melihatnya dari nilai?

Contoh pertanyaan yang biasa diajukan orang tua ke anaknya,
“Belajar apa di sekolah?”
“Ada PR apa?”
“Besok ulangan apa?”
“Bisa ga ulangannya? Dapet nilai berapa?”

Apa ada yang pernah menanyakan…
“Sudah berbuat baik apa kamu hari ini?”
“Tadi di sekolah duduk di sebelah siapa?”

Jadi introspeksi… apa ya, yang gue tanyain sama Keyla tentang sekolahnya?
Gue biasanya tanya sama dia, hari ini miss ngajar apa? Keyla bagi bekal ga ke teman? Ah tapi ga bisa dipungkiri juga, gue pasti nanya tentang apa yang dia pelajari di sekolah? Udah bisa bikin huruf baru apa?
Padahal menurut Romo Bas, anak2 itu pasti bosen klo tiap hari ditanya soal sekolah.
Inspiring lesson for me… secara gue benci sekolah sejak dulu. Untung dapet nyokap kaya mami gue, yang ga terlalu mentingin angka:D

Gue beruntung bangeetttt, nyokap gue ga terlalu peduli sama nilai. Yang penting gue naik kelas, dia dah cukup hepi:p Di tengah sepupu2 gue yang pinternya ampun2 itu, yang selalu ranking 1, yang selalu dibangga2in mami papi nya, duuhhhhh beruntung banget yah gue? Walopun selalu dibanding2in sama sepupu2 yang umurnya kurang lebih sama, tapi mami ga pernah menuntut gue macem2. Mami pernah sih sedih karena nilai gue jelek, tapi kayanya Cuma sekali itu aja, hihihi…

Ketika anak dapat nilai 10, selalu dipuji, tanpa peduli apa itu hasil dia sendiri atau bukan.
Ketika anak dapat nilai 4, selalu dibilang “jelek”, diomelin, tanpa peduli kerja keras dia mendapatkan angka itu. Jangan2 dapat nilai 4 itu hasil kerja kerasnya sendiri, sementara dapat 10 itu nyontek!
Is he trying to say that process is more important than result?
Itu yang bikin anak juga selalu berorientasi utama pada angka, wong bapak ibu nya begitu. Angka, nilai, ranking adalah yang utama. Gimana cara dia mendapatkannya, ga penting. Padahal itu salah besar!

Menjadi orang tua.. banyak sekali yang harus dipelajari ya (secara mo jadi emak2 ber-anak 3).
Belajar mengalahkan ego pribadi (orang tua mana yang mo liat anaknya dikalahin sama orang lain?)
Belajar memberikan kebebasan untuk anak memilih apa yang dia suka… Biasanya apabila orang tua memilihkan sesuatu untuk anak, alasannya pasti “papa mama tau yang terbaik buat kamu”, padahal mungkin “dia tau yang terbaik untuk dirinya sendiri”.
Belajar merelakan apabila keinginan anak tak sesuai dengan keinginan orang tua. Singkatnya, membiarkan anak menjadi pelukis daripada jadi dokter. Ah, sulit ga ya itu?
Belajar tidak menilai segala sesuatu nya hanya dari nilai, dari ranking, karena itu hanya sekedar angka. Belajar menerima anak dengan seluruh nilai2nya, tidak hanya nilai raport, tapi nilai hidup.
Gimana klo anak cowok gue mo jadi penari? Gimana klo anak cewek gue mo jadi pembalap? (kok tiba2 migrain ya bayangin itu.. phhewwww). Dilema banget ya….
Coba lempar monyetnya ke Tuhan, hehehe… Han, tangkep yah! :p

Jadikan aku,
Orang tua yang baik
Yang mau mengerti keinginan anakku
Yang mau mendengarkan anakku

Pinta aku,
Untuk dapat mendidik anakku
Seperti Bapa ku mendidik aku
Seperti orang tua ku mendidik aku

Didik aku,
Menerima anakku apa adanya
Seperti Tuhan yang selalu bisa menerima
Apapun yang aku lakukan
Sesulit apapun itu

Ajari aku,
Menjadi ibu yang penuh kasih
Yang sanggup mengasihi anakku
Apapun yang dia lakukan
Bukan karena apa yang dia hasilkan

Semoga aku,
Dapat menjadi perpanjangan tangan Mu
Menjaga anak2 titipan Mu
Seperti yang Engkau mau


Gue emang CINA, tapi gue orang INDONESIA!


Ulasan kali ini (cieh, ulasan..:p), mengangkat rasa nasionalisme gue, yang tadinya gue pikir dah lenyap entah kemana.
Gue keturunan Cina, dari engkong-emak gue, semua nya Cina, malah ada yang ga bisa bahasa Indonesia. Bokap nyokap gue Cina, suka masakan Cina, dan tiap tahun kita masih menjalankan macem2 budaya, such as sembahyang using hio (buat doain para leluhur yang udah mendahului kita), makan mie, merayakan taun baru Imlek setiap taun, percaya hujan itu somehow adalah berkah… kurang Cina apa coba? Gue sekelularga punya nama Cina juga, walopun ga pernah dipake.
Tempat tinggal gue, mostly ditinggali orang2 pribumi (asli Indonesia). Dan dari kecil pula, diskriminasi itu udah gue rasakan.

Dari mulai akte lahir yang dibedakan (katanya KTP juga ya? Tapi sebodo teing lah, yang penting foto cantik terpajang di depannya, hihi:p), pembedaan di kelas (padahal dari kecil gue sekolah di sekolah Katolik loh, sampe lulus kuliah. Ga kebayang ya, yang sekolah di sekolah umum).
Inget waktu SD, seorang guru gue pernah bilang “Dasar Cina!”, ketika gue salah menjawab pertanyaan.
Klo dia ngomelin gue karna gue males, atau karna gue bolos, gue terima. Tapi kenapa dia ngomelin gue karna gue Cina? Apa hubungannya ya? Emang orang Cina ga boleh salah jawab pertanyaan?

Ada juga kejadian ketika gue mo masuk kuliah.
“Ga usah daftar UI lah, orang Cina susah masuknya.” Hehh, maksudnya apa nih? Kita kan sama2 tes dan bayar untuk kuliah, kenapa harus dibeda2in?
Well akhirnya gue emang masuk Atmajaya, karna dah cinta pandangan pertama sama tuh kampus, hehe..
Pun ketika “pantat” (sori) gue dipegang di terminal, dia bilang gue “hei Cina”. Emang klo gue Cina, lo bebas bisa pegang2 pantat gue? Atau waktu gue dipanggil “sipit..sipit..” dan dipanggil “Cina..Cina..”
Kenapa kalo gue sipit? Kenapa klo gue Cina? Gue bangga menjadi Cina sipit!
Berlanjut sampe sekarang. Waktu bikin akte lahir anak2, jelas2 ditulis… tarif WNI pribumi dan non pribumi BEDA. Kenapa dibedakan ya? Apa non pribumi alias Cina atau bule itu dipandang lebih tajir dibanding yang pribumi? Apa itu bukan artinya merendahkan penduduk asli bangsa sendiri ya?

Duh emosi nya… ya iyalah. Lahir disini, tinggal disini, sekolah disini, kawin disini, sampe honeymoon pun disini juga! (yang terakhir itu karena dana terbatas sih, hihihi..)
Intinya, kenapa ya harus ada pembedaan2 seperti itu? Kenapa Miss Indonesia diributin klo dia Cina? Dia toh WNI juga! Ikut bayar pajak juga!

Cerita ini gue tulis, bukan bentuk ketidaksukaan gue atas teman2 pribumi ya. Jangan salah. Teman2 baik gue, sahabat gue, banyak yang pribumi. Gue juga punya sodara yang pribumi loh, gue juga punya sodara yang muslim taat. No offense, tidak ada rasa benci sama mereka, karna mereka pun memperlakukan gue sebagai teman, sahabat dan sodara, bukan sebagai “teman Cina”, “sahabat Cina” atau “sodara Cina”.
Mungkin ini cuma ungkapan kekecewaan gue aja karna merasa dibedakan. Kesannya cuma numpang tinggal aja di Indonesia.

Padahal… gue suka banget sama budaya Indonesia.
Coba kamu yang mengaku orang Indonesia asli… tau ga tipe2 batik itu apa aja, history nya gimana? Tau ga cerita Barata Yudha? Bisa main alat music asli Indonesia ga?
Gue keturunan Cina, tapi gue hafal tipe2 batik, tau semua gimana sejarahnya nya. Gue suka banget baca buku cerita wayang, mulai dari Chandra Kirana, Inu Kertapati, sampe Rama Shinta. Gue suka banget sama angklung, kulintang, suling.. sama seperti gue nge-fans ama piano.

Gue emang Cina, tapi gue cinta Indonesia. Cinta budaya Indonesia, cinta makanan Indonesia (well gue suka hampir semua jenis makanan sih, jadi this one is an exception:p), jatuh cinta sama pulau2 Indonesia (walopun dah beberapa kali keluar negri, my fave place is Bali).
Gue yang orang Cina ini, selalu serius loh menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika upacara. Gue yang sipit ini, bahkan pernah nyanyi lagu Tanah Airku di depan Gubernur (waktu itu, bangga nya selangit, hihihi)

#merdeka itu adalah klo di setiap form hanya ada 2 pilihan : WNI atau WNA. Bukannya 3 pilihan : WNI, WNI keturunan, dan WNA.

Daripada buang2 waktu ngebedain pri dan non pri, mending mikirin sudah berbuat apa untuk Negara ini. Negara ini sangat butuh dukungan dari seluruh warga nya, tanpa peduli berasal dari suku apa.
Sudah berbuat apa untuk Negara mu?
Aku yang katanya orang Cina ini, belum berbuat apa2. Tapi aku cinta Negara ini, cinta Negara ku.

Iya aku memang Cina, tapi aku cinta Indonesia ku. Semoga kamu juga… secinta aku.

#SOCI@L MEDI@


“Twitter lo apa?”
“Tuh anak ga punya twitter? Ga gaul.”
“Facebook dah ga jaman yah…”
“Jadi major brapa kali di foursquare?”
“User name lo di Google+ apa?”

Dunia social media atau socmed world lagi booming ceritanya. Menjamurnya BB dan high tech tools lain, bikin kita dalam setiap kesempatan, bisa update status kapan pun juga. Bener2 memanjakan orang2 narsis, hehe… segala nya di-update. Dari mulai berita2 ga penting, sampe update lokasi yang kadang bisa kebablasan dan mengakibatkan kriminalitas meningkat.
Sebenernya apa siy untungnya social media itu?

Menurut gue pribadi, socmed punya beberapa keuntungan : menjual (lo bisa direct selling disitu), mencari informasi, promosi, menyampaikan pesan, dll. Selain mudah, juga murah banget, dibandingkan sarana lain.
Gue seneng banget bisa interaksi sama penulis2 favorit gue : clara Ng, zara settira (malah sampe add pin segala loh!), icha rachmawati, elberthiene endah, bahkan djaenar maessa ayu!
Mereka membalas twit gue, bahkan me-RT! (jadi GR niy… *blushing*).

BUT… this world become strange each day….
Ada yang memaki2 dengan tidak bijaksana nya di twitter. Ada yang tidak etis ngomong di twitter. Ada yang “curcol” juga. Kesannya siy curcol, tapi klo dibaca beneran, kayanya itu adalah sesuatu yang dia ingin orang lain baca (catat : DIA INGIN ORANG LAIN BACA). Entah itu bener apa ga, yang pasti dia pengen orang2 baca itu. Entah itu atasannya, pacarnya, atau siapapun juga.
Ada yang curcol soal berantem ama suami nya… sampe masalahnya pun ditulis disitu… are you crazy? Pernah ga lo berpikir, suami lo itu juga orang yang punya perasaan?
Dan pernah ga lo sadar, kalo socmed itu bukan untuk curhat berlebihan kaya gitu????
Ada yang lupa posisi nya di kantor, sehingga bisa nulis seenak jidat nya, padahal follower nya banyak?
Gue juga suka curcol di twitter, suka nulis ga penting, suka nyampah. Tapi setidaknya, curcol-an gue itu ga menyakiti siapapun, ga membahayakan siapapun, karna gue emang ga berniat untuk itu. Yah klopun ada, biar Tuhan dan gue yang tau, hihihi.. niat jahat kok disebar2, aneh ya:D

Gue akan menulis apapun yang mau gue tulis. Dan gue ga akan nulis yang ga mau gue tulis. Tidak ada pihak yang bisa memaksa gue menulis apa yang TIDAK MAU gue tulis. Gue orang bebas, tidak ada perjanjian apapun dengan pihak manapun.
Klopun gue nulis sesuatu tentang perusahaan gue, that’s bcoz I tell you the truth. Apa yang gue rasakan, gue tulis disana. Klopun gue tulis sesuatu tentang produk yang dijual di perusahaan gue, atau produk lain, itu karna gue emang suka.  

Balik ke masalah pencitraan.. Kasian ya, orang2 yang diharuskan menulis hanya karena posisi/pekerjaan mereka mengharuskan untuk itu. Kasian ya, orang yang pura2 baik dan cute di socmed, tapi pada kenyataannya ga begitu. Kasian mereka klo harus punya 2 kepribadian, hanya karena yang ditulis beda sama kenyataan.

Ah lo ga konsisten Yan.. katanya orang suruh etis nge-twit, tapi kok ga boleh pencitraan juga?
No, its not like that!
Klo lo menulis yang bukan diri lo, dan itu something bad, artinya diri lo yang harus dibenerin! Bukan cara nulis lo, atau apa yang lo tulis!
Klo lo nulis sesuatu yang nice, positive tapi Cuma topeng aja, sampe kapan lo mo bertopeng? Capek ga sih? Inget urusan yang lain masih banyak daripada sekedar masking loh.
Klo lo nulis sesuatu yang “lo banget” tapi negative, yah setidaknya lo jujur sama diri lo sendiri. Tapiii.. apa yang negative itu mo dipertahanin terus, daripada merubah diri jadi yang positive?

Gue ga peduli apakah socmed itu jadi booming apa ga...
Apakah twitter dan blogging itu jadi trend apa ga, gue udah menulis dari sejak gue kecil. Punya blog dah dari 2005. Ga peduli ada yang baca atau ga, I just want to write, and I need something to record.

Tanpa bermaksud menggurui, menurut gue, sebagian besar orang2 di socmed itu “pencitraan” banget, yang kadang bikin mules baca nyaJ (siapa suruh baca! Hehehe)
Membanggakan, boleh.
Menulis sesuatu yang positive, itu lebih boleh lagi. Apalagi yang inspiring, boleh bangeetttt.
Tapi somehow berlebih, itu yang bikin pusing. Apa lo bener2 ngerasain itu, melakukan itu, atau hanya demi pencitraan lo?

Ah… gue juga bukan siapa2. Bukan socmed expertise, cuma orang awam yang berusaha jujur. Jadi klo elo merasa gue berlebihan, atau suka negative thinking, sori ya. Apa yang kita simpulkan dari sesuatu, kan tergantung perasaan kita juga. Mungkin pas baca itu, perasaan gue lagi gimana, so it directs me to some bad perception. Mudah2an gue salah ya. Semoga apa yang lo twit atau tulis di FB itu, bener2 diri lo sendiri, bener2 cermin lo.  Bukan hanya #pencitraan semata.
Dan buat lo yang suka nulis negative, I adore your honesty. Tapi..ksian juga ya, klo hidup lo penuh dengan yang negatif2 mulu. Yuk coba mulai merasakan berkat yang bertambah setiap harinya. Pelangi Tuhan kadang tersembunyi di balik kelam nya awan, tapi yakinlah, dia ada.

Ngikutin trend boleh2 aja, tapi ga dosa juga klo enggak. Ikut perkembangan jaman juga boleh, tapi ga banget klo sampe kehilangan jati diri lo.
Ikuti arus nya, tapi jangan sampe tenggelam. Ikuti baurnya, tapi jangan memaksa dirimu menjadi orang lain, even orang yang tak kau kenal. Percaya deh, bakal tersiksa J
Jangan salah ya… bukannya gue ga dukung socmed world ini. Menurut gue, ini salah satu alternative efektif untuk “menjual”, mencari/member informasi, me-marketing-kan diri, menjadi dekat dengan idola. Tapi.. sekali lagi, GA BANGET klo di situ kita harus jadi orang lain.

Love yourself, and believe in it!

Tuesday, March 29, 2011

Cuma mau berbagi satu syair lagu yang indah banget…

When God Made You
Its always been a mystery in me
How two hearts can come together
And love can last forever
But now that I have found you, I believe
That a miracle has come
When God sends the perfect one
Now gone are all my questions about why
And I’ve never been so sure of anything in my life
I wonder what God was thinking, when He created you
I wonder if He knew everything I would need
Because He made all my dreams come true
When God made you, He must have been thinking about me
I promise that wherever you may go
Wherever life may lead you, with all my heart I’ll be there too
From this moment on, I want you to know
I’ll let nothing come between us
I will love the ones you love
He made the sun and made the moon
To harmonize in perfect time
One cant move without another
They just hve to be together
And that’s why I know its true
You’re for me, I’m for you
Cause my world just cant be right
Without you in my life
He must be heard everything I’ve been praying
Yes, knew everything I would need
When God made you, He have must been thinking about everything.. never worry, just be sure He’ll give you everything you need, in His beautiful time J

Menyusui

Menyusui.. ketika se-tetes ASI menjadi begitu berarti

Menyusui kedua kali, tidak membuat gue jadi lebih pinter. Masih tetap luka2, masih tetap berdarah. Cuti 3 bulan, tidak lantas bikin pundi2 ASI bertambah. Ga belajar dari pengalaman yahJ
Sebenernya, gue udah niat nabung asi dari awal, loh. Cuma entah kenapa ya, cari waktu untuk pumping rasanya susah banget. Kalo dulu bisa dilakukan pas Keyla bobo, kali ini, kalo Michael bobo, masih ada 1 malaikat lagi yang minta diperhatikan.

Jadilah gue coba mompa ketika 2 anak itu tidur, yang biasanya gue lakukan sambil terkantuk2 juga. 3 bulan pertama produksi susu pas2an. Apalagi pas udah kerja. Curi2 waktu mompa di kantor, yang biasanya hanya bisa 2 kali mompa, max 3 kali. Itu pun dengan diburu2 waktu, di sela2 bunyi BBM yang tidak berkesudahanJ
Bulan demi bulan berjalan… Anehnya, air susu gue yang pas2an itu masih keluar aja.
Waktu gue tulis ini, usia Michael menjelang 5 bulan. Kadang diselingi susu formula, tapi max 1x aja sehari. Tetep air susu ibu nya yang utama.
Mpot2an? Pasti. Kejar2an? Tentu saja. Gedebukan? Ya iyalah. Tapi Tuhan mencukupkan semua nya. Tuhan mengatur semua nya.
Ajaib? Iya. Kalo kita berusaha sekuat tenaga, dan membiarkan Tuhan mengaturnya, percaya bahwa semua takkan percuma.

Ga mudah buat gue mengatakan ini. Inget waktu air susu yang gue peres dengan susah payah, dimuntahin Michael, atau dibuat main sama Keyla.. rasanya mo nangis. Ingat waktu freezer kulkas rusak, dan simpenan asi gue botolnya pecah, hiksssss… mo ngamuuukkkkk!

Atau ketika asi (yang seharusnya tak boleh direbus), tau2 dimasukkin botol trus ditaro di air mendidih, sama suster nya Michael… &;$&;#)^$&;%)#*)%&;($# *sensor…
Terus terang, banyak banget hal2 yang bikin gue frustasi. Pengen berhenti mompa susu. Ngambek. Ga mo peres asi lagi.
Tapi.. melihat wajah Michael.. ini malaikat yang Tuhan kirim untuk menemani hidup gue. Sosok mungil yang Tuhan percayakan ke gue, untuk gue jaga dan gue sayangi sepenuh hati. Anak manis yang gue idam2kan.
Dan binar wajahnya itu loh, kalo melihat gue dah ambil posisi mo nyusuin dia.. ya ampun, langsung sumringah gitu! The face I will never forget, the expression I will keep for the rest of my life.. sama ketika dulu Keyla bayiJ
Tuhan, terima kasih untuk 2 malaikat sempurna yang telah Engkau berikan untuk melengkapi hidupku.

Keyla & Michael.. kalo udah gede nanti baca blog Mommy… kalian adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan. Kalian adalah karunia dari SurgaJ

Being A Mom

Ini tentang.. menjadi IBU

Melahirkan anak ke-2, tidak membuatnya menjadi lebih mudah. (Ya gimana lebih mudah.. yang dulu 10 jam brojol, kali ini nunggu 17 jam plus 2 botol induksi, sampe bukaan 7, ga brojol juga… daku tak pernah lupaaaa:p)
Mengurus anak ke-2, juga tidak lebih mudah. Kirain karena udah pernah ngurus baby, ngurus baby lagi bisa jadi lebih mudah.

Untunglah karena Michael lahir cukup endut (3.7kg bo..), jadi ga terlalu serem mandiinya. Kebayang ga, klo anaknya kecil, masih lunak2 gitu tubuhnya, hiiiiiyyy pasti lebih ngeri yah mandiinya, so vulnerable.

Di rumah, gue masih susah jalan. Nyeri nya belom ilang2 (that’s why I keep telling you, normal is much better!). Boro2 jongkok… ga kebayang kudu jongkok2 mandiin anak. Belom lagi klo kudu bangun dari jongkok sambil gendong anak…

Belum lagi Keyla yang jadi 2x lebih nakal…. Dari yang ga pernah ngompol, sampe pee di sofa L
Dari anak yang manis (walopun nakal), jadi anak yang suka teriak2, bantah, ga bisa diam sepanjang waktu. Pernah suatu malam, saking kecapeannya, saking frustasi nya, gue Cuma bisa nangis aja. Ngerasa ga sanggup ngurus anak. Ngerasa ga bisa kasih yang terbaik buat mereka.

Dalam keheningan, Tuhan menjawab, “Aku tak pernah salah. Dari sejak awal Aku memberikan benih itu di rahim mu, Aku tau kamu akan sanggup mengasuh mereka.”
Anehnya, doa malam itu sangat menguatkan gue. Capek masih tetep capek. Sakit juga masih sakit. Situasinya masih sama, tapi GUE yang BERUBAH.
Tuhan menyuruh gue untuk menikmati rasa lelah itu. Meresapi sakitnya. Berteman dengan perihnya. Bersahabat dengan tangis dan peluh.
Tuhan tidak merubah situasi itu. Tapi Dia telah merubah gue. Gue adalah orang yang sangat beruntung. Tanpa susah2, gue bisa hamil, dapat sepasang anak cewek dan cowok, while banyak banget cewek yang harus berobat kanan-kiri untuk bisa punya anak. Udah sepatutnya gue bersyukur, ga Cuma nangis dan merasa semuanya serba susah. Kesusahan yang gue alami sekarang adalah kesusahan setiap ibu, dan tidak semua wanita bisa mengalami nya.
Gue mulai bisa memandang semuanya dari sisi yang berbeda. Seperti kata nyokap gue, “Nikmati nakalnya Keyla. Rewelnya Michael. Itu ga akan lama. Tau2 mereka udah gede aja.”

Menjadi IBU, membuat gue banyak belajar. Belajar menekan ego pribadi demi melihat senyum anak2 lo. Belajar membagi diri dan hati, demi kedua miniatur lo yang imut2 itu. Belajar menikmati hari2 melelahkan yang menyenangkan, seperti sengsara membawa nikmat.

Ajaib nya, Michael jadi terlihat jauh lebih baik. Ingat kata2 Tuhan, Dia tak pernah salah. Kalo dia sudah memberikan Michael untuk gue asuh, artinya gue pasti mampu mengurus dia. Tuhan sudah mempercayakan Keyla, artinya Keyla akan aman di tangan gue.

Dan Tuhan sudah menyerahkan hidupNya demi gue. Artinya gue akan bisa bersandar kepada Nya, apapun masalah yang gue hadapi. Dia janji akan menggendong gue. Dia tidak akan membiarkan gue sendirian. Asalkan gue membiarkan Dia masuk. Asalkan gue berserah, dan membiarkan Dia mengambil alih.
Berserah… bukan perkara mudah, betul tak?

Kadang dengan kepercayaan diri kita yang luar biasa tinggi, kita lupa menyerahkan diri kepada Nya. Kita terlalu angkuh untuk mengakui kalo kita membutuhkan Dia.

Saat akan melahirkan, gue terlalu yakin sama diri gue sendiri, sehingga pada saat situasi ga bisa dikalahkan lagi, gue jadi frustasi. Terlalu sombong untuk membiarkan Dia mengambil alih.

Saat baru melahirkan, gue terlalu malu untuk mengakui, kalo gue takut ngurus 2 anak. Gue ga yakin gue mampu. Sampai akhirnya gue stress, dan Tuhan kembali menggendong gue.

Melibatkan Tuhan dalam setiap perkara, dalam setiap peristiwa, itu yang gue belajar. Tuhan dengan segala kekuatannya, akan menggendong lo, menopang lo, bahkan di saat elo ga menyadari nya. Seperti saat kita hanya melihat sepasang langkah kaki, padahal saat itu Dia sedang menggendong kita.

Caesar vs Normal

CAESAR vs NORMAL, kembali MeNYUSUi

Gals, gue tariiiikkk kata2 gue tadi. Caesar is definitely not the best option!! If you can choose, pls pilih normal aja!!! Mo mules kaya apa kek, mo berapa lama, since bisa normal, mending normal aja… seriously!
Waktu normal dulu, emang siy mules nya ampun2. Menuju bukaan 10 juga lamaaa banget rasanya. Mana induksi pula, jadi makin mules aja. Tapi once udah brojol, udah ga kerasa apa2. Mo dijahit kek, atau apapun yang terjadi di “bawah” sana, ga kerasa apa2. Apalagi ketika udah bersentuhan dengan kulit baby, rasanya dunia milik berdua. Bukan berdua suami, tapi berdua baby J
Besoknya belajar jalan, paling nyeri2 sedikit. 2 hari udah bisa jalan normal.

Tapi CAESAR? Hmmmm… waktu dibelek, emang ga kerasa apa2, kan dibius lokal. Begitu juga abis baby dikeluarin…
Tapi recovery setelah itu… WOW banget, dan asli bikin gue trauma.
Hari itu, masih belum kerasa apa2. Obat bius masih menjalankan tugasnya dengan baik. Tenang2 aja, paling kecapean karena proses mules 17 jam itu.
Besoknya, hanya boleh duduk. Perih mulai kerasa, dan makin parah ke belakangnya. Nyut2an, sampe ke kepala. Tapi masih mending karena hari ke-2 masih lebih banyak tidur.
Payudara gue dah bengkak lagi, dan tentunya harus segera di-mimi sama baby. 
Entah kenapa, walopun udah berusaha nyusuin dengan posisi yang benar, tetep aja rasanya perih. Dan sekali lagi, dengan idealism yang (masih) tinggi, lagi2 gue ngotot ga boleh kasih susu formula. Plus, di RS tempat gue melahirkan, emang pro ASI 1000%, dan anti sufor. So bisa dibayangin kalo gue kasih sufor, bisa2 gue diomelin, plus digosipin ama suster2 disana. (Have I told you, that di RS ini, all babies are with their moms, called rooming in). Moms emang dilatih ngurus baby nya sejak sedini mungkin.

Di hari ke-3, udah mulai belajar jalan. Amboi, sakit banget bow, perih nya ga ketolongan. Dan gue ga bisa angkat kaki. Jadi tiap kali jalan, kaki gue kudu diseret. Pertama kali nyoba jalan, gue frustasi berat. Kok bisa kaya gini yah? Apa kaki gue ga bisa normal lagi? Kapan bisa jalan seperti biasa? Jangankan gendong baby, bawa diri sendiri aja susahnya minta ampun.

Karena di hari ke-3 ini hukumnya udah boleh turun dari bed dan emang harus jalan, gue mandi di kamar mandi, setelah sebelumnya mandi di bed. Waktu mandi adalah siksaan buat gue, karena ngerasa so helpless, ga berdaya, harus pasrah dimandiin ama suster2. Pengen rasanya gue suruh tuh suster keluar, trus gue bersihin badan gue sendiri. Tapi… yah, dari duduk ke posisi berdiri aja, butuh berapa lama. Plus luka ini belom boleh kena air. Jadi pasrah deh gue.

Menyusui jadi semakin sakit, karena luka di payudara (selanjutnya akan disebut PD), udah makin besar, dan mulai berdarah. Tiap kali nyusuin, gue pasti teriak2 kesakitan. Parahnya lagi, tiap kali teriak, luka operasi di perut bawah jadi makin sakit, plus pinggang belakang (tempat suntikan bius local diberikan) juga jadi makin sakit.

Kebayang ga lo, tiap kali nyusuin, PD lo sakit, perut lo sakit, pinggang lo sakit. Oh man, kok menderita banget rasanya? Belom lagi air susu yang (mungkin) masih menunggu waktu untuk keluar, padahal dah bengkak. Dan baby yang haus, menggigit2 dengan sekuat tenaga nya.
Pagi siang malem, gue kerjaannya nangis aja. Sekujur badan gue sakit, ga bisa bergerak, ngilu, linu. Air susu belom keluar, baby nangis terus…

Belum cukup hanya itu, gue juga kangen sama Keyla. Setiap hari bobo melukkin dia, tau2 harus bobo di tempat asing, dan “mengungsikan” dia ke tempat Oma nya. Memang Keyla tiap hari datang, dan dia juga seneng liat dede nya. Tapi kalo pas giliran mo pulang, dia selalu nangis.
“Keyla mo sama Mommy Daddy. Kenapa Mommy Daddy sama dede disini? Keyla juga mo disini.”
Dan terus menangis sampe pulang. Gue denger dari Oma nya, kalo tiap malam dia nangis sampe akhirnya ketiduran. Sedih banget rasanya…

“Key, Mommy janji akan cepet pulang. Mommy janji akan temenin Keyla main dan bobo. Mommy janji akan bacain cerita lagi.”

Di hari ke-3, seperti Keyla dulu, Michael pun kuning. Bilirubin naik, jadi harus disinar. Seperti Keyla, gue parno, dan minta baby disinar di ruangan gue, jadi gue bisa lihat dia, dan ngawasin penutup matanya.
Gue pompa PD gue, tapi Cuma keluar setetes demi setetes. Frustasi banget rasanya. Malemnya, gue bener2 ngerasa capek. Putting susu luka, baby rewel, perut ngilu, pinggang linu, badan kaya abis digebukin. Michael bener2 rewel malem ini. Mungkin udah mulai haus, mungkin juga ga nyaman. Gue ga bisa tidur karena baby rewel, Alex juga bingung mesti ngapain. Michael digendong salah, ditaro salah.

Akhirnya dengan enggan, gue pencet bel, dan tanya bilang sama susternya, “Sus, saya ga tau kenapa baby nangis terus…” ngeliat gue begitu kecapean dan mata gue yang sembab, suster bilang, “Gimana kalo malem ini, baby tidur di kamar baby. Nanti kalo mo mimi, baru saya bawa ke Ibu.”
Ga tau kenapa, gue yang biasanya selalu menentang kalo baby dibawa ke kamar baby dan jauh dari gue, kali ini Cuma bisa diem. Dan akhirnya setuju. Ketika baby dibawa, gue bilang sama Alex, gue kok merasa bersalah ya, Mommy Daddy nya disini, tapi anaknya malah dibawa ke ruang lain.
Alex bilang, kita harus istirahat. The baby needs us to be strong, to keep him save. So we have to save our energy. Setelah nyoba mompa dan hanya keluar 2 tetes, gue ketiduran.

Besoknya, PD gue semakin bengkak, keras, dan perih pastinya. Nangis udah ga langka lagi. Bisa tiap bentar gue mewek. Suster2 disana, yang terkenal handal dan ahli dalam hal asi, mencoba menolong gue. Mereka kompres dengan air panas-dingin-panas lagi, trus di-massage pelan2. Dari “aduh” pelan, sampe teriak histeris. Dari yang sesegukan, sampe nangis kenceng. Mijit nya ga kira2 bo…
Dan mereka keep saying, “bu, kenapa ga dicoba susuin? Coba susuin aja, biar asi nya ga mampet. Yah demi anak Bu, harus rela berkorban.”
Gue tau, maksud mereka baik. Mereka kasih gue semangat. Tapi ga tau kenapa, gue sebel banget dengan kata2 itu. Siapa yang mo baby nya ga sehat? Siapa yang mo bengkak begini? Siapa yang mo asi nya ga keluar? Hanya ibu gila yang mau anaknya ga sehat…
Dan ketika PD gue tetep bengkak, dan asi gue tetep ga keluar, mereka tetep bilang, “coba pijit lagi Bu, atau dikasih aja ke dede nya. Luka nanti sembuh sendiri.”
Asli, pengen gue timpuk aja tuh suster pake kursi…. (soriiii yah kasar, but that’s how I feel)
Rasanya pengen teriak.. “DIEEEMMM LOOO SEMUAA!” L Kalian kan ahli nya, jangan Cuma ngomong. Kalian liat sendiri kan, PD saya udah seperti ini, kalian berbuat apapun juga ga bisa keluar. Stop telling me how to breastfeed my baby!
Ketika baby nangis dan asi gue Cuma keluar setetes pas dipompa, ada satu suster yang nungguin gue mompa. Coba, apa ga nambahin stress gue, pompa sambil ditungguin gitu? Karena ga tahan, gue bentak aja, “Sus, klo suster terus berdiri disitu nungguin saya mompa, ya ga akan keluar sus…”
Sekali lagi gue harus nelen ludah sendiri. Gue kasih sufor ke baby L karena dia kuning dan membutuhkan banyak minum, sementar PD gue bermasalah dan luka begini, di pompa Cuma keluar 2-3 tetes… ngumpet2 ksih sufornya, karena RS ini pro asi, dan penentang sufor abis.
Terserah mo dibilang IBU JAHAT atau apa. Gue memilih anak gue ga kekurangan air, daripada kekeuh mempertahankan idealism gue.

Jadi inget waktu pertama kali kasih Michael sufor. Sambil nangis dan tangan gemeteran, perasaan berdosa membludak, gue bisikin dia.. Sori ya, Mommy kasih sufor buat kamu. Mommy janji akan berusaha, Sayang. Mommy akan berusaha kasih ASI sebisa Mommy. Kamu akan jadi anak yang kuat, sehat, dan pintar, seperti cici mu.

So, the baby blues starts earlier, even belum pulang dari RS.
Besoknya, suster2 Cuma sedikit yang berani masuk ke kamar gue. Mungkin udah tersebar di RS “ibu di kamar 609 itu galak, judes, dan lagi stress.” Hehehe… atau di depan kamar gue, ada tulisan “hanya untuk suster yang ingin menguji ketabahan hatinya” :p
Seorang suster masuk, sambil gendong Michael yang lagi nangis. Ajaib yah suster2 itu, baby lagi dalam kondisi nangis kaya apapun, bisa diem dalam gendongan mereka.
Setelah nidurin Michael, dia deketin gue, terus tanya2. Anak ke berapa, asi nya keluar apa ga, bagian mana yang sakit. Dan tau2 gue udah nangis2 aja gitu, cerita sama dia. Lalu dia mijitin gue, dari leher, pundak, pinggang belakang. Dan anehnya, PD gue yang tadinya sakit banget walopun Cuma disentuh aja, sekarang dah jauh lebih baik. Pelan2 mulai bisa dipijit, walopun asi nya masih belum juga keluar banyak. Perasaan gue pun jauh lebih baik. Suster ini tidak menghakimi gue, kenapa gue ga kasih asi. Tapi dia berusaha ngurangin stress gue, dengan demikian asi gue bisa keluar.
Suster Lia, you’re one of angel God sent to meJ thankyou, Suster

Keyla, kalo nanti kamu melahirkan, Mommy janji akan temenin kamu, Sayang… dari awal masuk sampe kamu melahirkan baby mu, Mommy akan ada di sisi mu. Mommy akan menyemangati kamu, berdoa buat kamu. Seperti yang Oma lakukan buat Mommy… Its everything.

Mom, I love you… You are my strength J
If Daddy could see us from heaven, He’ll know how proud I am having a mom and dad like you. Dad, I give you a grandson! J

Guys…while you still have time, love your mom as soon as you can.