Thursday, December 19, 2013

The Inspirational Leader : Navajo Bima


Kali ini, saya ingin bercerita tentang sosok anak muda yang hebat dan menginspirasi. Namanya Navajo Bima Hadisuwarno, atau akrab dipanggil Navajo.
Navajo adalah salah satu finalis dari Nutrifood Leadership Award 2013 (NLA) yang baru saja berlangsung bulan November lalu.
Tujuan NLA adalah mencari mahasiswa-mahasiswi yang memiliki potensi kepemimpinan. Dalam event ini, selain diberikan pelatihan yang di-design khusus, mereka juga dapat saling berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar, tentu saja untuk Indonesia.

Ketika itu, pada audisi yang dilaksanakan di Bandung, sosok Navajo sebenarnya tidak terlalu menonjol. Pembawaannya yang tenang dan pendiam, membuatnya terlihat biasa-biasa saja, di tengah lautan peserta yang dominan dan berapi-api.
Tapi seperti kata di film-film, “jagoan baru keluar belakangan”, hahaha… Sama seperti halnya Navajo. Akhirnya ia menjadi salah satu yang terpilih hingga ke tahap lima puluh besar, dan akhirnya masuk ke final. Selama tiga hari karantina dan penjurian, sosoknya menyeruak ke atas. Bukan karena paling banyak bicara. Bukan juga karena paling sering bertanya. Justru ia terlihat sederhana dalam diam, tapi ketika dia bicara, semua orang akan mendengarkan. Tidak sembarangan bicara, itu yang tepat menggambarkan sosoknya.

Navajo, saat karantina NLA 2013

Selain masalah pembawaan, sebenarnya apa sih yang menarik dari mahasiswa semester tiga ini? Yuk simak profil lengkapnya.

Navajo adalah mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran.  Ia tergabung dalam himpunan mahasiswa dan banyak organisasi lain baik di luar maupun di dalam kampus. Beberapa prestasi yang diraihnya selain menjadi mahasiswa terbaik, adalah juara di Padjajaran Model United Nations, juara Debate Competitions di International Affairs Week di Universitas Parahyangan, dan juga peraih medali emas di International Youth Green Summit, sebuah green contest bertaraf internasional,  yang diselenggarakan di Universitas Indonesia.
Jadiiiii tidak diragukan lagi, anak ini pasti hebat dan pintar luar biasa, ya J

Navajo sangat tertarik pada politik, isu global dan ilmu diplomasi. Tak heran, cita-citanya adalah menjadi seorang diplomat.
Sejak kecil, Navajo terlibat aktif dalam kegiatan sosial, mulai dari lingkup perumahan seperti kerja bakti di lingkungan rumah dan sekolah bersama kedua orangtuanya, sampai mengkoordinir bantuan sosial ke panti asuhan, dan mengumpulkan buku bekas dan menyalurkannya ke pihak yang membutuhkan.
Ia juga terlibat dalam aksi sosial di berbagai tempat. Beberapa contoh kegiatannya adalah Cinta Oma (bakti sosial panti jompo), Buka Bersama dengan Pengungsi Timor, khitanan massal, adik & kakak asuh, donor darah dan lain-lain.
Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri mengajar di panti asuhan. Saat ini, ia sedang mengkoordinir program bantuan edukasi dan eco-learning untuk anak-anak panti asuhan di sekitar Jatinangor.
Program terakhirnya bernama CERIA (Creativity of the Young Achievers), yang mengambil tema "young, green and active". Program ini berbentuk pelatihan dan workshop, diperuntukkan bagi anak-anak panti asuhan, dengan tujuan untuk memberi pengetahuan dan cara bagaimana menjaga lingkungan dengan cara menciptakan kerajinan (kreatifitas) dari sampah plastik dan botol.

Navajo dan anak2 panti 


Sebagai anak muda, Navajo memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Baginya, sosial adalah aspek kehidupan yang sifatnya luas dan bukan hanya berkaitan antar manusia, tapi juga manusia dengan lingkungan. Kita hidup di bumi, karenanya kita wajib menjaga bumi.
Dalam sebuah kompetisi di awal tahun ini, Navajo berhasil menjadi juara di kategori pollution and waste, dengan project yang diberi nama PFUZE. PFUZE adalah sebuah tas, yang bagian dalamnya terbuat  dari sampah plastik yang sudah didaur ulang. Untuk melapisi bagian dalam tas, dibutuhkan setidaknya dua puluh kantong plastik bekas yang disatukan (fused) dengan cara disetrika (dilapisi kertas kalkir supaya tidak lengket), lalu dijahit ke kain luarannya. 
Navajo memiliki mimpi untuk membesarkan usaha ini. Selain bisa mengurangi sampah plastik, PFUZE bisa memberdayakan masyarakat sekitar, dan tentu saja keuntungannya bisa untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.  
Teman-teman yang tertarik membeli atau bahkan terlibat dalam proyek ini, coba deh kontak Navajo.


logo PFUZE : the smart way to reuse

penampakan PFUZE bag bagian dalam

PFUZE Bag, tetap cantik kan?

Dan ternyata, di segudang kesibukannya, ia hanya seorang anak muda biasa, yang masih membutuhkan waktu gaul dengan hang out bersama keluarga atau teman-temannya. Masih berharap punya me-time dengan menulis di blognya. Suka olah raga, cinta alam dan seni peran, penggemar berat The Killers dan Coldplay.  Masih manusia biasa kan?:p

Gimana, sudah merasa kagum, belum?
Jika hanya membaca profilnya saja sudah kagum, saya jamin, kalian akan bertambah kagum kalau bertemu langsung dan ngobrol dengannya. Awalnya saya kira ia selayaknya anak dewa, yang “wow” banget, hampir-hampir tidak menapak saking hebatnya.
Tapiiii ternyata saya salah. Navajo sangat sederhana dan rendah hati. Sosok pribadi yang menyenangkan, modest dan down to earth. Dari caranya bercerita, saya bisa melihat ketulusan dan kebaikan hatinya. Kecintaannya pada negeri, membuat saya malu. Dia yang baru berusia dua puluh tahun, sudah bisa memberikan sebanyak ini untuk Indonesia. Saya waktu seumur dia, rasanya hanya bisa main-main dan kuliah. Dan sampai seumur ini pun (umur berapa ya sayaaa, hehehe:p), masih belum bisa berbuat apa-apa juga untuk negara ini.

Sebagai seorang HR Manager, saya berjumpa dengan puluhan orang baru setiap minggunya. Menyeleksi dan memilih calon karyawan, adalah makanan sehari-hari. Dan tanpa ragu, saya mengatakan, orang-orang seperti Navajo lah yang sangat ingin saya recruit sebagai karyawan. Pintar tapi rendah hati. Hebat tapi masih membumi. Rasa peduli yang tidak semua orang punya, ketulusan yang semakin langka di jaman ini, dan kerendahan hati. Kombinasi komplit seperti es campur dengan cincau hitam, tape, kelapa dan pacar cina. Es serut dengan sirup manis di atasnya (ini kok jadi ngomongin makanan sih? Fokus, fokus!:p)

Ketika akhirnya dinobatkan menjadi first winner of Nutrifood Leadership Award 2013, dengan raut muka tidak percaya, ia pun menitikkan air mata. Berkali-kali mengatakan pada saya kalau ia bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dibanding finalis yang lain yang juga punya segudang prestasi.  

8 besar - Nutrifood Leadership Award 2013

Navajo, saat diumumkan sebagai juara. Tidak menyangka, sampai menitikkan air mata dan tidak sanggup berkata-kata

The Winners of NLA 2013
"Tidak menyangka, karena saya merasa bukan siapa-siapa." katanya.

Mungkin karena itu kamu berbeda dari yang lain, Jo. Kamu adalah siapa-siapa yang merasa bukan siapa-siapa. Orang hebat yang merasa bukan apa-apa.

Dengan terpilihnya ia menjadi juara NLA 2013, beberapa media banyak meliput Navajo, baik media cetak maupun elektronik. Ia bahkan terpilih menjadi bintang tamu dalam tayangan Young On Top di Metro TV (simak liputannya di link barusan ya...)

Sungguh, Indonesia butuh kamu, Jo.
Terlalu banyak orang yang mengaku mencintai negeri ini, tapi tega melukainya. Mereka yang pernah bersumpah akan menjadi pelayan negara, akhirnya harus berakhir di penjara.
Indonesia tak pernah kehabisan orang pandai. Tapi orang pandai yang tau bagaimana menggunakan kepandaiannya untuk sungguh-sungguh membangun negeri, mungkin hanya beberapa. Sebagian lebih tertarik berkarya di luar negeri, sisanya hanya berusaha menyelamatkan kepentingannya sendiri.

Semoga tetap bisa menjadi inspirasi ya, Jo. Tidak lengah oleh materi dan popularitas. Tetaplah menjadi diri sendiri, Navajo yang apa adanya.

Semoga bisa menjadi diplomat kebanggaan Indonesia :)



Tuesday, September 24, 2013

Book Review : Labirin Rasa




#LabirinRasa karya Eka Situmorang-Sir (Penerbit : Wahyu Media, 2013, 394 pages)

Menyimak kelincahannya berkata, Kayla seperti alter ego Eka. Love the spontaneous of Eka & Kayla!
(Intermezzo: Jadi ingat @ceritaeka pernah membahas soal kissing di twitter *ngakak*
Hush hush, yuk mulai review novel, jangan ngelantur!)

-------------------------------------------------------------------

Kayla adalah seorang mahasiswi dua-puluh-satu tahun, dengan masa kuliah yang tak jelas kapan selesai. Gadis berani cenderung nekad, mengingat ia rela mengejar cintanya hingga ke lain kota. Anak gunung yang easy going, dengan energi yang seolah tak ada habisnya (tapi ternyata ga bisa berenang yaaa..hehehe..)
Somehow, di balik ketegarannya, saya melihat si Kayla ini rapuh. Seperti ada “kekosongan” di jiwanya. Sayangnya, tak semua orang bisa menyelami ini, even her parents.  
Coba simak obrolan akrabnya dengan Yangti, atau luapan kangennya pada Yangkung, sangat menyentuh.
Kayla tak pernah takut jatuh, tergores atau luka, tapi bisa sedih hanya dengan mengingat Yangkungnya.
Si penakluk laut dan gunung, tapi bisa terharu saat Patar memberikannya bungaJ

Saya suka cara Eka menggambarkan Kayla, physically.
Tokoh utama novel biasanya cantik secara fisik. Sedangkan Kayla tidak tinggi, agak (maaf) gemuk, jerawatan, rambutnya berminyak pula! Jauh dari kesan ‘cantik’.
Di sepertiga akhir novel, Kayla berubah menjadi cantik secara fisik (langsing, cantik, modis). Mengingatkan saya akan chick-lit Jemima Jones (by Jane Green, tentang Jemima yang gemuk dan tidak cantik, but finally rejuvenate menjadi cantik dan langsing).
Tidak salah, tapi saya sempat kecewa, karena definisi ‘cantik’ Kayla akhirnya menjadi sama seperti wanita pada umumnya.
Untungnya kecewa saya terobati dengan ungkapan indah ini : menjadi cantik itu bukan supaya dilihat orang, tapi sebagai upaya untuk menyenangkan diri sendiri. Benar banget J

Another city, another story. Alur cerita yang cepat, menyeret saya untuk ikut berlari. Pindah dari satu kota ke kota lain. Lompat dari satu hati ke hati yang lain, menyusuri labirin panjang yang tak tentu arahnya. Amazingly, I enjoyed it! Kadang terasa sayang, karena emosi di satu cerita belum terlalu dalam, tapi sudah harus pindah lagi.
Misalnya tentang Dani yang tertarik pada Kayla. Juga kisah Cynthia (yang ternyata lebih suka sejenis). Banyak emosi belum ‘terdeteksi’ tapi sudah harus move on.
Ide cerita yang orisinil dan kaya muatan, mungkin bisa dieksplor lebih.

On the other side, I love details in the places! Taman Sari digambarkan dengan detail dan indah. Saya sampai memejamkan mata, berharap bisa langsung ada di sana:p
Rasanya seperti ikutan travelling ke Jogja, Lombok, Medan. Kalau waktu itu Eka sudah ke Derawan, pasti ada juga tuh cerita Kayla jalan2 ke sana, hahaha… bikin sirik aja. Saya bahkan sampai googling tentang Istana Maimun karena penasaran.
Perlu banget novel2 perjalanan seperti ini, sekalian membuktikan betapa cantik dan kayanya Indonesia kita.

Kelebihan lain novel ini adalah di dialog antar tokoh. Conversation Kayla dan Patar, chemistrynya dapat banget. Hidup, dalam, ekspresif. Patar yang datar, terpancing jadi ‘berani bicara’ saat bersama Kayla, terbawa derasnya arus ‘nyeleneh’ Kayla.
Sebagian novel menceritakan perasaan Kayla yang begitu dalam ke Ruben (digambarkan bak pangeran sempurna dan punya segalanya kecuali kesetiaan). Tapi sewaktu membaca dialog awal Patar dan Kayla, feeling saya mengatakan, indeed, si Patar inilah Pangeran Fajar-nya Kayla, seperti yang tertulis di surat Yangkung. Btw surat Yangkung so touchy J



Rangkaian kata di tiap opening bab indah, terutama yang Eka tulis sendiri. Yang paling saya suka adalah ini :



Kata2 sederhana, tapi super dalam maknanya. Betapa yang terpenting adalah menjadi nyaman dengan dirimu sendiri… seperti apapun itu. True J  Kamu ga harus berubah jadi cantik buat mencintai dirimu sendiriJ

Hal yang cukup mengganggu adalah typo dan salah tanda baca, dan tidak konsisten antara pengucapan “aku” dan “gue” sebagai kata ganti pertama.

In general, this novel is recommended J

Shortly, #LabirinRasa :
Masing2 kota punya kisahnya sendiri. Tentang hati yang tertambat, atau rasa yang tak kunjung usai?

smartfren.com
smartfren

Thursday, July 25, 2013

Damainya Ramadhan



Untuk teman2 baik hati yang menagih cerita ini ditulis di blog, silakan:)
Terima kasih rekan2 Kampung Fiksi yang udah membuat cerita ini begitu berarti!
Selamat Berpuasa semuanya :)

Damainya Ramadhan


            “Bu, nanti malam saya boleh taraweh?” tanya Ipah, salah satu pengasuh anakku.
            “Jam piro, Pah?”
            “Jam tujuh, Bu.”
            Aku mengutak-atik smartphoneku. Mengintip jadwal padatku seharian ini. Hmmm, ada meeting finalisasi policy jam tiga nanti. Ga mungkin aku ga hadir, secara sangat terkait dengan pekerjaanku. Sepertinya akan sulit pulang tenggo. Di jadwal memang hanya dua jam, tapi pelaksanaannya bisa molor sampai empat jam.
         “Saya ada meeting sore, Pah. Tapi nanti saya lihat, ya. Kalau udah kelar meetingnya, saya langsung pulang, deh. Semoga kamu keburu taraweh.”
            Ipah mengucapkan terima kasih, lalu pamit keluar dari kamarku.
           Aku menghela napas. Di bulan Ramadhan ini, memang ada beberapa kebiasaan di rumah yang berubah. Misalnya, jam tiga pagi, sudah terdengar bunyi kelontang-kelonteng dari arah dapur. Mbak-Mbak di rumah sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Lalu yang kedua, sebelum puasa, Mbak-Mbak di rumahku ini biasa lanjut kerja setelah anak-anak tidur bersamaku dan ayahnya. Tapi di bulan puasa ini, setelah anak-anak tidur, mereka pun beristirahat. Baju kotor pun menumpuk, begitu juga dengan baju kering yang belum disetrika.
Biasanya, ketika aku bangun di setiap jam lima pagi, aku selalu melihat Bu Yun, yang bertugas bersih-bersih rumah dan memasak, sedang menyapu lantai 1. Sementara Tikna mencuci baju anak-anak, dan Ipah menyetrika atau membereskan mainan anak-anak. Memasuki bulan puasa, aku hampir selalu menemukan rumah dalam keadaan gelap, ketika bangun pagi. Lampu depan belum dimatikan, sementara lampu dalam belum menyala, dan kaca-kaca jendela masih tertutup. Wah, ternyata Bu Yun, Tikna dan Ipah, tidur lagi setelah sahur. Dan baru terbangun sekitar jam lima tiga puluh.
Tak hanya itu. Selama puasa, mereka bertiga ganti-gantian sakit dan masuk angin. Belum lagi sesekali tertidur ketika bekerja, dan terlihat lemas sepanjang hari. Plus permintaan taraweh yang menyebabkan aku harus berusaha pulang lebih awal setiap hari selama sebulan ini.
Aku berusaha memaklumi. Namanya juga bulan puasa. Umat muslim harus menahan haus dan lapar seharian. Kebayang pasti susahnya minta ampun. Aku aja yang umat Kristiani dan hanya pantang setiap hari Jumat selama masa Prapaskah, merasakan susahnya menahan diri untuk melakukan hal-hal yang kita sukai namun bertekad untuk kita kurangi. Aku super salut dengan kawan-kawan muslim yang bisa menahan diri tidak makan, tidak minum, terlebih lagi menahan emosi untuk tidak marah dan merasa benci. Karenanya, aku mengerti kalau Mbak-Mbak di rumah agak berubah selama bulan puasa ini. Walaupun terus terang, aku agak terganggu dengan kinerja mereka yang menurun. Tapi selama semua masih bisa ditoleransi dan tidak keterlaluan, aku berusaha mengerti.
        Suatu sore, sebelum semuanya menjadi semakin riweh, aku memanggil Bu Yun, Tikna dan Ipah, lalu mengajak mereka bicara.
            “Bu Yun, Tikna dan Ipah, kalian kan punya tanggung jawab masing-masing. Bu Yun bersih-bersih rumah. Tikna dan Ipah jaga anak. Jadi terus terang, saya agak keberatan kalau sepanjang hari kalian kelihatan lemas dan jadi gampang sakit. Namanya jaga anak, harus selalu fit dan gerak cepat. Tau sendiri kan, Chris dan Laura lagi aktif-aktifnya, ga bisa diam,” kataku menyebut nama kedua anak batitaku, yang sedang senang-senangnya berjalan dan berlari.
            Aku mengamati ketiga orang di hadapanku. Ketiganya memperhatikan aku dengan raut muka datar yang tak tertebak.
            “Saya mengerti kalau kalian lagi puasa, pasti stamina menurun. Tapi saya minta tolong aja, kalau ga kuat atau sakit, jangan dipaksa puasa,” aku mewanti-wanti. “Daripada sakit berkepanjangan, nanti anak-anak ketularan, kasihan mereka.”
            Aku mengeluarkan botol kecil dari tasku.
            “Tadi saya beli vitamin, kalian makan ya. Selama bulan puasa ini, buat bantu jaga kesehatan.”
            Mereka mengangguk.
        “Kalau masalah taraweh, saya usahakan ga pulang malam sebulan ini, jadi keburu kalau kalian mau taraweh. Tapi kalau bisa, jangan barengan tarawehnya ya, gantian, jadi ada satu yang bantu saya ngeliatin anak-anak.”
            Tikna mengangguk, diikuti dengan Bu Yun. Ipah masih diam terpekur.
            “Pah? Kamu gimana, ga papa, kan?”
            “Gapapa, Bu,” jawab Ipah.
          Fiuh, aku menghela napas lega. Semoga dari saat ini sampai setelah Lebaran, keadaan kembali seperti semula.
* * *
         Aku menerima kertas menu yang diberikan pelayan. Menoleh ke Ipah yang sedang menggendong si bungsu.
       “Pah, saya mau makan dulu. Kamu mau tunggu di luar aja? Biar Laura sama saya,” kataku sambil mengulurkan tangan untuk menggendong anak bungsuku.
            “Ga usah toh, Bu.”
            “Saya bisa gantian makan sama Bapak, kok. Daripada kamu melihat saya makan.”
            Ipah menggeleng. “Gapapa, Bu. Ibu makan aja.”
            “Duh, saya ga tega makan di depan kamu, Pah. Kamu kan lagi puasa.”
           Ipah menggeleng. “Saya puasa dari SD, Bu, walau masih setengah hari. Sejak umur sembilan tahun, saya udah puasa penuh.”
            “Kamu mau nunggu di luar aja, Pah?” Aku menunjuk kursi rotan yang terletak di depan tempat makan itu.
            “Ga usah, Bu. Nanti Laura ga ada yang jaga, malah Ibu repot.”
            Aku mendelik. Di saat puasa, seharian menahan lapar, Ipah masih memikirkan aku. Ia tak keberatan aku makan di hadapannya. Malah ia menolak ketika aku minta tunggu di luar.
            Malamnya, aku memanggil Ipah dan mengajaknya bicara.
            “Pah, makasih, ya,” kataku.
            “Makasih apanya, Bu?”
            “Makasih kamu masih mau bantuin saya jaga anak-anak sebaik mungkin. Tau ga Pah, di kantor saya tuh, banyak banget Ibu-Ibu yang mengeluh. Sejak bulan puasa, Mbak-mbak di rumahnya pada berubah. Bukan cuma ngantuk dan lemas sepanjang siang, tapi juga kesal kalau ada orang yang makan di depannya.”
            “Hahaha, itu mah puasanya ga ridho, Bu. Orang puasa itu artinya menahan napsu makan, napsu marah, napsu ngomongin orang. Jadi kita yang harus menahan napsu, bukan orang lain yang nahan diri supaya ga bikin kita marah.”
            Aku mengangguk. “Yang begitu yang benar ya, Pah?”
           “Makanya aneh tuh berita-berita di TV, Bu. Moso orang puasa, terus orang lain ga boleh makan? Ga boleh jualan? Islam itu ga begitu, Bu. Agama Islam itu penuh toleransi sama agama lain,” Ipah menjelaskan.
            Aku tersenyum, percaya sepenuhnya kepadanya.
         “Hebat kamu, Pah. Salut saya. Udah puasa seharian, ga makan, ga minum, masih tetap semangat aja sampai malam begini.”
         “Makasih juga, Bu. Ibu ngijinin Ipah taraweh. Teman-teman Ipah ga ada yang sempat taraweh. Majikannya pulang malam terus. Ibu kan rela pulang cepat supaya Ipah dan Mbak Tikna keburu ke Mesjid.”
         Belum selesai aku mencerna kalimatnya, Ipah melanjutkan, “Apalagi Ibu sampai kasih vitamin ke Ipah. Selama Ipah kerja tahunan, belum ada majikan yang mikirin kesehatan Ipah sampai segitunya, Bu. Baru Ibu aja. Biasanya majikan mah yang penting beres, terserah mau makan apa, mau puasa atau enggak.” Ipah menjelaskan dengan penuh semangat.
            “Ibu ga usah kuatir. Habis Lebaran nanti, Ipah pasti balik jagain Laura lagi,” katanya ringan.
          Bagai disiram air dingin, asap di kepalaku langsung padam. Kalimat Ipah barusan, sudah mengusir rasa cemas dan kuatirku, mengingat susahnya mencari pengasuh yang cocok dengan anak-anakku. Sebagian toleransi, ditambah sedikit apresiasi, ternyata membuat bulan puasa ini jadi jauh lebih indah dan bermakna. Ramadhan kali ini benar-benar damai.

* * *














            

Thursday, July 04, 2013

The Anniversary Solo Trip


Ingin merayakan anniversary dengan berbeda, tanggal 3-6 Mei 2013 lalu, gue dan Alex mengajak nyokap gue, plus 3 kiddos dan 2 nanny ke SOLO.
Why Solo?  Dari dulu, Alex udah suka banget dengan Solo. Sering dinas ke sana, dia udah nge-fans sama Jokowi sebelum beken seperti sekarangJ
Jadi dengan barang2 segambreng dan mobil penuh, kita melaju ke Solo. Berikut cerita dan beberapa fotonya ya…

3 Mei 2013
Berangkat jam 4 pagi (artinya bangun jam 2.30 pagi, mandi, pakein pampie kiddos dan gantiin baju mereka.. eh, ini ga perlu disebut yah:p Yang pasti, anak2 diangkut dalam keadaan tidur)
Membawa se-tas besar biscuit, cemilan dan mainan, berharap kiddos enjoying the trip.
So the long trip begin….

Menjelang siang, karena perut udah keroncongan, kita lunch di resto Pringsewu Tegal. Pringsewu ini salah satu resto yang cukup unik cara pemasarannya. Dari beratus2 meter sebelumnya, udah dikasih plang di kiri jalan, “pringsewu berapa ratus meter lagi”, jadi mau ga mau lo hafal bakal ada resto Pringsewu sebentar lagi.
Makanannya so-so (banget), tapi gue suka how they train the employee. Sigap, cepat, tau banget apa yang dijual. Bahkan ketika mereka kasih bill, udah langsung bawain uang kembalian dong J

Next nya, kita mampir di Nissin Café di Ungaran. Love this place!
Selain ada pabrik Nissin yang tertutup untuk umum, Nissin punya café dan toko biscuit yang open fpr public. Lucunya, banyak produk yang ga dijual di Jakarta (atau dijual tapi gue ga tau ya:p Terhina banget gue klo sampe ga tau, secara dunia gue dipenuhi makanan dan cemilan, hehe…)
Jadi ngeborong deh biskuit2 di sana…

Lanjut perjalanan ke Semarang.
Cita2 Alex mampir di Koh Liem kesampean. Sebenarnya jam 5 udah tutup, tapi karena gue telpon dan bilang kalau kita dari Jakarta ngebut supaya keburu makan di sana, Mbak2nya kayanya kasian, trus bilang kalau bakal ditungguin. So, Asem2, we’re comingJ
Selain Asem2 (daging sapi dengan kuah hangat yang asam), bakut nya luar biasa enak! Nyammm… Lebih enak dari bakut Mumu yang di Gading J
Tapi karena udah kesorean, I missed the happening lekker Paimo di depan Loyola L

Tiba di Solo, kita langsung check in karena udah cukup malam, sekitar jam 9-10 gitu. Gue stay di Fave Hotel di Solo Baru. Hotelnya masih baru, jadi masih bersih J
Kamarnya kecil, tapi apik. Yang jadi ganjelan cuma satu aja sih, kamar mandinya pake kaca bening bow… untung ada tirainya:p

4 Mei 2013
Pagi dibuka dengan sarapan di Soto Gading di Jl. Brigjen Sudiarto. Pas baru masuk aja, udah kecium harum kuahnya. Walaupun masih pagi, ternyata rame banget di sana. Baru tau kebiasaan orang-orang Solo (dan mungkin di beberapa kota lainnya juga), punya kebiasaan untuk sarapan bersama pagi2 sama keluarga atau teman2, baru setelah itu kerja atau aktifitas lain.
Dan sotonya, ehmmm… yummy! Soto ayam bening dengan bihun, daun bawang dan pangsit-pangsit kecil. Dipakein sambel dan sedikit kecap dan kerupuk rambak, sempurna!
Ga cukup hanya itu, beberapa piring goreng2an tersedia di atas meja, dari mulai pastel, tempe, tahu, sampai sosis solo yang beken itu. Coba deh cemplungin sosis solo ke kuahnya trus makan pelan2. Nyam!
Yang ga kalah istimewa adalah es teh manisnya. Kabarnya sih racikan, pantas ada semacam wangi rempah J

soto gading
sosis soslo




Kenyang mengisi perut, kita jalan ke Kampung Batik Laweyan.
Kawasan batik rumahan yang seru!
Kita jalan kaki dari rumah ke rumah, semuanya jual batik yang beda2. Yang terbesar di sana adalah Batik Putra Laweyan.

Dari sana, kita jalan lagi ke Fashion Village di Sukoharjo. Konon, Fashion Village di daerah ini adalah yang terlengkap, karena langsung dari pabriknya. Justru ga banyak batik dijual di sini, tapi banyak celana army look yang lucu2. Bahan yang digunakan kabarnya sama dengan yang digunakan oleh TNI.
Setelah ngeborong baju anak2 dan oleh2, now its time to lunch J

Melipir ke Ahmad Yani di Pabelan, Alex mengajak kita lunch di Gunung Sari.
Tempatnya ga besar, malah terkesan sangat kecil. Tapi makanannya dongggg… ajaib!
Itu ikan gurame goreng, udah bukan kaya ikan lagi, tapi kaya kerupuk saking garingnyaJ
Dugaan gue, digoreng dengan minyak panas dan api kecil, jadi bisa kering sampai ke daging2 dalamnya. Tapi ternyata pake kayu bakar dongggg, nyaaammm!
Ga nyangka dari cerita2 suami gue yang sering mampir ke sini kalau ke Solo, akhirnya kesampean juga bisa nyobain!
Klo enaknya kaya gini, gapapa deh dosa sekali2 makan gorengan, wkwkwk… (sekali2 apanya, maksud lo?)

gurame goreng


Balik ke hotel dan istirahat, menjelang malam kita keluar lagi dan memutuskan untuk makan Chinese food. Pingin deh nyobain Chinese food yang famous di Solo.
Berdasarkan review, akhirnya kita coba Centrum, yang terkenal dengan ngohyong ibab nya (yang ternyata gue ga terlalu doyan sih:p). Centrum ini tipikal resto Chinese food lama, yang munkin makanannya enak, ya. Tapi yang kita pesan ga begitu sip, secara kita pesan puyonghai tapi yang keluar kok malah telur dadar, wkwkwk…

Mengobati kekecewaan makan malam, kita melaju ke Nini Thowong, tempat makan es beken di Solo. Segala macam es ada, dan namanya pun lucu2. Dari mulai es nangka, es teler, es campur, sampai es mega mendung. Basically padu-padan buah dan es serut dengan sirop dan toping yang macam2 aja sih, tapi rasanya tetap enak, dan pastinya segerJ

5 Mei 2013
Our anniversary J
Hari bersejarah (ceileh..) dibuka dengan sarapan (ya iyalah, lo pikir?) Timlo Bu Sastro di depan Pasar Gede. Walopun lokasinya di depan pasar, dan di seberangnya ada timbunan sampah, ramai kali timlo ini.
Khas timlo pada umumnya, kuah di Bu Sastro ini gurih bangeetttt… Sampe2 gue nambah kuah J Enak dimakan panas2 dengan asap ngepul, sama nasi anget, lengkap deh hari lo!
Diiringi live music pulaJ


timlo maknyus :)


Dari situ, kita ke Keraton Surakarta.
Gue selalu suka gedung2 bersejarah. Seperti gue nge-fans dengan kisah2 wayang yang bukunya udah kuning2 punya nyokap gue, gue bisa kegirangan kaya anak kecil kalau ngunjungin tempat-tempat kaya gini. Terlepas dari mistisnya, gue merasa tempat2 ini menyimpan cerita yang luar biasa. Kaya waktu ke Ulen Sentalu di Jogja. Please please please Bapak2 pemerintah, perhatikanlah gedung2 bersejarah kaya gini! Bule aja bisa menghargai kebudayaan kita dengan berkunjung dan mengagumi, masa kita yang empunya bangsa ini enggak?
Gue ga bisa menggambarkan excitement di keraton J Yang pasti, senang dan super kagum dengan benda2 di dalamnya.
Ada banyak cerita dan bagian yang mistis… Misalnya dengan berdoa di depan patung A, dipercaya akan banyak rejeki. Atau dengan foto di depan kursi B, dipercaya keluarga akan harmonis. Ada juga benda2 yang even untuk difoto aja ga boleh, apalagi disentuh.
Basically, gue percaya mistis itu ada. Percaya juga dengan dimensi lain di luar manusia. Dan gue percaya Tuhan adalah Pelindung dan Pemelihara gue dan keluarga gue, saat ini dan sampai nanti.
That’s why waktu Bapak Guide nya bilang banyak mistis di sini, sebelum masuk, gue mendoakan satu2 anak gue.
Bapak Guide itu bilang, kalau anak2 itu sangat sensitive, jauh lebih sensi daripada kita yang udah tua2 ini. Mereka lebih bisa merasa, mungkin bisa melihat. Anyway, kita disarankan untuk ga jauh2 dari si Bapak. Ya iyalah Pak, jalan jauh2 bisa kesasar, secara itu keraton gede banget J

Sepulangnya dari sana, kita sempet memutari kompleks keraton sekali lagi (by car). Gede banget ya ternyata keraton itu, lebih besar dari Keraton Jogja (am I right?)
Pulang dari sana, setelah ke Nini Thowong lagiiii (makan es lagi:p), kita ke Batik Kauman. Kompleks batik yang mirip dengan Laweyan, hanya beda tipe aja. Belanja lagiiii :p

Kelar belanja, time to lunch! (kayanya sebagian isi review ini makan semua ya:p)
Kita makan di Soto Kirana di Moh Yamin, the other famous soto in Solo.
Soto daging yang wangiiii, bumbunya kuat banget! Bahkan lo makan tanpa sambel pun, dah kerasa nikmatnya (lap bibir, apus iler:p)
Menjadi lebih sedap karena ditambah sate daging dan kerupuk putih (kerupuk karaknya abis!). Sate dagingnya itu daging tipis2 yang dibumbuin pedas, tapi asli enak!
Udah makan segambreng, pas bayar Cuma 80ribu dong… (aaaaakkk! Coba dari Jakarta ke solo tinggal nyebrang, pasti tiap hari gue mampir sana:p)

soto kirana :)


Balik ke hotel dan istirahat…
Keluar lagi untuk makan malam, setelah mampir ke Orion untuk beli Mandarijn, the ultimate of Solo.

Karena binun mau makan dimana, akhirnya masuk ke Solo Paragon, katanya mall paling besar di Solo. Puter2 binun setelah melihat Solaria (ahhh Solaria mah di Pulogadung juga ada) dan lain2, akhirnya memutuskan makan di food court. Soto dan ayam gorengnya, asli kalah dibanding soto2 jalanan yang kemarin2! Makan di mall malah paling kecewa L

Anyway, happy anniversary, Honey! *kiss
Dulu tanggal ini, enam tahun lalu, kita habis resepsi, ya… Hari ini, enam tahun kemudian, kita ada di kamar hotel  juga, dengan tiga anak mengerumuni J What a wonderful journey we have J

our first dance as husband & wife :)


6 Mei 2013
Perjalanan panjang harus diawali dengan makan dong! (alasan:p)
Makan pagi di Cak Nan, soto Madura di samping bekas bioskop Atrium di Solo Baru. Ada pilihan soto daging dan ayam. Ini juga enak dan gurih. Gue ga ngerti cara menjelaskan makanan dengan detail, apa bedanya dibanding soto2 lainnya. Tapi menurut gue, semua soto di Solo ini enak J
Dan lagi2, amazed sama harganya yang murah pisan euy!

soto cak nan :)


Setelah puas makan, kita memutuskan langsung balik Jakarta aja, secara jalannya bakal jauh banget. Muter2 dan sempat salah jalan, eh…ada plang seperti ini di jalan: GUA MARIA PERENG, GETASAN, 9 KM.
Huwaaaaa… Langsung memutuskan untuk cari.
Secara gue pingiiinnn banget ke Gua Maria pas jalan2 ini, yang kebetulan juga bulan Maria J
Dan setelah mencari2, ketemu, yeayyy!
Gue Maria ini baru dibangun bulan November 2012 lalu, jadi masih bersih dan asri banget.

us on Gua Maria Pereng


Gue selalu suka dengan lukisan dan seni “perjamuan terakhir”, dan di sini ukirannya agak beda. 
Could you find the difference?



Ga kerasa, hampir dua jam di sana, kita udah harus pulang. Melewati Semarang dan Ungaran lagi, menepi lagi di Nissin Café. Bela-beli biscuit lagi, dan decided to have lunch there, since bisa jadi baru sore bakal ketemu resto lagi.
Yah makanannya so-so, secara core business nya bukan café tapi biscuit J its so acceptable.

Jam tujuh malam, baru tiba di Tegal, dan kita  memutuskan untuk cari makan (lagi:p).
Googling lagi, nemu Chinese food Semeru di Tegal, sepertinya beken juga sih. Dan akhirnya ketemu!
Mirip2 kwetiauw2 di Jakarta gitu.

After that, menempuh perjalanan sangat panjaaaangggg ke Jakarta. Tiba di rumah jam tiga pagi, dan harus ke kantor jam tujuh pagi, so pasti zombie mode, wkwkwk…

Ah yaaa… ada satu hal penting yang gue lupa tulis.
Ada satu jalan tol (menuju dan dari Semarang), yang asli butut, jelek, gelap dan membahayakan. Di setiap berapa meter, ada pecahan atau patahan jalan. Gelapnya ga kira2, ga ada lampu. Well sepanjang gue pergi kemana2, seingat gue, ini jalan tol paling parah.
Dan setelah gue tau pengembangnya, yahhh ga heran juga sih… secara lebih memilih sibuk kampanye presiden daripada bersihin lumpur lapindo…. Ah #nomention aja yaJ
Cuma berharap semua orang yang melewatinya berhati2 dan selamat sampai di jalan.

Anyway…
The Solo Trip was awesome. Love the city (sayang ga sempet naik delman), love the food (enak2 semuaaaa), love the air, and love the driver of course, wkwkwk!

Happy Anniversary, Honey, thankyou for the lovely trip :******