Thursday, July 25, 2013

Damainya Ramadhan



Untuk teman2 baik hati yang menagih cerita ini ditulis di blog, silakan:)
Terima kasih rekan2 Kampung Fiksi yang udah membuat cerita ini begitu berarti!
Selamat Berpuasa semuanya :)

Damainya Ramadhan


            “Bu, nanti malam saya boleh taraweh?” tanya Ipah, salah satu pengasuh anakku.
            “Jam piro, Pah?”
            “Jam tujuh, Bu.”
            Aku mengutak-atik smartphoneku. Mengintip jadwal padatku seharian ini. Hmmm, ada meeting finalisasi policy jam tiga nanti. Ga mungkin aku ga hadir, secara sangat terkait dengan pekerjaanku. Sepertinya akan sulit pulang tenggo. Di jadwal memang hanya dua jam, tapi pelaksanaannya bisa molor sampai empat jam.
         “Saya ada meeting sore, Pah. Tapi nanti saya lihat, ya. Kalau udah kelar meetingnya, saya langsung pulang, deh. Semoga kamu keburu taraweh.”
            Ipah mengucapkan terima kasih, lalu pamit keluar dari kamarku.
           Aku menghela napas. Di bulan Ramadhan ini, memang ada beberapa kebiasaan di rumah yang berubah. Misalnya, jam tiga pagi, sudah terdengar bunyi kelontang-kelonteng dari arah dapur. Mbak-Mbak di rumah sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Lalu yang kedua, sebelum puasa, Mbak-Mbak di rumahku ini biasa lanjut kerja setelah anak-anak tidur bersamaku dan ayahnya. Tapi di bulan puasa ini, setelah anak-anak tidur, mereka pun beristirahat. Baju kotor pun menumpuk, begitu juga dengan baju kering yang belum disetrika.
Biasanya, ketika aku bangun di setiap jam lima pagi, aku selalu melihat Bu Yun, yang bertugas bersih-bersih rumah dan memasak, sedang menyapu lantai 1. Sementara Tikna mencuci baju anak-anak, dan Ipah menyetrika atau membereskan mainan anak-anak. Memasuki bulan puasa, aku hampir selalu menemukan rumah dalam keadaan gelap, ketika bangun pagi. Lampu depan belum dimatikan, sementara lampu dalam belum menyala, dan kaca-kaca jendela masih tertutup. Wah, ternyata Bu Yun, Tikna dan Ipah, tidur lagi setelah sahur. Dan baru terbangun sekitar jam lima tiga puluh.
Tak hanya itu. Selama puasa, mereka bertiga ganti-gantian sakit dan masuk angin. Belum lagi sesekali tertidur ketika bekerja, dan terlihat lemas sepanjang hari. Plus permintaan taraweh yang menyebabkan aku harus berusaha pulang lebih awal setiap hari selama sebulan ini.
Aku berusaha memaklumi. Namanya juga bulan puasa. Umat muslim harus menahan haus dan lapar seharian. Kebayang pasti susahnya minta ampun. Aku aja yang umat Kristiani dan hanya pantang setiap hari Jumat selama masa Prapaskah, merasakan susahnya menahan diri untuk melakukan hal-hal yang kita sukai namun bertekad untuk kita kurangi. Aku super salut dengan kawan-kawan muslim yang bisa menahan diri tidak makan, tidak minum, terlebih lagi menahan emosi untuk tidak marah dan merasa benci. Karenanya, aku mengerti kalau Mbak-Mbak di rumah agak berubah selama bulan puasa ini. Walaupun terus terang, aku agak terganggu dengan kinerja mereka yang menurun. Tapi selama semua masih bisa ditoleransi dan tidak keterlaluan, aku berusaha mengerti.
        Suatu sore, sebelum semuanya menjadi semakin riweh, aku memanggil Bu Yun, Tikna dan Ipah, lalu mengajak mereka bicara.
            “Bu Yun, Tikna dan Ipah, kalian kan punya tanggung jawab masing-masing. Bu Yun bersih-bersih rumah. Tikna dan Ipah jaga anak. Jadi terus terang, saya agak keberatan kalau sepanjang hari kalian kelihatan lemas dan jadi gampang sakit. Namanya jaga anak, harus selalu fit dan gerak cepat. Tau sendiri kan, Chris dan Laura lagi aktif-aktifnya, ga bisa diam,” kataku menyebut nama kedua anak batitaku, yang sedang senang-senangnya berjalan dan berlari.
            Aku mengamati ketiga orang di hadapanku. Ketiganya memperhatikan aku dengan raut muka datar yang tak tertebak.
            “Saya mengerti kalau kalian lagi puasa, pasti stamina menurun. Tapi saya minta tolong aja, kalau ga kuat atau sakit, jangan dipaksa puasa,” aku mewanti-wanti. “Daripada sakit berkepanjangan, nanti anak-anak ketularan, kasihan mereka.”
            Aku mengeluarkan botol kecil dari tasku.
            “Tadi saya beli vitamin, kalian makan ya. Selama bulan puasa ini, buat bantu jaga kesehatan.”
            Mereka mengangguk.
        “Kalau masalah taraweh, saya usahakan ga pulang malam sebulan ini, jadi keburu kalau kalian mau taraweh. Tapi kalau bisa, jangan barengan tarawehnya ya, gantian, jadi ada satu yang bantu saya ngeliatin anak-anak.”
            Tikna mengangguk, diikuti dengan Bu Yun. Ipah masih diam terpekur.
            “Pah? Kamu gimana, ga papa, kan?”
            “Gapapa, Bu,” jawab Ipah.
          Fiuh, aku menghela napas lega. Semoga dari saat ini sampai setelah Lebaran, keadaan kembali seperti semula.
* * *
         Aku menerima kertas menu yang diberikan pelayan. Menoleh ke Ipah yang sedang menggendong si bungsu.
       “Pah, saya mau makan dulu. Kamu mau tunggu di luar aja? Biar Laura sama saya,” kataku sambil mengulurkan tangan untuk menggendong anak bungsuku.
            “Ga usah toh, Bu.”
            “Saya bisa gantian makan sama Bapak, kok. Daripada kamu melihat saya makan.”
            Ipah menggeleng. “Gapapa, Bu. Ibu makan aja.”
            “Duh, saya ga tega makan di depan kamu, Pah. Kamu kan lagi puasa.”
           Ipah menggeleng. “Saya puasa dari SD, Bu, walau masih setengah hari. Sejak umur sembilan tahun, saya udah puasa penuh.”
            “Kamu mau nunggu di luar aja, Pah?” Aku menunjuk kursi rotan yang terletak di depan tempat makan itu.
            “Ga usah, Bu. Nanti Laura ga ada yang jaga, malah Ibu repot.”
            Aku mendelik. Di saat puasa, seharian menahan lapar, Ipah masih memikirkan aku. Ia tak keberatan aku makan di hadapannya. Malah ia menolak ketika aku minta tunggu di luar.
            Malamnya, aku memanggil Ipah dan mengajaknya bicara.
            “Pah, makasih, ya,” kataku.
            “Makasih apanya, Bu?”
            “Makasih kamu masih mau bantuin saya jaga anak-anak sebaik mungkin. Tau ga Pah, di kantor saya tuh, banyak banget Ibu-Ibu yang mengeluh. Sejak bulan puasa, Mbak-mbak di rumahnya pada berubah. Bukan cuma ngantuk dan lemas sepanjang siang, tapi juga kesal kalau ada orang yang makan di depannya.”
            “Hahaha, itu mah puasanya ga ridho, Bu. Orang puasa itu artinya menahan napsu makan, napsu marah, napsu ngomongin orang. Jadi kita yang harus menahan napsu, bukan orang lain yang nahan diri supaya ga bikin kita marah.”
            Aku mengangguk. “Yang begitu yang benar ya, Pah?”
           “Makanya aneh tuh berita-berita di TV, Bu. Moso orang puasa, terus orang lain ga boleh makan? Ga boleh jualan? Islam itu ga begitu, Bu. Agama Islam itu penuh toleransi sama agama lain,” Ipah menjelaskan.
            Aku tersenyum, percaya sepenuhnya kepadanya.
         “Hebat kamu, Pah. Salut saya. Udah puasa seharian, ga makan, ga minum, masih tetap semangat aja sampai malam begini.”
         “Makasih juga, Bu. Ibu ngijinin Ipah taraweh. Teman-teman Ipah ga ada yang sempat taraweh. Majikannya pulang malam terus. Ibu kan rela pulang cepat supaya Ipah dan Mbak Tikna keburu ke Mesjid.”
         Belum selesai aku mencerna kalimatnya, Ipah melanjutkan, “Apalagi Ibu sampai kasih vitamin ke Ipah. Selama Ipah kerja tahunan, belum ada majikan yang mikirin kesehatan Ipah sampai segitunya, Bu. Baru Ibu aja. Biasanya majikan mah yang penting beres, terserah mau makan apa, mau puasa atau enggak.” Ipah menjelaskan dengan penuh semangat.
            “Ibu ga usah kuatir. Habis Lebaran nanti, Ipah pasti balik jagain Laura lagi,” katanya ringan.
          Bagai disiram air dingin, asap di kepalaku langsung padam. Kalimat Ipah barusan, sudah mengusir rasa cemas dan kuatirku, mengingat susahnya mencari pengasuh yang cocok dengan anak-anakku. Sebagian toleransi, ditambah sedikit apresiasi, ternyata membuat bulan puasa ini jadi jauh lebih indah dan bermakna. Ramadhan kali ini benar-benar damai.

* * *














            

Thursday, July 04, 2013

The Anniversary Solo Trip


Ingin merayakan anniversary dengan berbeda, tanggal 3-6 Mei 2013 lalu, gue dan Alex mengajak nyokap gue, plus 3 kiddos dan 2 nanny ke SOLO.
Why Solo?  Dari dulu, Alex udah suka banget dengan Solo. Sering dinas ke sana, dia udah nge-fans sama Jokowi sebelum beken seperti sekarangJ
Jadi dengan barang2 segambreng dan mobil penuh, kita melaju ke Solo. Berikut cerita dan beberapa fotonya ya…

3 Mei 2013
Berangkat jam 4 pagi (artinya bangun jam 2.30 pagi, mandi, pakein pampie kiddos dan gantiin baju mereka.. eh, ini ga perlu disebut yah:p Yang pasti, anak2 diangkut dalam keadaan tidur)
Membawa se-tas besar biscuit, cemilan dan mainan, berharap kiddos enjoying the trip.
So the long trip begin….

Menjelang siang, karena perut udah keroncongan, kita lunch di resto Pringsewu Tegal. Pringsewu ini salah satu resto yang cukup unik cara pemasarannya. Dari beratus2 meter sebelumnya, udah dikasih plang di kiri jalan, “pringsewu berapa ratus meter lagi”, jadi mau ga mau lo hafal bakal ada resto Pringsewu sebentar lagi.
Makanannya so-so (banget), tapi gue suka how they train the employee. Sigap, cepat, tau banget apa yang dijual. Bahkan ketika mereka kasih bill, udah langsung bawain uang kembalian dong J

Next nya, kita mampir di Nissin Café di Ungaran. Love this place!
Selain ada pabrik Nissin yang tertutup untuk umum, Nissin punya café dan toko biscuit yang open fpr public. Lucunya, banyak produk yang ga dijual di Jakarta (atau dijual tapi gue ga tau ya:p Terhina banget gue klo sampe ga tau, secara dunia gue dipenuhi makanan dan cemilan, hehe…)
Jadi ngeborong deh biskuit2 di sana…

Lanjut perjalanan ke Semarang.
Cita2 Alex mampir di Koh Liem kesampean. Sebenarnya jam 5 udah tutup, tapi karena gue telpon dan bilang kalau kita dari Jakarta ngebut supaya keburu makan di sana, Mbak2nya kayanya kasian, trus bilang kalau bakal ditungguin. So, Asem2, we’re comingJ
Selain Asem2 (daging sapi dengan kuah hangat yang asam), bakut nya luar biasa enak! Nyammm… Lebih enak dari bakut Mumu yang di Gading J
Tapi karena udah kesorean, I missed the happening lekker Paimo di depan Loyola L

Tiba di Solo, kita langsung check in karena udah cukup malam, sekitar jam 9-10 gitu. Gue stay di Fave Hotel di Solo Baru. Hotelnya masih baru, jadi masih bersih J
Kamarnya kecil, tapi apik. Yang jadi ganjelan cuma satu aja sih, kamar mandinya pake kaca bening bow… untung ada tirainya:p

4 Mei 2013
Pagi dibuka dengan sarapan di Soto Gading di Jl. Brigjen Sudiarto. Pas baru masuk aja, udah kecium harum kuahnya. Walaupun masih pagi, ternyata rame banget di sana. Baru tau kebiasaan orang-orang Solo (dan mungkin di beberapa kota lainnya juga), punya kebiasaan untuk sarapan bersama pagi2 sama keluarga atau teman2, baru setelah itu kerja atau aktifitas lain.
Dan sotonya, ehmmm… yummy! Soto ayam bening dengan bihun, daun bawang dan pangsit-pangsit kecil. Dipakein sambel dan sedikit kecap dan kerupuk rambak, sempurna!
Ga cukup hanya itu, beberapa piring goreng2an tersedia di atas meja, dari mulai pastel, tempe, tahu, sampai sosis solo yang beken itu. Coba deh cemplungin sosis solo ke kuahnya trus makan pelan2. Nyam!
Yang ga kalah istimewa adalah es teh manisnya. Kabarnya sih racikan, pantas ada semacam wangi rempah J

soto gading
sosis soslo




Kenyang mengisi perut, kita jalan ke Kampung Batik Laweyan.
Kawasan batik rumahan yang seru!
Kita jalan kaki dari rumah ke rumah, semuanya jual batik yang beda2. Yang terbesar di sana adalah Batik Putra Laweyan.

Dari sana, kita jalan lagi ke Fashion Village di Sukoharjo. Konon, Fashion Village di daerah ini adalah yang terlengkap, karena langsung dari pabriknya. Justru ga banyak batik dijual di sini, tapi banyak celana army look yang lucu2. Bahan yang digunakan kabarnya sama dengan yang digunakan oleh TNI.
Setelah ngeborong baju anak2 dan oleh2, now its time to lunch J

Melipir ke Ahmad Yani di Pabelan, Alex mengajak kita lunch di Gunung Sari.
Tempatnya ga besar, malah terkesan sangat kecil. Tapi makanannya dongggg… ajaib!
Itu ikan gurame goreng, udah bukan kaya ikan lagi, tapi kaya kerupuk saking garingnyaJ
Dugaan gue, digoreng dengan minyak panas dan api kecil, jadi bisa kering sampai ke daging2 dalamnya. Tapi ternyata pake kayu bakar dongggg, nyaaammm!
Ga nyangka dari cerita2 suami gue yang sering mampir ke sini kalau ke Solo, akhirnya kesampean juga bisa nyobain!
Klo enaknya kaya gini, gapapa deh dosa sekali2 makan gorengan, wkwkwk… (sekali2 apanya, maksud lo?)

gurame goreng


Balik ke hotel dan istirahat, menjelang malam kita keluar lagi dan memutuskan untuk makan Chinese food. Pingin deh nyobain Chinese food yang famous di Solo.
Berdasarkan review, akhirnya kita coba Centrum, yang terkenal dengan ngohyong ibab nya (yang ternyata gue ga terlalu doyan sih:p). Centrum ini tipikal resto Chinese food lama, yang munkin makanannya enak, ya. Tapi yang kita pesan ga begitu sip, secara kita pesan puyonghai tapi yang keluar kok malah telur dadar, wkwkwk…

Mengobati kekecewaan makan malam, kita melaju ke Nini Thowong, tempat makan es beken di Solo. Segala macam es ada, dan namanya pun lucu2. Dari mulai es nangka, es teler, es campur, sampai es mega mendung. Basically padu-padan buah dan es serut dengan sirop dan toping yang macam2 aja sih, tapi rasanya tetap enak, dan pastinya segerJ

5 Mei 2013
Our anniversary J
Hari bersejarah (ceileh..) dibuka dengan sarapan (ya iyalah, lo pikir?) Timlo Bu Sastro di depan Pasar Gede. Walopun lokasinya di depan pasar, dan di seberangnya ada timbunan sampah, ramai kali timlo ini.
Khas timlo pada umumnya, kuah di Bu Sastro ini gurih bangeetttt… Sampe2 gue nambah kuah J Enak dimakan panas2 dengan asap ngepul, sama nasi anget, lengkap deh hari lo!
Diiringi live music pulaJ


timlo maknyus :)


Dari situ, kita ke Keraton Surakarta.
Gue selalu suka gedung2 bersejarah. Seperti gue nge-fans dengan kisah2 wayang yang bukunya udah kuning2 punya nyokap gue, gue bisa kegirangan kaya anak kecil kalau ngunjungin tempat-tempat kaya gini. Terlepas dari mistisnya, gue merasa tempat2 ini menyimpan cerita yang luar biasa. Kaya waktu ke Ulen Sentalu di Jogja. Please please please Bapak2 pemerintah, perhatikanlah gedung2 bersejarah kaya gini! Bule aja bisa menghargai kebudayaan kita dengan berkunjung dan mengagumi, masa kita yang empunya bangsa ini enggak?
Gue ga bisa menggambarkan excitement di keraton J Yang pasti, senang dan super kagum dengan benda2 di dalamnya.
Ada banyak cerita dan bagian yang mistis… Misalnya dengan berdoa di depan patung A, dipercaya akan banyak rejeki. Atau dengan foto di depan kursi B, dipercaya keluarga akan harmonis. Ada juga benda2 yang even untuk difoto aja ga boleh, apalagi disentuh.
Basically, gue percaya mistis itu ada. Percaya juga dengan dimensi lain di luar manusia. Dan gue percaya Tuhan adalah Pelindung dan Pemelihara gue dan keluarga gue, saat ini dan sampai nanti.
That’s why waktu Bapak Guide nya bilang banyak mistis di sini, sebelum masuk, gue mendoakan satu2 anak gue.
Bapak Guide itu bilang, kalau anak2 itu sangat sensitive, jauh lebih sensi daripada kita yang udah tua2 ini. Mereka lebih bisa merasa, mungkin bisa melihat. Anyway, kita disarankan untuk ga jauh2 dari si Bapak. Ya iyalah Pak, jalan jauh2 bisa kesasar, secara itu keraton gede banget J

Sepulangnya dari sana, kita sempet memutari kompleks keraton sekali lagi (by car). Gede banget ya ternyata keraton itu, lebih besar dari Keraton Jogja (am I right?)
Pulang dari sana, setelah ke Nini Thowong lagiiii (makan es lagi:p), kita ke Batik Kauman. Kompleks batik yang mirip dengan Laweyan, hanya beda tipe aja. Belanja lagiiii :p

Kelar belanja, time to lunch! (kayanya sebagian isi review ini makan semua ya:p)
Kita makan di Soto Kirana di Moh Yamin, the other famous soto in Solo.
Soto daging yang wangiiii, bumbunya kuat banget! Bahkan lo makan tanpa sambel pun, dah kerasa nikmatnya (lap bibir, apus iler:p)
Menjadi lebih sedap karena ditambah sate daging dan kerupuk putih (kerupuk karaknya abis!). Sate dagingnya itu daging tipis2 yang dibumbuin pedas, tapi asli enak!
Udah makan segambreng, pas bayar Cuma 80ribu dong… (aaaaakkk! Coba dari Jakarta ke solo tinggal nyebrang, pasti tiap hari gue mampir sana:p)

soto kirana :)


Balik ke hotel dan istirahat…
Keluar lagi untuk makan malam, setelah mampir ke Orion untuk beli Mandarijn, the ultimate of Solo.

Karena binun mau makan dimana, akhirnya masuk ke Solo Paragon, katanya mall paling besar di Solo. Puter2 binun setelah melihat Solaria (ahhh Solaria mah di Pulogadung juga ada) dan lain2, akhirnya memutuskan makan di food court. Soto dan ayam gorengnya, asli kalah dibanding soto2 jalanan yang kemarin2! Makan di mall malah paling kecewa L

Anyway, happy anniversary, Honey! *kiss
Dulu tanggal ini, enam tahun lalu, kita habis resepsi, ya… Hari ini, enam tahun kemudian, kita ada di kamar hotel  juga, dengan tiga anak mengerumuni J What a wonderful journey we have J

our first dance as husband & wife :)


6 Mei 2013
Perjalanan panjang harus diawali dengan makan dong! (alasan:p)
Makan pagi di Cak Nan, soto Madura di samping bekas bioskop Atrium di Solo Baru. Ada pilihan soto daging dan ayam. Ini juga enak dan gurih. Gue ga ngerti cara menjelaskan makanan dengan detail, apa bedanya dibanding soto2 lainnya. Tapi menurut gue, semua soto di Solo ini enak J
Dan lagi2, amazed sama harganya yang murah pisan euy!

soto cak nan :)


Setelah puas makan, kita memutuskan langsung balik Jakarta aja, secara jalannya bakal jauh banget. Muter2 dan sempat salah jalan, eh…ada plang seperti ini di jalan: GUA MARIA PERENG, GETASAN, 9 KM.
Huwaaaaa… Langsung memutuskan untuk cari.
Secara gue pingiiinnn banget ke Gua Maria pas jalan2 ini, yang kebetulan juga bulan Maria J
Dan setelah mencari2, ketemu, yeayyy!
Gue Maria ini baru dibangun bulan November 2012 lalu, jadi masih bersih dan asri banget.

us on Gua Maria Pereng


Gue selalu suka dengan lukisan dan seni “perjamuan terakhir”, dan di sini ukirannya agak beda. 
Could you find the difference?



Ga kerasa, hampir dua jam di sana, kita udah harus pulang. Melewati Semarang dan Ungaran lagi, menepi lagi di Nissin Café. Bela-beli biscuit lagi, dan decided to have lunch there, since bisa jadi baru sore bakal ketemu resto lagi.
Yah makanannya so-so, secara core business nya bukan café tapi biscuit J its so acceptable.

Jam tujuh malam, baru tiba di Tegal, dan kita  memutuskan untuk cari makan (lagi:p).
Googling lagi, nemu Chinese food Semeru di Tegal, sepertinya beken juga sih. Dan akhirnya ketemu!
Mirip2 kwetiauw2 di Jakarta gitu.

After that, menempuh perjalanan sangat panjaaaangggg ke Jakarta. Tiba di rumah jam tiga pagi, dan harus ke kantor jam tujuh pagi, so pasti zombie mode, wkwkwk…

Ah yaaa… ada satu hal penting yang gue lupa tulis.
Ada satu jalan tol (menuju dan dari Semarang), yang asli butut, jelek, gelap dan membahayakan. Di setiap berapa meter, ada pecahan atau patahan jalan. Gelapnya ga kira2, ga ada lampu. Well sepanjang gue pergi kemana2, seingat gue, ini jalan tol paling parah.
Dan setelah gue tau pengembangnya, yahhh ga heran juga sih… secara lebih memilih sibuk kampanye presiden daripada bersihin lumpur lapindo…. Ah #nomention aja yaJ
Cuma berharap semua orang yang melewatinya berhati2 dan selamat sampai di jalan.

Anyway…
The Solo Trip was awesome. Love the city (sayang ga sempet naik delman), love the food (enak2 semuaaaa), love the air, and love the driver of course, wkwkwk!

Happy Anniversary, Honey, thankyou for the lovely trip :******

Saturday, June 29, 2013

Kardus Merah Kenangan

"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

Kardus Merah Kenangan
(427 words)




Chacha mengamati isi kardus itu dalam diam. Diraihnya boneka beruang putih kecil berkaus merah bertuliskan MIT. Massachusetts Institute of Technology. Tempat Rommy menuntut ilmu dan meraih bachelor degreenya. Tempat Rommy tinggal selama empat tahun, dan selama itu pula mereka berhubungan jarak jauh. Sebelum Rommy melanjutkan S2 ke Inggris. Dan setelah itu… hilang lenyap entah kemana.
Tiga tahun menunggu Rommy, mengharapkan kabarnya, mencari beritanya, menyebut namanya dalam doa, tetap tanpa hasil. Rommy seperti hilang ditelan bumi. Tanpa kabar berita. Hingga akhirnya Chacha memutuskan untuk melangkah. Melanjutkan hidupnya. Menjalani hari-harinya.
Dipeluknya boneka itu. Dulu, boneka ini selalu ada di kamar Chacha. Di meja tulisnya, tepat di samping meja computernya. Boneka ini menemaninya selama bertahun-tahun, menjadi saksi bisu saat Chacha menangis, merindukan Rommy setiap malam. Dan ini… Chacha mengambil bunga mawar plastik di dalam kardus. Hadiah dari Rommy saat Chacha diwisuda. Mug kartun, pemberian Rommy ketika Chacha berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya. Lalu miniatur pesawat terbang kesukaan Rommy. Rommy memang penggemar berat pesawat.
‘Setiap kali kamu kangen aku, ingat ada benda ini yang akan membawamu ketemu aku,’ begitu dulu katanya pada Chacha.
Ada juga beberapa frame foto, yang tadinya berisikan foto-foto mereka, tapi akhirnya hanya tinggal framenya, karena Chacha sudah merobek dan melenyapkan foto-foto di dalamnya.
“Cha? Lagi ngapain?”
Chacha tersentak. Terlalu kaget untuk menoleh.
“Kamu lagi beres-beres, ya?”
Chacha mengangguk sambil berusaha menyusut air matanya. Riyo tak boleh tau kalau…
“Sampai keringetan gini,” Riyo membelai pipi Chacha. “Jangan dipaksa ya, Cha. Kalau capek, istirahat dulu.”
Chacha hampir menangis lagi mendengar jawaban Riyo. Suaminya sangat memperhatikannya. Sementara dia, malah menangisi barang-barang pemberian mantannya. Mantan yang tak jelas di mana rimbanya. Ironisnya.
“Masih ada tiga bulan sebelum anak kita lahir, Cha. Kalaupun gudang ini nantinya ga bisa kosong tepat waktu, baby masih bisa tidur di kamar kita, kan?”
Chacha mengangguk, tanpa sanggup berkata-kata.
“Barang-barang bekas ini, disumbangkan ke Panti aja, Cha.”
“Apa?” Chacha terperangah. Panti Asuhan?
“Titip ke Bu Yati, beliau kan koordinator sumbangan ke Panti di Gereja kita.”
                “Oh. Iya.” Chacha mengangguk kecil. Menurut saja ketika Riyo menutup kardus dan menyelotipnya. Bahkan warna kardusnya pun merah, seperti hatinya yang pernah berdarah. Tapi saat ini, anggap saja merah itu melambangkan berani. Berani melupakan, dan berani melangkah.
                Akhirnya barang-barang itu pergi juga, batin Chacha. Sebagian hatiku, sebagian kecil saja, mungkin masih ada di situ. Separuh jiwaku, mungkin juga masih tertera nama itu. Tapi seperti apapun masa lalumu itu ada, namanya adalah “masa lalu”. Peristiwa yang sudah lalu. Sementara aku? Setelah bertahun-tahun menangisimu, mencarimu, berharap menemukanmu, mungkin harus berhenti. Sesekali merindukanmu, sudah cukup. Seperti hari ini. Selanjutnya, semoga tak pernah lagi.


                



Thursday, May 09, 2013

#NGUPING


           Dita menghela napas lega. Akhirnya kelar juga kerjaan yang bikin mumet. Setelah hampir seminggu berkutat dengan bacaan dan data, finally ia bisa menyelesaikan hutang empat artikel untuk majalah tempatnya bekerja. Dua artikel liputan konser dan dua hasil wawancara narasumber.
             Lagu di ipodnya berhenti. Dita meregangkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri.
             “Gue sendirian.”
             Dita menoleh mendengar suara berat itu. Ternyata Bapak di belakangnya sedang menelpon.
             “Café Jakarta.”
              “…..”
            “Ga ada. Cuma ada satu cewek, lagi sibuk main lappie, sambil pake earphone. Ga penting lah, masih kecil.”
              Hm… apa itu maksudnya aku? Dita melihat pakaian yang dikenakannya. Mungkin kaos gombrong, celana jins dan sneakersnya yang membuatnya kelihatan masih seperti anak sekolah, atau minimal mahasiswa.
                “…..”
                “Okay…. Barangnya udah di gue sekarang, mau lo ambil kapan?”
           Dita mematikan ipodnya. Tapi entah kenapa, ia membiarkan earphonenya masih menempel di telinga. Barang apa maksudnya?
                “Jangan dikirim, bro, nanti ketauan. Kalau ketangkap, repot.”
               Bro? Artinya Bapak ini sedang bicara dengan seorang cowok. Siapa cowok itu? Siapa mereka? Apa yang sedang mereka bicarakan? Barang apa yang dimaksud, sehingga mereka bisa ditangkap jika ketauan?
                “Iya, pake nama samaran. Nama kita ga boleh ada yang keluar pokoknya.”
                “…..”
                “Yoi, lo tenang aja. Pokoknya begitu gue terima uangnya, barang udah jadi punya lo.”
                Barang apa yang dimaksud?
               Dita mengambil cermin kecil di tasnya. Lalu pelan sekali, diarahkannya cermin itu sedemikian rupa, sehingga ia bisa melihat wajah orang yang duduk tepat di belakangnya. Karena orang itu duduk membelakanginya, ia tak bisa melihat wajahnya. Dari belakang, orang itu nampak lumayan rapih, berambut pendek, dan berdasi! Hm….
                “Siang ini gue rapat di Gedung biasa.”
                “…..”
                “Yeah, you know. Berkumpul dengan orang-orang itu.”
                “…..”
              “Ga bisa, gue harus hadir, minimal satu-dua jam. Setor muka dan absen aja kok, habis itu bisa cabut lagi. Yang penting ada paraf, biar transferan tiap bulan lancar. Kalau ga, repot gue nanti.”
                Dita mulai sibuk menerka. Apa Bapak ini, anggota suatu perkumpulan rahasia? Agen pemerintah? Atau apa? Naluri wartawannya muncul. Ia pura-pura mengetik di laptopnya dengan serius, sambil sesekali berdendang, seakan mengikuti irama musik di ipodnya, padahal ipod itu sudah mati dari tadi.
                “Bulan ini lancar. Makanya bisa stock tuh barang.”
                “…..”
                “Banyak. Tapi ya siapa cepat dia dapat. Makanya lo buruan transfer.”
                Kening Dita berkerut. Sepertinya….barang yang dijual Bapak ini, bukan barang ‘seram’. Barang ‘seram’ biasanya tidak dijual massal seperti ini.
            “Yah, lumayan. Kata orang, siklusnya memang begitu. Habis-habisan di awal buat kampanye. Syukurlah kepilih. Nah lima tahun ini saatnya ngumpulin uang buat ngelunasin pinjaman biaya kampanye kemarin, skalian ngumpulin modal buat usaha. Habis kelar lima tahun ini, rasanya gue ga bakal kepilih lagi. Lah wong rapat aja jarang hadir, hahaha…”
                Bapak itu tertawa menggelegar. Sepertinya dia lupa kalau topik yang dibicarakannya itu sensitif.
                “Makanya nih bisnis harus jalan….”
                Dita mulai paham.
           “Lah gaji bulanan kan udah ketauan jumlahnya, yah habis sama bini lah. Kalau bisnis ini buat mbayarin icip-icip sama yang manis-manis, hahaha…”
                Dita mengepalkan tangannya gemas. Jelas sudah semuanya. Nampaknya Bapak ini adalah salah seorang anggota D*R. Pejabat pemerintahan, yang seharusnya rapat di gedung M*R/D*R, karena itu dia memakai jas dan dasi. Ia ingin setor muka dan setelah itu bisa pergi, seperti yang tertangkap dilakukan “Bapak-Bapak terhormat” yang memakai jas dan dasi yang lain? Malah ada yang kepergok nonton video pada saat meeting? Atau ketiduran ketika mendengar pidato Presiden? Jadi Bapak ini salah satu dari dewan yang terhormat itu? Lantas, barang apa yang dijualnya?
               Dita berpikir sejenak, menimbang apa yang harus dilakukannya. Kalau di film-film, ia akan berdiri, mengambil segelas air, lalu menuangkannya ke atas kepala si Bapak bersuara berat itu. Kalau perlu, ingin ditariknya dasi Bapak itu hingga putus. Tapi kali ini, Dita tak sudi. Ia wartawan berkelas. Orang kelas teri seperti Bapak itu, tak bisa ditindaki kelas teri juga. Akhirnya Dita memutuskan untuk memotret Bapak itu dari jauh. Memang hanya sekenanya, tapi tak apa.
             Dita membuka file baru di laptopnya, lalu mulai mengetik. Peduli setan dengan barang apa yang dijual orang itu. Sepertinya, editornya akan mendapat tambahan satu artikel baru dari Dita. Tentang “kelakuan anggota dewan terhormat di jam kerja.”  

               
                

Thursday, May 02, 2013

Selamat HarDikNas!


Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ga biasa2nya gue nulis serius di blog yaaa, hehehe.. so this is one of a kindJ
Hari ini, gue menuliskan kegalauan gue (jiah, emang biasanya enggak?:p) as a mom (of three, if you may add), tentang pendidikan anak di Indonesia.
Seperti pernah gue twit, sekolah di Indonesia nowadays cukup variatif, dan ini yang membuat orang banyak pilihan sekaligus bingung.

Pertama, sekolah konvensional, yaitu tipikal sekolah lama yang biasanya mengutamakan hafalan. Less logic, karena yang diajarkan mostly udah pasti. Issuenya, banyak hal2 ga penting yang diajarkan di sekolah ini. Anak2 jadi kurang kritis, kurang kreatif, lebih banyak menghafal.
Remember waktu kita kecil, gambar gunung dengan matahari tenggelam di atasnya, lalu jalan dan sawah di bawahnya? Gue ga tau apakah sekarang gambar seperti itu masih diajarkan apa enggak.
Satu hal yang baik adalah cara sekolah menerapkan disiplin buat anak2nya.

Di international (atau national+) school, anak diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, berani mengemukakan pendapat. Gue salut sama kurikulumnya, salut sama pengajar2nya. Anak yang pendiam, ga percaya diri, bisa berubah menjadi anak yang berani, smart dan luar biasa kreatif.
Satu hal yang gue salut banget, international school ini biasanya mengutamakan proses belajar, dan bukan hanya resultnya J I adore them for this.
Walaupun gue kecewa karena ternyata ada international school beken yang ga mengajarkan agama sama sekali. Kebebasan yang (bisa jadi) bablas.

Satu yang sampai sekarang gue belum dapat jawabannya.
Apakah sekolah2 itu mengajarkan anak untuk toleransi? Seberapa penting mereka mengajarkan pendidikan moral?
Its not Pendidikan Moral Pancasila yang harus diajarkan (Pancasila is an ideology, right?), tapi pendidikan moral manusia! So as long as you’re a human, dimanapun lo hidup, di negara manapun, apapun agama lo, apapun ideologi negara tempat lo tinggal, lo tetap punya “budaya diri” yang lo bawa sampai mati. Such a simple thing like lo harus antri, mengutamakan ibu hamil atau orang tua untuk duduk di bis, membantu orang menyebrang jalan, dll.

Gue rasa, di Indonesia (atau bahkan di dunia), udah terlalu banyak orang pintar. Cas cis cus juara English speech, olimpiade matematika, dapat medali emas di olimpiade fisika, etc etc. Tapi seberapa banyak sekolah yang mengajarkan anak untuk jujur? Seberapa banyak sekolah yang menjelaskan ke anak kenapa dia tidak boleh nyontek (instead of ga jujur, tapi nyontek itu adalah mengambil yang bukan hak lo, dan itu sama dengan korupsi!). Nyontek is awal dari korupsi.

Nilai2 seperti itu yang semakin berkurang diajarkan di sekolah, tapi ironisnya, hal2 itu yang semakin diperlukan di jaman sekarang ini.
Menjadi juara is one thing. Bagaimana cara lo menjadi juara is another thing.
Jago bahasa inggris itu penting. Tapi menaati peraturan ga kalah penting.
Menggambar gunung itu bisa dengan banyak cara, sama seperti warna anggrek itu ga selalu ungu, dan wortel ga selalu orange.

Again, there’s such no perfect place. No perfect school to learn.
Sebagai orang tua (yang belum tua2 amat:p), should combine each component, seperti main puzzle.
Apa yang belum diberikan di sekolah, kita harus berikan di luar sekolah. Misalnya… klo lo pilih sekolah katolik konvensional (pelajaran alkitabnya mantep banget ini…), anak kudu kursus bahasa inggris.
Kalau anak lo masuk international school, sepanjang hari udah cas cis cus, ga perlu lagi les inggris. Tapi mungkin perlu Sunday school di gereja.

Life is about completing the journey.
You choose your journey, fight for it, and enjoy it the most.  
So, anak2 lo nanti bakal sekolah dimana, Yan?
*geleng2* “Masih bingung gue….”

Friday, April 26, 2013

Kancil Yang Baik - Book Review


Kali ini gue mau me-review salah satu buku cerita anak yang menurut gue oke banget. Kiddo's books are not always about princess or prince, its fabel anyway!
Dan lebih okenya lagi, penulisnya Clara Ng, donggg… secara dia penulis favorit gue, dan gue punya hampir semua novel2nya dia. Love you, Kak Clara! :)

Kenapa menurut gue menarik?

Being the first.. 
Di dongeng lama, kancil digambarkan sebagai sosok binatang lincah, nakal dan cerdik. Suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat ga, dongeng waktu kita kecil (sampai kita dewasa), kancil itu mencuri timun dari sawah Pak Tani? Tertangkap, lalu dikurung. Kancil juga berhasil mengelabui buaya, yang terkenal dengan keganasan gigi2nya.
Kancil is the legend of bad and naughty animal. 
Ingat lagu ini?
Si kancil anak nakal,
Suka mencuri ketimun
Ia layak dihukum
Jangan diberi ampun

Nah di dongeng Kancil Yang Baik ini (dari judulnya aja udah 'sesuatu' ya), Kancil digambarkan sebagai binatang yang baik. Menariknya, Kancil ini SAMA dengan kancil yang dulu. Kancil ini, adalah kancil yang dulu mengelabui Buaya dan mencuri dari kebun Pak Tani. Tapi sekarang dia udah bertobat. InterestingJ

Karena terkenal dengan kenakalan dan kelicikannya, ga mudah buat Kancil untuk membuktikan, bahwa sekarang dia udah jadi binatang baik. Pak Tani dan Buaya tentu saja ga begitu aja percaya dengan kebaikan Kancil.

Usaha atau extra effort ini yang menurut gue menarik. Kancil berusaha membuat Pak Tani dan Buaya percaya dengan ketulusan hatinya. Kancil membuatkan makanan untuk Pak Tani, menjahit syal untuk Buaya. Selain berusaha membuat Pak Tani dan Buaya, Kancil juga berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya (dengan membantunya belajar), dan anak yang baik untuk orang tuanya.

Banyak hal yang bagus banget buat diceritakan ke anak2, bahkan ke kita juga yang udah tua2 ini :p
1.       Kenakalan atau perilaku di masa lalu itu akan terus diingat, terutama oleh orang2 yang pernah kita jahati
2.   Perlu usaha untuk menghapus ingatan orang tentang kenakalan atau kejahatan di masa lalu. Mereka mungkin takkan melupakan sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menambah memori mereka tentang perilaku baik
3.    Sebaliknya, dilihat dari sisi Pak Tani dan Buaya, ga selamanya orang yang jahat itu akan selalu jahat. Kita harus bisa menghargai niat dan usaha orang lain untuk berubah

Nah, ini loh penampakan bukunya. Grab it soon:)


Thankyou, Kak Clara Ng for writing such an inspirational yet simple story

Monday, April 01, 2013


Hari Sabtu dua minggu lalu, gue mengajak kiddos ke Panti Asuhan di daerah Cipayung. Dibanding dengan beberapa tahun lalu, keadaan panti ini sudah jauh lebih baik.
Dulu bangunannya kecil, dengan banyak kamar-kamar yang mengelompokkan anak2 berdasarkan umurnya.
Satu hal yang paling gue ingat waktu dulu berkunjung, salah satu pengurus Panti bilang ke gue, “Jangan digendong ya, Bu.”
Gue tanya kenapa, jawabnya “Nanti ga mau lepas.”
Sedih ya, melihat anak2 itu segitu haus perhatiannya, sampai kepada semua yang datang aja, mereka merengek2 hanya untuk sekedar digendong, disuapin atau dipeluk.

Panti ini ternyata sudah diambil alih oleh Pemerintah, begitu menurut Bapak pengurus di sana. Syukurlah, semoga dengan begitu keadaannya menjadi lebih baik.
Dan sekarang ada Panti Jompo juga di depannya. Pantas aja, begitu baru masuk, ada serombongan Oma2 duduk di semacam pendopo.

Orang2 jompo ini sebagian ditemukan di jalan. Setelah ditelusuri dan di-survey, kalau masih ada keluarga yang mampu, akan diserahkan ke keluarga. Tapi kalau tidak, akan dirawat oleh Panti.
Sedangkan untuk anak2, sebagian ditemukan di RS, yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Sebagian lagi ditemukan di berbagai tempat umum, dari mulai halte, stasiun, atau tempat2 lain.
Ah, ga kebayang ya, bayi masih merah yang begitu lucu, ditinggalkan orang tuanya begitu aja. Kira2 apa yang ada di pikiran orang tuanya, ya?
Syukurlah anak2 ini lalu ditemukan oleh pihak yang sepantasnya, hingga bisa hidup cukup layak di Panti. Bagaimana dengan anak2 yang lain, yang masih terlantar di jalan? Panti2 pasti punya kapasitas juga, kan?
Di Panti ini, maksimal usia anak adalah lulusan SD. Setelah itu akan ditransfer ke Panti lain, begitu juga setelah lulus SMP. Ga kebayang, akan jadi apa anak2 ini setelah lulus SMA.  

Tanpa mau menghakimi siapapun, cuma berharap anak2 ini selalu dalam lindungan Tuhan. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, jika Tuhan menghendaki anak2 ini dilahirkan, pasti Dia juga yang akan menjaga mereka.

Sayangnya, saat itu anak2 baru aja tidur siang, jadi kita belum bisa melihat mereka. Dan karena ga keburu nunggu mereka bangun, jadi kita pergi deh.
 Sebagai orang tua yang punya 3 anak, miris banget liat foto ini.



Look at them, the innocent onesKita ga bisa memilih lahir dari siapa, dalam kondisi bagaimana. Tapi kita bisa memilih, bagaimana kita akanmenjalani hidup ini.

BTW ada satu hal yang kelupaan...
Seisi Oma2 panti, nge-fans sama Michael. Dan sepanjang jalan ketika mau pulang, Michael dadah2 ke Oma2 itu sambil bilang, "Byebye, Oma!" :) How could I not love my cute angel?