Thursday, July 04, 2013

The Anniversary Solo Trip


Ingin merayakan anniversary dengan berbeda, tanggal 3-6 Mei 2013 lalu, gue dan Alex mengajak nyokap gue, plus 3 kiddos dan 2 nanny ke SOLO.
Why Solo?  Dari dulu, Alex udah suka banget dengan Solo. Sering dinas ke sana, dia udah nge-fans sama Jokowi sebelum beken seperti sekarangJ
Jadi dengan barang2 segambreng dan mobil penuh, kita melaju ke Solo. Berikut cerita dan beberapa fotonya ya…

3 Mei 2013
Berangkat jam 4 pagi (artinya bangun jam 2.30 pagi, mandi, pakein pampie kiddos dan gantiin baju mereka.. eh, ini ga perlu disebut yah:p Yang pasti, anak2 diangkut dalam keadaan tidur)
Membawa se-tas besar biscuit, cemilan dan mainan, berharap kiddos enjoying the trip.
So the long trip begin….

Menjelang siang, karena perut udah keroncongan, kita lunch di resto Pringsewu Tegal. Pringsewu ini salah satu resto yang cukup unik cara pemasarannya. Dari beratus2 meter sebelumnya, udah dikasih plang di kiri jalan, “pringsewu berapa ratus meter lagi”, jadi mau ga mau lo hafal bakal ada resto Pringsewu sebentar lagi.
Makanannya so-so (banget), tapi gue suka how they train the employee. Sigap, cepat, tau banget apa yang dijual. Bahkan ketika mereka kasih bill, udah langsung bawain uang kembalian dong J

Next nya, kita mampir di Nissin Café di Ungaran. Love this place!
Selain ada pabrik Nissin yang tertutup untuk umum, Nissin punya café dan toko biscuit yang open fpr public. Lucunya, banyak produk yang ga dijual di Jakarta (atau dijual tapi gue ga tau ya:p Terhina banget gue klo sampe ga tau, secara dunia gue dipenuhi makanan dan cemilan, hehe…)
Jadi ngeborong deh biskuit2 di sana…

Lanjut perjalanan ke Semarang.
Cita2 Alex mampir di Koh Liem kesampean. Sebenarnya jam 5 udah tutup, tapi karena gue telpon dan bilang kalau kita dari Jakarta ngebut supaya keburu makan di sana, Mbak2nya kayanya kasian, trus bilang kalau bakal ditungguin. So, Asem2, we’re comingJ
Selain Asem2 (daging sapi dengan kuah hangat yang asam), bakut nya luar biasa enak! Nyammm… Lebih enak dari bakut Mumu yang di Gading J
Tapi karena udah kesorean, I missed the happening lekker Paimo di depan Loyola L

Tiba di Solo, kita langsung check in karena udah cukup malam, sekitar jam 9-10 gitu. Gue stay di Fave Hotel di Solo Baru. Hotelnya masih baru, jadi masih bersih J
Kamarnya kecil, tapi apik. Yang jadi ganjelan cuma satu aja sih, kamar mandinya pake kaca bening bow… untung ada tirainya:p

4 Mei 2013
Pagi dibuka dengan sarapan di Soto Gading di Jl. Brigjen Sudiarto. Pas baru masuk aja, udah kecium harum kuahnya. Walaupun masih pagi, ternyata rame banget di sana. Baru tau kebiasaan orang-orang Solo (dan mungkin di beberapa kota lainnya juga), punya kebiasaan untuk sarapan bersama pagi2 sama keluarga atau teman2, baru setelah itu kerja atau aktifitas lain.
Dan sotonya, ehmmm… yummy! Soto ayam bening dengan bihun, daun bawang dan pangsit-pangsit kecil. Dipakein sambel dan sedikit kecap dan kerupuk rambak, sempurna!
Ga cukup hanya itu, beberapa piring goreng2an tersedia di atas meja, dari mulai pastel, tempe, tahu, sampai sosis solo yang beken itu. Coba deh cemplungin sosis solo ke kuahnya trus makan pelan2. Nyam!
Yang ga kalah istimewa adalah es teh manisnya. Kabarnya sih racikan, pantas ada semacam wangi rempah J

soto gading
sosis soslo




Kenyang mengisi perut, kita jalan ke Kampung Batik Laweyan.
Kawasan batik rumahan yang seru!
Kita jalan kaki dari rumah ke rumah, semuanya jual batik yang beda2. Yang terbesar di sana adalah Batik Putra Laweyan.

Dari sana, kita jalan lagi ke Fashion Village di Sukoharjo. Konon, Fashion Village di daerah ini adalah yang terlengkap, karena langsung dari pabriknya. Justru ga banyak batik dijual di sini, tapi banyak celana army look yang lucu2. Bahan yang digunakan kabarnya sama dengan yang digunakan oleh TNI.
Setelah ngeborong baju anak2 dan oleh2, now its time to lunch J

Melipir ke Ahmad Yani di Pabelan, Alex mengajak kita lunch di Gunung Sari.
Tempatnya ga besar, malah terkesan sangat kecil. Tapi makanannya dongggg… ajaib!
Itu ikan gurame goreng, udah bukan kaya ikan lagi, tapi kaya kerupuk saking garingnyaJ
Dugaan gue, digoreng dengan minyak panas dan api kecil, jadi bisa kering sampai ke daging2 dalamnya. Tapi ternyata pake kayu bakar dongggg, nyaaammm!
Ga nyangka dari cerita2 suami gue yang sering mampir ke sini kalau ke Solo, akhirnya kesampean juga bisa nyobain!
Klo enaknya kaya gini, gapapa deh dosa sekali2 makan gorengan, wkwkwk… (sekali2 apanya, maksud lo?)

gurame goreng


Balik ke hotel dan istirahat, menjelang malam kita keluar lagi dan memutuskan untuk makan Chinese food. Pingin deh nyobain Chinese food yang famous di Solo.
Berdasarkan review, akhirnya kita coba Centrum, yang terkenal dengan ngohyong ibab nya (yang ternyata gue ga terlalu doyan sih:p). Centrum ini tipikal resto Chinese food lama, yang munkin makanannya enak, ya. Tapi yang kita pesan ga begitu sip, secara kita pesan puyonghai tapi yang keluar kok malah telur dadar, wkwkwk…

Mengobati kekecewaan makan malam, kita melaju ke Nini Thowong, tempat makan es beken di Solo. Segala macam es ada, dan namanya pun lucu2. Dari mulai es nangka, es teler, es campur, sampai es mega mendung. Basically padu-padan buah dan es serut dengan sirop dan toping yang macam2 aja sih, tapi rasanya tetap enak, dan pastinya segerJ

5 Mei 2013
Our anniversary J
Hari bersejarah (ceileh..) dibuka dengan sarapan (ya iyalah, lo pikir?) Timlo Bu Sastro di depan Pasar Gede. Walopun lokasinya di depan pasar, dan di seberangnya ada timbunan sampah, ramai kali timlo ini.
Khas timlo pada umumnya, kuah di Bu Sastro ini gurih bangeetttt… Sampe2 gue nambah kuah J Enak dimakan panas2 dengan asap ngepul, sama nasi anget, lengkap deh hari lo!
Diiringi live music pulaJ


timlo maknyus :)


Dari situ, kita ke Keraton Surakarta.
Gue selalu suka gedung2 bersejarah. Seperti gue nge-fans dengan kisah2 wayang yang bukunya udah kuning2 punya nyokap gue, gue bisa kegirangan kaya anak kecil kalau ngunjungin tempat-tempat kaya gini. Terlepas dari mistisnya, gue merasa tempat2 ini menyimpan cerita yang luar biasa. Kaya waktu ke Ulen Sentalu di Jogja. Please please please Bapak2 pemerintah, perhatikanlah gedung2 bersejarah kaya gini! Bule aja bisa menghargai kebudayaan kita dengan berkunjung dan mengagumi, masa kita yang empunya bangsa ini enggak?
Gue ga bisa menggambarkan excitement di keraton J Yang pasti, senang dan super kagum dengan benda2 di dalamnya.
Ada banyak cerita dan bagian yang mistis… Misalnya dengan berdoa di depan patung A, dipercaya akan banyak rejeki. Atau dengan foto di depan kursi B, dipercaya keluarga akan harmonis. Ada juga benda2 yang even untuk difoto aja ga boleh, apalagi disentuh.
Basically, gue percaya mistis itu ada. Percaya juga dengan dimensi lain di luar manusia. Dan gue percaya Tuhan adalah Pelindung dan Pemelihara gue dan keluarga gue, saat ini dan sampai nanti.
That’s why waktu Bapak Guide nya bilang banyak mistis di sini, sebelum masuk, gue mendoakan satu2 anak gue.
Bapak Guide itu bilang, kalau anak2 itu sangat sensitive, jauh lebih sensi daripada kita yang udah tua2 ini. Mereka lebih bisa merasa, mungkin bisa melihat. Anyway, kita disarankan untuk ga jauh2 dari si Bapak. Ya iyalah Pak, jalan jauh2 bisa kesasar, secara itu keraton gede banget J

Sepulangnya dari sana, kita sempet memutari kompleks keraton sekali lagi (by car). Gede banget ya ternyata keraton itu, lebih besar dari Keraton Jogja (am I right?)
Pulang dari sana, setelah ke Nini Thowong lagiiii (makan es lagi:p), kita ke Batik Kauman. Kompleks batik yang mirip dengan Laweyan, hanya beda tipe aja. Belanja lagiiii :p

Kelar belanja, time to lunch! (kayanya sebagian isi review ini makan semua ya:p)
Kita makan di Soto Kirana di Moh Yamin, the other famous soto in Solo.
Soto daging yang wangiiii, bumbunya kuat banget! Bahkan lo makan tanpa sambel pun, dah kerasa nikmatnya (lap bibir, apus iler:p)
Menjadi lebih sedap karena ditambah sate daging dan kerupuk putih (kerupuk karaknya abis!). Sate dagingnya itu daging tipis2 yang dibumbuin pedas, tapi asli enak!
Udah makan segambreng, pas bayar Cuma 80ribu dong… (aaaaakkk! Coba dari Jakarta ke solo tinggal nyebrang, pasti tiap hari gue mampir sana:p)

soto kirana :)


Balik ke hotel dan istirahat…
Keluar lagi untuk makan malam, setelah mampir ke Orion untuk beli Mandarijn, the ultimate of Solo.

Karena binun mau makan dimana, akhirnya masuk ke Solo Paragon, katanya mall paling besar di Solo. Puter2 binun setelah melihat Solaria (ahhh Solaria mah di Pulogadung juga ada) dan lain2, akhirnya memutuskan makan di food court. Soto dan ayam gorengnya, asli kalah dibanding soto2 jalanan yang kemarin2! Makan di mall malah paling kecewa L

Anyway, happy anniversary, Honey! *kiss
Dulu tanggal ini, enam tahun lalu, kita habis resepsi, ya… Hari ini, enam tahun kemudian, kita ada di kamar hotel  juga, dengan tiga anak mengerumuni J What a wonderful journey we have J

our first dance as husband & wife :)


6 Mei 2013
Perjalanan panjang harus diawali dengan makan dong! (alasan:p)
Makan pagi di Cak Nan, soto Madura di samping bekas bioskop Atrium di Solo Baru. Ada pilihan soto daging dan ayam. Ini juga enak dan gurih. Gue ga ngerti cara menjelaskan makanan dengan detail, apa bedanya dibanding soto2 lainnya. Tapi menurut gue, semua soto di Solo ini enak J
Dan lagi2, amazed sama harganya yang murah pisan euy!

soto cak nan :)


Setelah puas makan, kita memutuskan langsung balik Jakarta aja, secara jalannya bakal jauh banget. Muter2 dan sempat salah jalan, eh…ada plang seperti ini di jalan: GUA MARIA PERENG, GETASAN, 9 KM.
Huwaaaaa… Langsung memutuskan untuk cari.
Secara gue pingiiinnn banget ke Gua Maria pas jalan2 ini, yang kebetulan juga bulan Maria J
Dan setelah mencari2, ketemu, yeayyy!
Gue Maria ini baru dibangun bulan November 2012 lalu, jadi masih bersih dan asri banget.

us on Gua Maria Pereng


Gue selalu suka dengan lukisan dan seni “perjamuan terakhir”, dan di sini ukirannya agak beda. 
Could you find the difference?



Ga kerasa, hampir dua jam di sana, kita udah harus pulang. Melewati Semarang dan Ungaran lagi, menepi lagi di Nissin Café. Bela-beli biscuit lagi, dan decided to have lunch there, since bisa jadi baru sore bakal ketemu resto lagi.
Yah makanannya so-so, secara core business nya bukan café tapi biscuit J its so acceptable.

Jam tujuh malam, baru tiba di Tegal, dan kita  memutuskan untuk cari makan (lagi:p).
Googling lagi, nemu Chinese food Semeru di Tegal, sepertinya beken juga sih. Dan akhirnya ketemu!
Mirip2 kwetiauw2 di Jakarta gitu.

After that, menempuh perjalanan sangat panjaaaangggg ke Jakarta. Tiba di rumah jam tiga pagi, dan harus ke kantor jam tujuh pagi, so pasti zombie mode, wkwkwk…

Ah yaaa… ada satu hal penting yang gue lupa tulis.
Ada satu jalan tol (menuju dan dari Semarang), yang asli butut, jelek, gelap dan membahayakan. Di setiap berapa meter, ada pecahan atau patahan jalan. Gelapnya ga kira2, ga ada lampu. Well sepanjang gue pergi kemana2, seingat gue, ini jalan tol paling parah.
Dan setelah gue tau pengembangnya, yahhh ga heran juga sih… secara lebih memilih sibuk kampanye presiden daripada bersihin lumpur lapindo…. Ah #nomention aja yaJ
Cuma berharap semua orang yang melewatinya berhati2 dan selamat sampai di jalan.

Anyway…
The Solo Trip was awesome. Love the city (sayang ga sempet naik delman), love the food (enak2 semuaaaa), love the air, and love the driver of course, wkwkwk!

Happy Anniversary, Honey, thankyou for the lovely trip :******

Saturday, June 29, 2013

Kardus Merah Kenangan

"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

Kardus Merah Kenangan
(427 words)




Chacha mengamati isi kardus itu dalam diam. Diraihnya boneka beruang putih kecil berkaus merah bertuliskan MIT. Massachusetts Institute of Technology. Tempat Rommy menuntut ilmu dan meraih bachelor degreenya. Tempat Rommy tinggal selama empat tahun, dan selama itu pula mereka berhubungan jarak jauh. Sebelum Rommy melanjutkan S2 ke Inggris. Dan setelah itu… hilang lenyap entah kemana.
Tiga tahun menunggu Rommy, mengharapkan kabarnya, mencari beritanya, menyebut namanya dalam doa, tetap tanpa hasil. Rommy seperti hilang ditelan bumi. Tanpa kabar berita. Hingga akhirnya Chacha memutuskan untuk melangkah. Melanjutkan hidupnya. Menjalani hari-harinya.
Dipeluknya boneka itu. Dulu, boneka ini selalu ada di kamar Chacha. Di meja tulisnya, tepat di samping meja computernya. Boneka ini menemaninya selama bertahun-tahun, menjadi saksi bisu saat Chacha menangis, merindukan Rommy setiap malam. Dan ini… Chacha mengambil bunga mawar plastik di dalam kardus. Hadiah dari Rommy saat Chacha diwisuda. Mug kartun, pemberian Rommy ketika Chacha berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya. Lalu miniatur pesawat terbang kesukaan Rommy. Rommy memang penggemar berat pesawat.
‘Setiap kali kamu kangen aku, ingat ada benda ini yang akan membawamu ketemu aku,’ begitu dulu katanya pada Chacha.
Ada juga beberapa frame foto, yang tadinya berisikan foto-foto mereka, tapi akhirnya hanya tinggal framenya, karena Chacha sudah merobek dan melenyapkan foto-foto di dalamnya.
“Cha? Lagi ngapain?”
Chacha tersentak. Terlalu kaget untuk menoleh.
“Kamu lagi beres-beres, ya?”
Chacha mengangguk sambil berusaha menyusut air matanya. Riyo tak boleh tau kalau…
“Sampai keringetan gini,” Riyo membelai pipi Chacha. “Jangan dipaksa ya, Cha. Kalau capek, istirahat dulu.”
Chacha hampir menangis lagi mendengar jawaban Riyo. Suaminya sangat memperhatikannya. Sementara dia, malah menangisi barang-barang pemberian mantannya. Mantan yang tak jelas di mana rimbanya. Ironisnya.
“Masih ada tiga bulan sebelum anak kita lahir, Cha. Kalaupun gudang ini nantinya ga bisa kosong tepat waktu, baby masih bisa tidur di kamar kita, kan?”
Chacha mengangguk, tanpa sanggup berkata-kata.
“Barang-barang bekas ini, disumbangkan ke Panti aja, Cha.”
“Apa?” Chacha terperangah. Panti Asuhan?
“Titip ke Bu Yati, beliau kan koordinator sumbangan ke Panti di Gereja kita.”
                “Oh. Iya.” Chacha mengangguk kecil. Menurut saja ketika Riyo menutup kardus dan menyelotipnya. Bahkan warna kardusnya pun merah, seperti hatinya yang pernah berdarah. Tapi saat ini, anggap saja merah itu melambangkan berani. Berani melupakan, dan berani melangkah.
                Akhirnya barang-barang itu pergi juga, batin Chacha. Sebagian hatiku, sebagian kecil saja, mungkin masih ada di situ. Separuh jiwaku, mungkin juga masih tertera nama itu. Tapi seperti apapun masa lalumu itu ada, namanya adalah “masa lalu”. Peristiwa yang sudah lalu. Sementara aku? Setelah bertahun-tahun menangisimu, mencarimu, berharap menemukanmu, mungkin harus berhenti. Sesekali merindukanmu, sudah cukup. Seperti hari ini. Selanjutnya, semoga tak pernah lagi.


                



Thursday, May 09, 2013

#NGUPING


           Dita menghela napas lega. Akhirnya kelar juga kerjaan yang bikin mumet. Setelah hampir seminggu berkutat dengan bacaan dan data, finally ia bisa menyelesaikan hutang empat artikel untuk majalah tempatnya bekerja. Dua artikel liputan konser dan dua hasil wawancara narasumber.
             Lagu di ipodnya berhenti. Dita meregangkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri.
             “Gue sendirian.”
             Dita menoleh mendengar suara berat itu. Ternyata Bapak di belakangnya sedang menelpon.
             “Café Jakarta.”
              “…..”
            “Ga ada. Cuma ada satu cewek, lagi sibuk main lappie, sambil pake earphone. Ga penting lah, masih kecil.”
              Hm… apa itu maksudnya aku? Dita melihat pakaian yang dikenakannya. Mungkin kaos gombrong, celana jins dan sneakersnya yang membuatnya kelihatan masih seperti anak sekolah, atau minimal mahasiswa.
                “…..”
                “Okay…. Barangnya udah di gue sekarang, mau lo ambil kapan?”
           Dita mematikan ipodnya. Tapi entah kenapa, ia membiarkan earphonenya masih menempel di telinga. Barang apa maksudnya?
                “Jangan dikirim, bro, nanti ketauan. Kalau ketangkap, repot.”
               Bro? Artinya Bapak ini sedang bicara dengan seorang cowok. Siapa cowok itu? Siapa mereka? Apa yang sedang mereka bicarakan? Barang apa yang dimaksud, sehingga mereka bisa ditangkap jika ketauan?
                “Iya, pake nama samaran. Nama kita ga boleh ada yang keluar pokoknya.”
                “…..”
                “Yoi, lo tenang aja. Pokoknya begitu gue terima uangnya, barang udah jadi punya lo.”
                Barang apa yang dimaksud?
               Dita mengambil cermin kecil di tasnya. Lalu pelan sekali, diarahkannya cermin itu sedemikian rupa, sehingga ia bisa melihat wajah orang yang duduk tepat di belakangnya. Karena orang itu duduk membelakanginya, ia tak bisa melihat wajahnya. Dari belakang, orang itu nampak lumayan rapih, berambut pendek, dan berdasi! Hm….
                “Siang ini gue rapat di Gedung biasa.”
                “…..”
                “Yeah, you know. Berkumpul dengan orang-orang itu.”
                “…..”
              “Ga bisa, gue harus hadir, minimal satu-dua jam. Setor muka dan absen aja kok, habis itu bisa cabut lagi. Yang penting ada paraf, biar transferan tiap bulan lancar. Kalau ga, repot gue nanti.”
                Dita mulai sibuk menerka. Apa Bapak ini, anggota suatu perkumpulan rahasia? Agen pemerintah? Atau apa? Naluri wartawannya muncul. Ia pura-pura mengetik di laptopnya dengan serius, sambil sesekali berdendang, seakan mengikuti irama musik di ipodnya, padahal ipod itu sudah mati dari tadi.
                “Bulan ini lancar. Makanya bisa stock tuh barang.”
                “…..”
                “Banyak. Tapi ya siapa cepat dia dapat. Makanya lo buruan transfer.”
                Kening Dita berkerut. Sepertinya….barang yang dijual Bapak ini, bukan barang ‘seram’. Barang ‘seram’ biasanya tidak dijual massal seperti ini.
            “Yah, lumayan. Kata orang, siklusnya memang begitu. Habis-habisan di awal buat kampanye. Syukurlah kepilih. Nah lima tahun ini saatnya ngumpulin uang buat ngelunasin pinjaman biaya kampanye kemarin, skalian ngumpulin modal buat usaha. Habis kelar lima tahun ini, rasanya gue ga bakal kepilih lagi. Lah wong rapat aja jarang hadir, hahaha…”
                Bapak itu tertawa menggelegar. Sepertinya dia lupa kalau topik yang dibicarakannya itu sensitif.
                “Makanya nih bisnis harus jalan….”
                Dita mulai paham.
           “Lah gaji bulanan kan udah ketauan jumlahnya, yah habis sama bini lah. Kalau bisnis ini buat mbayarin icip-icip sama yang manis-manis, hahaha…”
                Dita mengepalkan tangannya gemas. Jelas sudah semuanya. Nampaknya Bapak ini adalah salah seorang anggota D*R. Pejabat pemerintahan, yang seharusnya rapat di gedung M*R/D*R, karena itu dia memakai jas dan dasi. Ia ingin setor muka dan setelah itu bisa pergi, seperti yang tertangkap dilakukan “Bapak-Bapak terhormat” yang memakai jas dan dasi yang lain? Malah ada yang kepergok nonton video pada saat meeting? Atau ketiduran ketika mendengar pidato Presiden? Jadi Bapak ini salah satu dari dewan yang terhormat itu? Lantas, barang apa yang dijualnya?
               Dita berpikir sejenak, menimbang apa yang harus dilakukannya. Kalau di film-film, ia akan berdiri, mengambil segelas air, lalu menuangkannya ke atas kepala si Bapak bersuara berat itu. Kalau perlu, ingin ditariknya dasi Bapak itu hingga putus. Tapi kali ini, Dita tak sudi. Ia wartawan berkelas. Orang kelas teri seperti Bapak itu, tak bisa ditindaki kelas teri juga. Akhirnya Dita memutuskan untuk memotret Bapak itu dari jauh. Memang hanya sekenanya, tapi tak apa.
             Dita membuka file baru di laptopnya, lalu mulai mengetik. Peduli setan dengan barang apa yang dijual orang itu. Sepertinya, editornya akan mendapat tambahan satu artikel baru dari Dita. Tentang “kelakuan anggota dewan terhormat di jam kerja.”  

               
                

Thursday, May 02, 2013

Selamat HarDikNas!


Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ga biasa2nya gue nulis serius di blog yaaa, hehehe.. so this is one of a kindJ
Hari ini, gue menuliskan kegalauan gue (jiah, emang biasanya enggak?:p) as a mom (of three, if you may add), tentang pendidikan anak di Indonesia.
Seperti pernah gue twit, sekolah di Indonesia nowadays cukup variatif, dan ini yang membuat orang banyak pilihan sekaligus bingung.

Pertama, sekolah konvensional, yaitu tipikal sekolah lama yang biasanya mengutamakan hafalan. Less logic, karena yang diajarkan mostly udah pasti. Issuenya, banyak hal2 ga penting yang diajarkan di sekolah ini. Anak2 jadi kurang kritis, kurang kreatif, lebih banyak menghafal.
Remember waktu kita kecil, gambar gunung dengan matahari tenggelam di atasnya, lalu jalan dan sawah di bawahnya? Gue ga tau apakah sekarang gambar seperti itu masih diajarkan apa enggak.
Satu hal yang baik adalah cara sekolah menerapkan disiplin buat anak2nya.

Di international (atau national+) school, anak diajarkan untuk berpikir kritis, kreatif, berani mengemukakan pendapat. Gue salut sama kurikulumnya, salut sama pengajar2nya. Anak yang pendiam, ga percaya diri, bisa berubah menjadi anak yang berani, smart dan luar biasa kreatif.
Satu hal yang gue salut banget, international school ini biasanya mengutamakan proses belajar, dan bukan hanya resultnya J I adore them for this.
Walaupun gue kecewa karena ternyata ada international school beken yang ga mengajarkan agama sama sekali. Kebebasan yang (bisa jadi) bablas.

Satu yang sampai sekarang gue belum dapat jawabannya.
Apakah sekolah2 itu mengajarkan anak untuk toleransi? Seberapa penting mereka mengajarkan pendidikan moral?
Its not Pendidikan Moral Pancasila yang harus diajarkan (Pancasila is an ideology, right?), tapi pendidikan moral manusia! So as long as you’re a human, dimanapun lo hidup, di negara manapun, apapun agama lo, apapun ideologi negara tempat lo tinggal, lo tetap punya “budaya diri” yang lo bawa sampai mati. Such a simple thing like lo harus antri, mengutamakan ibu hamil atau orang tua untuk duduk di bis, membantu orang menyebrang jalan, dll.

Gue rasa, di Indonesia (atau bahkan di dunia), udah terlalu banyak orang pintar. Cas cis cus juara English speech, olimpiade matematika, dapat medali emas di olimpiade fisika, etc etc. Tapi seberapa banyak sekolah yang mengajarkan anak untuk jujur? Seberapa banyak sekolah yang menjelaskan ke anak kenapa dia tidak boleh nyontek (instead of ga jujur, tapi nyontek itu adalah mengambil yang bukan hak lo, dan itu sama dengan korupsi!). Nyontek is awal dari korupsi.

Nilai2 seperti itu yang semakin berkurang diajarkan di sekolah, tapi ironisnya, hal2 itu yang semakin diperlukan di jaman sekarang ini.
Menjadi juara is one thing. Bagaimana cara lo menjadi juara is another thing.
Jago bahasa inggris itu penting. Tapi menaati peraturan ga kalah penting.
Menggambar gunung itu bisa dengan banyak cara, sama seperti warna anggrek itu ga selalu ungu, dan wortel ga selalu orange.

Again, there’s such no perfect place. No perfect school to learn.
Sebagai orang tua (yang belum tua2 amat:p), should combine each component, seperti main puzzle.
Apa yang belum diberikan di sekolah, kita harus berikan di luar sekolah. Misalnya… klo lo pilih sekolah katolik konvensional (pelajaran alkitabnya mantep banget ini…), anak kudu kursus bahasa inggris.
Kalau anak lo masuk international school, sepanjang hari udah cas cis cus, ga perlu lagi les inggris. Tapi mungkin perlu Sunday school di gereja.

Life is about completing the journey.
You choose your journey, fight for it, and enjoy it the most.  
So, anak2 lo nanti bakal sekolah dimana, Yan?
*geleng2* “Masih bingung gue….”

Friday, April 26, 2013

Kancil Yang Baik - Book Review


Kali ini gue mau me-review salah satu buku cerita anak yang menurut gue oke banget. Kiddo's books are not always about princess or prince, its fabel anyway!
Dan lebih okenya lagi, penulisnya Clara Ng, donggg… secara dia penulis favorit gue, dan gue punya hampir semua novel2nya dia. Love you, Kak Clara! :)

Kenapa menurut gue menarik?

Being the first.. 
Di dongeng lama, kancil digambarkan sebagai sosok binatang lincah, nakal dan cerdik. Suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ingat ga, dongeng waktu kita kecil (sampai kita dewasa), kancil itu mencuri timun dari sawah Pak Tani? Tertangkap, lalu dikurung. Kancil juga berhasil mengelabui buaya, yang terkenal dengan keganasan gigi2nya.
Kancil is the legend of bad and naughty animal. 
Ingat lagu ini?
Si kancil anak nakal,
Suka mencuri ketimun
Ia layak dihukum
Jangan diberi ampun

Nah di dongeng Kancil Yang Baik ini (dari judulnya aja udah 'sesuatu' ya), Kancil digambarkan sebagai binatang yang baik. Menariknya, Kancil ini SAMA dengan kancil yang dulu. Kancil ini, adalah kancil yang dulu mengelabui Buaya dan mencuri dari kebun Pak Tani. Tapi sekarang dia udah bertobat. InterestingJ

Karena terkenal dengan kenakalan dan kelicikannya, ga mudah buat Kancil untuk membuktikan, bahwa sekarang dia udah jadi binatang baik. Pak Tani dan Buaya tentu saja ga begitu aja percaya dengan kebaikan Kancil.

Usaha atau extra effort ini yang menurut gue menarik. Kancil berusaha membuat Pak Tani dan Buaya percaya dengan ketulusan hatinya. Kancil membuatkan makanan untuk Pak Tani, menjahit syal untuk Buaya. Selain berusaha membuat Pak Tani dan Buaya, Kancil juga berusaha menjadi kakak yang baik untuk adiknya (dengan membantunya belajar), dan anak yang baik untuk orang tuanya.

Banyak hal yang bagus banget buat diceritakan ke anak2, bahkan ke kita juga yang udah tua2 ini :p
1.       Kenakalan atau perilaku di masa lalu itu akan terus diingat, terutama oleh orang2 yang pernah kita jahati
2.   Perlu usaha untuk menghapus ingatan orang tentang kenakalan atau kejahatan di masa lalu. Mereka mungkin takkan melupakan sepenuhnya, tapi setidaknya kita bisa menambah memori mereka tentang perilaku baik
3.    Sebaliknya, dilihat dari sisi Pak Tani dan Buaya, ga selamanya orang yang jahat itu akan selalu jahat. Kita harus bisa menghargai niat dan usaha orang lain untuk berubah

Nah, ini loh penampakan bukunya. Grab it soon:)


Thankyou, Kak Clara Ng for writing such an inspirational yet simple story

Monday, April 01, 2013


Hari Sabtu dua minggu lalu, gue mengajak kiddos ke Panti Asuhan di daerah Cipayung. Dibanding dengan beberapa tahun lalu, keadaan panti ini sudah jauh lebih baik.
Dulu bangunannya kecil, dengan banyak kamar-kamar yang mengelompokkan anak2 berdasarkan umurnya.
Satu hal yang paling gue ingat waktu dulu berkunjung, salah satu pengurus Panti bilang ke gue, “Jangan digendong ya, Bu.”
Gue tanya kenapa, jawabnya “Nanti ga mau lepas.”
Sedih ya, melihat anak2 itu segitu haus perhatiannya, sampai kepada semua yang datang aja, mereka merengek2 hanya untuk sekedar digendong, disuapin atau dipeluk.

Panti ini ternyata sudah diambil alih oleh Pemerintah, begitu menurut Bapak pengurus di sana. Syukurlah, semoga dengan begitu keadaannya menjadi lebih baik.
Dan sekarang ada Panti Jompo juga di depannya. Pantas aja, begitu baru masuk, ada serombongan Oma2 duduk di semacam pendopo.

Orang2 jompo ini sebagian ditemukan di jalan. Setelah ditelusuri dan di-survey, kalau masih ada keluarga yang mampu, akan diserahkan ke keluarga. Tapi kalau tidak, akan dirawat oleh Panti.
Sedangkan untuk anak2, sebagian ditemukan di RS, yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Sebagian lagi ditemukan di berbagai tempat umum, dari mulai halte, stasiun, atau tempat2 lain.
Ah, ga kebayang ya, bayi masih merah yang begitu lucu, ditinggalkan orang tuanya begitu aja. Kira2 apa yang ada di pikiran orang tuanya, ya?
Syukurlah anak2 ini lalu ditemukan oleh pihak yang sepantasnya, hingga bisa hidup cukup layak di Panti. Bagaimana dengan anak2 yang lain, yang masih terlantar di jalan? Panti2 pasti punya kapasitas juga, kan?
Di Panti ini, maksimal usia anak adalah lulusan SD. Setelah itu akan ditransfer ke Panti lain, begitu juga setelah lulus SMP. Ga kebayang, akan jadi apa anak2 ini setelah lulus SMA.  

Tanpa mau menghakimi siapapun, cuma berharap anak2 ini selalu dalam lindungan Tuhan. Apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, jika Tuhan menghendaki anak2 ini dilahirkan, pasti Dia juga yang akan menjaga mereka.

Sayangnya, saat itu anak2 baru aja tidur siang, jadi kita belum bisa melihat mereka. Dan karena ga keburu nunggu mereka bangun, jadi kita pergi deh.
 Sebagai orang tua yang punya 3 anak, miris banget liat foto ini.



Look at them, the innocent onesKita ga bisa memilih lahir dari siapa, dalam kondisi bagaimana. Tapi kita bisa memilih, bagaimana kita akanmenjalani hidup ini.

BTW ada satu hal yang kelupaan...
Seisi Oma2 panti, nge-fans sama Michael. Dan sepanjang jalan ketika mau pulang, Michael dadah2 ke Oma2 itu sambil bilang, "Byebye, Oma!" :) How could I not love my cute angel?


Sunday, March 31, 2013

#keyla goes to lion city!


Acara outing kantor divisi gue mid Maret lalu diadakan di Spore. The Lion City, yang ga pernah membosankan.
Menjadi lebih special, karena di hari ke-2, Alex & Key nyusul. Key baru pertama kali ke luar negeri, dan baru kedua kalinya naik pesawat. Deg2an juga gimana responnya nanti J


the five-stones-hostel, the friendly hommy hostel :)

Gue & friends nginep di Five-Stones-Hostel, di Clark Quay. Nyaman, bersih dan menyenangkan, terutama karena kita tidur ber-14 di 1 kamar. Seru ya J Ranjang susun dan loker untuk masing2 orang, kamar mandi barengan tapi tetap bersih, sarapan seadanya tapi terjamin.






Pagi2 buta dah ngumpul di airport, bikin perut super keroncongan. Jadi tanpa ragu2 kita mampir ke Song Fa, bakut teh beken di sana, yang syukurnya bisa ditempuh dengan jalan kaki aja dari hostel.  
Tentu saja haram:p Dan gue yang waktu itu masih pantang ibab, cuma bisa nelen ludah aja ngeliat yang lain pada pesen, hiksss… Tunggu pembalasankuuuuu!!!

After lunch, kita muter2 Orchard, Merlion, Marina Bay. Standard orang Indo kalau ke sana lah, ya.
Oh iya, ada cerita lucu waktu lagi belanja di Lucky Plaza. Gue lagi di Giordano, counter wajib kalau ke Sing. Ada segerombolan Tante2 geret2 koper, sambil ngomong bahasa Mandarin. Gue nyangkain mereka dari Cina, since putih2 kinclong semua. Ribut dan rusuh banget mereka nyari2 kaos. Sampai seorang Tante bilang gini, “Ini mah kaya di Mangga Dua!”
Buset, ternyata mereka dari Indo! Wkwkwkw… Hampir gue bilang gini, “Ini Giordano, Tante. Kalau di MangDu, itu namanya Giordono.” Wkwkwk…

Gue beruntung banget, last visit ke Sing udah bisa ke Marina Bay. Karena ternyata sekarang ga dibuka umum, ya. Dan effort ke sana nya juga udah bikin lemes, wkwkwk.. Jadi akhirnya kita cuma duduk aja kecapean di atasnya Marina Mall.

Add caption


Menjelang malam, setelah balik bentar ke hostel utk check-in, kita menuju ke China Town, cari makan nyam-nyam. Di tengah kelaparan kaya dua bulan ga makan, teman2 nemuin wotie (entah haram atau enggak), yang enaaakkkk banget! Asli! Terpujilah yang bikin! Rasanya gue sanggup ngabisin dua porsi sendirian!

Tiba di hostel, kaki sepanjang betis sampai tumit udah menjerit minta dipijit. Apa boleh buat, koyoan dulu bisanya. Jadi habis giliran gentian mandi & keramas, kaki2 ini dibungkus koyo.

Di hari kedua, sebelum jam 6 pagi gue udah bangun. Gue excited banget, karena hari ini Alex & Key bakal nyusul ke sini!
Gue BBM Alex, “Udah otw ke airport?”
Cukup lama ga dibalas. Gue worry mereka belum bangun. Akhirnya dibalas. “Otw airport.”
Gue tanya kok siang banget… katanya Key jatuh sampai berdarah, tapi sekarang udah gapapa. Gue lega dan pingin cepat-cepat mereka nyampai sini.





Acara outing pagi ini ke Handersen Wave. Waktu dibilang jalannya bakal mendaki dan cukup jauh, kirain paling seberapa. Ini tampang2 sang penakluk di pagi2 (hampir) buta, sesaat sebelum trip dimulai.
Ternyata beneraaannnnn! Sampai di atas, kaki udah mau putus se-putus-putusnya!
Waktu lagi kelelahan ngatur napas, tau2 shuttle bus lewat! Tau gitu mah naik shuttle aja, wkwkwk.





Tapi ga nyesel kok.. Sampai di atas, asli kerennnn bangeetttt… This is the Handersen Wave, could you see the wave?

Ajaibnya, banyak yang jogging dong di sana. Kebayang yaaa.. kita aja setengah mati jalan pelan2 buat mencapai atas. Kok bisa2nya ada yang lari sampai ke sana… ckckck…
“Ini baru setengah jalan menuju Forrest Walk. Mau tetap ke atas atau turun aja?”
Yak, suara bulat memutuskan turun, hahaha… Kalau kudu ke atas, siap2 nyanyi deh, “Ku tak sangguuuupp…”

Mampir ke Mall lalu breakfast (or lunch) SUBWAY, sesuatu banget yah J

Tiba di hostel, ga lama kemudian Alex & Key nyampe. Gue hampir pingsan liat kondisi Key. Bibirnya bengkak, di bawah bibir ada plester yang cukup besar.
Ternyata Key jatuh di dekat tangga di rumah. Gigi atas nya pecah sedikit. Diagnosis sementara, gigi atas Key melukai bibir bawahnya sampai robek dan mengeluarkan banyak darah. OMG…
Dan ajaibnya lagi, suami gue memutuskan tetap berangkat. Kalau gue udah pingsan duluan kayanya, hiks…
Akhirnya gue decided untuk misah dari rombongan and went to hospital.

Setelah cek in di Swissotel Stanford, kita balik ke daerah Orchard menuju Mount Elizabeth Hospital, ke Emergency Room nya. Asli ini RS bersih banget…
Dokternya dan nursenya so cooperative. Tau gimana handle anak kecil (yang berontak dan keras kepala:p). Key teriak2 ga mau diperiksa. Sampai akhirnya gue bujuk2, ditambah embel2 permen dari nursenya. Waktu lagi teriak2, nursenya bilang, “I have candy for you,” sambil nyodorin lollipop.
Key langsung diam, terus ngelirik gue, “Ada candy yang rasa orange ga, Mam?”
Wkwkwk, good job, nurse!

Syukurlah luka Key ga perlu dijahit, tapi harus di-glue supaya cepat rapat. Key juga harus dikasih antibiotik, menghindari dia dari infeksi. Setelah kelar mengurus administrasi, kita pun keluar.
Ngeliat tampang gue yang lemes dan shock, suami gue bilang, “Kamu mau belanja, ga?”
Mendapat penawaran kaya gitu, ga mungkin dong gue bilang “enggak”, hehehe.. Jadi melipir balik deh ke Gio.

Menjelang sore, setelah makan es potong di Orchard, kita nongkrong di Merlion. Berbekal Garrett Popcorn yang beli di Wisma Atria, cuma duduk2 di situ aja rasanya udah hepi.
Si kecil Keyla, sama sekali ga ngerasain sakitnya. Padahal itu luka dalam mulutnya, kaya sariawan2 gitu. Kalau gue mungkin udah mewek sepanjang hari. Tapi anak kecil ini, cuek aja sambil ngunyah popcorn.
Walaupun setelah jalan balik ke hotel dia memang rewel karena capek (dia bangun jem 3 pagi, bow!), tapi gue bersyukur banget, Key sama sekali ga ngeributin lukanya. Malah masih lompat2 di sepanjang jalan. Ampun dehJ



Kenapa memilih Swissotel Stanford?
Itu pilihan Alex. Dia udah survey, itu satu2nya hotel di Spore yang bisa ditempuh full dengan MRT tanpa jalan outdoor. Dia udah mikir, seandainya hujan, kita tetap bisa balik ke hotel.
Kemarin2, gue pikir, riweh banget sih ini orang, mau nginep aja repot banget cari hotelnya. Tapi setelah kejadian Keyla ini, gue bersyukur kita nginep di situ. Kebayang kalau Key harus kehujanan, duhhh… entah lukanya yang ga boleh basah atau dia yang bakal masuk angin…

Swissotel is a good one.
Hotelnya cukup tua dan ga terlalu baru, tapi so acceptable buat gue. Bersih, nyaman, besar. Dan yang paling asik menurut gue, window view nya yang keren bangetJ
Di sebelah kiri kita bisa liat Merlion, Esplanade, sampai Marina Bay. Di kanan, ada St.Andrew. Asli, super kerenJ (maklum, biasanya nginep di hostel kalau ke sini:p)




Pagi besoknya, kita siap2 menuju Jurong. Science Center it is!
MRT ke Jurong cukup jauh, dan sampai di sana, kita harus 1x naik bis ke Science Center Road. Begitu nyampai di sana, duh langsung seneng banget gue. I don’t like science, so I adore people who can make science more fun!
Dari mulai teori fisika sederhana, teori gravitasi, teori getaran suara, sampai teori social macam afeksi, emosi, dll. Ini ga kelar seharian nih kalau mau ngeliat semuanya!


Lunch di McD di sana, kita lalu masuk ke OMNI Theater to watch butterfly movie.
Filmya sih biasa aja, tapi theaternya yang keren abis, kaya di planetarium gitu.
Science Center & Omni Theater are highly recommended for kids! Kalau keburu sebenarnya pingin ke Snow World juga, tapi ga keburuuu….
Sayangnya, jam 2-an kita dah harus balik. Biasa, ada yang parno telat ke airport, wkwkwk… yes, my hubby it is!

Ah nyesel deh ga ke IMM, katanya ada Gio juga di sana J Padahal dah keliatan gedungnya dan cuma tinggal naik bis aja 1x.

Dan terjadi lagiiii tragedi seperti yang sudah2 kalau ke Sing, yaitu lari2 di Changi J

Next time ke sini lagi, kayanya Michael juga harus diajak. Tapi dengan catatan, ga ada kunjungan ke RS lagi! “.”





When is my ME TIME?


Seringkali gue kangen dengan masa2 gue bisa tidur malas2an di ranjang. 
Bangun siang, ngemil coklat, baca novel seharian. Tidur lagi, makan, baca lagi sampai malam.
Gue kangen masa2 gue bisa menulis seharian. Nulis apa aja. Uneg2 buat di blog, puisi2 kecil, cerpen2 lucu, atau novel yang udah sepuluh tahun ga kelar2 itu (uh jadi inget…)
I miss my “do nothing” time. I really miss it.

Yang terjadi sekarang adalah.. Gue bangun pagi dengan terburu2. Kadang ingat berdoa, kadang enggak. Nyiapin sarapan suami, nyiapin bekal Keyla, mandi terburu2, bangunin suami, mandiin Keyla, siap2in Keyla sekolah, suapin Keyla, gue siap2, antar anak2 ke rumah mertua, antar Keyla sekolah, gue ke kantor. (Sekarang dipermudah dengan anak2 dijemput Opa ke rumahnya).

Di kantor, gedebak-gedebukan seharian, tau2 udah jam 5, jam 6, kadang jam 7. Ngibrit pulang, jemput anak2, pulang. Sampai rumah, mandi, makan, boboin anak2.
What happened to my daily lives?

Gue sering menemukan diri gue kecapekan, which I wanna do is selonjoran, with a good book in my hand.
Even ketika gue bengong aja, atau waktu gue tidur, kepala gue ga bisa berhenti mikir. Tentang anak2, sekolahnya, kesehatannya, mikirin nyokap, kerjaan suami, masalah2 di kantor gue, etc. Prosesor gue yang Pentium lemot ini, makin lemot deh karena kebanyakan file wkwkwk…
Pernah juga gue ga bisa tidur sampai hampir subuh, dan di kepala gue banyak banget yang gue pikirin.
Tapi sering juga sih gue nempel bantal langsung ngorok, wkwkwk.. hahaha…
The point is… I’m missing my silent minutes.     
Selama ini, gue ga pernah bisa ninggalin anak2 hanya dengan nanny atau Mbak nya. Dan since anak2 udah di mertua gue on weekdays dari pagi sampai malam, ga mungkin dong gue titipin lagi pas weekend. Dan jujurnya, gue merasa bersalah juga sih, kalau ga spending time sama anak2 on weekend, secara pas weekdays gue pulangnya malam.
Nyokap berulang kali bilang, “Jalan2 gih, anak2 kan ada Mbaknya, atau nannynya.”
Hiks, tetap aja sulit buat gue… My parnoan is killing me. Bayangan suster menyiksa anak2, mbak2 mukulin anak2 itu keep playing in my head. Jadi akhirnya gue batal terus deh pergi.
Beberapa meeting luar kota pun gue jarang ngikut, karena kudu nginep dan ninggalin anak2. Parno dan rasa bersalah itu terus mendominasi gue.

Sampai akhirnya seorang sahabat gue bilang, “Lo tuh harus punya ME TIME juga. Biar lo ga ngerasa anak2 itu sebagai beban.”
Ah ya, benar juga.

Waktu usia Sam menginjak 1 tahun, gue ikut meeting kantor di Batam, dan ke Spore setelah itu.
Cant believe gue ga pernah keluar kota atau ke luar negri lagi setelah gue punya anak.
Dan ajaibnya, gue merasa baik2 aja. Ada perasaan kangen anak pastinya, dan perasaan bersalah itu juga ada. But I had fun, I felt fun.
Suami gue nyusul besoknya ke Spore. We both had fun, since kita ga pernah lagi pergi berdua sejak punya anak.

Salah seorang teman gue bilang, “Kunci dari parenting adalah hubungan suami-istri.”
Gue baru ngeh artinya.
Kalau hubungan lo sama suami/istri lo baik, interaksi ke anak2 juga akan baik. Hubungan suami-istri itu adalah salah satu kuncinya.
Hubungan suami/istri yang erat, bonding yang kuat, bakalan bikin lo bisa menghadapi apapun juga, termasuk masalah anak2.

Setelah itu, gue sempat beberapa kali dating, nyolong waktu di weekdays. Alex jemput gue di kantor, trus kita kabur dinner. Ga bisa yang jauh, but its ok, that’s enough for now. Yang penting ngabisin waktu berdua.
Saat weekend, kalau nyokap gue bisa jagain anak2, we’ll be very happy. Tapi kalaupun enggak, gue ngusahain 1x/bulan untuk pergi berdua suami.
Terakhir, waktu Valentine kemarin kita nonton & dinner J (Eh itu udah 1.5 bulan lalu yah?:p)
Yah, saat ini gue memang belum punya ME TIME sendiri. 
Tapi setidaknya gue punya OUR TIME sama suami gue. And for now, that’s enoughJ

Berbagi Peran


Memasuki awal 2013 lalu, gue punya 1 resolusi : pingin menyeimbangkan hidup dengan membagi waktu lebih baik di antara seribu peran gue. Secara gue anak, istri, emak, majikan, atasan, bawahan, karyawan…
Ternyata bukan sekedar resolusi yah, resolusi BESAR dan SUSAH itu!

Memasuki bulan ke-4 alias seperempat tahun sudah terlewati, gue masih belum bisa mengatur peran2 itu dengan lebih baik.
Gue pernah berandai2…
Dari pagi sampai sore, peran gue adalah karyawan, konselor, atasan, bawahan, teman. Tentu saja ini di kantor.
Sore ke pagi, peran emak, anak & istri yang harus lebih berjalan.
Idealnya sih begitu.
Tapiiiii teori tinggal teori.

Di jam kerja, gue kadang kepikiran “udah lengkap belum ya vaksin Samantha?” atau “Keyla udah pulang sekolah belum, ya?” atau “Michael masih pilek ga, ya?” atau “tekanan darah Mami masih tinggi kah?”
Dan di jam malam, gue suka kepikiran juga, “si kandidat ini nanti buat gantiin si ini”, atau “si itu masih ribut sama atasannya atau ga” atau “besok janji konseling dengan si ini apa si itu ya?”
Gue pernah survey tentang penyakit anak, pada saat jam kerja.
Gue juga pernah kerja saat midnight setelah anak2 tidur.

Lalu gue sadar sesuatu.
Peran itu ga bisa begitu aja diatur-atur kaya lagi njadwalin meeting. Peran itu menempel sama lo, ngikutin lo, kemanapun lo pergi. Tentu saja dengan pengaturan peran yang optimal ya, artinya kalau lo lagi jalan sama suami lo, peran lo ya sebagai istri. Kalau lo di kantor, ya lo karyawan. Tapi ga akan bisa full 100%. Orang itu bukan robot yang bisa seenaknya diatur. Kalau lo robot atau computer yang bisa di-program, lebih gampang ya.
Pagi-sore à program biar hanya urusan kantor aja yang muncul
Sore-pagi à urusan rumah doang yang bisa dipikirin
Ternyata kan enggak.
Manusia adalah makhluk hidup yang punya pikiran, hati, akal budi. Saat pikirannya tau dia harusnya mikirin kerjaan, dia toh ga bisa mencegah pikirannya berkelana ke rumahnya, saat anaknya sedang sakit, atau saat nanny nya baru (eh, ini gue ya… wkwkwk).
Saat pikiran harusnya mikirin anak aja di rumah, tau2 hatinya terbang ke kantor, mikirin bawahannya yang lagi sedih atau kerjaan yang belum beres, ga bisa dicegah juga.
Jadiii kalau suatu saat lo nemuin temen lo, bawahan lo, (bahkan) atasan lo, lagi mikirin atau ngurusin urusan pribadi saat jam kantor, itu lumrah. Kalau urusan pribadinya beres, dia akan bisa contribute more to the job. (terutama cewek yaaa, secara cewek itu ngurus rumah, anak, pembantu, nanny, listrik, air.. yahhh jadi curcol deh wkwkwk).
Yah asal ngurusin pribadinya ga keterlaluan aja.. misalnya : pakai fasilitas kantor dari pagi sampai malam buat survey2 sekolah anak.. à ini mah kelewatan:p
Atau karena mau married, always buka weddingku.com di jam kerja setiap hari untuk cari2 vendor à ini juga minta dijitak
So selama masih dalam batas wajar, abaikan aja. Anggap aja itu cara mereka to fulfill their needs to complete the job. Percaya deh, selama urusan pribadi lancar, urusan kerjaan akan jauh lebih lancar.

Sampai sekarang, gue masih juga keteteran.
Tapi gue berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan itu semua.
Saat weekend, sebisa mungkin spend time sama keluarga. Dalam keluarga itu aja ada peran2 yang bentrok juga. Antara jadi anak dan jadi emak. Seringnya gue gabungin aja, ngajak anak2 plus nyokap gue jalan, everybody happy.
Tapi ada saatnya gue harus jadi anak aja, alias ngajak jalan nyokap gue berdua aja.
Dan seringkali dalam peran jadi emak, gue harus spend time sama Key aja, lalu sama Mich aja, dan sama Sam aja. Saat ini, gue baru bisa melakukan ini sama Key. Tapi ke depannya, pingin ada satu waktu khusus sama masing2 anak berdua aja. Semoga bisa, ya.

Gue ingat minggu lalu, ada satu kejadian yang bikin gue ngilu banget.
Gue sama Alex lagi bercanda sama Sam. Karena Sam yang paling kecil, mimik mukanya masih kaya bayi banget. Kita ketawa-tawa ngeliatin Sam yang lagi lucu-lucunya. Sampai gue dengar suara sesegukan di ujung kamar. Ternyata Mich lagi ngeliatin, matanya berkaca-kaca dan mukanya merah, seperti biasa kalau dia lagi sedih. OMG, kalau anak bisa bikin orang tua patah hati, ini salah satu moment nya.
Mich lagi ngeliatin kita bertiga dengan tatapan terluka. It really broke my heart in pieces.
Gue langsung pelukin dia, bilang sama dia kalau gue sangat sayang sama dia. And its true, Michael is my guardian angel, he’ll always be. Malam itu, gue pelukin Mich sampai dia ga sedih lagi, senyum, lalu ketiduran.
Itu salah satu contoh simple peran ibu yang nabrak. Even dalam 1 peran aja, kalau kita punya more than 1 customer, bisa terjadi tabrakan.

Satu hal yang gue tau.. Walau kadang super exhausted dengan peran2 itu, gue merasa hidup gue ini fulfilled banget. Hidup gue ini berarti banget. Ga pernah ada kekosongan, sampai kadang gue merasa kangen dengan kekosongan yang ga ngapa2in itu (nanti gue cerita soal rasa kangen yang aneh ini, ya).
Dan tiap dalam kesibukan dan keriwehan berbagi peran ini, gue sungguh bersyukur atas peran2 yang Tuhan berikan buat gue. Tuhan pasti tau riwehnya hidup gue, wkwkwk… dan Dia pasti turun tangan membantu gue.

Jadiii ga ada teori berbagi2 peran lagi… Cuma optimalin aja tiap peran2 itu pada tempatnya. Semoga gue bisa ya *lap jidat*

Tuesday, February 19, 2013

Happiness


I’m back J
Salah ya, harusnya “I’m baaaaccckkkkk!” :p

Ga tau nih, kesambet angin apa gue nulis yang serius beginian:p
Salah satu kerjaan gue di kantor adalah being a (good) counselor. Harusnya sih seputar karir dan kerjaan aja ya, dan hal2 seputar itu. Tapi kenapa akhirnya melebar, jadi masalah keluarga, masalah cinta, masalah keuangan?  Ya udahlah, terima aja itu nasib:p Prinsipnya kan ga boleh menolak klien, hehehe..

Gue kadang suka bingung dengan orang2 yang said they're unhappy, but they're still there. They hope everything change, everybody change for them.
Halloooowwww? Who are you? Get a life! Everybody has their own life...

Jangan menggantungkan kebahagiaan hidup lo sama SIAPAPUN!
Pacar, perusaahan tempat lo kerja, teman.
Kalau lo merasa ga hepi dengan kerjaan lo, temen2 lo, FIND a way.
Kalau lo ga hepi dengan pacar lo, FIND a way.
If life is being unfair, kenapa lo ga cari jalan yang menurut lo fair?
Lo berhak memilih yang terbaik buat lo.
Jadi kalau perusahaan ga bisa bikin lo hepi, why don’t you just quit? You choose your own way!
Alih2 daripada rumpi dan mengeluh tentang your unhappiness, why don't you just look for your own happiness?

But IF you decided to stay,  you take it...for granted.
Seperti ketika berusaha menerima pasangan hidup lo dengan segala kekurangan dan kelebihannya.. the company you’re working for, pasti punya plus dan minus.
Kalau masih pacar, boleh dong diputusin. Tapi kalau udah jadi suami, masa kudu cerai?
Hubungan perusahaan dan karyawan, menurut gue, lebih mirip seperti hubungan orang pacaran. Kalau kecewa dan ga bisa terima lagi dia apa adanya, putus aja, cari yang lain.
Sama aja kaya kerja. Kalau lo ga bisa lagi mentolerir kantor lo, ga hepi lagi, carilah kebahagiaan lo sendiri.

In the other side, banyak yang pingin balik ke pacar lama, karena ternyata pacar baru ga sebaik harapan. Hmm kadang kita emang harus kejedot ya, baru bisa bersyukur.
Sebagian teman yang udah resign dan dapat kerjaan baru, banyak yang pingin balik. Rumput tetangga yang dulu hijau, ternyata busuk juga pas udah jadi rumput sendiri. Prinsipnya, orang baru bisa bersyukur setelah kehilangan. 
Teman yang dapat pacar baru, ada juga yang kangen pacar lama, tapi mostly hepi dengan the new one.
So kemungkinan selalu ada kan...  

Dan apa itu yang namanya “habis manis sepah dibuang”.. menurut gue ga ada.
Selama lo kerja, perusahaan udah membayar lo, menggaji lo tiap bulan, dengan selayaknya. Kalau suatu saat lo tidak bisa berkontribusi dengan seharusnya, atau tidak sesuai lagi dengan misi perusahaan, adakalanya lo harus cabut. Perusahaan ga pernah punya hutang sama lo. Jasa2 lo di masa lalu adalah sudah sepantasnya, secara lo juga digaji gitu, loh. (lain lagi kalau perusahaan nunggak alias ga bayar gaji lo yaaa.. kalau itu mah perusahaan ngutang namanya!)
Tapi as long as lo dibayar teratur tiap bulannya, artinya perusahaan ga berhutang apa2 sama lo. Kerjaan lo adalah tanggung jawab lo.
Kalau lo dirasa udah ga bisa contribute lagi (atau malah bikin minus, wkwkwk), sepantasnya lo cabut dengan sukarela, dengan kepala yang masih bisa diangkat tinggi.

Daripada ngedumel tiap hari ga karuan.. Nyalahin perusahaan, nyalahin atasan, nyalahin teman2.. Hmmm maybe you should look at yourself in the mirror. Are you choosing the right way? Are you giving the best? If so, why everything around you going wrong?
Kalau lo udah berusaha memberikan yang terbaik, bersikap baik, kenapa semua lini hidup lo bermasalah? Keluarga, romance, atasan, teman2, pekerjaan?
Ah, buat yang terakhir ini, ga pantas ya gue tulis. I hate judging, and who am I to judge? Sori, ya.

Just remind you to fight for your happiness. You deserve to get it.
In company, in romance, in life, go get your happiness. Not others, but yoursJ